9:39 pm - Selasa November 20, 2018

Mahasiswi Unusa Paparkan Spa Diabetik

848 Viewed

Spa kaki ternyata bukan hanya untuk mempercantik kaki, namun bisa mencegah terjadinya luka gangren pada pasien Diabetes Mellitus (DM) tipe 2. Hal itu dibuktikan dari hasil penelitian mahasiswi yang satu ini.

unusaaa-2zvbjpm7ddkiv6emlnvdai

Bernama lengkap Rahmi Affiani, Mahasiswi Keperawatan (S1) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Dia berhasil meneliti spa diabetik yang mampu mengontrol gula darah sehingga mencegah luka pada penderita diabetes. Paparnya, pijatan pada area telapak kaki pada bagian cekung mampu merangsang hormon insulin yang mengontrol gula darah.

“Dengan memijat area telapak kaki pada bagian agak cekung akan mampu merangsang hormon insulin dan hormon itulah yang mampu mengontrol gula darah sehingga mencegah luka pasien diabetes,” katanya di Surabaya, Rabu (9 September 2015).

Di sela upacara pelepasan 453 wisudawan diploma dan sarjana Unusa, ia mengemukakan hasil penelitiannya yang berjudul “Efektivitas Spa Kaki Diabetik terhadap Sirkulasi Darah Perifer pada Pasien DM2 di Wilayah Kerja Puskesmas Wonokromo Surabaya.”.

“Saya sudah membuktikan kepada 23 pasien diabetes mellitus (DM) tipe 2 yang melakukan tindakan spa kaki diabetik selama lima hari berturut-turut,” kata mahasiswi kelahiran Denpasar pada 26 Desember 1992.

Hasilnya, 23 pasien itu memiliki sirkulasi darah di kaki yang normal dibandingkan dengan 23 pasien lain dengan kondisi yang sama namun tidak melakukan hal serupa (spa kaki diabetik).

“Saya melakukannya pada 46 orang pasien DM tipe dua yang kondisinya sama-sama belum mengalami luka pada kaki. Yang 23 dilakukan tindakan spa kaki selama lima hari dan 23 lainnya tidak. Hasilnya berbeda,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Namun spa kaki diabetik ini akan lebih sempurna jika digabungkan dengan senam kaki. Pasien diminta untuk melakukan senam kaki sebelum dan sesudah spa kaki dilakukan.

“Spa kaki ini diawali dengan mencuci kaki menggunakan rendaman air garam hangat agar kaki tidak mengalami infeksi, lalu dibersihkan menggunakan sabun bayi. Setelah itu baru dengan food mask agar kaki menjadi lebih bersih. Jika kuku kaki panjang-panjang, maka harus dipotong dengan pelan-pelan agar tidak mengenai kulit,” katanya.

Menurut anak dari pasangan Wildan-Soraya itu, pemijatan ditekankan pada telapak kaki karena itulah daerah sensitif pankreas. “Pankreas itulah yang memproduksi insulin. Ini cukup dilakukan sehari sekali selama 30 hingga 40 menit,” kata.

Untuk senam kaki sendiri, kata mahasiswi yang ingin melanjutkan studi pada Profesi Keperawatan itu, bisa dilakukan kapanpun dan di manapun, baik duduk santai maupun sedang menonton televisi.

“Karena senam kaki ini hanya dengan memutar-mutar kaki, gerakan ke bawah dan ke atas. Ada juga gerakan dengan menggunakan koran. Koran disobek menjadi dua, terus yang satu bagian dirobek-robek kecil, yang satu bagian lagi digulung-gulung,” katanya.

Selanjutnya, kedua bagian dari koran itu akhirnya digabungkan hingga membentuk bulatan menyerupai bola. Semua harus dilakukan menggunakan kaki.

Dengan penelitian itu, Rahmi mendapatkan nilai A dari hasil penelitian yang telah ada. Rahmi menjadi salah satu dari 453 wisudawan Sarjana dan Diploma Unusa 2015 yang terdiri dari 199 D3 Bidan, 53 Profesi Ners, 86 D3 Keperawatan dan 115 S1 Keperawatan. (/nvb)

Sumber : NU Online

Dua Generasi di Dunia Maya

6 AMALAN 10 AWAL DZILHIJJAH