3:53 pm - Rabu Maret 24, 5402

[Cerpen] Ibu, Kau Siapa???

1374 Viewed

            Pagi yang cerah, membuat catatan hitam bersejarah dalam hidupku, gemercik air hujan, menghiasi suasana Ramadhan tahun ini. Semua itu mengingatkanku akan mendiang ibu. Akh..satu yang masih jadi sesalku sampai saat ini adalah karena ibu pergi meninggalkan penyesalan abadi, yang harusnya tak boleh terjadi! Yah, andaikan kata taubat itu sempat terucapkan, aku yakin ia pasti jadi bidadari syurgaku nanti. Hehe..

            Oh ya, kawan, perkenalkan namaku Alifian Syahbata Mufti, baguskan? Tapi, sejak pindah ke panti ini, nama itu, aku ganti menjadi..Daniel, yah D-a-n-i-e-l kenapa yah, aku menggantinya? Aku sendiri tidak tahu, yang jelas ini hanya ‘keisengan’ semata, sungguh! Paling tidak harapanku, agar warga panti melihat ada kemiripan antara aku dan ibu, meskipun hanya sekedar nama! Catrina dan Daniel, hehe..  kalau bicara tentang, siapa ayahku? Lebih baik tidak usah! Sebab semua orang pasti tidak tahu, kecuali aku, ibu dan Allah yang tahu. Kenapa yah? Karena.. itu a-i-b!

Tok..tok..tok.. “Daniel, ayo keluar nak!”

Akh.. suara itu lagi. Sudah sekian kalinya ibu panti mengetuk pintu kamarku, beliau selalu saja memaksaku. Padahal tadi aku sudah bilang, tidak mau! Oke, daripada harus bertemu nasib buruk, lebih baik, dengarkan nostalgia nasibku lagi, yuk!

Kau tahu? Entah mengapa, aku sayaaang sekali pada ibuku dan rasa sayangku itu tidak kutemukan untuk diri ayah. Kau mau bilang aku pelit? Tidak juga! Karena seharusnya tidak ada salah seorangpun dari mereka yang aku sayangi! Kenapa? Mau bilang aku kejam? Tidak juga! Karena, begini loh kawan, coba kau bayangkan sekarang dan berkhayallah menjadi aku untuk sementara waktu, maka nasibmu akan terasa sama, sebagaimana nasibku, yang setiap pulang dan pergi sekolah hanya jadi bahan ejekan teman-teman, dan tak kurang anak-anak SMP itu mengumpatku dengan kata yang amat menyakitkan ini, ANAK HARAM!!!

Yah, jadilah aku seperti saat ini.. aku lebih senang bersama dengan duniaku sendiri. Malam baca buku, siang jualan koran dan yang tak kalah penting rutinitas soreku ini, pergi ke panti untuk belajar ngaji. Kak Gilang, anak panti dari Medan itu, yang pertama kali mengajakku kesini, sementara ibuku sendiri tak pernah tahu tentang ini dan aku harap ia tidak pernah tahu. Yang jelas ibu hanya perlu tahu bahwa anaknya senang dengan rutinitas barunya itu.

“Daniel, kau itu, sejak tadi dipanggil ibu panti tuh! Ada tamu diluar, tak juga kau ini keluar. Sudah, taruhlah bukumu itu! makin hari makin aneh saja pekerjaanmu, bercakap-cakap dengan benda mati seperti itu!” sekarang, kak Gilang yang ‘geregeten’. Yah, bagaimana tidak? Sejak tadi, ia menyaksikan ada orang yang namanya disebut-sebut tapi orang itu sendiri malah terlihat asyik sibuk  pekerjaannya yang aneh dan hanya mengundang orang lain untuk mengangkat telunjuknya ke depan kening dan berkata ‘GILA!’.

Kini, aku memilih berada dipojok kamar, dan dalam genggamanku kali ini adalah Al-Qur’an. Yah, lebih baik tilawah daripada dianggap sinting! Hah, tiba-tiba mataku sudah menangkap sosok lain disampingku, ‘Itu pasti Ibu panti!’ bisikku dalam hati. Fokusku buyar, pasti kak Gilang yang membuka kuncinya! Akh.. Ia menyebalkan sekali!

