10:35 am - Minggu September 23, 2018

Tragedi Penganiayaan Kejam terhadap Kancil

896 Viewed

Aparatur negara sudah selayaknya berpartisipasi menjaga lingkungan hidup dan tidak tergoda iming-iming uang. Karena, dampak kerusakan lingkungan hidup akan menjadi tanggung jawab bersama.

00086249

Demikian disampaikan Komandan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Korea Selatan Sukaryadi di Ansan, Korea Selatan, Rabu (30/9) ketika menanggapi kasus pembunuhan petani penolak penambangan pasir, Salim di desa Selo Awar-Awar kecamatan Pasirian, Lumajang.

“Saya sepakat pelakunya mendapat hukuman setimpal. Kami berharap kasus ini diusut dengan tuntas,” ujar Sukaryadi kepada NU Online saat diwawancarai.

Salim alias Kancil dibunuh sebelum demo penolakan tambang pasir di desa Selo Awar-Awar, Pasirian oleh pihak pro-penambangan pasir. Sementara warga lain yang juga menolak penambangan pasir Tosan mengalami luka serius. Kini ia dirawat secara intensif di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang.

“Penganiayaan berlangsung di balai desa tentu menimbulkan kecurigaan adanya kongkalikong oknum aparatur negara dalam hal ini oknum aparatur desa dengan para pelaku pembunuhan sadis itu,” ujar Sukaryadi.

Senada Sukaryadi, Ketua Dewan Penasehat GP Ansor Waykanan Yozi Rizal juga menanggapi terbunuhnya Kancil. Ia menyayangkan orang-orang yang demi materi menggelapkan mata.

“Sama di tempat kita, demi harta mereka tega mengeruhkan sungai, menghancurkan ekosistem dengan merugikan lebih banyak manusia,” ujar Yozi.

Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto meminta negara tidak lagi melakukan pembiaran berulang. Menurutnya, negara sudah berulang kali alpa dan berulang melakukan pembiaran atas penganiayaan dan pembunuhan terhadap warga

“Narapidana bersalah saja masih bisa mungkin mendapatkan grasi, mengapa orang-orang benar seolah-olah dan melulu dibiarkan untuk dibunuh?” ujar Gatot yang baru saja menggelar kelas menulis lingkungan hidup, “Berdamai dengan Lingkungan Hidup. Berdamai dengan Masa Depan Yang Hidup” itu.

Sumber : NU Online

Filed in

Deklarasi Anti Kekerasan Anak

Perjuangan Perempuan Tragedi Mina