3:44 am - Kamis November 15, 2018

Penjual Nasi Kuning Naik Haji

763 Viewed

Jika ada sinetron tukang bubur pergi haji, dalam dunia nyata ada pedagang nasi kuning pergi haji. Dialah Halimah, perempuan berusia sekitar 60 tahun yang berangkat dari embarkasi Makasar atau Ujung Pandang (UPG1).

Ia baru tiba di Mekah pada hari Ahad (30/8) setelah perjalanan panjang sekitar 7 jam sampai dengan 8 jam dari Kota Nabi, Madinah ke Mekah.

Pertemuan dengannya juga unik. Halimah yang tinggal di pemondokan 601–sebuah penginapan baru berstandar bintang tiga bernama Arkan Bakka–terkunci dari luar.

images1

Halimah dengan tidak sengaja keluar kamar tanpa mengambil kartu elektronik sebagai kunci hotel sehingga kamar otomatis terkunci dari dalam.

“Tolong, ada seorang calon haji yang kamarnya terkunci,” kata Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang juga Kepala Seksi Media Center Haji (MCH) Khoeron Abdurori.

Spontan, penulis dan dua wartawan MCH yang berada di lobi langsung menuju resepsionis untuk meminta petugas hotel membukakan kamar Halimah dengan kunci utama (master key) pemondokan itu.

Petugas hotel bergamis putih menemani para wartawan itu naik ke lantai dua. Di lorong lantai itu, mereka bertemu perempuan bertubuh gemuk mengenakan daster batik berlengan pendek “ngedeprok” di lantai lorong depan kamar.

“Ibu kenapa bisa terkunci di luar,” tanya penulis dan dua wartawan lainnya hampir serempak sambil membantu perempuan itu berdiri begitu petugas hotel membukakan pintu kamarnya.

Arisan

Halimah yang ramah mempersilakan penulis dan dua jurnalis lain masuk ke dalam kamar yang diisi bersama tiga anggota jemaah calon haji perempuan lainnya.

“Tolong bantu Dik, saya masak nasi, tetapi enggak bisa nyolokin listriknya,” kata ibu beranak dua itu sambil mengambil mangkok penanak nasi (magic jar) berkapasitas 1 liter yang sudah diisi beras.

Setelah sejumlah wartawan itu membantunya, dia pun duduk di pinggir tempat tidur sambil bercerita tentang pengalamannya sampai ke Tanah Suci.

“Sudah lama saya ingin berhaji,” katanya memulai pembicaraan.

Untuk mewujudkan impiannya itu, Halimah yang sehari-hari berjualan nasi kuning dengan menggunakan gerobak di Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Poliwali Mandar, Sulawesi Selatan, ikut arisan.

“Arisannya satu juta rupiah per bulan. Begitu dapat (arisan) Rp22 juta, langsung saya pakai buat daftar haji pada tahun 2009,” kata ibu menetap di kecamatan yang lebih sering disebut oleh penduduk sekitar sebagai kampung Jawa itu

Beruntung Halimah tidak harus menunggu lama. Padahal, untuk pendaftaran tahun ini, calon haji dari sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti Waju, harus menunggu sekitar 28 tahun.

Dari hasil berjualan nasi kuning beserta lauk-pauknya itu, Halimah juga bercerita mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga menjadi bidan.

“Satu anak perempuan saya menjadi (bidan) PNS (pegawai negeri sipil),” ujarnya bangga.

Sendiri

Namun, sayangnya Halimah hanya berangkat haji sendiri. Anak-anaknya tidak bisa ikut mendampinginya karena ketika dirinya mendaftar haji, mereka masih sekolah dan kuliah.

“Di kamar ini hanya saya yang berasal dari Jawa, yang lain orang Makasar,” ucapnya lagi.

Halimah terpaksa tinggal di hotel siang itu karena kondisi fisiknya juga terbilang lemah.

“Saya tidak kuat berjalan jauh,” katanya sambil memegang lututnya yang mungkin sudah tidak mampu lagi menopang tubuhnya yang subur.

Sementara itu, tiga rekan sekamarnya telah berangkat menggunakan Bus Shalawat ke Masjidilharam untuk Salat Zuhur di dekat Ka’bah berada.

Penulis dan dua wartawan lain mencoba membesarkan hati ibu tua yang relatif ramah itu bahwa yang terpenting menjalankan proses haji mulai dari niat, kemudian berihram.

Selanjutnya, tawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah tujuh kali yang arahnya berlawanan dengan jarum jam atau Ka’bah ada di sebelah kiri jemaah), lalu sai (berjalan dan berlari-lari kecil pulang pergi tujuh kali dari Safa ke Marwa pada waktu melaksanakan ibadah haji atau umrah).

Berikutnya, wukuf (salah satu upacara menunaikan ibadah haji dengan berdiam atau hadir di Arafah ketika mulai waktu tergelincir sampai terbenam matahari tanggal 9 Zulhijah).

Kemudian, melempar jamrah (tugu yang menjadi sasaran lemparan batu dalam ibadah haji): jamrah sugra/ula atau jamrah yang pertama dan kerikil pada bekas tempat godaan setan yang terkecil; jamrah wusta atau jamrah pertengahan atau yang kedua di antara jamrah ula dan aqabah; jamrah aqabah atau jamrah yang ketiga pada bekas tempat godaan setan yang terbesar.

Lalu, Tahalul (bercukur atau memotong beberapa helai rambut).

Penulis dan dua jurnalis lain pun menekankan bahwa dalam menunaikan rukun Islam yang kelima itu harus tertib sehingga perjuangan Ny. Halimah tidak sia-sia untuk ke Tanah Suci dan kembali ke Tanah Air menjadi haji yang mabrur (diterima Allah).

Filed in

Kisah Nyata : Telat Nikah

Kemanusiaan Dalam Haji