“Nak Daniel” tangannya menepuk bahuku, tuh kan benar Ibu panti! Oke, sebelum Ibu panti angkat bicara, tolong, biar aku jelaskan alasanku berbuat hal ini padanya.

“Ibu panti, dengan segala hormatku pada Ibu. Aku bukan ingin menampakkan sikap egoisku pada Ibu, tapi akh.. coba apasih,  yang mereka harapkan dariku? Aku ini hanya penjual koran Bu, kalau mereka mau, kan masih banyak anak panti lain yang lebih penurut dibanding aku!” ucapku penuh ekspresi memelas. Yah, jujur saja, aku tak mau dibawa pergi dari sini, ilmu agamaku masih terlalu ‘cetek’ dibandingkan teman-temanku yang lainnya.

“Nak Daniel, nak Daniel itu anak baik dan sholeh. Kenapa berkata seperti itu? lagi pula siapa bilang, Ibu yang diluar sana itu mau mengangkat nak Daniel jadi anaknya. Ibu itu hanya bilang kalau ia ingin bertemu anaknya, dan dia bilang anaknya itu adalah nak Daniel!”

‘Hah? Apa? Siapa dia?  Mengaku sebagai ibuku? Tidak mungkin! Ibuku? Akh.. pasti ibu itu mengada-ada saja!’ gumamku dalam hati, hari gini.. makin banyak saja model penipuan! Tapi, penasaran juga sih.. Jadi ingin melihat orangnya ahh, eh..tapi, pasti Ibu itu ada maunya! Jangan-jangan..

“Akh.. aku tetap tidak mau, Bu. Ibu panti kan tau, Ibu kandungku sudah meninggal, masak tiba-tiba hidup lagi! He..” ucapku penuh kekonyolan.

“Tentu, nak Daniel. Ibu panti tau, Ibu Catrina-mu sudah tiada, tapi tidakkah kamu ingin melihat Ibu yang garis wajahnya mirip sekali denganmu?” ucapnya lebih serius.

“Hah???” pekikku kaget. Kali ini ekspresi asli! Secara tidak langsung, Ibu panti ingin menyadarkanku kembali akan perbadaan yang amat jauh antara aku dan ibu Catrina dan itu sangat terlihat dari berbagai segi! Yah, dari berbagai segi, termasuk Fenotipe. Kau tahu? Ia lebih terlihat seperti Cleopatra, Ratu mesir berdarah afrika itu! sementara aku? Yah, seperti anak indonesia biasa, hanya.. lebih bersih sedikit lah! Yang jelas, semoga spekulasi tentang ayah tidak boleh meleset, dimana aku yakin adalah bahwa ialah yang menurunkan Genotipe ini padaku, kalaupun bukan, pasti Kakek atau Nenekku. Yah, pasti seperti itu, seperti Genetika Mendel berbicara!

Karena terus didesak, akhirnya, aku beranikan diri melihat tamuku itu kulangkahkan kakiku ini dan perlahan kubuka pintu ruang itu, kalau boleh jujur, aku sendiri merasa sangat penasaran dengan Ibu yang hampir dua jam menungguku dengan sabar di ruang tamu ini. Krek…

“Assalamualaikum.” Sapaku.

“Waalaikumussalam.” Ku dengar seseorang menjawabnya, namun tak kunjung terlihat ada orang yang datang ataupun sekedar berdiri menyambutku, kecuali.. kecuali sebuah kursi roda! Ya dan saat ini kursi roda itu berusaha mendekat padaku. Aku tertegun untuk sementara waktu, pandanganku tertuju pada seorang yang duduk diatasnya, ia seperti… seperti…

Tiba-tiba, pikiranku teringat majalah kesehatan yang tempo lalu kubeli diemperan jalan, rubrik utamanya membahas sebuah nama  penyakit jantung PERICARDITIS CHRONICA, yah, kalau tidak salah itu! siapapun penderitanya, pasti ia akan menbuat iba siapapun yang melihatnya, dan sosok itu seolah ada di hadapanku!

“Ibu itu mencariku?” kepalaku mendongak dan menatap ibu panti. Ia hanya menggguk kecil.

