10:36 am - Minggu September 23, 2018

Pengakuan Dosa di Arafah

932 Viewed

Jutaan umat muslim yang sedang menjalankan ibadah haji telah melaksanakan wukuf di Arafah. Bahkan sejak Selasa sore, lautan manusia dari berbagai penjuru dunia itu bergerak dari Makkah untuk melaksanakan puncak haji.

Di padang yang cukup luas namun tandus tersebut, jamaah melaksanakan seluruh prosesi ibadah baik wukuf, mabit di Mina, melempar jumrah, dan selanjutnya thawaf ifadhah.

Berikut catatan H Farmadi Hasyim yang sedang melaksanakan ibadah haji. Tulisan ini dikirim langsung dari Arafah di sela-sela kesibukan melaksanakan rangkaian wukuf, Kamis (24/9) waktu setempat.

110915-arafah-padang-gersang-yang-kini-ditumbuhi-pohon-sukarno

Pertemuan Internasional
Bagi yang pertama kali haji, berada di Arafah adalah peristiwa paling berkesan dan tidak akan bisa dilupakan. Bertemu jutaan umat muslim dari berbagai negara, melaksanakan ibadah dan ritual yang sama, menggunakan pakaian yang seragam. Sungguh, tidak ada pertemuan tingkat internasional yang bisa dilakukan umat Islam dengan tanpa membedakan suku, warna kulit, strata sosial, pangkat dan kedudukan, status ekonomi  dan sejenisnya. Semua berbaur menjadi satu di padang yang berada sekitar 7 km di sebelah timur laut Masjidil Haram ini.

Dan di padang pasir amat luas yang di bagian belakang dikelilingi bukit-bukit batu yang membentuk setengah lingkaran tersebut, jutaan umat Islam dari berbagai pelosok dunia melaksanakan inti dari ibadah haji, yakni wukuf di Arafah. Yang terlihat dalam pandangan mata hanya lautan manusia dengan pakaian serba putih, baik laki-laki maupun perempuan.

Ada pemandangan yang lebih menonjol karena di antara hamparan padang pasir itu terdapat Jabal Rahmah. Sebuah bukit dengan tugu yang diyakini tempat bertemunya Nabi Adam dan istrinya Hawa setelah terpisah hampir 200 tahun lamanya menyusul diturunkannya mereka ke bumi dari surga. Dalam beberapa literatur dikatakan, Adam diturunkan di jazirah India, sedangkan Hawa di Irak. Keduanya baru bertemu di Jabal Rahmah. Barangkali karena itu pula, maka namanya menjadi Gunung Kasih Sayang (jabal=gunung, rahmah=kasih sayang).

Namun di gunung itu telah banyak coretan nama yang sebagian bertuliskan nama jamaah dari tanah air. Pada puncak haji, mendaki Jabal Rahmah tidak dianjurkan. Hal ini dikhawatirkan jamaah tersesat dan tidak dapat menemukan tenda tempatnya menginap.

Wukuf memang hanya berdiam. Tapi dalam diam itu, langit bergemuruh mendengar doa yang dipanjatkan jutaan jamaah. Dan dari lokasi, semua merasakan betapa jamaah hanya bisa pasrah, menengadahkan tangan dan muka ke langit sembari menghadap kiblat. Mereka seakan disadarkan dengan tumpukan dosa dan khilaf yang selama ini dilakukan. Linangan air mata, tangisan sedu-sedah mengiringi tengadah yang dilakukan. Banyak di antara mereka yang enggan menurunkan tangan lantaran merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini penuh dengan kepalsuan, ketidakjujuran, kemunafikan, keculasan, tindakan egois dan tidak mau memahami orang lain.

Jamaah sebelumnya telah diingatkan keutamaan Arafah. Dalam sebuah hadits dikatakan Rasulullah SAW bersabda: “Doa yang paling baik adalah doa di hari Arafah.” Dalam riwayat berbeda, Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak ada hari paling banyak Allah menentukan pembebasan hamba-Nya dari neraka kecuali hari Arafah.”

