3:43 am - Rabu November 21, 2018

Pesantren Tebuireng Menyusul Sukorejo

779 Viewed

SERAMBIMATA, Setelah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo melalui maklumat yang dibacakan KHR Ahmad Azaim Ibrahimy yang menyatakan mufaroqoh dengan PBNU hasil Muktamar NU ke-33 di Jombang. Pondok Pesantren Salafiyah Suafi’iyah Tebuireng Jombang mengeluarkan maklumat tidak mengakui hasil Muktamar NU tersebut.

Pondok_tebuireng1

Tetap konsisten menganggap tidak ada PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dan tidak mengakui hasil Muktamar NU ke-33 di Jombang, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah (PPSS) Tebuireng Jombang menerbitkan maklumat, Sabtu (26/9/2015).

Maklumat yang dicetuskan di kediaman Pengasuh PPSS Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) tersebut berisi tiga poin.

Pertama, Keluarga Besar dan Pengasuh PPSS Tebuireng tetap konsisten menganggap tidak ada PBNU hasil Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang.

Kedua, mendudkung adanya upaya hukum menggugat hasil Muktamar NU ke-33 di Alun-alun Jombang.
“Dan ketiga, meminta warga NU bersabar dan selalu bertaqorub (lebih dekat) kepada Allah agar perjuangan mengembalikan NU seperti cita-cita masyayikh pendiri NU diberi kekuatan,” ujar Gus Sholah yang membacakan maklumat.

Maklumat itu, menurut Gus Sholah, dicetuskan setelah mencermati perkembangan yang terjadi pada warga NU, baik struktural maupun nonstruktural di tanah air maupun di luar negeri.

Sebelum pembacaam maklumat, Gus Sholah melalukan pertemuan tertutup dengan sejumlah pengurus MWC NU se-Jombang. Menurutnya, maklumat ini akan disosialisasikan ke pesantren lain.
“Warga NU harus diberi pengertian dan pemahaman tentang penyimpangan-penyimpangan saat Muktamar ke-33 NU. Termasuk perubahan Anggaran Dasar (AD) yang dinilai melenceng dari akidah dan ajaran pendiri NU KH Hasyim Asyari,” paparnya.

Sebelumnya, Gus Sholah dan forum lintas PWNU juga melakukan gugatan ke berbagai pihak berwenang terkait dugaan ketidakabsahan Muktamar NU.
Menurut Gus solah, gugatan tetap jalan, meskipun ada revisi. “Semua ditangani kuasa hukum kami (Ima Mayasari),” tandas cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari ini.

Polemik seputar hasil Muktamar ke-33 NU terus bergulir. Gus Sholah merupakan tokoh NU yang menentang Muktamar NU tersebut.

Gus Sholah memfasilitasi aspirasi sejumlah warga Nahdliyin dan tokoh NU yang menolak AD PBNU. Alasannya, perubahan terjadi pada AD, di antaranya penghilangan ijmak atau kesesuaian pendapat dan qiyas atau persamaan. Padahal, dua hal itu merupakan bagian dari dasar hukum NU.

“Ini sama halnya mengubah apa yang sudah didirikan oleh Hadaratus Sheikh Hasyim Ashari dan saya yakin akan ditentang seluruh warga Nahdliyin,” kata Gus Sholah dalam pertemuan dengan sejumlah warga Nahdliyin yang berlangsung di Tebuireng dua pekan lalu.

Sebelumnya, Pengasuh Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy menerbitkan maklumat yang berisi pernyataan mufaroqoh (memisahkan diri) dari PBNU hasil muktamar NU ke-33 di Jombang.

Sumber : Serambi.mata

Filed in

Istimewa 2015 di Kota Moskow

Deklarasi Anti Kekerasan Anak