8:36 pm - Minggu Mei 19, 2019

[Cerpen] Dirimu Berharga

1467 Viewed

Ketegangan beberapa bulan sebelum Agustus 2010 di bawah panasnya terik pagi menjelang siang pada lapangan basket alun-alun kota Angin itu membuat suasana hati menjadi tak karuan juga seakan membakar ratusan pasang kaki telanjang yang sedang berbaris rapi mengalahkan rapinya barisan bebek yang digiring untuk mencari makan dan lumayan membuat kelenjar keringat bekerja lebih cepat dari biasanya, bau badanpun tak terelakkan, demi mengikuti seleksi pemilihan Paskibraka tingkat kabupaten. Ditambah suara bising lalu lintas yang berlalu lalang di sekitar alun-alun dan lantangnya suara tentara yang memandu juga seakan selalu mempermasalahkan sedikit gerakan maupun kejengkelan dalam hati yang terbaca oleh mereka menambah suasana seleksi yang diikuti oleh siswa-siswi kelas satu dan dua SMA itu semakin menegang. Ketegangan itu menjadikan mereka yang sedang berbaris tak kuasa menggerakkan badannya sedikitpun walau untuk menggaruk keringat yang berjalan hati-hati dari dahi yang sebentar lagi akan masuk kelopak mata. Walau hanya nol koma satu derajat, matapun seakan tak berani bergerak untuk melirik. Hati yang selalu jujur berkatapun seakan terpaksa untuk berkata baik.

Walau sepertinya begitu, di tengah suasana yang mungkin setelah acara itu semua akan mati berdiri, nampaknya ada sepasang mata yang menyalahi aturan pandangan dalam kitab aturan baris berbaris yang tak diketahui oleh pelatih. Pandangan itu tertuju pada seseorang. Nampaknya seseorang itu mengenakan seragam SMAnya, kemeja kotak-kotak kombinasi kuning, hijau dan merah, bawahan rok berwiru merah hati dan bertutup kepala kuning yang kala itu sedang membantu mendaftar nama-nama para calon paskibraka yang terpilih. Nampaknya dia juga usai mengikuti pemilihan calon anggota paskibraka yang akan mengibarkan bendera pada tahun yang sama, hanya saja dia mendapat kesempatan untuk mengibarkan di halaman rumah dinas gubernur. Pandangan sepasang mata itu tak diketahui olehnya yang sibuk dengan data nama.

Sepasang mata itu menyebut seseorang yang mencatat nama tadi dengan sebutan “kakak berjilbab”, dalam hatinya. Setengah hari penuh kakak berjilbab itu berada di sana bersama semua tim penyeleksi. Di tengah-tengah acara sesekali calon anggota paskibraka bertanya kepadanya, ya pertanyaan biasa tentang pengalaman usaha terpilih menjadi anggota paskibraka provinsi. Karena terpilih menjadi anggota paskibraka provinsi adalah harapan besar bagi mereka semua petugas pengibar bendera, di sekolah, kecamatan maupun kabupaten/kota. Betapa tidak merupakan suatu harapan besar dan kebanggan jika terpilih, karena hanya satu pasang calon anggota dari tiap kabupaten/kota yang berhak menjadi anggota di tingkat provinsi. Tentunya seleksi itu tidak mudah.

Sepasang mata itu, masih dalam barisan menunggu giliran panggilan seleksi dan dia heran dengan tatapannya sendiri, belum pernah sebelumnya seperti itu. Hanya diam yang dilakukannya dengan tetap fokus pada aba-aba dari bapak tentara, pelatih sekaligus penyeleksi. Sementara kakak berjilbab masih bercakap-cakap dengan calon yang telah terseleksi.

Semua seleksi rampung, telah terpilih mereka yang berhak menjadi calon anggota paskibraka kabupaten. Semua peserta seleksi membubarkan diri dan kembali ke sekolah masing-masing. Begitu berbinar wajah  mereka yang lolos dan mendapatkan kesempatan menjalankan tugas negara, mengibarkan sang saka Merah Putih yang sakral. Dan rona wajah yang berkebalikan dengan mereka yang belum berkesempatan, seakan tak berdaya duduk-duduk di tempat teduh di sela alun-alun itu, walaupun kota angin namun anginnya tak bisa mengalahkan panasnya terik matahari. Itulah seleksi, pasti ada yang terpilih dan belum saatnya.

