3:08 pm - Senin Oktober 20, 7287

Dua Mahaguru Para Pendiri NU; Mbah Abdul Jabbar Maskumambang dan Mbah Sholeh Darat Semarang

828 Viewed

Muslimedianews.com ~ Di balik keagungan ormas Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama, karena didirikan oleh para ulama wali-wali Allah. Melihat para pendirinya yang luar biasa, patut kita bertanya, siapa yang berhasil mendidik mereka menjadi orang-orang hebat? Tentu para gurunya adalah orang-orang yang hebat pula. Berikut sekilas dua tokoh ulama mahagurunya para pendiri Nahdlatul Ulama (NU), bahkan Muhammadiyah.

1. Kiai Abdul Jabbar, Ayahanda Kiai Faqih Maskumambang
Lahir sekitar tahun 1857 di Desa Sembungan Kidul, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dari pasangan Kiai Abdul Jabbar dengan Ibu Nyai Nursimah. Kiai Faqih Maskumambang masih termasuk keturunan darah biru, baik dari ayah maupun ibu. Kiai Abdul Jabbar, masih ada keturunan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir yang nasabnya bersambung hingga ke Sunan Giri. Sedangkan Ibu Nyai Nursimah merupakan putri Kiai Idris, Kebondalem Burno, Bojonegoro. Maka tidak mengherankan jika Kiai Faqih Maskumambang akhirnya menjadi seorang ulama yang mashyur dan disegani.
Pondok Pesantren Maskumambang didirikan oleh ayahanda Kiai Faqih, yakni KH. Abdul Jabbar. Diantara para  santri Kiai Abdul Jabbar adalah para pendiri NU, yakni Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbullah, Mbah Bisri Syansuri dan Kiai Ridhwan Abdullah. Pesantren Maskumambang kemudian dipimpin oleh Kiai Faqih sepeninggal ayahnya.
Hampir di semua masjid, mushalla, maupun langgar di lingkungan warga NU memiliki sebuah bedug sebagai pertanda waktu shalat. Kadang juga didampingi oleh kentongan. Dari kentongan inilah tersimpan cerita hebat seorang kiai asal Gresik, Kiai Faqih Maskumambang. 
Menurut Mbah Hasyim Asy’ari, tidak diperbolehkan pemakaian kentongan sebagai alat pertanda waktu shalat sebelum atau sesudah adzan dikumandangkan. Namun, Kiai Faqih berpendapat lain, yakni menggunakan kentongan sah-sah saja. Mbah Hasyim memiliki alasan tersendiri atas pelarangan tersebut, yakni karena tidak adanya dalil yang memperbolehkan. Kiai Faqih pun tidak kalah argumen. Ia memperbolehkan penggunaan kentongan disebabkan oleh kebolehan menggunakan bedug, jadi diqiyaskan atau disamakan hukumnya. Bila bedug boleh digunakan untuk memanggil shalat hal ini berlaku pula bagi kentongan.
Mbah Hasyim menghormati pendapat Kiai Faqih dengan cara mengundang ulama se-Jombang serta para santri seniornya. Di hadapan mereka ini, Mbah Hasyim menyatakan boleh menggunakan kedua pendapat tersebut dengan bebas. Namun ada satu syarat yang diminta oleh Mbah Hasyim, yakni kentongan tidak digunakan di Masjid Tebuireng sampai kapan pun.
Kiai Faqih Maskumambang mengabdikan hidupnya di jalan Allah dengan cara berdakwah hingga wafatnya tahun 1937 dalam usia 80 tahun. Selain berdakwah keliling, serta mengabdikan dirinya di NU, Kiai Faqih juga sempat mengarang sejumlah kitab. Diantaranya “An-Nushush al-Islamiyah fi Raddi ‘ala Madzhab al-Wahhabiyah”, diterbitkan oleh Darul Ahya-il Kutubil Arabiyah Mesir tahun 1341 H/1922 M, dan edisi terbarunya terjemahan bahasa Indonesia berjudul “Menolak Wahabi” yang diberi kata pengantar oleh KH. Maimoen Zubair.
2. KH. Sholeh Darat Semarang
