8:33 pm - Minggu Mei 19, 2019

Belajar Mempertahankan Cinta dari Kisah Cinta Nabi

1799 Viewed

Sudah menjadi kewajaran dalam kehidupan, bahwa tidak selamanya perjalanan kehidupan berjalan mulus, tak terkecuali dalam kehidupan cinta. Tidak ada yang bisa lepas dari konflik. Bagaimanapun bentuknya, konflik harus segera dipahami dan disadari. Besar, kecil, serisus atau tidak, penting atau tidak, tetap harus diperhatikan.

Rasanya penting sekali membedakan antara konflik yang besar dan kecil, serius atau tidak, serta penting atau tidak. Karena terkadang ada pasangan yang tidak bisa membedakan konflik yang mengganggu hubungan mereka. Akibatnya, hubungan yang dijalani selalu panas, tidak pernah damai. Apalagi kalau masalah kecil dibesar-besarkan. Sangat menyiksa lahir-batin masing-masing.

Contoh dalam konflik besar misalnya perselingkuhan. Wajar saja jika seseorang mempermasalahkan masalah perselingkuhan karena memang sudah sepatutnya hal ini dibicarakan untuk memperjelas hubungan, apakah masih ingin dilanjutkan atau diusaikan saja. Semua tergantung keputusan bersama.

Lain lagi ceritanya kalau masalahnya sedang-sedang saja, tapi bisa mengundang pada konflik besar. Misalnya, seseorang yang merasa kurang diperhatikan atau dimengerti. Biasanya bagi mereka yang menganggap hal ini biasa saja, lantaran mereka memang berkarakter cuek, it is no problem! But, bagi mereka yang menganggap perhatian dan pengertian adalah hal yang waib. Hal ini bisa saja mengundang problem yang lebih besar lagi.

Dalam konflik yang tergolong kecil, contohnya ketika pasangan terlambat datang karena sudah ada janji sebelumnya. Biasanya, kalau si dia memiliki sifat pemarah, pasangannya terlambat 5 menit saja, sudah membesar-besarkan masalah keterlambatannya itu. Contoh yang semacam ini sebaiknya lebih banyak dihindari. Karena hal yang semacam itu hanya membuang-buang waktu. Bayangkan saja, berapa banyak waktu yang terbuang hanya mempermasalahkan masalah sepele. Apa tidak ada toleransi untuk keterlambatan 5 menit?

Konflik pada jenis yang terakhir ini bisa dihindari dan diobati hanya dengan pengertian. Tidak perlu banyak, sedikit saja mau mengerti pasangan sudah dianggap cukup untuk menghindari konflik yang kecil atau tidak serius.

Allah SWT menguji seseorang sesuai dengan kemampuannya. Seberapapun ukuran masalah yang dihadapi sudah pasti teruji, apakah kemampuan kita mampu menumpu beban yang akan dihadapi atau tidak? Karena Allah SWT Maha Mengetahui segala hal yang tidak ada seorang pun mengetahui. Bukankah kita sebagai makhluk ciptaanNya hidup di dunia hanya sebagai pelakon? Sementara sutradaranya adalah Allah SWT dengan scenario yang sudah pasti best seller.

Adanya konflik dalam cinta sebagai ujian yang diberikan Allah SWT dalam menjalani hubungan bersama mereka yang disayangi. Namun, yang perlu diingat adalah konflik dalam cinta yang diterima, adakalanya sebagai petunjuk bahwa si dia bukanlah jodoh atau tidak cocok. Dan adakalanya juga sebagai ujian penguat cinta untuk mengukur seberapa kuat mempertahankan keutuhan cinta.

Contohnya saja dalam kisah perjalan cinta Rasulullah SAW bersama istri tercintanya, Sy. Aisyah RA. Ketika itu Sy. Aisyah RA pernah difitnah selingkuh bersama salah seorang sahabat RA oleh salah seorang dari kaum munafik. Karena ketika itu Sy. Aisyah diantar pulang oleh sahabat RA. Tepatnya posisi Sy. Aisyah RA menunggangi unta dan sahabat RA memegang tali tamparnya. Hebatnya lagi dari berita bohong itu adalah bisa membuat Rasulullah SAW menjadi sempat sedikit percaya. Sampai-sampai Sy. Aisyah diperintahkan agar kembali ke rumah keluarganya.[1] Ketika itu Sy. Aisyah tidak ada bukti sedikitpun. Sehingga setiap harinya beliau hanya bisa menangis dan berserah diri kepada Allah SWT. Sampai akhirnya Allah pun menyelamatkan pernikahan beliau RA bersama Rasulullah SAW. Allah pun menurunkan ayat yang membenarkan posisi Sy. Aisyah RA.

Dari kisah yang dialami Rasulullah SAW diatas merupakan contoh bahwa Allah SWT menguji kekuatan cinta mereka. Seberapa besar Rosulullah SAW bisa mempertahankan rumah tangganya. Hingga tidak sampai muncul kata-kata thalak.[2]

Alkisah, ada seorang wanita yang didatangi seorang pemuda tampan dalam mimpinya selama hampir 3 tahun berturut-turut. Setelah 3 tahun lebih akhirnya ia bertemu dengan pemuda yang sama dilihatnya dalam mimpi selama 3 tahun itu di alam nyata. Singkat cerita, ternyata kehadiran wanita itu dalam kehidupan pemuda tersebut tidak tepat, karena dari kabar yang didengar, pemuda itu sudah menjalani hubungan dengan wanita lain. Bayangkan saja, sejak lama wanita itu menahan perasaan hanya untuk sang pemuda dalam mimpi yang diyakini keberadaannya dalam alam nyata. Belum pernah ia membuka hati untuk seorang pun.  Dan ternyata, baru sebentar saja ia menemukan mimpinya ternyata Allah berkehendak lain.

Bukankah kisah tersebut merupakan contoh bahwa ujian yang diberikan Allah SWT sebagai petunjuk bahwa pemuda itu bukanlah jodoh yang ditakdirkan untuk menemani hidupnya? Masih banyak lagi contoh problematika dalam cinta. Alhasil, semua masalah yang menjadi problem dalam cinta adakalanya sebagai petunjuk bahwa dia bukan  jodoh kita atau sebagai ujian penguat cinta. Seberapa besar kita dapat mempertahankan cinta.

Oleh: Almed


[1] Kalau zaman dulu, tanda-tanda wanita akan dicerai adalah dikembalikan ke rumah keluarganya.

[2] cerai

Filed in

Cinta; antara Pacaran dan Ta’aruf

Cara Nabi Mempertahankan Kesetiaan pada Cinta yang Halal

Your comment?
Leave a Reply