3:38 pm - Rabu September 22, 8123

Masa Depannya Universitas NU (1)

926 Viewed

Cendekiawan kondang, Almarhum Prof Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur, suatu ketika pernah bikin prediksi kecil-kecilan. Nahdlatul Ulama (NU), katanya, bakal mengalami masa “panen raya” munculnya generasi muda intelektual baru dalam 25 tahun ke depan. Merekalah yang akan mewarnai diskursus keislaman di tanah air.

1444538716

Prediksi itu dilontarkan Cak Nur pada pertengahan tahun 1990-an, setelah menyaksikan kehausan intelektual dalam diri sejumlah anak muda NU. Rata-rata mereka lulusan pesantren dan madrasah, dibentuk dalam mileu, spirit dan mentalitas pesantren, yang lalu berkesempatan melanjutkan belajar di perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. Saat itu Kiai Abdurrahman Wahid, kolega Cak Nur sesama asal Jombang, dinilai mampu menempatkan diri sebagai pemimpin, pengayom dan inspirator generasi muda, sekaligus menjadi lokomotif perubahan sosial dan gerakan pemikiran di tubuh organisasi sosial keagamaan ini. Gus Dur bukan hanya seorang penulis produktif dengan pikiran yang brilian dan melintasi batas, ia juga sepenuhnya tahu “how to get something done”.

Selanjutnya penulis tidak tahu apakah masa “panen raya” itu telah tiba. Adakah gambaran detilnya corak generasi baru itu bekerja sebagai intelektual “individual”, ataukah menjadi bagian integral dari gerakan epistemik dan organik dari basis komunitas masyarakatnya yang lebih besar. Bila yang terakhir coraknya, maka itu berarti mereka cenderung akan berwatak populis dalam pengertian menjadi bagian dari tindakan kolektif dari suatu “political project” berskala besar untuk membebaskan sektor-sektor sosial yang termarjinalkan dalam kehidupan, serta bersifat egalitarian yang berorientasi terwujudnya perubahan sosial yang berlangsung secara substansial. Mengenai hal-hal itu, biarlah pengamat dan penulis lain yang menilainya.

Sambil mendengarkan penilaian itu –meskipun sebagian besar terdengar sangat menggembirakan, ada baiknya kita mencatat perkembangan-perkembangan baru yang belakangan sedang berlangsung. Dalam sepuluh tahun terakhir, bersamaan dengan tumbuhnya wacana Islam Nusantara (sebagai gerakan epistemik sekaligus artikulasi pengetahuan-diri, self-knowing), PBNU mendirikan sejumlah universitas di berbagai tempat. Setidaknya hingga sekarang ada 24 universitas, institut maupun sekolah tinggi yang berbadan hukum resmi Perkumpulan Nahdlatul Ulama. Yang terbaru adalah Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Jakarta.

Rupanya NU terus bergerak maju, dibukanya aneka program studi ilmu-ilmu humaniora, sains dan teknologi di semua universitas yang didirikan. Tanpa sedikit pun mengabaikan bidang ilmu-ilmu keislaman, paling tidak peranan pesantren –seminari-nya Islam– dalam menjalankan tugas moral dan nilai-nilai etik menjadi bagian utama dari spirit universitas. Sebagaimana dinyatakan Prof Said AqilSiradj dalam sambutan peresmian Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia:

”Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia didedikasikan untuk anak bangsa yang mempunyai spirit maju dan berperan aktif membangun peradaban (syuhud tsaqafiy) melalui pengembangan ilmu pengetahuan (science) dan teknologi. Mencetak mahasiswa yang memiliki keimanan, ketakwaan, dan keilmuan yang tinggi adalah tujuan utama UNU Indonesia. Integrasi ketiganya adalah sebuah keniscayaan untuk melahirkan ilmuwan yang mampu menjawab tantangan zaman”.

Pidato Ketua Umum PBNU diatas bila direnung-renungkan menyiratkan satu visi besar. Tidak hanya memproduksi intelektual, universitas ini dimaksudkan untuk membangun peradaban(syuhud tsaqafiy)dengan spiritualitas sebagai pondasi kulturalnya.

Sekonyong-konyong, penulis lalu teringat kembali catatan-catatan Prof Nurcholish Madjid tahun 1970-an tentang pendidikan pesantren. Katanya, lembaga ilmiah di Barat yaitu universitas-universitas sebagian bercikalbakal dari lembaga keagamaan, yakni seminari gereja atau semacam “pesantren” Kristen. Tetapi karena terkena hukum besi modernisasi, ilmu pengetahuan ini akhirnya bersikap independen atau sedikitnya otonom dari teologi, dan menempuh jalan pertumbuhannya sendiri sehingga tak lagi berada dalam kontrol agama (Kristen). Diibaratkan sebuah busur, gereja telah rnelepaskan anak panah ilmu pengetahuan, namun sayangnya anak panah itu melesat begitu hebat sehingga tidak lagi dapat diketemukan kembali (Bilik-Bilik Pesantren, 1997).

Di Indonesia, sedikit tanda-tanda universitas bergerak seperti busur panah macam itu. Skema modernisme tidak selamanya jalan. Setidaknya Universitas Nahdlatul Ulama, sepengetahuan penulis, merupakan transformasi besar dari spirit pesantren ke dalam tubuh universitas.

Apalagi trend global sekarang juga menunjukkan sesuatu yang lain. Berlaku di berbagai universitas di banyak negara, sistem pedagogi sedang menuju ke arah sintesis atau konvergensiantara pendidikan sains yang menekankan aspek intelektual-kognitif dan penguasaan skill yang bersumber dari spirit rasionalitas, dan pendidikan moral, etika dan kearifan lokal yang bersumber dari nilai-nilai spiritualitas dan tradisi agung (greattradition) masyarakatnya.

Perkembangan yang konstruktif ini memandang pendidikan bersifat integratif dan holistik. Menggabungkan kecerdasan intelektual dan aspek psycho-spiritual manusia. [bersambung]

Mh Nurul Huda, pekerja budaya, dosen Program Studi Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Jakarta.

Sumber : NU Online

Filed in

Santri dan Tekhnologi

Mengapa Harus Hari Santri?