12:22 pm - Minggu September 23, 2018

Muharram Yang Terabaikan

892 Viewed

Persaingan budaya di jaman global dimana antar negara dan antar pulau sekalipun dengan begitu mudahnya bertemu dan berkomunikasi melalui internet mamaksa manusia dengan daya tempur yang rendah dan tidak tahu identitasnya menyerah dan akhirnya menggunakan semua budaya orang yang mengalahkannya. 

300x200xembuqn.jpg.pagespeed.ic.OAaummjvAB

Pun begitu tentang muharram (baca Hijriyyah) yang terlupakan sehingga hampir-hampir saja hilang ditelan kejamnya perang budaya. Untung saja masih ada bulan puasa sebagai kewajiban umat islam yang tetap mengacu pada bulan Ramadhan yang masih menjadi bagian dari tahun Hijriyyah yang memaksa umat islam mengenal tahun hijriyyah meski sebatas mengenal istilah tahun Hijriyyah.

Ya, seharusnya sebagai umat islam kita harus bangga dan “mensakralkan” tahun Hijriyyah sebagai kalender khusus dan menjadi ciri khas umat islam. Hijriyyah dengan awal tahun Muharram-nya mempunyai sejarah yang amat penting bagi kebangkitan dan majunya peradaban islam. Bermula dari keinginan untuk membuat kalender sendiri dan tidak ikut pada kalender tahun Masehi, Amirul mukminin Umar bin Khattab RA yang pada waktu itu menjadi Khalifah yang ke-2 membuat keputusan besar menjadikan Hijrah Rasul dari makkah ke madinah di awal mula dakwah islam sebagai titik awal (Baca : Tanggal 1 bulan ke-1) kalender islam yang kemudian dinamakan hijriyyah karena mengacu pada Hijrah Rasul.

Keputusan yang besar dan dengan pertimbangan yang matang memang. Bagaimana pun juga, islam sebagai bagian besar peradaban dunia harus punya ciri khusus yang menjadi hal yang harus dibanggakan oleh generasi penerusnya. Nilai lebih tahun Hijriyyah sendiri adalah penetapannya yang mengacu pada Hijrahnya Rasulullah. Hijrah rasul dengan para pengikutnya dari Makkah ke Yatsrib (kemudian dinamakan dengan Madinah)adalah hal yang sangat penting yang menjadi tonggak kemajuan islam yang harus diingat oleh semua umat islam sebagai penyemangat dan ruh kehidupan insan beriman.

Yah, hijrah akan selalu ada dan menjadi hal yang wajib dalam kehidupan manusia karena Hijrah memang bukan semata berpindah tempat, tapi mempunyai arti luas sebagai berpindah dari stagnasi ke progresifitas, berpindah dari “jalan di tempat” ke kemajuan yang tentunya di semua lini kehidupan kita baik urusan dunia ataupun urusan akhirat. Sebagai manusia yang lemah, seseorang memang pasti akan menemui saat berada ditempat dan situasi yang tidak ideal. Dia pasti akan merasakan saat “jauh dari Allah”, merasakan kondisi ekonomi yang jauh dari yang diharapkan dan merasakan hal-hal yang dibawah batas normal. Di sinilah pentingnya makna hijrah dalam kehidupan. Hijrah harus dijadikan sebagai ruh kehidupan umat manusia pada umumnya dan ruh kehidupan umat beriman pada khususnya.

Sebagai umat beriman, sesorang harus terus maju dan berpindah (baca : hijrah) dari keadaan yang tidak baik atau tidak sempurna ke arah yang lebih baik dan lebih sempurna. Tentunya, semua itu harus tetap diniati sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT sang pencipta umat manusia.

Sumber : MMN

Filed in

Dalil Amalan Hari Asyuro

Santri Kreatif Bangun Negeri