8:33 pm - Minggu Mei 19, 2019

Mendewasakan Kecemburuan dalam Membela Agama

1272 Viewed

Oleh: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy

Kecemburuan dalam Agama sama halnya Kecemburuan dalam Cinta

Sebagaiamana dalam kehidupan menjalani cinta, yakni orang yang mencintai pasti memiliki rasa cemburu, seorang muslim pun yang menjalani ajaran agamanya juga harus memiliki rasa cemburu. Jika orang yang mencintai cemburu ketika orang yang dicintai diganggu orang lain, maka seorang muslim pun juga harus cemburu ketika agamanya diganggu orang lain, tentunya non muslim. Atau, orang muslim sendiri yang menjalani agama tidak sesuai dengan ajaran agama, maka orang muslim yang mengerti harus cemburu dengan kelakuan saudaranya yang menyalahi ajaran agama itu.

Kecemburuan dalam cinta sebagai bukti bahwa orang itu benar-benar mencintai. Begitu juga dalam agama, seorang muslim pun juga harus memiliki rasa cemburu, guna membuktikan dirinya benar-benar meyakini agamanya dan serius menjalaninya. Orang yang mencintai seseorang ternyata dia biasa saja ketika melihat atau mendengar orang yang dicintai diganggu orang lain, maka orang tersebut akan dianggap tidak serius menjalani cinta. Begitu juga seorang muslim, jika agamanya diganggu non muslim ternyata dia biasa saja dengan perbuatan non muslim, maka identitas keagamaan orang tersebut diragukan dan dipertanyakan.

Memang sudah selayaknya, orang yang mencintai memiliki rasa cemburu. Dengan rasa cemburu, orang yang mencintai akan selalu merasa memiliki dan menjaga orang yang dicintai. Bahkan dia sangat berhati-hati baik ketika bersama dengan orang yang dicintai atau kehadirannya sedang berjauhan, agar orang yang dicintai tidak tersakiti. Rasa cemburu itu juga menjaga diri untuk tidak melakukan hal-hal yang sekiranya orang yang dicintai juga cemburu.

Dalam agama, seorang muslim yang benar-benar ada rasa cinta yang membuat dirinya memiliki rasa cemburu, juga akan merasa memiliki dan menjaga agamanya. Bahkan sangat berhati-hati ketika menjalani agamanya agar tidak melakukan kesalahan yang membuat agamanya akan ternodai. Dengan rasa cemburu yang menjadi sifat seorang muslim, akan menjaga dirinya untuk merasa selalu diawasi oleh Allah, agar tidak melakukan kesalahan yang membuat dirinya dimurkai Allah.

Kecemburuan; antara Dewasa dan tidak

Kecemburuan yang merupakan fitrah dalam kehidupan cinta, kadang membuat seseorang lepas kendali dalam mewujudkan sikapnya. Sehingga ketika kecemburuanya terlalu dalam, sikap yang menunjukkan dirinya cemburu juga keterlaluan. Tidak jarang orang yang mencintai melakukan hal-hal tidak pantas atau bahkan hal-hal bodoh ketika dia tidak mampu mengendalikan perasaan yang dihujam oleh rasa cemburu. Dan juga tidak jarang, ada orang yang bersikap heboh seolah dia merasakan cemburu karena hanya ingin dikatakan atau dianggap oleh yang dicintai, dia benar-benar cinta padanya.

Begitu juga kecemburuan dalam agama, seorang muslim yang mencintai agamanya, kadang keterlaluan ketika menunjukkan kecemburuannya. Sehingga sikapnya melampaui batas dari ajarannya sendiri, semisal tidak mempertimbangkan keadaan dan kondisi sekitar. Yang dikhawatirkan, sikap yang keterlaluan itu hanya sebagai simbol pribadi atau simbol kelompok bahwa dirinya atau kelompoknya diakui membela agama. Lebih parahnya lagi, khawatir itu merupakan bungkus yang didalamnya memuat ambisi atau politik yang mementingkan pihak tertentu.

Untuk menghidar dari sikap kecemburuan yang keterlaluan atau melampaui batas, perlu mengklafikasi sifat cemburu itu sendiri. Sebagaiaman pembahasan dalam tulisan “Menepis Tuduhan Buruk tentang Kecemburuan Siti Aisyah pada Nabi”, bahwa kecemburuan dipandang dari aspek sikap seseorang ada dua, ada kecemburuan yang dewasa dan ada kecemburuan yang tidak dewasa. Kecemburuan yang dewasa adalah kecemburuan yang didasari dengan logika yang sehat sehingga kemudian sikap dari kecemburuan itu tidak keterlalaun. Sementara kecemburuan yang tidak dewasa adalah kecemburuan yang lepas kontrol dari logika yang sehat sehingga tampaklah sikap yang keterlaluan.

