6:43 am - Senin Mei 20, 2019

Apa Yang Tidak Mungkin?

1121 Viewed

Percaya atau tidak, tampaknya memang tidak ada sesuatu yang benar-benar mustahil. Dalam bahasan ushul fikih, ulama berbeda pendapat tentang bolehnya-tidaknya membebani mukallaf dengan sesuatu yang tidak mungkin. Bukan hanya di situ, tentang apakah mustahil sendiri sampai macamnya dengan berbagai kategori pun mereka berdebat panjang lebar.

Klasifikasi populer dalam perdebatan itu menyatakan bahwa perkara mustahil itu terbagi menjadi tiga, yaitu mustahil secara akal dan adat, mustahil secara adat tidak secara akal, dan mustahil secara akal tidak secara adat. Kalau kau menyuruh temanmu berlari ke arah barat sekaligus ke arah timur, ini namanya mustahil secara akal dan adat. Jenis ini penulis bahasakan dengan ‘mustahil bin muhal’. Kalau memaksa seorang yang lumpuh untuk berkunjung ke rumahmu dengan berjalan kaki, inilah yang dimaksud dengan mustahil secara adat tidak secara akal. Ketidakmungkinan macam ini kita sebut ‘mustahil saja’.

Seorang guru berkata kepada muridnya, “Kamu tidak akan lulus nak!” Perkataannya didasarkan kepada fakta bahwa sang murid rajin bolos, pandai membuat ribut di kelasnya, dan pintar menyakiti hati beberapa guru. Nah, bahwa si anak lulus adalah mustahil secara akal tidak secara adat. Kalau saja dia mau dan mengubah sikapnya, tentu dia akan lulus. Macam mustahil terakhir ini saya bahasakan dengan ‘mustahil hampir mungkin’. Penamaan ini tidak bermasalah karena Taftazaniy bahkan menyebut macam mustahil ini dengan ‘sesuatu yang mungkin’. Al-Ghazaliy memberikan penjelasan—yang kelihatannya ribet—tentang macam mustahil; dia menamainya ‘sesuatu yang mungkin yang dipastikan tidak terjadi’.

Demikianlah sepintas kilat episode perdebatan ulama tentang “apakah mustahil itu” yang mustahil rangkaian lengkap ceritanya disodorkan di sini. Ayo kita pindah bahasan dari masalah yang mengundang dahi berkerut ke cerita yang mengendurkan urat syaraf dan mengakibatkan bibir tertarik ke pinggir sedikit alias tersenyum.

Al-kisah, tersebutlah di negeri entah dimana dan kapan, seorang pemuda bernama Shabran Abadan jatuh cinta kepada Sheinap, gadis kampung yang kelak mengubah namanya menjadi Sherina Munaf. Memang jatuh cinta adalah kecelakaan paling indah, kata si Mario Teguh. Tidak direncanakan dan tidak perlu dihindarkan, siapapun akan mengalami.

Kecelakaan itu telah membuat Bran, panggilan Shabran Abadan, lumpuh otak dan akalnya. Sang ayah mencemaskan keadaannya yang kian hari semakin parah; sering mengigau dan kadang tiba-tiba senyum tanpa sebab. Dan yang paling menjengkelkan ayahnya, Bran tidak jarang membeli kue yang mahal-mahal, kue-kue itu lalu dikirimkan ke Sheinap. Agar penyakit Shabran tidak tambah parah, sang ayah akhirnya melamar Sheinap untuk anaknya.

Untung tak dinyana apes tak terduga, Sheinap menjawab setelah ayah Shabran melamar, “Tuan, bisakah anakmu memberikan permata kepadaku?”

“Syarat diterima.” Shabran tiba-tiba mendahului ayahnya yang keselek mendengar permintaan Sheinap.

“Bukan permata hasil pembelian, tapi langsung diambil dari dasar lautan dan dengan tanganmu sendiri.” Kata Sheinap yang menudingkan telunjuknya ke muka Bran. Sejatinya Sheinap memang ingin menolak lamaran, tapi baginya direkayasa dengan syarat itu lebih menusuk.

Kali ini ayah Bran klenger dan anaknya masih dengan sigap berkata, “Sanggup tuan putri.” Wah, ternyata cinta bukan hanya buta tapi juga tuli. Bran seolah tidak mendengar syarat mustahil itu.

Sesampainya di rumah, Bran membuka buku pelajarannya dan menuju tema “Membebani Seseorang dengan Perkara Mustahil.” Setelah agak lama menekuni buku itu, benaknya bergumam, “Apa yang tidak untukmu Nap, selain kata tidak?” Haduh, cinta juga bisa memutus urat syaraf.

Kalau aku menyelam ke laut, aku tidak punya tabung oksigen. Tabung oksigen tidak bisa digantikan tabung gas elpiji di dapur itu. Kalau aku menyewa penyelam, berarti itu bukan mengambil dengan tanganku sendiri. Kalau aku belajar menyelam dan menunggu mampu membeli tabung oksigen dengan tabungan recehan, butuh waktu lama. Dan itu artinya setelah aku menyelam, eh Sheinap sudah menjadi nenek reyot. Kalau aku buat alat canggih yang dengannya bisa menarik permata di dasar lautan, aku harus kuliah dulu atau bekerja sama dengan ilmuwan Amerika atau Jepang. Ah, aku harus bisa bahasa english atau belajar huruf kanji. Tidak efisien dan rumit. Aduuuhhhh, lamunan Bran ditutup dengan teriakan putus-asa. Seolah-olah tahu apa yang dilamunkan anaknya, ibu Bran berkata,

“Kuras saja nak lautan itu! Ibu siap menyumbangkan dua ember.”

