6:03 pm - Sabtu Agustus 19, 2017

Dialog Lintas Agama Merindukan Gus Dur

443 Viewed
Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) merupakan sosok yang istimewa dan telah menandai keutamaan teks wahyu dan teks tentang arti kemanusiaan. Ungkapan ini sekilas berlebihan, namun siapa yang menolak sejumlah deret peristiwa yang berkaitan dengan Gus Dur ternyata bisa dikaitkan dengan prinsip keutamaan dan hikmah kehidupan yang bersumber dari jejak kenabian.
Dalam konteks yang paling ekstrim, ada beberapa umat Islam yang mencaci langkah keberagamaan Gus Dur yang dekat dengan agama dunia dan “lawan” umat Islam, namun tetap saja Gus Dur lebih terlihat sebagai sosok yang sangat mencintai agamanya dan tradisi pesantren yang membentuknya.
Beberapa tesis yang mengkategorikan Gus Dur sebagai ancaman umat Islam, telah terpatahkan dengan kondisi real pandangan dan gerakan Gus Dur yang lebih kuat merefleksikan makna dan pesan wahyu Al-Qur’an. Artinya, banyak tulisan Gus Dur yang tidak memcantumkan sumber wahyu dan hadis Nabi serta hanya mencantumkan pesan Kiai Cebolek dan Ulama pesantren, namun setelah dipahami justru tulisan Gus Dur memuat inti kewahyuan dan pesan risalah kenabian. Selain itu, tidak ada pesan kemanusiaan, keadilan, persamaan, yang lepas dari refleksi pemikiran dan gerakan Gus Dur.
Meskipun demikian, tidak sedikit umat Islam yang membenci Gus Dur. Hal yang sama, berupa kebencian dari lawan lawan politik Gus Dur, namun mereka para pembenci banyak yang merindukan kehadiran Gus Dur kembali. Baik kawan maupun lawan politik yang secara terus terang dapat memetik hikmah perjalanan Gus Dur sebagai Presiden yang Kiai, yang budayawan, yang humoris, yang meningkatkan oplah terbesar seluruh media.
Selain itu, Gus Dur juga dapat dikategorikan sebagai Presiden RI yang mampu membuat lawan dan kawan supaya terdorong untuk tidak tenang menjadi orang yang diam, dan juga telah mendorong agar kita semua berpikir, berdialog, dan tidak diam dengan kondisi dan perkembangan yang terjadi di lingkungan kita. Misalnya, dengan upaya melakukan model pendampingan dan pemberdayaan yang mencerahkan masyarakat. Model pendampingan bagi Gus Dur berlaku universal, yaitu untuk semua umat manusia yang memerlukan dampingan. Model inilah yang penulis sebut dengan model konseling lintas budaya.
Dialog Lintas Agama
Sehuhungan dengan fenomena model Gus Dur, justru yang sering menolak dari mereka yang berorientasi Islam Formalis. Alasan penolakan ini disebabkan adanya kedekatan Gus Dur dengan para pengikut agama yang lain dan adanya anggapan kedekatan Gus Dur dengan aktivis kemanusiaan yang dianggap sebagai musuh agama. Kemunculan para penolak Gus Dur semakin diperkuat oleh sikap Gus Dur yang tidak pernah merespon para penentangnya.
Dalam pernyataan tertentu, Gus Dur menegaskan kenyamanannya terhadap komentar komentar yang dialamtkan kepada Gus Dur. Selain itu, Gus Dur, juga bisa memetik hikmah dan memperkuat keberadaannya melalui kawan dan lawan yang memojokkan pergerakannya. Sekali lagi, Gus Dur tetap sebagai Gus Dur, ia ditolak maupun diterima tetap semakin memperkuat peran dan gerakannya.
Femonena Gus Dur dapat dilihat dari berbagai kasus, yang di antaranya berupa kasus pergerakan dialog lintas agama. Dalam kasus ini, Gus Dur terus mendorong dialog antara umat beragama tidak hanya dari perspektif komunikasi simbolik namun juga harus dibuktikan dengan menunjukkan keberpihakan kepada prinsip kebenaran yang disuarakan oleh semua pengikut agama agama di dunia dan semua umat manusia ljntas budaya. Dalam konteks ini, Gus Dur menolak pembatasan prinsip kebenaran secara komunal yang dibatasi oleh simbol komunalisme.
Karenanya, dalam banyak tulisan Gus Dur, telah memaparkan tema tema dialog lintas agama dan budaya yang dia refleksikan dengan tanpa mencantumkan sumber sumber yang dirujuk dari teks Al-Qur’an dan Al Hadis. Meskipun demikian, argumentasi yang dibangun oleh Gus Dur tentang prinsip kebenaran lintas budaya, telah melampaui pemahaman zamannya. Pada zaman Gus Dur, banyak tulisan dan pandangan para sarjana dan Ulama yang merujuk sumbe kewahyuan dan hadis. Hal ini berbalik dari model Gus Dur, yang merefleksikan pandangannya tanpa teks kewahyuan, namun sangat simetris dan reflektif, yang benar benar mencerminkan makna atau pesan inti Al-Qur’an.
