3:37 pm - Jumat September 21, 5381

Perbedaan Penentuan Awal Bulan Hijriyah

867 Viewed

Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Probolinggo Imam Nur Fajri menyebutkan tiga hal yang bisa membuat perbedaan dalam menentukan awal bulan Ramadhan maupun Idul Fitri. Setidaknya, adanya perbedaan sistem hisab yang dipakai, perbedaan kriteria penentuan awal bulan Qomariyah, dan perbedaanMathla’.

hilal

“Perbedaan Mathla’ yaitu mathla’ alamInternasional global. Di manapun kita lihat hilal kita ikut. Mathla’ Regional (kedekatan wilayah). Misalnya Indonesia bertetangga dengan Malaysia. Kalau Malaysia sudah kelihatan hilal, maka Indonesia juga ikut mempertimbangkan, mathla’ nasional dan matla’ daerah,” katanya, Ahad (8/11).

Menurut Imam, perbedaan sistem hisab baik urfi maupun hakiki. Di mana hisaf urfi merupakan sistem hisab yang didasarkan pada perjalanan rata-rata dari evolusi bulan dan bumi. “Sedangkan sistem hisab hakiki adalah sistem hisab yang didasarkan pada perjalanan yang sebenarnya dalam revolusi bulan dan bumi,” jelasnya.

Sedangkan kriteria penentuan awal bulan dilakukan berdasarkan wujudul hilal, imkanur rukyah,rukyatul hilal bil fi’li dan ijtima’ qoblal fajri’ serta ijtima qobla dzukri. “Kalau kriteria penentuan awal bulan standart menggunakan sistem hisab hakiki kotemporer, berpedoman pada ufuk mar’i dan menggunakan kriteria mabims,” terangnya.

Imam menerangkan, kriteria mabims adalah tinggi hilal minimum 2 derajat, elongasi dari matahari minimal 3 derajat atau umur bulan mulai saat ijtima atau mulai saat matahari dan bulan dalam satu bujur astronomis yang sama sampai dengan terbenam matahari minimal 8 jam.

“Kami berharap mudah-mudahan masyarakat mampu mengambil ibrah agar jika terjadi perbedaan awal bulan Ramadhan tahun ini tidak akan terjadi gejolak dan hal-hal yang kurang kondusif di Kabupaten Probolinggo,” harapnya.

Wallahu a’lam bis showab

Sumber : NU Online

Mendidik Anak ala Rasululullah

Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru