10:36 am - Minggu September 23, 2018

4 Prinsip Hadapi Kemajuan Zaman

646 Viewed

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittifaq Rancabali Kabupaten Bandung, KH Fuad Affandi mengatakan, umat Islam perlu menerapkan empat prinsip guna menghadapi gelombang kemajuan zaman. Keempat prinsip tersebut, yaitu disiplin yang tinggi, kerjakeras, menonjolkan etos kerja, menghargai teknologi.

1444021330
“Keempat hal ini penting mengingat kemajuan zaman semakin cepat dan jika tidak diterapkan pada diri manusia, bisa mengakibatkan manusia berubah menjadi objek perubahan zaman. Sementara kebutuhan menjadi manusia yang memiliki jati diri harus tetap menjadi subjek,” katanya kepada NU Online, Ahad (4/10).

Kiai Fuad melanjutkan, masing-masing prinsip itu harus ditanamkan pada saat usia belajar. Sebisa mungkin orang tua dan guru di sekolah sejak usia dini mampu mengajarkan keempat pilar tersebut. Dan paling menentukan adalah pendidikan pada masa usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

“Kalau sekarang muncul istilah pendidikan karakter, maka hal itu harus diperjelas ke arah empat prinsip tersebut,” sambungnya.

Khusus pada prinsip keempat, yakni teknologi, masyarakat Indonesia cukup ketinggalan. Sekolah-sekolah tidak dirangsang menerapkan teknologi aplikasi. Banyak yang memahami teknologi identik dengan perangkat mahal, sulit dilakukan, dan seakan-akan hanya orang asing atau pabrik-pabrik besar yang melakukan. Sementara dalam pandangan KH Fuad Affandi, teknologi yang dibutuhkan masyarakat harus aplikatif, sesuai kebutuhan masyarakat lokal setempat.

“Misalnya teknologi mesin air yang kami kembangkan di sini. Sebelum ada mesin, air hanya untuk wudlu dan mandi. Untuk jadi air minum membutuhkan proses lama dengan menyedot bahan bakar. Sekarang cukup dengan mesin, murah prosesnya dan manfaatnya bisa untuk air minum,” katanya sambil memperlihatkan teknologi terapan air minum yang diterapkan di Al-Ittifaq.

Menurut KH Fuad Affandi, pesantren perlu mengembangkan inovasi teknologi seperti itu. Masing-masing daerah memiliki problem sekaligus potensi sumberdaya alam. Banyak yang sulit harus dipermudah karena mempermudah kehidupan itu merupakan bagian dari tradisi yang baik dalam agama.

“Yassir wala tu’assir. Permudahlah segala urusan dan janganlah dipersulit. Karena itu negara wajib mengajari teknologi tepat guna kepada masyarakat. Jangan hanya mengurus pajak jual beli teknologi sementara masyarakatnya dibiarkan jadi konsumen. Bawalah bangsa ini sebagai produsen. Manufaktur harus merakyat agar umat memiliki posisi yang baik dalam kehidupan, tidak terpuruk,” pungkasnya. (Yus Makmun/Fathoni)

Sumber : NU Online

Meraih Syafaat Dihari Kiamat

Sedekah Bukan Sekedar Finansial Semata