Seseorang yang merasakan cemburu tidak akan melakukan hal-hal yang tidak pantas atau bodoh, ketika dia mendasari kecemburuannya pada logika yang sehat, meskipun rasa cemburunya sangat dalam. Begitu juga dalam agama, ketika seorang muslim merasa cemburu karena agamanya diganggu, dihina atau pun dinodai, dia tidak akan melakukan hal-hal yang bodoh, anarki, dan brutal, ketika dia mendasari kecemburuannya pada logika yang sehat, yang menyadari pada ajaran agamanya sendiri. Bahkan ketika sikap yang seolah menunjukkan kecemburuan pada agamanya yang ternyata itu memiliki ambisi atau unsur politik, tidak akan pernah terjadi. Karena logika yang sehat tidak akan pernah menerima sesuatu yang buruk, bahkan akan menentangnya.

 Kritik atas Fakta Kecemburuan dalam Agama yang melampaui batas

Memang, cemburu itu juga sifatnya seorang muslim. sehingga ketika agama Allah dihina, dianggap tidak benar, atau akan dimusnahkan. Jika orang-orang muslim betul-betul cinta pada agama Allah, mereka pasti cemburu. Sepertinya sekarang mencari orang yang cemburu dengan agama Allah bisa dihitung dengan jari. Itu terbukti ketika ada penghinaan dan penodaan agama atau symbol-simbol agama, siapa tokoh-tokoh muslim yang betul-betul membela?

Namun ada yang menunjukkan kecemburuannya dengan sikap yang melebihi batas, sampai merusak dan menhancurkan fasilitas umum. Apakah itu efektif? Apakah itu menunjukkan bahwa Islam rahmatan lil’alamin? Semisal ingin menghancurkan tempat-tempat maksiat lalu caranya menggunakan pentungan dengan berpakaian Islami seraya mengucapkan takbir. Apakah itu dakwah yang menyentuh hati manusia agar berubah, atau untuk menarik kembali agar mereka kembali ke jalan Allah?

Apakah tidak ada jalan lain yang lebih tepat yang tak perlu menggunakan cara-cara keras? Jika tetap terus menggunakan cara-cara keras, maka yang terjadi akan menjadi tunggangan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Semisal ditunjukkan tempat-tempat maksiat untuk dihancurkan yang ternyata tidak membayar kepada pihak yang berkepentingan. Tetapi tempat-tempat maksiat yang sudah membayar kepada pihak yang berkepentingan itu, tempat-tempat itu dijaga, justru ketika akan dihancurkan dicegat dengan penjagaan yang ketat.

Sehingga yang terjadi, ketika ingin bertindak nahi munkar, ternyata pilah-pilih. Seperti ini menunjukkan kesan Islam menjadi tidak baik, seolah ditumpangi atau diatur oleh pihak yang berkepentingan.

Kita sebagai umat muslim harus memiliki rasa cemburu atas agama kita, tapi jangan bodoh ketika hendak menunjukkan sikap kecemburuan itu. Kita harus cerdas. Kita harus menilai terlebih dahulu tentang sikap kecemburuan kita, apakah akan memberi nilai manfaat atau maslahah atau malah membuat mudharat? Seperti saudara kita yang mengaku cintanya besar pada Islam, cemburunya pun juga besar. Kemudian terorganisir dalam kelompok militan, membawa senjata, disebar ke berbagai daerah dan membikin bom dengan tujuan menghancurkan fasilitas-faslitas Negara adi kuasa Amerika, dengan tujuan menghancurkan sistem kapitalis yang dianut Amerika.

Sejauh ini, apakah cara-cara itu lebih baik ataukah ada cara lain yang justru lebih indah, lebih damai, dan lebih menyentuh? Apakah harus membuang nyawa diantaranya yang kebanyakan tidak berdosa? Korban-korban yang sebenarnya tidak terlibat langsung dalam caci maki terhadap Islam. Semestinya jika yang mencaci maki itu militer, maka militernya yang dilawan, bukan kemudian rakyat umum yang harus dikorbankan.

Filed in

Menepis Tuduhan Buruk Tentang Kecemburuan Siti Aisyah pada Nabi

Ibadah; karena Pujian, Kewajiban, Surga, atau Rido-Nya [1]

Your comment?
Leave a Reply