Bukti sikap kewahyuan Gus Dur
Kerangka dasar yang mendasari bangunan berfikir Gus Dur, adalah kemampuannya memahami kawasan tanda yang ditandai oleh teks kewahyuan. Dalam konteks ini, Gus Dur mampu menandai kawasan tanda yang ditunjuk oleh teks wahyu atau menangkap inti kewahyuan pada kawasan tanda. Antara teks dan kawasan yang ditandai tidak boleh terpisah dari perspektif subyek penanda.
Secara riil, dapat dipahami ketidakberartiannya tanda, apabila tidak dipahami dari kawasan tanda. Sebaliknya, kawasan tanda sangat memerlukan teks penguat yang menjelaskan unsur-unsur yang terdapat pada kawasan tanda. Kemampuan membentuk fungsi kebermaknaan secara relasional, sangat memerlukan ketajaman berpikir rasional dan merangkai pengalaman empiris subyek penanda.
Kemampuan ini sudah membentuk bangunan pemikiran dan gerakan Gus Dur. Karenanya, beberapa hasil penelitian telah membuktikan komitmen Gus Dur pada hal hal yang dianggap memiliki kebenaran universal dan relevan dengan pesan teks kewahyuan. Misalnya, pada kasus kerukunan antra umat beragama. Dalam kasus ini, antara refleksi Gus Dur dengan sirah dan syariah kenabian memiliki garis simetrisitas dan sinergisitas yang sama, yang sama sama tidak dapat dipisahkan.
Mengapa pandangan dan sikap Gus Dur menjadi representasi sikap kewahyuan? Karena antara Gus Dur dan Al Quran dalam kehendak yang sama, yaity kehensak Allah untuk kemanusiaan dan peradaban umat manusia. Keberadaan Gus Dur ini dibuktikan dengan adanya pandangan dan perilaku para pendahulunya, seperti Walisongo hingga Nabi Muhammad.
Sebagai contoh, sudah sejak zaman Nabi Muhammad, umat kristiani telah memiliki kedekatan khusus dengan umat Islam (aqrabahum mawaddatan). Ummat Kristiani ini digambarkan dalam Al Quran yang paling dekat kecintaannya. Berbeda dengan Yahudi dan Kafir Quraisy yang digambarkan sangat keras terhadap umat Islam. Pandangan Yahudi dan Kafir Quraisy yang selalu menganggap kebenaran komunal dan menolak kebenaran yang bersumber dari pihak yang lain (Al Maidah: 82).
Sejak awal, umat kristiani telah menunjukkan kejujurannya tentang ciri kenabian Muhammad Dalam Injil (Al-Baqarah: 146), seperti yang ditunjukkan olehn Pendeta Buhaira seorang rahib Kristen Nestorian kepada Abu Thalib. Buhaira menetap di kota Bushra, Selatan Syam (sekarang Syria). Dalam pertemuan yang istimewa Sang Pendeta meminta Ahu Thalib, paman Nabi Muhammad, agar berhati-hati menjaga Nabi Muhammad. Hal ini, karena ada rencana jahat orang Yahudi. Orang-orang Yahudi menginginkan status kenabian selamanya milik bani Israel. Karena ambisi ini, orang yahudi selalu berusaha untuk membunuh Nabi Muhammad.
Dalam peristiwa perang antara Romawi dan Persia, Nabi Muhammad dan para shahabat, telah mendukung kemenangan bangsa Romawi yang beragama nasrani. Hal ini diabadikan dalam QS. Ar Ruum: 04, “Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” Bangsa Romawi, adalah bangsa kristen yang pernah menjadi pusat agama kristen di dunia, beribu kota di Al-Quds Paletina, zaman keemasan Kaisar Heraclius. Selain itu, Raja Kristen Najasyi di Habasyah (100 persen beragama kristen), telah memberikan perlindungan kepada sahabat yang hijrah ke Negerinya. Pada saat ini sudah terancam di Mekkah, Thaif dan negara negeri yang lain (QS. Al-Maidah : 83).
Sehubungan kisah Nabi dan para sahabat tersebut menunjukkan adanya bukti, bahwa dialog lintas agama yang dibangun oleh Gus Dur bukan merupakan kegiatan bid’ah dan sesaat. Tentu saja, umat Islam banyak yang memahaminya, namun membutuhkan komitmen dan ketulusan seperti Gus Dur untuk merefleksikan kisah Nabi dan teks kewahyuan ini.
Jika membaca realitas keberagamaan yang ramah lingkungan ini, maka kita kembali diingatkan kepada sosok Gus Dur. Di tengah isu terorisme dan radikalisme global seperti sekarang ini, kita semua merindukan Gus Dur. Kumandang sajak-sajak kami kepadamu, Gus Dur.***
Penulis adalah Khadim Pesantren As-Syuffah Njumput-Sidorejo Pamotan Rembang, penulis buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng.

 

Sumber : NU Online

 

Filed in

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Beliau Penyambung Risalah Islam