Jika Bran adalah ilmuwan, inilah saatnya dia menemukan aha; AHA!

Esoknya Bran membawa dua ember pemberian ibunya dan langsung seember demi seember dia kuras lautan dekat rumahnya. Dari 24 jam, dia menyediakan 12 jam untuk menguras laut. Sudah berlalu 24 bulan dan masih saja Bran menguras seember demi seember. Pembaca budiman, tak usah protes, disamping melemahkan cinta juga menguatkan.

Apa yang dilakukan Shabran telah membuat dirinya menjadi ikon dunia. Baru-baru ini, namanya masuk dalam daftar pemegang rekor dunia: manusia paling kuat sekaligus paling tolol. Media massa selalu menyediakan kolom untuk mengabarkan berita terbaru tentang orang itu.

Semakin bertambah hari, air laut terlihat tetap tidak berkurang seember pun. Tapi semangat mengurasnya juga tidak berkurang setetes pun.

Bincang membincang, kabar beredar, gosip semakin sip, tidak ada satupun manusia yang tidak mengenal Shabran Abadan. Pohon-pohon di hutan juga tahu dan berdecak kagum dengan keteguhan pria itu. Hewan darat menjadikan Shabran sebagai makhluk paling ideal. Kemarin itu ada bapak Lembu marah-marah kepada anaknya yang malas mencari rumput, “Kamu boleh tolol nduk, tapi jangan jadi pemalas. Tiru si Shabran itu!”

Kerbau yang sebelumnya kesohor dengan hewan lamban dan pemalas, karena terinspirasi Shabran, mereka sekarang bersaing dengan kuda ketika berlari. Memang pak Kerbau kalah, tapi setidaknya dia telah bersaing.

Alhasil, semua makhluk kini kenal dan terinspirasi dengan Shabran. Setan semakin giat menipu manusia walaupun tidak membawa hasil, gara-gara si Shabran itu. Nyamuk semakin galak menggauli istrinya supaya banyak keturunan walaupun tukang foging membunuh mereka dengan sekali semprot, masih gara-gara Shabran. Semut tambah hari tambah pontang-panting memikul butir nasi walaupun mereka tahu sebentar setelah itu mati keletihan, juga gara-gara Shabran.

Shabran adalah fenomenal, ikon, legenda, dan mungkin baru seribu tahun lagi akan terlahir manusia yang sepadan dengannya. Banyak ibu menamakan anaknya Shabran Abadan. Jalan dan jalur penting dinamakan Jalan Shabran Abadan. Banyak akun FB, Twitter, dan jejaring sosial lainnya atas nama Shabran Abadan. Shabran adalah anugerah bagi alam semesta.

Di saat-saat melambungnya nama Shabran, Sheinap mulai berpikir sesungguhnya Shabran adalah anak yang tampan meskipun ketika melihatnya dia sadar pikirannya salah. Sheinap berpikir lagi, ketampanan tidak menjamin kebahagian. Melihat Shabran terhuyung-huyung dengan dua embernya, Sheinap tahu dia begitu lalim pada lelaki itu. Ingin sekali dia lari ke arah Shabran lalu berteriak, “Bang, hentikan bang. Jangan siksa aku dengan menyiksa tubuhmu sendiri!” Tapi sistem kerja emosional dan rasional kaum perempuan kadang tumpang tindih. Tidak mengikuti rumus tertentu yang baku. Kaki Sheinap terpaku di tempatnya. Tatapannya menancap ke Shabran. Mimik mukanya mengabarkan bahwa dirinya kagum campur kasihan. Ada sesuatu yang bergerak dan mengalir di darah Sheinap tanpa ia sadari.

Matahari terbit dan terbenam. Bulan dari kecil ke besar lalu ke kecil lagi. Jarum jam tetap memutar sebaliknya orang thawaf memutari Kakbah. Lautan dari pasang ke surut lalu ke pasang lagi. Shabran tetap menguras laut seember demi seember. Belum ada tanda-tanda air laut telah berkurang, tapi belum juga ada tanda semangat Shabran berkurang.

Siang itu, matahari membara seolah ingin mendidihkan otak Bran. Matanya berkunang-kunang, ayunan tangannya melemah, otot dan tulangnya rapuh, dan semangatnya sebenarnya mulai mengendur. Baru satu jam dia memulai, tapi dia berpikir untuk mengakhiri menguras hari ini. Dalam cidukan terakhir, ketika dia melemparkan air ke halaman rumahnya, dia melihat benda sebesar jempol kakinya menyilaukan matanya. Ya betul, permata telah masuk ke cidukan terakhir itu. Bagaimana mungkin? Sekali-lagi tidak ada yang benar-benar tidak mungkin.

Ternyata di dunia laut sana, ikan telah mengadakan rapat dengan ketuanya Pak Lumba Lumba. Mereka mengadakan konferensi khusus untuk menangani masalah besar. Kabar bahwa ada seseorang bernama Shabran terus menguras laut meresahkan mereka. Mereka berpikir kuatir: apa jadinya jika lautan kering? Kita akan tergelepar mati, mereka bergumam. Hasil dari pertemuan itu adalah: harus ada delegasi yang melemparkan permata ke ember Bran supaya dia berhenti menguras.

Tiga hari setelah permata masuk ke ember, Shabran mendatangi rumah Sheinap. Bukan untuk menikahinya, tapi mendatangi undangan pernikahannya dengan pria lain. Shabran satu-satunya orang yang berkabung di tengah riuh kegembiraan. Tabla dan gendang sebagai hiburan pesta mengaum bak singa bakal menerkam.

Untuk terakhir kalinya, tidak ada yang benar-benar tidak mungkin. (Img: regex)

Filed in

Merana Ditinggal Jamaah

Your comment?
Leave a Reply