7:54 am - Rabu Juni 26, 2019

[Cerpen] Jika Aku menjadi Dirinya

8587 Viewed

Aku ingin melihat cahaya terang dalam keluarga kecil ini. Aku ingin ibu selalu tersenyum di setiap perjalanan hidupnya.

Tuhan, kenapa semua berakhir seperti ini? Apa Kau tak mengerti apa yang ku mau? Aku hanya ingin  menjadi seperti Tiara. Tapi aku tak bisa. Aku sadar itu, dan tetap saja, aku tak mau seperti ini.

***

            Namaku Putri. Beberapa tahun lalu, tepatnya pada tahun 1994 aku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang bernama Fatimah. Lima menit sebelum aku dilahirkan, kakakku yang bernama Tiara sudah terlebih dahulu menghirup udara segar di dunia ini. Ya, kita berdua anak kembar dari pasangan Ibu Fatimah dan Ayah Didiyanto. Sayangnya, saat kita berdua dilahirkan, kita tak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Kata ibu, ayah kita meninggal dalam sebuah kecelakaan saat kita masih ada dalam kandungan ibu. Kata ibu, ayah kita adalah ayah yang sangat sabar dan penyayang.

“ Ayah, andai aku bisa bertemu denganmu, andai aku bisa mendengar cerita, dan melihat senyuman dalam raut wajahmu, aku tak akan merasa seperti ini. Ibu pasti tak akan banting tulang sendiri seperti saat ini. Kenapa secepat itu ayah pergi? Kenapa secepat itu ya Allah? Kau biarkan keluarga kecil ini hidup tanpa seorang pemimpin.”

Saat aku masih kecil, ibu sering bercerita tentang sosok ayah yang baik. Dan aku salut pada ibu. Ia bisa menjadi ibu yang sempurna sekaligus bisa menjadi pemimpin dalam keluarga kecilku ini.

“ Nak, kalian berdua tak boleh saling berselisih. Jika kalian sudah dewasa nanti, kalian harus bisa menjadi yang terbaik untuk ibu. Jangan mudah menyerah dalam kegagalan yang mungkin datang dalam hidup kalian nanti. Dimata ibu, kalian berdua sama. Tak ada yang bisa membuat ibu memilih satu di antara kalian.”

***

            Kata-kata ibu waktu itu masih teringat jelas di benak ini. Ibu tak akan membedakan aku dan Tiara. Tapi, aku masih saja sering iri padanya. Walaupun ibu menyuruhku untuk membuang rasa iri itu jauh-jauh, namun tetap saja. Aku tak tahu kenapa perasaan iri ini semakin terasa sangat besar sewaktu aku memasuki masa-masa SMA.

Tiara adalah anak yang rajin, santun, dan tak pernah mau menyusahkan orang lain. Dia baik, rajin, dan selalu semangat dalam menjalani hari-harinya. Selain itu, dia selalu menjadi bintang kelas di sekolah. Dari pendidikan kanak-kanak, sampai saat ini. Ini yang membuatnya menjadi anak yang ibu banggakan. Aku memang berbeda dengannya. Aku tak bisa menjadi seperti dirinya. Tak akan pernah bisa. Aku hanya bisa memendam semua yang aku rasakan.

Aku bisa memendam rasa iri ini karena aku selalu ingat kata-kata ibu. Ibu selalu berkata padaku agar aku tidak mudah menyerah. Masih ku ingat, saat Tiara lagi-lagi menjadi bintang kelas nomor satu di bangku SMP dulu, aku penah bertanya pada ibu,

“ Bu, kenapa ya Putri tidak bisa menjadi bintang kelas seperti Tiara? Apa Ibu masih sayang pada Putri jika Putri tak bisa seperti Tiara?”

Lalu, ibu menjawab pertanyaanku. Dengan belaian jemari tangannya, ibu membelai kepalaku dan berkata, “ Putri, kamu ini anak Ibu yang kuat. Ibu yakin, anak Ibu yang satu ini akan menjadi anak yang sukses, sama seperti kakakmu. Ibu tak pernah membedakan kamu dan kakakmu. Ibu janji tak akan membedakan kasih sayang Ibu pada kedua anak Ibu ini. Ibu ingin kalian berdua sukses bersama. Jangan kamu pelihara rasa iri itu, ya. Ibu yakin, kamu bisa.”