Beberapa bulan setelah Agustus, di kota angin tersebut diadakan ajang perlombaan untuk memunculkan potensi muda-mudi dalam kepariwisataan yang diadakan oleh dinas pariwisata setempat, yang lebih dikenal dengan pemilihan duta wisata. Ajang tersebut merupakan ajang bergengsi tahunan di kota tersebut. Maka seluruh SMA dan setingkatnya berlomba-lomba untuk berpartisipasi dalam pemilihan tersebut. Hampir seribu peserta mengikuti seleksi, dan dipilih 10 peserta putra dan 10 peserta putri sebagai finalis yang berhak mengikuti pembekalan untuk grand final nanti.

Sorot mata semua finalis menggambarkan rasa suka citanya. Rupanya sorot mata lama ada di tengah-tengah mereka, sepasang mata itu. Sepasang mata itu juga terpilih sebagai finalis.  Memori otak sepasang mata itu seakan mengingat sesuatu yang sebelumnya pernah dilihatnya, sepasang mata menatap seseorang di seberang bangkunya yang duduk anggun sembari bercakap-cakap dengan finalis di samping kanannya. Seketika hatinya berbicara “itu…kakak berjilbab yang dulu di alun-alun, mencatat nama-nama calon anggota paskibraka, juga anggota paskibraka provinsi. Apa aku tak salah lihat? Dan sekarang terpilih di sini pula?”. Kemudian, dia pemilik sepasang mata itu menahan pandangannya dan diam seakan tak terjadi apa-apa pada dirinya dan berlalu.

Siang itu, hari ketiga, hari terakhir para finalis mengikuti pembekalannya, di tempat singgah pariwisata, beberapa meter dari air terjun yang terkenal di kota itu, sangat sejuk, dingin bahkan. Sebagai penyegaran kembali suasana fikiran setelah di tempa beberapa waktu, hari itu panitia mengajak mereka untuk sejenak menikmati kehebatan karya Tuhan, air terjun itu. Dengan tidak berfikir panjang, merekapun langsung terjun ke dalam muara jatuhnya air terjun itu sejenak melepas penat karena keesokan harinya mereka harus menampilkan performa semaksimal mungkin dalam grand final pemilihan duta wisata tersebut.

Sepasang mata itu, melihat di sekeliling seakan mencari sesuatu yang belum tampak. Berhentilah pandangan sepasang mata itu pada suatu sudut muara jatuhnya air terjun itu, dilihatnya seseorang yang merendam kakinya pada muara yang sangat sejuk itu sambil sesekali mengusapkan air dari muara itu pada wajahnya. Terbersitlah lesung pipi pada kedua pipi sepasang mata itu, dia tersenyum karena melihatnya. Sebelum kakak itu mengetahui dirinya memandang dia, sepasang mata itu kembali berendam dengan teman-temannya, finalis putra.

Malam menegangkan juga menggembirakan itupun tiba, penentuan juara pemilihan duta wisata. Semua finalis berdoa bersama pada salah satu ruangan di belakang panggung pada gedung tempat acara grand final itu dilangsungkan. Teriakan para pendukung dari masing-masing finalispun saling bersahutan bak lautan manusia di dalam gedung. Semua finalis naik ke panggung dan siap menjawab semua pertanyaan dewan juri untuk menentukan siapa yang berhak menerima selempang kehormatan duta wisata. Setelah semua pertanyaan diajukan dewan juri dan semua finalis menjawab berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya, diumumkanlah para juara pada pemilihan ini. Diumumkanlah para pemenang dari finalis putri, dan kakak berjilbab itu menerima selempang sebagai juara ketiga. Kemudian pengumuman dari finalis putra, sepasang mata itu ternyata juga mendapat selempang sebagai juara ketiga. Sepasang mata itupun tak menyangka akan menjalankan tugasnya bersama dengan kakak itu, karena para juara akan menjalankan tugasnya dengan pasangan juaranya masing-masing. Dilanjutkan sesi foto bersama dengan pemerintah setempat dan para juara. Acara selesai, dan para juara turun dari panggung. Dalam langkahnya menuju ruangan tempat berkumpulnya finalis, terdengar suara dari belakang, lalu menolehlah kakak berjilbab itu ke belakang, dilihatnya seberkas senyuman yang menampakkan lesung pipi, dibalaslah senyuman itu juga dengan senyuman kakak berjilbab. Dengan tersenyum dan memegang hanphone yang sedang menyala, sepasang mata yang mempunyai lesung pipi itu meminta nomor handphone kakak itu. lalu dijawablah oleh kakak itu.

