12:21 pm - Minggu September 23, 2018

Kyai Azaim Dan Mushalla “Jabal Nur”.

644 Viewed

Ada kesan dan keharuan yang begitu mendalam yang dirasakan masyarakat dusun Rabesen di saat KHR Ahmad Azaim Ibrahimy berkunjung ke dusun terpencil yang ada di ujung selatan kecamatan Asembagus itu. Tidak hanya karena kesediaan kyai muda kharismatik itu naik turun gunung untuk sekedar dapat menemui masyarakat Rabesen tapi juga pemberian nama Mushalla yang baru saja dibangun masyarakat setempat bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAI Ibrahimy Sukorejo.

wpid-rabesen-2-jpg

Mushalla itu sangat sederhana, hanya barukuran sekitar 3 x 4 meter, dibangun dari kayu seadanya, bahkan belum sempat dipasang dinding. Berdiri persis di samping posko (baca = gubuk) yang di tempati mahasiswa KKN sehari-hari. Maklum mushalla tersebut baru saja didirikan masyarakat setempat atas inisiatif mahasiswa KKN yang sudah lebih sebulan berada di desa yang sama sekali tak tersentuh pembangunan tersebut.

Di mushalla itu pula pengajian umum dilaksanakan. Dengan didampingi Kapolsek Asembagus, Ketua Plt. Dewan Masjid Indonesia (DMI), Danramil dan Muspika kecamatan Asembagus, Rabu (09/09/2015) Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo itu selain memberikan ceramah agama di hadapan ratusan masyarakat Rabesen dan dusun terdekat juga didaulat untuk memberikan nama Mushalla yang belum selesai pendiriannya tersebut.

Di sela-sela ceramahnya Kyai Azaim langsung memberi nama Mushalla tersebut dengan “Jabal Nur”. “Karena Mushalla ini dibangun di daerah pegunungan mirip dengan di pegunungan yang ada di Arab Saudi maka saya beri nama Jabal Nur”, Kata Kyai Azaim.

Jalur ektrim menuju dusun Rabesen

Sungguh tidak mudah untuk sampai ke dusun Rabesen. Bagaimana tidak, rute yang harus dilalui Kyai Azaim dan rombongan menuju lokasi KKN yang ada jauh di ujung selatan desa Kertosari tersebut harus ditempuh sekitar empat jam. Tidak hanya itu, medannya juga sangat sulit dan ekstrim.

Tidak sedikit rombongan yang menyertai suami Ny. Hj Nur Sari As’adiyah itu harus jatuh bangun dari motor, tak terkecuali motor yang membawa Kyai Azaim terpaksa harus ditinggal di tengah hutan karena kerusakan mesin.

Beruntung panitia menyediakan kuda untuk Kyai Azaim, sehingga perjalanan tetap bisa dilanjutkan sampai ke tempat yg dituju meskipun memakan waktu yang lebih lama.

Jauhnya lokasi dan beratnya medan tak menyurutkan semangat Kyai Azaim dan rombongan untuk segera datang menemui langsung masyarakat dusun Rabesen yang sudah berkumpul menunggu kehadiran cucu Kyai As’ad itu. Benar saja, antusiasme masyarakat Rabesen dalam menyambut kedatangan Kyai Azaim dan rombongan dapat mengobati rasa lelah karena perjalanan. Nampak masyarakat benar-benar merasakan kebahagiaan atas kehadiran pengasuh keempat Pesantren Sukorejo itu.

Sumber : Serambi.mata

Filed in

Jejak KH Ahmad Siradj Solo

Bukan Sekadar Jenggot, Tapi Akhlak