***

Ibu sangat menyayangi kita berdua. Dari semua perkataan ibu, aku pun yakin, kelak pasti aku bisa menjadi anak yang berguna untuk ibu. Akhirnya, tahun terakhir aku di SMP aku bisa menjadi bintang kelas. Meskipun Tiara tetap nomor satu. Tapi tak apa, dengan ini aku bisa membanggakan ibu, walaupun baru pertama kalinya aku menjadi anak yang ibu harapkan.

Ini tahun pertama aku di SMA. Teman-teman baru, guru baru, dan sekolah pun juga baru. Di masa-masa SMA aku tak bisa membanggakan ibu lagi. Aku tak bisa menjadi apa yang ibu harapkan. Mungkin, ini pengaruh lingkungan. Aku terjebak dalam pergaulan yang salah. Aku menjadi anak yang sering membantah ibu, sering marah, dan selalu iri dengan Tiara. Omongan teman-temanku merasuk dalam pikiran ini. Temanku, Devi pernah berkata, “ Put, kamu nggak iri sama Tiara? Tiara itu sudah menjadi siswi yang paling disayang oleh semua orang di sekolah ini. Dia juga bisa mengalahkan prestasiku. Tiara itu anak yang rajin, santun, dan bisa membuat orang di sekitarnya tersenyum. Tapi, kenapa kamu nggak seperti dia? Sikap dan sifatmu benar-benar berbeda dengannya. Iya  kan temen-temen?”

Lantas Vitya menjawab, “ iya, kamu benar-benar berbeda dengan Tiara. Kamu sering bolos sekolah, maennya sama anak-anak nakal. Nggak pernah ikut belajar bersama Tiara. Kamu kenapa sih? Kok berbeda dengan Tiara? Seharusnya, kamu bisa seperti Tiara. Aah kamu payah. Apa sih yang bisa dibanggain dari kamu? Sepertinya nggak ada deh… hahaha…”

Aku hanya terdiam dan tak bisa berkata apapun. Mata ini hanya bisa melihat wajah teman-temanku yang seakan tidak menyukaiku. Saat mereka meninggalkanku, Vira memegang pundakku dan berkata, “Hei,  sudah tak usah didengarkan. Aku akan ada di sampingmu. Aku akan membantumu, Put. Lebih baik kita cari cara agar si Tiara bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Oke!”

Aku senang, masih ada teman yang mau menemaniku saat semua berpihak pada Tiara. Apa yang ku alami, apa yang ku dengar hari itu menjadi awal dimana aku mulai membenci Tiara. Segala cara aku gunakan untuk membuatnya malu, dan tak betah di sekolah ini. Jika dia keluar dari sekolah ini, aku pasti tak akan merasa terpojokkan lagi. Aku pernah membuatnya dihukum untuk yang pertama kalinya oleh guru kelasku. Aku pernah membuatnya malu di depan kelas. Aku sengaja memberi lem di kursinya, dan saat dia maju ke depan kelas, semua anak menertawakannya. Entah mengapa, saat aku melihat Tiara sedih, aku merasa senang. Saat aku melihat seluruh anak menertawainya, aku pun merasa lega. Dan saat ibu guru menghukumnya untuk pertama kali, aku tertawa bisa tertawa lepas. Dari saat itu, aku sering membuat saudara kembarku ini malu, marah, dan sedih. Dia tahu, aku yang melakukan semua itu. Walau dia tak pernah marah padaku, dan menceritakan itu semua pada ibu, aku tak akan seperti dulu. Sudah cukup aku menjadi bayang-bayang Tiara. Menjadi anak ibu yang selalu berharap tanpa diharapkan. Selalu saja Tiara…Tiara…dan Tiara.

***

Tahun kedua aku di SMA, aku merasa sendiri. Aku tak tahu kenapa kasih sayang ibu seakan berkurang. Ibu yang dulu selalu ada dan menyayangiku seakan tak lagi menyayangiku. Ibu selalu membanding-bandingkan aku dengan Tiara. Aku tak tahu, kenapa semua ini terjadi. Teman-teman, guru, dan ibu, semua lebih sayang pada Tiara. Aku merasa Tiara sering mencari perhatian orang-orang di dekatnya.

