3:43 am - Rabu November 21, 2018

Siswa 9 Tahun Bisa Studi Banding ke Singapura ?

1011 Viewed

Prestasi membanggakan diraih M. Kafa Mas’udi, siswa Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum (MINU) Unggulan, Bojonegoro, Jawa Timur, sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama.

1446525898

Siswa yang baru menginjak kelas III itu berkesempatan studi banding ke Singapura karena prestasinya menjadi Juara I pada Olimpiade Matematika dan Sains Level I Tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Emerald Education Center (EEC).

Menurut Sang Ibunda, Farida, putra pertamanya itu memang sejak kecil memiliki kecerdasan yang beda dari teman-teman seusianya. Tak ayal, meski  baru menginjak 9 tahun, anaknya yang akrab dipanggil Kafa itu sudah memiliki segudang prestasi di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Hingga akhirnya berkesempatan pergi ke Singapura.

“Karena jadi Juara I saat Olimpiade Matematika tingkat provinsi dia dapat hadiah ke Singapura,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Menurutnya sejak kelas II, Kafa sudah mencoba mengikuti kegiatan olimpiade baik. Dia bersaing ketat dengan anak-anak seusianya hingga akhirnya dia berhasil memperoleh nilai tertinggi dan didaulat sebagai perwakilan sekolah dan kabupaten untuk mengikuti olimpiade tingkat provinsi.

Sebelumnya, Kafa juga sudah berpengalaman mengikuti kompetisi yang sama dan berhasil menjadi Juara III di tingkat Nasional. Pengalaman-pengalaman saat mengikuti olimpiade-olimpiade terdahulu menjadi bekal untuk meraih prestasi lebih baik.

Di tingkat sekolah, Kafa bersaing dengan teman-teman se-almamaternya. Tahapan awal seleksi dilalui Kafa dengan santai. Setelah melakukan seleksi, pihak sekolah memilih peserta yang memiliki nilai tertinggi untuk didaulat mewakili sekolah yang beralamat di Desa Sukorejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur itu.

“Setelah seleksi tingkat sekolah, akhirnya Kafa terpilih untuk dikirim mengikuti olimpiade tingkat kabupaten, hingga provinsi,” imbuhnya.

Diakuinya, tahapan demi tahapan putranya menjajaki ajang olimpiade tidak lah mudah. Dia harus bersaing dengan siswa-siswi terbaik dari perwakilan beberapa sekolah dan dari berbagai daerah. Namun, pengalaman-pengalaman serta bimbingan-bimbingan yang diberikan oleh pihak MINU Unggulan membuatnya percaya diri dan terus berjuang untuk membuktikan bahwa dia bisa.

“Apalagi, sebelum olimpiade Kafa juga sudah diberi bekal dari sekolah dengan pelatihan soal dan bimbingan-bimbingan. Karena itu, dia tidak grogi,” jelasnya.

Sejak mulai Kelas I, Kafa sudah menunjukkan bakat yang mencolok di antara teman-temannya. Selain itu, dia dikenal sebagai murid yang percaya diri.

“Anaknya memang pintar, tahun ini dia mendapat predikat siswa terbaik di MINU Unggulan. Kemampuannya diatas rata-rata dan cepat menyerap pelajaran,” tutur salah satu guru di MINU Unggulan, Abdul Mujib.

Dijelaskan, sebelum mengikuti olimpiade, Kafa mengikuti bimbingan seminggu dua kali sampai mendekati hari penyelengaraan kompetisi, termasuk pemantapan materi Matematika dan Sains. Namun seringnya mengikuti kejuaraan dan olimpiade tingkat Kabupaten, Provinsi sampai Nasional sejak Kelas II, membuat pembimbing tidak kesulitan memberikan materi. Apalagi, dia memiliki semangat bertarung untuk menjadi pemenang saat kompetisi apa pun.

“Kafa memang calon bibit bagus, anaknya PD (percaya diri) dan tidak pernah grogi. Minat belajarnya bagus dan semangat bersaingnya tinggi, tidak mau kalah dengan temannya. Kalau kalah, harus berupaya bagaimana mengalahkannya,” imbuhnya.

Terbukti saat mengikuti olimpiade Matematika dan Sains, dari ratusan lebih peserta, Kafa Juara 1 dan mewakili Jawa Timur di tingkat Nasional.  Saat maju dan menjadi finalis di tingkat nasional, akhirnya dia meraih juara III dari ribuan peserta yang mengikuti ajang kejuaraan tingkat SD sederajat itu. Pada tahun berikutnya, saat dia naik kelas III, Kafa kembali menjadi perwakilan sekolah dan berhasil dikirim mewakili kabupaten di tingkat provinsi dan kembali menyabet Juara I dan dikirim ke Singapura.

Selain aktif di sekolah Kafa juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan luar sekolah. “Selama tiga hari, Kafa bersama 20 temannya mengikuti trevel educati di Malang. Karena keaktifan, kecerdasan dan rasa percaya diri yang dimilikinya, Kafa juga menjadi duta karakter di MINU Unggulan,” ujarnya.

Menurut penuturan orang tuanya, Sang Putra sejak kecil memang sudah menunjukkan prestasinya dengan menjadi juara di ajang perlombaan anak-anak. Di antaranya ketika masih duduk di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kafa pernah menjadi juara lomba mewarnai dan berbagai lomba lainnya.

“Memang sejak kecil dia sudah sering juara, dan saat ini kami bangga Kafa bisa berprestasi tingkat kabupaten, provinsi dan nasional apalagi dia juga berkesempatan studi banding dan liburan keluar negeri,” ujarnya.

Menurutnya, dibandingkan anak sebayanya, Kafa termasuk memiliki tingkat kecerdasan dan perkembangan motorik di atas rata-rata. Saat usianya sembilan bulan, putra pasangan Nur Hakim dan Farida Ekowati itu sudah bisa berjalan, sementara teman-teman sebayanya masih belum.

“Dari segi perkembangan ketika sekitar umur setahun lebih, dia sudah bisa mengendarai sepeda roda dua. Selain itu, dia juga sudah bisa baca padahal belum sekolah,” tuturnya.

Tidak hanya itu, ketika masih duduk di PAUD, teman-teman sekelasnya baru bisa menulis angka 1 sampai 10, namun Kafa sudah bisa menulis angka 1 sampai 100, meskipun ada beberapa yang salah dan belum sempurna menghitung.

“Karena itu, dia kami sekolahkan di madrasah. Harapannya bisa berprestasi dari segi Iptek dan Imtaqnya,” pungkasnya.

Wallahu a’lam bis showab

Sumber : NU Online

Nonmuslim Bangun Masjid

Solusi Dengan Mempermudah Pernikahan