3:37 pm - Jumat September 21, 5691

Sosok Kiai Muchit Muzadi

573 Viewed

Wafatnya KH A Muchit Muzadi menjadi kehilangan besar bagi Nahdlatul Ulama (NU). Hingga kini, sangat sulit mencari sosok yang bisa menandingi kiai kelana kelahiran Tuban yang tinggal di Jember ini.

“Pertama sebagai pribadi menyampaikan bela sungkawa teriring doa semoga beliau mendapatkan tempat istimewa di sisi Allah SWT,” kata KH M Hasan Mutawakkil Alallah, Senin (7/9) petang.

kh-muchit-muzadi

Dalam pandangan Ketua PWNU Jawa Timur ini, sosok Kiai Muchit adalah pejuang baik di jam’iyah NU maupun kebangsaan. “Beliau banyak mengukir tinta emas dalam khidmatnya kepada bangsa,” kata Kiai Mutawakkil, sapaan akrabnya. Bahkan banyak keputusan penting NU yang beliau terlibat di dalamnya, semisal konsep penerimaan NU terhadap asas tunggal Pancasila, lanjutnya.

Seperti diketahui, ketika itu sejumlah organisasi sosial keagamaan masih ragu-ragu dalam menerima asas tunggal. “Beliaulah yang mencatat dan menyempurnakan konsep penerimaan NU terhadap asas tunggal tersebut,” tandasnya.

“Yang juga sangat monumental adalah, beliau terlibat dalam keputusan NU kembali ke khittah 1926,” ungkap pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini. Dan dengan keputusan ini, keberaradaan NU semakin melesat dan kehadirannya dirasakan tidak hanya bagi nahdliyin, juga bangsa Indonesia.

Kiai Mutawakkil juga menceritakan bahwa kerap meminta pertimbangan kepada Kiai Muchit, termasuk saat harus menerima amanat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur. “Beliau yang mendorong saya agar mau menerima amanah berkhidmat di NU,” kenangnya.

“Saat itu beliau mengingatkan bahwa kakek saya Muhammad Hasan terlibat dalam proses pendirian NU, Komite Hijaz hingga melawan penjajah” ungkapnya. Kiai Muchit pula yang meyakinkan Kiai Mutawakkil bahwa pada dirinya ada darah NU, sehingga sudah selayaknya berkhidmat kepada NU, lanjutnya.

Sosok yang juga menonjol dan sulit ditemukan dari Kiai Muchit adalah ketika memberikan masukan dan teguran adalah dengan hati. “Karena disampaikan dengan hati, maka segala masukan dan arahannya mudah sekali masuk ke dalam hati saya,” ungkapnya.

Kiai Mutawakkil juga sangat salut dengan kesungguhan Kiai Muchit. “Meskipun usianya bertambah dan kondisi fisiknya menurun, tapi beliau tetap istikomah menghadiri momen penting NU,” katanya. Bahkan setiap kali bertemu, muka Kiai Muchit selalu berseri, lanjutnya.

“Mencari sosok yang sama sepeninggal beliau, saya kok blank,” akunya. “Kendati demikian, para pegiat NU harus bisa meneladani kiprah dan sosok Kiai Muchit khususnya dalam ketulusan berkhidmat kepada jam’iyah,” pungkasnya.

Sumber : NU Online

Filed in

Kisah Menjenuhkan KH. Abd. Karim

Biografi Imam Nawawi