5:59 pm - Selasa Agustus 20, 2019

[Cerpen] Siti

1294 Viewed

Dusun itu berada di kaki bukit Etara. Makanya dinamai dusun Etara. Hampir setiap tahun ada warganya yang gila atau setengah gila. Warga dusun lain menganggap dusun Etara sebagai dusun terkutuk. Dusun yang penuh dengan orang-orang tak berbudaya.

Idur adalah seorang remaja yang berperilaku aneh. Kadang-kadang ia ngomong sembarangan. Omongan Idur melayang-layang dan tak bisa dimengerti. Bonang salah seorang lain yang pendiam dan berwajah sedih. Padahal dulu Bonang anak yang sangat ceria. Arinang, seorang lelaki kurus yang selalu berjalan ke sana ke mari tanpa tujuan yang jelas. Doli adalah pemuda linglung yang selalu duduk di pinggir jalan sambil merokok. Taslim, pemuda urakan yang sangat suka berkelakar sambil memuji dirinya dan menjelek-jelekkan orang lain.

Ishak menceritakan semua itu padaku. Aku mengenal sebagian dari mereka setelah seminggu di sini.

“Karakter yang ganjil,” gumamku ketika kami asyik memancing belut.

“Pasti ada sebabnya!” kata Ishak. Ia tahu tema yang kupikirkan.

“Apa kira-kira ya?” tanyaku.

“Mungkin pengaruh makanan.”

“Kukira tidak!” jawab Ishak, “makanan tidak bisa mempengaruhi sifat seseorang.”

“Bagaimana dengan teori anak yang menyusu pada pembantunya?” kataku berargumen, “bukankah anak itu mewarisi sifat-sifat sang pembantu?”

“Sifat diwarisi dari lingkungan. Kita meniru-niru tingkah laku orang lain. Anak itu meniru sang pembantu!” tegas Ishak meyakinkanku. Matanya melihat ke bola mataku.

“Masih ingat cerita anak yang dipelihara serigala?” lanjutnya.

“Aku ingat!” kataku membenarkan.

Sungai di depan kami memperlihatkan bayangan pohon raksasa yang berakar panjang. Beberapa batu besar mengitarinya. Jika dilihat ke dalam air, bayangan pohon itu seperti pohon besar dalam pot raksasa yang tertelungkup. Mengakar ke langit.

Sejak aku berkunjung ke dusun ini, aku merasakan suasana yang sangat berbeda dengan kota kelahiranku. Orang-orang di sini memang terlihat ramah. Itu hanya kepada tamu. Berkali-kali aku menemukan perang dalam keluarga. Piring terbang, pukulan, dan hinaan menjadi santapan warga. Suasana ini bagiku merupakan asap yang menaungi perkampungan yang terbakar.

Ishak adalah teman kuliahku. Aku diajak ke kampungnya untuk rekreasi. Aku tergoda dengan photo-photo alam kampungnya. Alami. Segar. Memang itu nyata. Nyaman. Ternyata kesegaran alam berbanding terbalik dengan sifat manusianya. Semakin lama aku di sini semakin banyak yang kuketahui. Ada orang yang semakin lama semakin cinta. Aku, semakin lama semakin tidak enak.

Aku tidak pernah dihina atau minimal diejek. Warga tersenyum padaku. Tetapi aku tidak tega anak-anak dihina dan dipukul oleh orangtuanya. Aku tidak bisa melihat orang-orang saling mengejek. Ada bahkan anak yang menghardik orangtuanya yang sudah tua di depanku. Aku yang sakit.

Suatu hari aku mendengar ibu Ishak berkeluh-kesah di hadapannya. Aku merasakan beban yang sangat berat. Aku yakin Ishak sangat tidak ingin itu terjadi. Orang-orang terpelajar tidak akan berkeluh-kesah kepada orang lain, di hadapan banyak orang, apalagi kepada anaknya.

“Di sini sebagian besar penduduk tidak pernah bersekolah. Ada yang hanya tamat sekolah dasar. Anak-anak yang baru tumbuh sudah diajak ke hutan. Mereka tidak pernah didesak untuk bersekolah!” kata Ishak tanpa kuminta.

Suatu sore di serambi mesjid.

“Gadis itu namanya Siti!” kata Ishak melihat ke rumah di samping mesjid.