Selama setahun terhitung dinobatkan mereka sebagai juara, mereka menjalankan tugasnya sebagai duta wisata. Selama itupula mereka banyak berkomunikasi dan pergi bersama untuk tugas kepariwisataan. Kebersamaan mereka juga semakin erat karena ternyata kakak itu belum bisa mengendarai motor, jadi sepasang mata itu harus menjemput dan mengantarkan pulang dengan motor kesayangnnya. Selain itu, rumah mereka juga saling berdekatan ternyata. Jadi ketika mereka mendapat tugas kepariwisataan, kakak itu dijemput olehnya. Dengan sabar dia menjemput dan mengantarkan kembali ke rumahnya selama masa jabatan mereka. Banyak kebahagiaan yang mereka lalui dalam menjalankan tugas mereka. Banyak tempat indah pula yang mereka kunjungi.

    Di tengah tahun masa jabatannya, kakak itu masuk di universitas dan empunya sepasang mata itu naik kelas, kelas tingkat akhir masa SMA. Banyak komitmen dan target yang mereka buat terhadap diri mereka masing-masing sebagai jembatan masa depan yang cerah. Masing-masing mereka berkomitmen dalam bidang caring kesehatan dan keamanan dalam negeri.

Pada saat-saat pertama kakak itu masuk dunia kampus, dia menuliskan sesuatu yang menurutnya sebagai komitmen dasar untuk dirinya sendiri sebagai insan yang ingin menjadi lebih baik dan selalu berkembang dalam kebaikan. Pada buku evaluasi dirinya, ia menuliskan

JBE HIGH QUALITY ADOLESCENT J

One again, every boy student is friend not more…sorry…hahahaiii…;-)  There is  the special time for it…Okkayyy…:D”

Menurutnya, catatannya itu sebagai vaksin terhadap dirinya sendiri, terhadap virus yang sering menginfeksi para remaja. Mungkin virus itu lebih jahat dibandingkan virus HIV yang dapat melemahkan otak. Dia menganggap sebagai mahasiswa diperlukan pemikiran-pemikiran yang brilliant juga semangat bergerak yang baik jika ingin menjadi insan yang bermanfaat sebaik mungkin. Kedua hal itu tidak akan dia dapatkan apabila dirinya dihinggapi kegalauan, katanya dalam hati ketika menuliskan komitmennya itu.

I HATE GALAUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

GALAU makes me………..

 get bad mood è lazy to do everything

lazy to do everything è include pray to my God

influence my concentration è can’t study well

influence my emotion è often angry

inufluemce my mind è dizzy…confused…

and still many BAD THINGS that influence me…………

the short sentence…GALAU  HURTS ME!!!

Only ALLOH that can help ME J

Perkuliahan perdana, semester awal berlangsung. Nampaknya Tuhan menguji komitmennya itu. beberapa teman baru dalam kampus itu “mendekatinya”. Namun, coretan komitmennya itu masih melekat jelas dalam bayang-bayangnya. kakak itu dengan mudah melakukan apa yang telah menjadi komitmennya.

Tak disangka, tak dinyana, sepasang mata itu ternyata menaruh rasa yang tak biasa pada sang kakak juga. Hal itu diketahui sang kakak secara tersirat dalam comment pada jejaring sosial. Dalam foto berurutan dari sebelah kiri, kakak berjilbab-ayahnya-kakak perempuanya-kakak iparnya, sepasang mata itu meninggalkan sebuah comment “rasanya dalam fotomu ada yang kurang, di sebelah kananmu belum ada yang ngisi seperti di sebelah kiri kakakmu”. Kakak berjilbab itu sontak berpikir berulang kali membaca perkataan dalam comment itu. Tak ingin bepikir terlalu dalam, kata kakak itu dalam hatinya.

Pada awal kehidupan kampusnya, kakak itu mengalami kegalauan, bukan galau karena cinta atau apa, namun galau tentang organisasi yang akan diikutinya. Akhirnya, kakak itu memilih mengikuti rohis kampus. Dia rajin mengikuti kajian di dalamnya. Suatu ketika dia mendapatkan materi tentang ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah sinar yang diletakkan oleh Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut.” Mendengar pernyataan itu, dia semakin yakin dengan komitmennya. 