“I-bu mencariku?” giliran ibu berkursi roda yang aku tanya. Tatapannya begitu dalam padaku, air mukanya bersahaja. Ibu panti benar, ia mirip sekali denganku atau? aku yang mirip sekali dengannya? Ah, yang jelas..itu sama saja! Tak perlu khawatir, kawan! Tentu  aku masih dalam sinyal waspadaku, bisa jadi ia keluarga lama Ayah yang berpura-pura saja,kan?

“Ya, siapa namamu, nak?” suaranya getir terdengar. Kuamati sepertinya ibu ini masih muda hanya..

“Aku? Namaku Daniel”jawabku singkat.

“Bukan nak, namamu Alif, ummi memberimu nama Alifian Syahbata Mufti sejak kau lahir, kau ingat itu?”

‘Hah? Bagaimana ia bisa tau? Padahal tak ada satupun warga panti yang tau tentang namaku itu, Ibu panti pun tidak tahu, sungguh!’ bisikku dalam hati. Aduh .. kenapa ini? Kepalaku tiba-tiba jadi sakit sekali. Fokusku mulai terganggu.

Semenit kemudian..

“Ib..ibu” akh.. suaraku tercekak!

“Ummi tidak memaksa kau memanggilku ‘ummi’, nak! Jika kau belum bisa mengatakan itu, panggillah dengan nama yang kau sukai.” suaranya berusaha bersahabat.

“Kenapa..kenapa Ibu bisa menyebut nama itu?”

“Mana ada Ibu yang tak kenal nama anaknya sendiri, sayang!” ucapnya lembut. Tangannya berusaha memutar roda kursinya, agar lebih dekat denganku. Kini jarak kami hanya empat ubin.

“Ummi mengerti, ini pasti membuatmu sangat bingung, kan? Kenapa ? Karena takdir Allah itu sangat sulit untuk kita hindari, Alif. Namun percayalah! Rencana-Nya pastilah yang terindah, sampai ummi bisa bertemu denganmu saat ini, bagi ummi ini adalah karunia yang amat besar yang ummi terima, melihatmu tumbuh besar dan jadi anak sholeh!” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.

Yah, aku tertegun dan bingung. Entahlah, aku tak mengerti situasi ini.. dan aku tak mengerti harus berbuat apa? Aku terlalu lalai untuk sekedar memperjelas asal-usulku. Tapi mungkinkah ibu Catrina berbohong padaku? Doktrinkah ini? Atau…akh, tak mungkin! aku menjalaninya hampir separuh hidupku didunia ini. Ini gila!!! Allah apa yang harus aku lakukan??? Hati dan pikiranku terus menerawang kebenaran yang samar ini. Namun tiba-tiba kakiku jadi terasa sakit sekali, dan pikiranku jadi menerka hal yang tidak-tidak tentang ibu ini dan ayahku, jangan-jangan.. Akh.. makin suram saja masa laluku itu!

“Kau tau Alif? Kau itu mirip sekali dengan abimu, ia baik, cerdas, tampan dan sangat pemberani. Sorot matamu menampakkan sifat-sifat yang sangat mirip dengannya. Ummi semakin yakin kaulah anak ummi!” ia berusaha meyakinkanku untuk yang kesekian kalinya.

“Apa??? Abi?” ucapku kaget.

“Ya, Abi-mu!”

“Kenapa kau menyebutnya Abi?”

“Karena seharusnya kau juga menyebutnya abi, Alif!”

“Kau bilang dia baik? Apakah ia muslim?”

“Ya”

“Tidak mungkin!!! Ayahku tidak mungkin baik, apalagi muslim! Karena muslim tidak mungkin jadi ahli prostitusi!” tanganku gemetar bahkan mungkin seluruh tubuhku. Kulihat matanya semakin berkaca-kaca namun pembawaannya masih sangat tenang.

“Tentu sayang, tapi tenangkanlah dirimu dulu! Ibu mengerti maksudmu pasti Mr.Cllouth, si Hitam itu, kan?”

‘Ah, apa lagi ini? tidak mungkin ia menyebut nama yang hanya dibisikkan sekali oleh ibu Catrina di depan telingaku. Kepalaku semakin sakit. Allah.. jika dia benar ibuku, ummi atau apapun itu. Tunjukilah Mautsiqoh-Mu pada diri hamba,  agar hamba bisa memutuskan perkara yang seharusnya terjadi!’ do’a-ku dalam hati.