Aku memang sering memperhatikan gadis belia itu. Dia sangat cantik. Ada wajah kelembutan seorang perempuan yang penuh kasih sayang di wajahnya yang putih bersih. Gadis itu selalu tersenyum kepadaku. Tetapi seringkali kulihat ia merenung. Renungan sedih. Seolah-olah ia punya beban batin yang teramat berat.

“Dia berhenti sekolah karena tidak tahan dengan cara mendidik guru-gurunya!”

“Sekolah di mana?”

“Pesantren!”

“Bukankah itu sekolah yang bagus?”

“Label agama tidak selamanya bagus. Mereka lebih kejam dari guru-guru yang dididik oleh pendidikan barat. Pendidikan di sini konservatif!” jelas Ishak. Ia seakan menemukan dirinya di tengah kegalauan.

“Berpatokan pada dogma?”

“Mereka menafsirkan kitab suci tanpa memahami tempat mereka hidup!”

“Gadis itu sering diam!” kataku.

“Ia mengalami penderitaan intelektual sepanjang masa!”

“Maksudmu?”

“Dia menyesal karena tidak sekolah. Bayangkan ia begitu gembira menceritakan teman-temannya, lalu tingkah gurunya. Ia sebenarnya masih mau sekolah. Tetapi dorongan yang ia dapatkan dari orangtuanya adalah pukulan dan komentar-komentar negatif!”

“Itu bukan dorongan!” aku tidak setuju.

“Kamu benar. Mereka tidak bisa memotivasi. Mereka membunuh mental anaknya!” Ishak mengepalkan tinjunya.

Ishak sanggup membawa suasana batin Siti ke dalam dirinya. Ia merasakan beban yang dipikul Siti teramat berat.

“Aku sering membayangkan Siti jadi adikku atau jadi dokter anggun di masa depan!” lanjut Ishak melihat langit.

Aku melihat Siti dengan sudut mataku. Gadis belia itu terlihat sedih. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kalau ia mengatakannya seribu kali, kata-katanya tidak akan sanggup menggambarkan suasana hatinya. Aku yakin itu. Kata-kata tidak bisa mewakili hati atau pikiran seseorang. Kalau aku jadi dirinya, baru aku bisa mengetahuinya.

Kegembiraan yang ia tampakkan selama ini hanyalah sandiwara. Ia berusaha menutup kesedihannya dengan caranya sendiri. Siti bukan tipe manusia yang mau melampiaskan penderitaannya di depan banyak orang. Itu mengagumkan.

“Kalau kupikir orang-orang yang tidak waras itu juga mengalami beban mental yang sulit ia atasi!” ujarku.

“Aku juga berpikir begitu!” kata Ishak.

“Untuk menghentikannya?” tanyaku pelan.

“Orang-orang tua, dan orang-orang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan layak tidak bisa menerima perubahan dramatis. Dusun ini akan berubah dengan sendirinya kalau orang-orang tua itu sudah habis. Generasi baru yang harus diberi pendidikan agar mereka bisa berubah. Anak-anak yang baru tumbuh itu,” jelas Ishak panjang.

“Caranya?”

“Mengajak mereka bicara. Mempengaruhi bawah sadar mereka. Dan mendukung program pembelajaran lembaga-lembaga swasta yang kini bermunculan.”

Langit sore terlihat kuning. Matahari berangsur terbenam. Namun tak ada seorang pun yang melangkah ke mesjid.

“Televisi berhasil mendidik anak-anak kecil menjadi lebih santun, dan bersemangat. Beberapa orangtua melarang anaknya menonton akibatnya mereka tidak mengenal budaya orang lain. Ketertutupan yang salah kaprah!”

“Tetapi mereka lalai beribadah!”

“Itu argumen mereka. Menonton juga ibadah. Memotivasi atau memerima semangat hidup dari media lebih ampuh dari senyuman. Tak perlu ke mesjid jika tidak mau mengubah kebudayaan warisan yang merusak. Mereka tetap bertahan sebagai orang tak berbudaya, walau mereka beribadah,” Ishak memperpanjang komentarnya, sarat emosi.

Langit temaram. Aku melangkah masuk. Mengambil mikrofon dan melantunkan azan. Samar-samar kudengar percikan air yang bertambah banyak. Dari arah kolam di samping mesjid.

Oleh: Nurbing

Apa komentar anda?
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

[Cerpen] Dia Bernama Nurul

[Cerpen] Bakiak Sang Kiai

Your comment?
Leave a Reply