Waktu itu, sudah yang ketiga kalinya Tiara pingsan di sekolah. Dengan khawatir, ibu datang ke sekolah dan langsung membawa Tiara pulang. Ibu kini tak seperti dulu. Kalaupun aku sakit, ibu tak akan sepanik itu. Kepanikan ibu jika anaknya sakit, menggambarkan rasa sayangnya. Tapi ini tidak. Akhir-akhir ini aku merasa ibu lebih sayang pada Tiara. Saat ibu membawa Tiara ke Rumah Sakit Umum, aku bertanya pada ibu, “Bu, Ibu bilang Ibu tak akan membagi kasih sayang Ibu? Ibu bilang kita berdua sama? Tapi mengapa Ibu tak pernah memperhatikan aku lagi? Bahkan, jika Putri sakit, perhatian Ibu masih tetap pada Tiara. Tiara…Tiara…Tiaraaa. Selalu Tiara. Asal Ibu tahu aja, Tiara selalu mencari cara untuk mendapat perhatian orang-orang. Mungkin ini juga cara Tiara untuk mendapatkan perhatian Ibu. Dengan dia berpura-pura sakit. Ibu jangan percaya begitu saja pada Tiara. Putri ini juga anak Ibu. Jaga perasaan Putri aja sudah tak pernah. Selalu saja Tiara. Apa Putri ini sudah tak berguna dimata Ibu?”

Setelah aku berkata seperti itu, bukan jawaban yang ku dapat. Tapi nasihat nasihat kasar ibu yang dulu tak pernah ku dengar. Ibu bahkan memukul pipiku dengan tangannya sendiri. Itu sangat terasa dalam hati ini. Pukulan Ibu yang pertama untuk anaknya ini merasuk ke dalam asa. Hati ini ikut terpukul. Ibu bilang kini memang berbeda. Ibu bilang kini Ia memang lebih sayang pada Tiara. Sungguh itu menjadi pukulan tersakit dalam yang pernah ku rasakan.

Dari situ aku tahu. Aku memang berbeda dengan Tiara. Aku semakin membenci Tiara. Dia bisa membuat aku seperti ini. Seakan kehilangan seorang Ibu yang dulu menyayangiku. AKU BENCI TIARA. Tuhan, kenapa semua berakhir seperti ini? Apa kau tak mengerti apa yang ku mau? Aku hanya ingin  menjadi seperti Tiara. Tapi aku tak bisa. Aku sadar itu. Dan tetap saja, aku tak mau seperti ini.

Ibu yang dulu berkata tak akan membedakan kita berdua, kini telah berubah. Dia menyayangi Tiara dan tak lagi menyayangiku. Ibu sudah pergi. Entah kemana, aku tak tahu. Tiara memang hebat. Ia bisa menggeser prestasi anak-anak di sekolah, dan sekarang ia juga berhasil menggeser posisiku sebagai anak Ibu yang dulu ia sayangi.

***

Hari berganti hari, ini tahun ke tiga aku di sekolah. Di tahun ini, aku ingin Tiara tak seperti dulu. Aku tak mau melihat dia mendapat nilai yang sempurna. Di beberapa ujian-ujian sekolah, aku dan beberapa temanku sering mengganti jawaban Tiara tanpa sepengetahuannya. Aku berhasil. Aku berhasil membuat prestasinya turun drastis. Dengan nilai Tiara yang sudah tak sesempurna dulu, aku berharap kasih sayang Ibu berkurang. Tapi kenyataannya tidak. Ibu tetap menyayangi Tiara. Perhatian Ibu tetap besar dan tulus padanya. Ibu seakan tak ingin melepasnya. Setiap saat, ia selalu bersama Tiara. Dan aku, aku tak betah melihat kebersamaan mereka berdua. Aku sering menginap di rumah temanku. Aku benci Tiara. Dia yang membuatku seperti ini. Semakin lama aku melihatnya bersama Ibu, aku semakin membencinya. Kenapa Ibu lebih menyayangi Tiara.

Akhirnya, di bulan January lalu aku menyuruh teman-temanku untuk membantuku membuat Tiara jera. Temanku Vira menyuruh si Rio untuk mengajak teman-temannya mengganggu Tiara.

“ Udah, Put. Kamu tenang aja. Rio dan teman-temannya akan menghabisi Tiara. Jangan khawatir. Tiga hari kedepan, Tiara pasti akan jera. Haha …”

“ Iya, Vir. Tapi…”

“ Tapi apa?”

“ Jangan sampai Tiara terluka, ya…”

“ Hahaha.. . kamu ini lucu. Kamu ingin Tiara jera tapi nggak terluka? Ya udah lah. Kamu tenang aja. Rio pasti tak akan berbuat sejauh itu.”

Aku percaya pada Vira dan Rio. Hari berganti hari, dan ini sudah hari ketiga Rio dan teman-temannya mengikuti Tiara kemanapun ia pergi. Waktu itu, di siang hari Vira menghubungiku.

“ Put . . .”

“ Ya, Vir? Ada apa?”

“ Tiara dirujuk ke RSU kota tadi.”