Sabtu malam pada salah satu pekan pada bulan Desember, merupakan malam pergantian generasi duta wisata. Mereka juga harus hadir pada acara itu untuk menyerahkan selempang duta wisata kepada generasi duta wisata berikutnya. Pada saat sepasang mata akan menhampiri ke rumah kakak itu untuk berangkat, hujan tak kunjung reda karena pada saat itu memang musim penghujan. Akhirnya sang kakak dan sopir menghampiri sepasang mata ke rumahnya yang searah dengan tempat acara tersebut digelar.

Beberapa hari kemudian kakak membaca sebuah ungkapan hati sepasang mata itu dalam catatannya yang berjudul 3 Desember 2011 dalam sebuah beranda di jejaring sosialnya. Suatu hari yang menurut ku hari yang terindah yang pernah kurasakan. Dimana situasi saat itu malam hari, hujan tapi tidak deras melainkan hujan gerimis rata. Memang allah SENGAJA memberikan setting yang begitu indah dan terkesan sangat romantis. Sekitar pukul 18.00 si “dia” memberanikan diri datang ke rumahku sendirian memakai baju yang kita sengaja buat sama, tak kukira dia mau menjemputku, kemudian kami meninggalakan rumahku hanya berdua , dan kami hanya berlindungkan 1 panyung dibawah guyuran hujan garimis di malam hari, dan kami bejalan bersama sampai pada posisi mobil,….oowhh. di dalam mobil kami duduk bedampingan. Disaat pulang dari acara itupun dia merelakan dirinya yang capek itu untuk mengantarku sampai kerumah…memang orang yang benar- benar bertanggung jawab, HEBAT.

Paling tidak seperti itulah setting yang indah itu…….akupun bingung harus menuliskan apa, karena memang hal ini sudah tak lagi bisa kucoretkan dalam sebuah kata- kata luapan ekspresi jiwa, Yang mungkin sekarang dalam keadaan bahagia. Mungkin yang kurasakan hanyalah INDAH.

Karena cinta…….

Cinta menumbuhkan kebahagiaan

dalam kebersamaan,

kerinduan saat terpisah,

kegalauan dalam ketidak-jelasan,

kepedihan karena ketidak-setiaan,

… kenangan pada masa lalu,

dan harapan pada masa depan

Hanya itu yang bisa kutuliskan….. untuk lebih lanjut aku harus bersikap lebih TEGAS lagi.

Namun ketegasannya itu membuat galau kakak itu. Dalam catatan evaluasi dirinya, kakak berjilbab itu mencurahkan isi hatinya di lembar evalusai dirinya Agustus 2012.

Ya Robb yang maha membolak-balikkan hati …

Hari ini hatiku rasanya tak karuan…

Setelah kemarin mendengar perkataan seseorang “jika kamu tau apa doaku, kamu akan mengucap Subhanallah”.

Bukannya aku tak menghargaimu, tapi aku ingin sekali menujukan cintaku pada yang berhak. Aku hanyalah manusia biasa yang masih labil dengan keimananku, tak jarang imanku turun. Aku hanya ingin berusaha dan mempertahankan bagaimana seharusnya menjadi seorang hamba yang mengikuti semua aturan Tuhannya. Aku tidak ingin cintaku dengan-Nya terusak oleh cinta duniawi, yaitu cinta lawan jenis yang tidak diperbolehkan dalam salah satu aturan dari serangkaian aturan-Nya.

Aku tidak ingin Tuhan cemburu dengan kita karena aku takut dengan kecemburuan-Nya, Dia tidak akan memeluk kita lagi. Kalau sudah begitu dengan siapa lagi kita dipeluk?

Memang, rasa cinta dalam hati itu fitrah setiap insan. Tetapi bukan berarti kita bebas mengungkapkan perasaan itu kepada siapa saja.

Sekarang belum saatnya, karena masih banyak target yang harus kita capai bukan? J

Cita-cita…

Membahagiakan orangtua…

…………………………

Dan tentu saja semua itu harus dengan keridloan-Nya. Dan keridloan-Nya itu kita harus dipeluk-Nya dulu. Kalau dipeluk saja tidak, bagaimana Dia menyayangi kita dan memudahkan semua langkah kita?

            Bukannya aku tidak menghargai atau mempermainkan dirimu tetapi selama ini hatiku merenung. Dalam alam sadarku mengatakan aku adalah orang yang rugi jika tidak mengatakan “IYA” padamu. Tetapi di sisi lain, alam bawah sadarku mengatakan, “tunda dulu, hal kecil itu dapat mempengaruhi hidupmu. apakah kamu rela hidup kalian tidak berjalan mulus? Hanya kerena hal yang sesungguhnya bisa dihindari.”

