3:49 pm - Senin Agustus 26, 2019

Memilih Sebuah Jalan yang Seharusnya

672 Viewed

Memilih Sebuah Jalan yang Seharusnya

Kabut pagi menyambut sinar mentari begitu tebal nan sejuk meresap di sanubari. Sebuah harapan telah tertanam dalam sebuah janji keinginan mulia. Langkah demi langkah pun ditapaki agar dapat mencapai keinginaan tersebut. Hati menjadi penggerak jiwa yang hampa tak lagi dihiraukan melainkan menjadikan pedoman hidup yang telah digariskanNya sebagai standar aktivitas nan mulia. Hati yang hampa akan senantiasa mencari titik kebenaran yang agung walaupun harus melalui banyak ujian dan rintangan. Itulah sebenarnya pengorbanan demi jalan yang seharusnya dipilih untuk menapaki hidup.

Kehinaan hanyalah masa lalu yang tak berarti, dan tak perlu dijadikan bahan renungan panjang yang hanya membuat terlena akan keadaan harmoni suasana yang justru menjadi penghalang tujuan. Jika di masa lalu ada kehinaan maka segeralah untuk sadar bahwa masa depan menanti untuk ditaklukkan dengan kemuliaan. Jangan sampai masa depan hanya digunakan sebagai ratapan tanpa tujuan, yang terjadi bahkan dapat menambah kehinaan.

Waktu terus berlalu, tujuan mulia kian mendekat untuk segera diraih. Tapi apalah daya jikalau perangkat untuk meraihnya tidak muncul karena keikhlasan dan keimanan. Hati bukanlah kunci utama tetapi hati sebagai sebuah karunia untuk menjadikan setiap insan peka dan memahami keadaan yang tengah terjadi dan akal menjadi sumber analisis sempurna agar tak salah dalam memahami. Setiap kondisi pastilah berbeda namun satu solusi yang tak berbeda yaitu peraturan yang telah dibuat oleh Allah sebagai sang Pencipta dan Pengatur kehidupan kita. Bukankah kita hidup hanya sementara? Lantas mengapa kita bermain-main dengan waktu yang ada? | Banyak yang harus segera kita benahi, bukan hanya diri ini namun orang sekitar, masyarakat, negara bahkan peradaban tengah menanti sosok para penyelamat dunia dari kehancuran yang akan menimpa. Karena betapa banyaknya maksiat yang telah dan sedang terjadi sehingga mengundang murka dan azab Allah. Ingatkah kita semua apa yang diucapkan oleh Umar bin Khatab tatkala ada musibah yang menimpa suatu kaum?

Beliau berucap:  “Maksiat apa yang telah kalian lakukan?!”.

Kehidupan pada zaman Rasul dan para sahabat adalah kehidupan yang penuh dengan kemuliaan karena di dalamnya Islam menjadi sumber utama pengaturan kehidupan bukan pengaturan yang berasal dari para pemikir yang menghasilkan pemikiran kufur.

Dalam proses meraih kehidupan yang penuh kemuliaan terdapat banyak hambatan dan rintangan yang tentunya menjadi bagian dari kesempurnaan meraih tujuan nan mulia tersebut. Sungguh, walaupun besar dan sulit tapi takkan pernah ada satu pun rintangan dan hambatan tersebut yang tidak terselesaikan jika memilih untuk menyelesaikannya. Karena hanya pilihanlah yang membuat perbedaan antara setiap insan dalam meraih tujuannya.

Ada banyak cara yang akan terpikirkan untuk meraihnya namun hanya ada satu cara yang benar-benar mengangkat kemuliaan pelakunya. Jalan tersebut tidak lain adalah jalan kebenaran menurut standar Illahi Robbi. Jalan kebenaran ini tak mungkin didapat tanpa ada keinginan untuk menjadikan Illahi Robbi bagian dari meraihnya. Hanya bersamaNyalah setiap tujuan akan tercapai bersamaan dengan nilai kemuliaan dan keberkahan. Pantaslah setiap menuju kemenangan wajjb bagi setiap insan menerapkan panduan yang telah diberikanNya sebagai dasar berbuat dan beraktivitas kapanpun dan dimanapun berada, karena hanya dengan itulah akan ditemukan jalan yang memang seharusnya dipilih sebagai jalan meraih apapun.

Sumber : Gaul Fresh

Apa komentar anda?
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Film “Anti Qur’an” Membuat Geger Dunia Maya

MALU

Your comment?
Leave a Reply