“ Apaaa? Tiara kenapa? Kamu bilang Rio tidak akan menyelakai Tiara, kan? Tapi mengapa sekarang dirujuk ke RSU? “

“ Aku tak tahu. Katanya, teman Rio ada yang sengaja menabraknya sewaktu ia akan pergi belajar ke rumah Bella. Dan sekarang, kita ada di RSU. Kamu tak mau menengoknya? Sebaiknya kamu kesini.”

“Tapi… aku takut. Aku tak bisa melihatnya. “

“ Sudahlah. Kesinilah. “

Ada apa ini!! Seketika perasaanku menjadi tak karuan. Perasaan takut dan iba datang menghampiriku. Aku tak mau menengok Tiara. Terpaku aku seketika, dan entah mengapa kaki ini berjalan cepat menuju ke RSU kota untuk melihat saudara kembarku yang tak berdaya disana.

***

            Setibanya aku disana, aku melihat wajah Ibu yang sendu. Air mata mengalir deras dari matanya. Ada apa sebenarnya? Baru kali ini aku melihat wajah Ibu seperti ini. Aku tak pernah membuat Ibu mengeluarkan air mata seperti saat ini. Semua yang ada disini menangis. Hati ini ikut merasakan apa yang Ibu rasakan. Lantas aku duduk di depan Ibu. Aku cium tangan Ibu dan berkata,

“ Bu, maafkan Putri. Putri yang salah. Kenapa ibu menangis? Apa yang terjadi, bu?”

“ Kakakmu Tiara sudah pergi. Ibu tahu, kamu yang ada di balik ini semua. Kakakmu sudah pergi, nak. Ibu belum bisa membuatnya bahagia.” kata Ibu sambil mendekapku dengan kedua tangannya.

Tersentak hati ini seketika. Aku tak mau kehilangan Tiara. Walaupun aku sempat membencinya, tapi masih ada rasa sayang dalam hati ini. Aku berlari menuju kamar Tiara. Tangisan ini tak bisa ku pendam lagi. Semua ku luapkan disana. Air mata yang dulu sempat terbenam dalam diri, kini tumpah bersama tangisan dan penyesalanku.

Ibu menghampiriku dan berkata, “ Put, sudahlah. Tiara tidak akan bangun lagi. Ini memang waktunya untuk pergi. Maafkan ibu nak, jika selama ini ibu selalu membedakan kamu dan Tiara. Tapi kalian memang berbeda. Tiara tak seberuntung kamu.” Ibu terdiam dan menangis lagi.

“ Tiara kenapa, bu?”

“ Sebenarnya ibu sayang sama kalian berdua. Ibu hanya ingin membahagiakan Tiara disisa hidupnya. Tiara sakit, nak. Kanker otak stadium empat. “

Aku terkejut. Hati ini terpukul. Kakak yang dulu selalu sabar menghadapi adiknya ini, yang tak pernah mau mengeluh, ternyata menyimpan rasa sakit dalam tubuhnya. Ini untuk yang kedua kalinya aku kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup. Aku sangat menyesal.

Aku hanya bisa duduk terpaku

Hanya bisa diam dan menundukkan kepalaku

Tak terasa air mata berlinang di pipiku

Aku tak sanggup berkata apapun

Hanya hati yang berbicara

Merasakan semuanya

Ibu memberikan sebuah buku yang menjadi tempat curahan isi hati Tiara. Aku menangis saat membaca buku itu. Buku itu seakan memarahiku. Seakan berbicara. Aku tak akan bisa jika aku menjadi dirinya. Menahan amarah dan selalu sabar menghadapi adiknya yang sudah sering mengganggunya. Apa yang ku lakukan? Hanya kesalahpahaman yang membuat aku seperti ini. Rasa iri menjerumuskan aku dalam kebencian selama ini.

“ Nak, Ibu tahu kamu sayang Tiara. Ibu juga. Ibu sangat terpukul ketika Ibu tahu Tiara sudah pergi. Awalnya, Ibu marah. Ibu ingin membencimu karena ulah-ulahmu yang membuat Tiara menderita disisa hidupnya. Tapi sekarang Ibu mengeti. Putri seperti ini karena Putri ingin Ibu juga memperhatikan Putri seperti Ibu memperhatikan Tiara, kan. Mulai saat ini Ibu akan menyayangimu seperti dulu. Kamu satu-satunya harta Ibu yang paling berarti.”