Cowok SMA berlesung pipi itu sebenarnya baik, santun, berprestasi juga dari keluarga yang bisa dikatakan dihormati sekitar. Tidak susah kata “iya”itu dikatakan untuk menerima cintanya. Namun bukan hal yang bijak apabila “iya” itu terucap, kata kakak dalam hatinya.

Pagi itu, kala mentari belum menampakkan rekahan senyumnya, embunpun serasa belum mau beranjak, saat itu pada bulan Ramadhan, terdengar suara pintu gerbang yang dibuka. Kakak itu yang sedang bersantai sembari membaca buku di gazebo depan rumahnya, menanggalkan bacaannya sejenak, dilihatnya seseorang berkaos kuning berkerah dan training dengan tangan kirinya memegangi sepeda fixi kuningnya. Dibukalah pintu gerbang itu, dengan ramah kakak itu mempersilakan masuk. Nampaknya, sepasang mata itu menginginkan kejelasan tentang perasaan kakak itu kepadanya. Pembicaraan serius yang merubah suasana sejuk pagi itu terjadi.

“Kenapa kamu sefanatik itu sih?” kata sepasang mata, tanda akan marahpun muncul.

“Aku tidak fanatik”

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” Al-Isra`: 32

“pacaran itu perbuatan yang mendekati zina dan itu perbuatan maksiat, kalau sudah maksiat ilmu akan jauh dari kita, padahal sekarang masih banyak hal yang harus kita kejar untuk kita sukses dan semuanya butuh ilmu kan?”

“Apakah menjalankan peraturan yang ada itu fanatik? Larangan itu ada di Al-Qur’an, dan itu pedoman hidup kita kan?”

“Maksiat menjauhkan kita dengan Tuhan, padahal kita perlu segala hal pada Tuhan, kalau udah jauh, kita meminta, apa iya permintaan kita terdengar? Mungkin harus berteriak dan berlari dulu yang sangat butuh banyak energi.” Ulas kakak itu.

Mendengar perkataan panjang kakak itu, dia menunduk dalam duduknya seakan berfikir, nampaknya hal itu baru diketahuinya pagi itu. Tiba-tiba kata “terimakasih” terucap lirih. Sepasang mata itu juga berkata “nah…gitu diomongkan jangan diem aja.” Nampaknya jawaban “tidak” yang tak beralasanpun bukan hal yang bijak pula pada situasi seperti itu. Bisa jadi menimbulkan prasangka-prasangka buruk juga tindakan maksiat lainnya.

 “Semua ada waktunya, sekarang bukan saatnya untuk itu, sekarang kita harus fokus pada hal-hal yang membuat kita sukses di masa depan, dan menghindari maksiat bisa mempercepat kita sukses.” Tambah kakak itu. Dengan mengayuh sepedanya, dia pulang dan sepanjang jalan dia merasa dia tertarik dari belakang dikala satu langkah lagi terjatuh dalam jurang.

Kenangan kebersamaan merekapun masih terngiang dalam benak kakak itu, melihat foto-foto mereka bersama dalam berbagai event saat mereka menjalankan tugas bersamanya, bersepeda berdua dalam sejuknya embun pagi, menikmati terbitnya sang mentari, berbuka puasa bersama, bercanda bersama di gazebo taman, masih banyak lagi kebersamaan yang begitu indah. Namun semua keindahan itu sesungguhnya keindahan yang semu, masih ada keindahan yang sejati, keindahan yang hadir karena melakukan segala hal sesuai tuntunanNya.

“Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati, jika hatiku ternoda maka bersihkanlah, jika hatiku jauh dari cahayaMu maka pantaskan aku untuk dapat seberkas cahaya itu, jika komitmen kebaikanku terlalaikan maka berikanlah hidayahMu agar aku segera kembali dalam kebenaran, berikanlah aku kebahagiaan yang memang tepat waktunya dan aku berhak atas itu Ya Allah, sehingga hanya rahmat dan berkah dari Engkau yang aku dapatkan bukan palingan Engkau terhadapku.” Renungan doa kakak berjilbab itu dalam usaha ikhlas meninggalkan semua hal yang dapat merusak hatinya dengan menata hati untuk Sang Maha Pemilik hati.

Oleh: Nirmala KS, Nganjuk Jawa Timur

Filed in

[Cerpen] Jalannya itu Hanya Nikah

[Cerpen] Kak, Apa Aku Boleh Mencintai Seseorang?

Your comment?
Leave a Reply