“Siapa bilang dia ayahmu, Alif! Kau hanya punya abi dan abimu sangatlah pemberani. Ia syahidullah karena ia lebih memilih kebenaran didepan lehernya daripada harus melihat kebathilan didepan matanya. Sedangkan ummi? Ummi,  hanya wanita yang lemah dan tak punya kuasa apa-apa ketika Cllouth merampasmu dari pangkuan ummi. Maafkan ummi, Alif! Ummi akan terus berdosa jika kau mendendam pada ummi. Ummi harap kau mempercayai ummi, karena, tak ada harapan ummi di dunia ini yang lebih besar setelah Ridho-Nya selain bersatu kembali dengan buah hati ummi, sebelum semuanya berakhir dan Allah berkehendak mencabut nyawa ummi.. Maka kemarilah Alif, ummi ingin sekali memelukmu…” tangisnya pecah dan tangannya berusaha meraih diriku.

Seperti tersihir oleh kata-katanya. Akupun tak kuat untuk menahan tangis.

‘Yah, bukti apalagi yang mau aku tuntut untuk sekedar meyakinkan diriku setelah Mautsiqoh-Mu datang, ya Robb! Perempuan berkerudung di atas kursi roda itu adalah ibuku, ummi hidup dan matiku. Tiada bohong dalam ucapannya, tiada dusta dalam sendu matanya, tiadalah aku percaya ia datang untuk sekedar bersandiwara. Hatinya terlalu bersih untuk sekedar aku kotori dengan keraguanku. Maka ummi tetaplah disitu. Aku akan datang mencium tanganmu dan bersujud dikakimu. Akulah yang akan berdosa jika tidak sempat melakukannya padamu, ummi!’ azam-ku padanya. Tiba-tiba..

Brukk!!!

Sebuah tubuh ambruk kelantai

Aku tidak tahu siapa itu? bayanganku sendiri buram. Tapi yang jelas dan yang ku tahu adalah: bahwa akulah yang terbaring di ruang ICU No 301 ini!

Kau tahu? sudah dua bulan aku mengalami koma, perawat tadi yang berkata itu pada ummi, yah aku sempat mendengar perbincangannya meskipun mata ini sulit sekali untuk kubuka. Oh iya perkenalan kita sebenarnya, belum tuntas loh! Aku lupa memperkenalkan kawan spesialku ini, yah dialah Kanker Otak-ku. Maaf, yah! Bukannya aku pelit.. tapi sungguh! Aku hanya tak ingin jika kau tau dari awal kau akan menggapku anak yang lemah sehingga kau akan berkata ‘Mujahid kok Cemen!!!’.

Malam ini aku terjaga karena suara isak tangis ummi, yang aku ingat sebelum mimpi panjangku adalah perkataannya yang ini “Dirimu masih terlalu dini untuk sekedar mengerti masalah yang serumit ini, Alif. Maafkan ummi.. sekali lagi maafkan ummi..” Ummi minta maaf untuk yang kesekian kalinya padaku dan aku jadi tau kalau Mr.Cllouth lah yang membunuh Abi sedangkan Catrina sendiri adalah anak buahnya.

Indahnya! aku seolah sedang mengukir di bentangan biru langit ini, kau tahu apa yang ku ukir? Yaitu: Do’a-ku pada ilahi…

‘Ya Allah, karena kau menakdirkanku terlahir suci karena fitrah-Mu sedang orang tua-ku tak kurang ruku’ dan sujudnya pada-Mu. Maka jika baktiku selama ini adalah benar, Pertemukan kami di syurga-Mu nanti, ya Allah!’

Sebelum tahlil terucapkan, di ujung nafas dan kekuatanku dan akupun tak lagi mengenal dunia, ternyata ada satu lafadz yang terus terngiang dalam jiwaku, yaitu bahwa Aku Masih Punya Ibu, dan dialah Ummi-ku!

‘Ku tunggu timanganmu di syurga nanti Ummi, Selamat Tinggal Ummi………..’

LAAILAAHAILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH

Oleh: Masyithah Nurul Haq, Bandung Kulon Jawa Barat 

Filed in

[Cerpen] Jika Aku menjadi Dirinya

[Cerpen] The Massacre