7:46 pm - Selasa November 20, 2018

“21 September Tanpa Keadilan Adalah Ilusi”

819 Viewed

Tanggal 21 September setiap tahun diperingati sebagai hari perdamaian internasional. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari perdamaian internasional oleh PBB dengan tujuan memperkuat gagasan perdamaian baik antar bangsa maupun di dalam sebuah bangsa. Di setiap tanggal itu pula perdaimaian selalu dikumandangkan. Tahun ini misalnya, PBB mengusung tema “Partnerships for Peace – Dignity for All” yang bertujuan untuk menekankan pentingnya semua segmen masyarakat bekerja bersama mewujudkan perdamaian.

27709-orang-yang-paling-menyesal-di-hari-kiamat-adalah-orang-yang-1
“Pesan perdamaian ini selalu relevan sepanjang zaman. Terutama pada hari-hari ini ketika dunia menjadi saksi betapa perang dan kekerasan berujung pada tragedi kemanusiaan. Kasus pengungsi yang terlunta-lunta akibat perang di Syuriah bisa menjadi contoh gamblang situasi memprihatinkan tersebut,” ujar Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid melalui siaran tertulis diterima di Jakarta, Jumat (18/9).

Sebagai bagian dari masyarakat dunia yang mendambakan dan selalu berjuang di garis depan untuk mewujudkan masyarakat damai, demikan Alissa menambahkan, Jaringan Gusdurian bergerak turut merayakan hari perdamaian ini dengan mengusung pesan: Adil dan Damai.

“Pesan utamanya adalah bahwa perdamaian harus diwujudkan dengan menegakkan keadilan, karena seperti kata Gus Dur, perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi. Perdamaian hanya bisa tegak, ketika tidak ada pihak yang dipaksa dan ditindas untuk diam menerima kenyataan yang tidak adil baginya,” ujar Alissa yang diminta menjadi Sekretaris Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama 2015-2020 itu.

Tentu masih segar dalam ingatan, di zaman Orde Baru kondisi masyarakat Indonesia seperti adem ayem damai tanpa konflik. Namun sejatinya kedamaian semacam itu adalah semu karena konflik tidak muncul lebih karena direpresi, bukan oleh hasil dari proses dialog yang sesungguhnya.

“Konsensus yang terjadi adalah buah dari pemaksaan, bukan dari kesepakatan bersama karena semua mendapatkan haknya secara adil. Jikapun ada konflik, peristiwa tersebut ditutup rapat sehingga publik tidak mengetahuinya.  Kondisi damai semacam itu adalah kondisi semu karena mewujud dalam ketidakadilan: yang lemah tak diperbolehkan bersuara,” jelasnya.

Karena itu, jelas bahwa mewujudkan perdamaian tidak bisa dipisahkan dan menjadi bagian tak tepisahkan dari ikhtiar untuk mewujudkan keadilan. Perdamaian dunia ini tidak mungkin terwujud tanpa dukungan semua pihak. Di hari perdamaian internasional 2015 ini, komunitas-komunitas Gusdurian di berbagai wilayah di Indonesia menyelenggarakan sejumlah kegiatan yang tema utamanya adalah pesan Adil dan Damai.

Aksi ini sebagaian besar dilakukan serempak dilakukan di sejumlah kota pada tanggal 21 September 2015. Pesan damai tersebut adalah bagian dari upaya JGD untuk terus melawan ketidakadilan, kekekerasan, intoleransi, pelanggaran HAM, pengusiran, dan diskriminasi.

Di Lampung, pesan perdamaian diperingati dengan cara lain, yakni menggelar kelas menulis lingkungan hidup bertema “Berdamai dengan Lingkungan Hidup. Berdamai dengan Masa Depan Yang Hidup”. Jaringan Gusdurian di Lampung berkerjasama dengan Yayasan Nurul Falah Gunung Tiga kecamatan Pugung kabupaten Tanggamus, didukung GP Ansor Waykanan, Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Waykanan, SIEJ Lampung dan Yayasan Shuffah Blambangan Umpu.

Kelas diikuti sekitar 50 pelajar MTs dan SMK Nurul Falah, Tanggamus, Lampung itu, mengajak generasi muda sebagai manusia harus bisa berdamai, adil dan arif dengan lingkungan hidup selain dengan sesamanya mengingat persoalan lingkungan hidup bisa menjadi sumber konflik.

Sumber : NU Online

Filed in

Semifinal Liga Santri

Urgensi Kesalehan Ekologis