***

            Kata maaf dari bibir ini, tak bisa berhenti terucap. Sayang, Tiara sudah tak bisa menjawab semua kata maafku. Mungkin disana, ia mendengar aku dan penyesalanku. Ibu yang semula ku kira hanya sayang pada Tiara, ternyata menyimpan semua dalam hatinya. Ibu hanya ingin Tiara bahagia di sisa hidupnya.

Sekarang aku tahu. Aku adik yang tak tahu cara berterimakasih. Tak tahu bagaimana cara menyikapi nasib seorang Tiara yang tersenyum dalam sakitnya.

Sekilas coretan Tiara. Satu hari sebelum ia meninggalkan kita semua.

“ 6 mei 2013. Dear diary… Aku ingin melihat cahaya terang dalam keluarga kecil ini. Aku ingin ibu selalu tersenyum di setiap perjalanan hidupnya. Aku ingin saudara kembarku ini menjadi orang yang sukses kelak. Putri, kalau kamu tahu bagaimana perasaanku selama ini, apakah kamu masih membenciku? Apakah kamu masih tak mau menyayangiku? Aku kangen masa-masa indah sewaktu kecil dulu. Bermain bersama, canda tawa dan keceriaan selalu ada dalam cerita lalu. Kini, yang ku rasa hanya ribuan rasa sedih yang tak ada ujungnya. Aku juga tak ingin seperti ini. Hidup dengan penyakit yang nanti akan menewaskan aku. Perlahan, penyakit ini akan membuatku tak berdaya lagi. Disisa hidupku ini, aku hanya ingin membahagiakan Ibu. Membuatnya tersenyum melihatku jika esok aku tiada. Aku takut aku tak bisa melihat senyuman Ibu. Aku mau Ibu tersenyum melihat kita berdua sukses. Jadi, jika esok aku tiada, jaga Ibu baik-baik, Put. Aku yakin kamu bisa menjadi anak yang Ibu dambakan. Ibu menyayangimu sama seperti Ibu menyayangiku. Kita tak berbeda. Kita sama. Tak ada satupun yang membedakan kita dimata seorang Ibu. Anak yang sudah beliau besarkan dengan pelukan kasih sayangnya sepanjang masa. Kamu boleh membenciku, tapi jangan kamu benci Ibu. Ibu menangis saat ia mengingat kebahagiaan kita dulu.

Keceriaan yang dulu ada, semoga akan terlihat di esok hari. Hapuslah air matamu jika aku tiada di antara kalian lagi. Jaga Ibu, dan jadilah yang terbaik. Tetap semangat dan berusaha. Sebenarnya, aku tak ingin meninggalkan kalian berdua. Aku masih ingin hidup bersama kalian. Tapi, ini sudah takdir dari Allah. Aku tak bisa lari dari takdir ini. Aku sering merasa ini tak adil. Tapi, percuma. Walaupun aku mengeluh, aku tak bisa mengubah takdir. Jadi, kau harus jaga Ibu baik-baik. Aku harap kau tak membenciku lagi, Put. Karena kebencianmu, semakin membuat hati ini sakit. Jadilah bintang-bintang yang berkilau daalam setiap perjalanan hidupmu. Jaga dan jagalah ibu. Buat dia tersenyum selalu dalam hidupnya. Semoga esok kau tak membenciku lagi… L

Ya Allah, jika nanti Kau jemput Tiara tolong hapus air mata orang-orang yang menyayangi Tiara. Tiara tidak mau melihat air mata mereka saat Tiara pergi. Jaga ibu dan adik hamba, Putri ya Allah. Aku mohon jangan buat mereka menangis melihat kepergian Tiara. Tiara yakin Allah mengerti apa yang Tiara mau. Nanti, kalau Tiara di surga, pertemukan Tiara dengan ayah Tiara yang sudah ada di sisimu beberapa tahun lalu. Tiara ingin bersama ayah di surga nanti.  “

Tuhaan… ini memang takdirmu. Penyesalan selalu ada di akhir sebuah kisah. Hinanya diri ini karena telah membenci saudara kembarku sendiri. Aku janji akan membuat ibu selalu tersenyum. Aku tak akan membuat ibu menangis seperti saat ini. Ibu, kau segalanya.

Tiara, kepergianmu seketika mendewasakan aku. Mengajarkan aku betapa pentingnya arti hidup. Kepergianmu mrngajarkanku. Bagaimana harus mencintai dan menyayangi. Semoga kau tersenyum bersama ayah di surgaNya.

Oleh: Atik Fatimah, Probolinggo Jawa Timur

Apa komentar anda?
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

[Cerpen] Zhafira

[Cerpen] Ibu, Kau Siapa???

Your comment?
Leave a Reply