Jamaah semakin disadarkan bahwa banyak amanah yang telah digadaikan. Kepercayaan yang tidak dijalankan, baik yang dilakukan kepada diri sendiri, orang tua, pasangan suami istri, anak dan keluarga, serta jabatan yang disandang saat di tempat kerja. Semuanya dimohonkan ampun di tanah gersang dengan sedikit tumbuhan tersebut.

Tidak sedikit yang telah diingatkan bahwa mendatangi Arafah dalam rangkaian ibadah haji adalah kenikmatan tidak terhingga. Jauh di tanah air, puluhan tahun jamaah harus antri karena keterbatasan kuota dari pemerintah Saudi Arabia. Alangkah sebuah tindakan ceroboh bila tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan koreksi diri dan berjanji untuk menjadi muslim yang baik saat kembali pulang.

Di kawasan yang berukuran sekitar 3,5 kilometer persegi tersebut menjadi saksi bisu bahwa seluruh jamaah telah menyadari kesalahan yang telah dilakukan. Selanjutnya, mereka berjanji untuk menjadi muslim terbaik saat kembali ke tanah air nantinya.

Arafah dibatasi dengan papan hijau bertulisan putih Arafah Starts Here atau Arafah Ends Here. Itu batas Arafah. Dahulu, Arafah adalah bukit tandus. Tapi sekarang, Arafah mulai hijau. Bisa saja jamaah haji lalai memetik daun karena terkagum di bukit yang kerontang terdapat pohon hijau subur. Karena sedang ihram, jamaah yang bersangkutan harus membayar dam atau denda.

Replika Padang Mahsyar
Dalam banyak pesan yang disampaikan para khatib sebelum berangkat wukuf, keadaan di Arafah merupakan replika di padang Mahsyar saat manusia dibangkitkan kembali dari kematian. Saat itu semua manusia sama di hadapan Allah SWT. Yang membedakan hanyalah kualitas iman. Di Arafah sebagai anak-anak Nabi Adam AS dari berbagai bangsa, suku dan lain-lain, dipertemukan tanpa ada perbedaan. Pada saat yang bersamaan dengan mengenakan pakaian yang sama, seluruh jamaah haji berkumpul di Arafah.

Pada waktu yang mulia tersebut, malaikat turun dari langit teringgi ke dunia. Kepada malaikat, Allah SWT membanggakan para jamaah yang wukuf di Arafah: “Lihatlah hambaKu, mereka datang dari penjuru dunia dengan tulus, berdebu, lesu, letih. Mereka hanya mengharapkan rahmatKu walaupun mereka belum melihat azabKu, siksaanKu.”

Arafah juga berarti pengetahuan, karena ketika Malaikat Jibril mengajak Nabi Ibrahim AS untuk bertawaf dan ditunjukkan banyak hal kepadanya, Jibril selalu bertanya “Tahukah anda” (a`rafta), Ibrahim menjawab, “aku tahu, aku tahu” (`araftu, `araftu).

Di padang inilah pula, manusia dapat menemukan ma`rifat pengetahuan sejati tentang jati diri, kesadaran akan langkah-langkahnya, serta akhir perjalanan hidup kelak. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Manusia! Sesungguhnya Tuhanmu adalah Esa dan sesungguhnya bapakmu itu satu. Dan setiap kamu dari Adam, dan Adam dari segumpal tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu. Orang Arab tidak lebih utama daripada orang lainnya kecuali dengan taqwa. Bukankah aku telah sampaikan.”

Usai merampungkan wukuf, jamaah akan bergeser untuk melakukan mabit di Mina, dan kemudian melempar jumrah, serta selanjutnya thawaf ifadhah.

Sumber : NU Online

Filed in

Di Ujung Senja

Karomah Lelaki Beristri Cerewet