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani, yang dikenal dengan sebutan Mbah Soleh Darat. Orang lebih mengenal Mbah Sholeh Darat sebagai guru spiritualnya RA Kartini. Padahal diantara murid-muridnya yang lain adalah para pendiri ormas Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Sama seperti ayah Kiai Faqih Maskumambang, yakni Kiai Abdul Jabbar, para muridnya adalah para pendiri NU. Diantara mereka adalah Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbullah, Mbah Bisri Syansuri dan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
Mbah Sholeh Darat masih keturunan dari Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), putra Sunan Ampel. Di samping sebagai pengajar, Mbah Sholeh Darat juga dikenal sebagai penulis profilik kitab-kitab keagamaan dengan menggunakan aksara Arab dalam bahasa Jawa atau masyhur disebut Arab Pegon (billisanil jawi al-mirikiyyah). Kitab yang diterjemah dan disadur diantaranya adalah Matan al-Hikam karya Ibnu Athaillah al-Iskandari (1250 M-1309 M). Tujuan penulisan Arab Pegon yang dilakukan Mbah Sholeh tak lain agar dipahami kalangan awam, terlebih kitab al-Hikam ini dikenal mengandung bahasan yang sulit, tinggi, serta mendalam.
Buku Syarah al-Hikam ini begitu terang dalam melakukan terjemahan ke teks bahasa Indonesia. Selain itu, buku ini juga menyertakan teks asli dari tulisan Mbah Sholeh Darat (Arab Pegon), sehingga pembaca yang menguasai Jawa Arab Pegon bisa langsung melakukan kroscek apa dan bagaimana kalam yang telah Mbah Sholeh tafsiri. Karena bisa jadi hasil terjemah tidak sesuai ketika kita merujuk langsung kepada redaksi aslinya. 
Kitab Syarah Al-Hikam yang disyarahi Mbah Sholeh Darat ini menjadi salah satu bacaan wajib bagi siapapun, terutama yang ingin mendalami secara lebih kajian-kajian tentang tasawuf, baik yang falsafi maupun amali. Karena di dalamnya begitu terang—baik secara eksplisit—menjelaskan tahapan-tahapan mengenai syariat, tarekat, dan hakikat. Sehingga kalangan awam dapat mencernanya dengan baik.
Mbah Sholeh mulai melakukan penerjemahan pada tahun 1289 H/1868 M. Walaupun dengan jarak yang relatif lama tersebut, tidak kemudian buku ini menjadi usang, tidak menarik untuk didiskusikan kembali. Justru, semakin lamanya kitab itu dikarang, semakin menarik untuk dibaca dan dikaji ulang. Lebih-lebih, ketika dihadapkan pada dunia modern saat ini.
Mengutip pendapat Gus Dur, kitab al-Hikam telah menginspirasi lahirnya nama Nahdhatul Ulama. Organisasi Islam terkemuka di dunia ini terilhami dari kalimat Ibnu Athaillah, “La tash-hab man la yunhidhuka ilallah…” (janganlah engkau jadikan sahabat atau guru orang yang amalnya tidak membangkitkan kamu kepada Allah). Kata ‘yunhidhu’ yang berarti membangkitkan pada kalimat tersebut, itulah inspirasinya. Siapa lagi yang bisa membangkitkan kalau bukan para ulama.
Edisi Khusus dan Terbatas “Beli 2 Gratis 1“, lebih hemat Rp. 25.000,-
1. “Syarah Hikam” (SH) karya KH. Sholeh Darat Semarang. Halaman: 406 hal. Harga spesial Ramadhan: Rp. 70.000,-
2. “Menolak Wahabi” (MW) karya KH. Faqih Maskumambang. Halaman: 304 hal. Harga spesial Ramadhan: Rp. 75.000,-
3. (Gratis) “Para Ahli Hadits Difabel” karya Ust. M Khoirul Huda. Halaman: 70 hal. (senilai Rp. 25.000,-)
Cara Pemesanan:
Ketik: NAMA LENGKAP_ST/SM_ALAMAT LENGKAP
Kirim melalui SMS/WA ke nomor: 0857333900347
Filed in
prev-next.jpg

BNPT: Indonesia Waspada Terorisme Gelombang Kedua

prev-next.jpg

Pesantren Almanar Azhari Rutin Adakan Pesantren Kilat Untuk Anak SD