3:37 pm - Jumat September 21, 4063

Mengamati Peradaban Brunei Darussalam

1246 Viewed

Setelah empat hari rombongan wantimpres KH. Hasyim Muzadi (HM. Misbahus Salam, DR. H. Nasihin Hasan, Aas Subarkah, Gus Yusron) berada di Brunei Darussalam dengan agenda pertemuan dengan Sultan Hassanal Bolkiah dan beberapa pejabat ( Mufti negara Brunei, Menteri Hal Ehwal Ugama, Menteri Kebudayaan, menteri pendidikan), diskusi di Universiti Brunei Darussalam, serta silaturrahim dengan masyarakat Indonesia, maka ada sebuah kesan yang amat mendalam mengenai peradaban Brunai Darussalam.

Negara Brunei Darussalam ternyata negara yang jumlah penduduknya hanya sekitar 417 ribu lebih, berarti bila dibanding dengan Kabupaten Jember jumlah penduduknya jauh lebih banyak Jember yang sudah mencapai hampir dua juta.

brunei-palace

Brunei adalah negara dengam sistem pemerintahan monarki absolut dan telah mendeklarasikan sebagai negara Islam yang berpaham Ahlussunah wal jamaah. Penduduknya mayoritas orang melayu yang tradisi sehari harinya tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia.

Kebersihan dan keindahan kota Brunei dengan taman kotanya, Istana Nurul Iman dengan arsitektur yang mempesona, gemerlap kuning emas mengelilingi ruang tamu Sultan, Masjid Masjid yang indah, dengan materi khatbah jumat harus sama dan wajib mendoakan Sultan dan negara Brunai Darussalam.

Khusus hari jumat pertokaan, Maal dan perkantoran tutup hingga jam 2 siang, karena menghormati sayyidul ayyam, hari yang penuh berkah dan dianjurkan memperbanyak doa dan ibadah. Informasi yang saya terima pemerintah Brunei melarang hiburan malam, seperti diskotik, pentas seni yang berbau maksiat. Hal itu sebagai konsekwensi dari pengetrapan negara Islam.

Brunei negara yang sangat menjaga ideologi dan agama masyarakatnya. Misalnya Brunei melarang umat Islam yang ada disana mengikuti faham yang berbeda dengan ajaran Ahlussunah wal jamaah. Dulu pernah negara Iran membuka kantor kedutaan di Brunei, karena Brunei melarang masyarakatnya mengikuti ajaran Syiah maka Iran menutup kantor kedutaannya untuk menghormati pemerintah Brunei.

Fakta yang terjadi dalam sebua negara, stabilitas keamanan dapat terjamin ketika negara tersebut menjaga paham keagamaan mayoritas masyarakatnya. Misalnya Saudi Arabiyah dengan paham wahabinya, Iran dengan paham Syiahnya, Brunei, Malaisia Indonesia dengan paham sunninya.

Dari itu ketika DR. KH. Hasyim Muzadi saat silaturrahim dengan Sultan Hassanal Bolkiah dan beberapa pejabat negara Brunei untuk memperkuat jaringan Ahlussunah wal Jamaah di tingkat internasional lewat pendidikan, NGO dan ormas, Pemerintah Brunei sangat mengapresiasi dan mendukungnya.

Ajaran Ahlussunah waljamaah dengan pemikiran wasathiyyah yang tidak hanya fokus syariat, tapi juga wasathiyyah dalam bidang ekonomi, politik, dan hukum untuk menuju perdamaian dan kemanusian tanpa menghilangkam identitas Islam.

Wallahu a’lam bis showab

Brunei Darussalam, 30 Oktober 2015

Penulis, HM Misbahus Salam Pengasuh Yayasan Raudlah Darus Salam

Sukorejo Bangsalsari Jember

Bule Asal AS Mengaku Cucu Soekarno

World Islamic Economic Forum Dan Kemajuan Dunia