6:32 pm - Kamis November 15, 2018

Bung Tomo

1238 Viewed

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2015,

Selamat pagi, bung.. Apa kabarmu di alam sana ?

Hari ini adalah hari pahlawan, hari dimana bung sekian puluh tahun lalu membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk mempertahankan kemerdekaannya.

bung-Tomo-518x315-3098jqn6r832bnz98okhze

Tidak ada yang mengira bahwa tulisan2 bung dan orasi bung bisa menjadi senjata yang ampuh untuk menghantam pihak sekutu yang mempunyai senjata modern, sedangkan para pejuang hanya bermodalkan senjata hasil rampasan. Itu pun yang pegang, banyak dari mereka malah hanya bersenjata celurit dan parang.

Tapi entah kenapa mereka jadi seperti pasukan yang tidak mempunyai rasa takut. Kegigihan mereka malah membuat pihak lawan merasa mereka bukan menghadapi manusia, tetapi pasukan para dewa. Bung begitu handal membakar mereka, membesarkan titik-titik api di dada mereka menjadi kobaran yang menyala. Dibalik semua kelemahan karena begitu banyak kenyamanan yg saya peroleh berkat jasa bung, tidak terkira rasa hormat saya atas keberanian mereka yg diatas rata2.

Jangan menangis bung, jika sekarang banyak yang tidak menghargai apa yang bung lakukan. Mereka tidak mau menghargai apa yang bung perjuangkan. Mereka menganggap bendera kita hanya secarik kain yang musrik jika harus diberi hormat. Mereka tidak paham, bahwa untuk mempertahankan secarik kain itu saja, sudah berapa ribu nyawa melayang. Mereka yang tinggal makan, minum, tidur dengan tenang entah kenapa dengan bodohnya ingin menjadikan negara ini seperti negeri arab, padahal bung mati2an mempertahankan kemerdekaan sbg bangsa Indonesia.

Jangan menangis bung, ketika bung melihat mereka membakar bendera hanya karena ilusi negara merdeka lepas dari Indonesia. Jangan menangis bung, ketika bung melihat sang saka dijadikan alas kaki kotor hanya karena mereka tidak ingin melihatnya sebagai Tuhan mereka. Jangan menangis bung, ketika mereka tidak paham, tidak sadar bahwa bertahun2 bung dan para pejuang mengusahakan kemerdekaan dengan setiap detik terancam nyawa dan tiba2 mereka ingin menjadikan negara ini sebagai negara khilafah.

Apa hak mereka ? Apakah mereka pernah merasakan seperti yang bung dan teman2 bung rasakan ? Apakah mereka merasakan bau mesiu, hujan peluru dan desingan pesawat tempur yg lewat di kepala menghancurkan gedung2 yang ada ? Kemerdekaan ini milik bung dan para pejuang yang di hadiahkan kepada kami, anak2 bung, hanya supaya kami bisa mempertahankannya.

Bung, salam saya untuk para pejuang dimana bung bermarkas disana. Kami mungkin tidak bisa sehebat bung dalam membela negara, tapi kami yakin kami bisa. Percayalah bung. Kami tidak akan mengecewakan kalian. Kami tidak akan menghianati setetespun darah kalian yg tertumpah.

Seandainya, bung.. Seandainya saya berada pada tahun yang sama, ingin rasanya berada di sana dan dengan semangat mengacungkan tangan berteriak, “merdeka” dengan jiwa yang menyala. Ingin rasanya menyusup diantara puing2 bangunan dan mencari musuh yang sedang terlena dan menghantamnya tepat di kepala. Ingin rasanya mendengar suara bung di radio lama, mengucapkan baris2 kata yang menyala. Selamat pagi, bung. Merdeka !

Sumber : Moslem For All

Kiai As`ad dan Peristiwa 10 November

Kisah Penyelamat Masjid Cimahi