12:52 am - Selasa Desember 1, 2020

Rindu yang Berpahala

4138 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Ya Allah…

Aku selalu merasakan

Rindu ini selalu memaksa langkahku

tuk menuju ke arah hadirnya

Ya Allah…

Aku hanya bisa menyadari

Melayani suami dengan baik adalah kewajiban

Merasakan rindu pada laki-laki lain adalah ujian

Ya Allah…

Aku tetap berusaha

Hanya kepada suamiku hati dan cinta ini ku pasrahkan

Hidup dan matiku selalu ada dalam pelukannya

Harus bangga memiliki seseorang yang ternyata menaruh hati pada yang lain tetapi dia mampu menyikapinya. Harus bangga mencintai seseorang yang tak menanggapi cintamu karena sudah memiliki orang lain. Harus bangga karena kau juga mampu menyikapinya.

 Kisah rindu yang tertahan

Padahal sudah tiga tahun Habibah menikah dengan Habibi. Bahkan sudah dikaruniai satu anak. Habibah hidup bersama suaminya sudah sangat bahagia. Tapi kenapa hati Habibah kini  menaruh rasa pada laki-laki lain. Sebenarnya -menurut Habibah- sudah tidak ada peluang lagi hatinya akan tersandung pada laki-laki lain, karena  sudah serapat mungkin hatinya ditutup untuk laki-laki lain, sudah memasrahkan hati dan cintanya hanya untuk suaminya, dan sudah merasakan keindahan hidup bersama orang yang dicintainya sejak sebelum akad nikah digelar.

Sejak hatinya menaruh rasa pada laki-laki, sejak itu pula dia berusaha untuk membuangnya. Karena dia sadar, jika ini terus berlarut, khawatir menjadi sikap dan tindakan yang akan menghancurkan rumah tangganya. Namun, segala upaya yang dikerahkan tidak berbuah hasil apa-apa, justru semakin dia memaksa membuang, malah semakin saja rasa itu menghujam.

Seiring bergulirnya waktu, rasa itu tetap ada di hatinya. Dugaan dia ternyata salah. Menurutnya, rasa itu akan jauh dan hilang seiring berlalunya waktu. Sehingga, rasa itu membuat dirinya merasakan rindu yang dahsyat pada laki-laki yang kini hadir ketika dia berkeluarga.

Meski dia tetap mampu menjaga rasa itu tidak menjadi sikap dan tindakan yang tampak di hadapan suaminya, tetapi dia tidak mampu membuang rasa rindu itu. Setiap saat rasa rindu itu memaksa dirinya agar melangkahkan kakinya bertemu dengan orang yang dia rindukan. Tetapi, Hahbibah memang perempuan yang benar-benar menjaga agamanya. Dia tidak mau mengabulkan kehendak rindu itu. Karena, menurutnya, jika hal itu sampai terjadi, maka dia akan merusak bahkan menghancurkan rumah tangganya. Dia juga merasa, jika hal itu terjadi, itu sama saja merusak dirinya sendiri.

Kini, Habibah menjalani hidupnya dengan memikul beban yang sangat berat. Dia harus melayani suaminya dengan sebaik mungkin, meski rasa rindu itu mengganggunya. Dia, juga harus menjaga rasa rindu itu agar tidak menjadi sikap dan tindakan yang kemudian akan terlihat suaminya. Dia hanya menyadari, melayani suaminya adalah kewajiban, menjaga rasa rindu pada orang lain ada ujian.

Sungguh Habibah adalah perempuan yang sangat kuat. Dia tetap mampu meleyani suaminya sebagaimana ketika rasa itu belum hadir di hatinya, dan dia tetap mampu menjaga rasa rindu itu tidak menjadi sikap dan tindakan. Beban itu pun dipikul hingga akhir hayatnya.

Bagaimana hal itu bisa terjadi

Siapa yang mampu melawan hati? Ketika hati berkehendak, diri pun tak mampu bertindak. Siapa yang mempu memahami alasan hati? Ketika hati mengalami sesuatu, logika pun tak mampu mencari-cari lalu menemukan penyebabnya. Siapa yang tahu kapan hati melakukan sesuatu? Ketika hati memiliki keinginan, diri dan logika pun tak mampu menentukan waktu kejadiannya.

Hati bisa berkehendak kepada siapa saja. Sebagaimana yang dialami Habibah. Habibah yang sudah memiliki suami dan dia sudah mencintainya sejak sebelum menikah, dan Habibah selalu menjaga hatinya agar tidak menaruh rasa pada selain suaminya. Namun, memang hati yang tidak bisa diketahui alasan-alasannya dan tidak diketahui kapan melakukan sesuatu, membuat Habibah tidak bisa bertindak untuk mengendalikan dan membuang rasa yang disebabkan ulah hati. Hati bisa menyelewengkan rasa, meski seseorang sudah ketat menjaganya.

Namun, sedahsyat apapun hati menerjang seorang diri manusia, agar tampak terlihat di kehadiran orang lain, itu tidak akan merubah apa-apa bagi seseorang yang mampu menyikapi kelakuan hati, sebagaimana yang dihadapi Habibah dengan kekuatan dan kesabarannya. Andai saja Habibah tidak bisa menyikapi kelakuan hati, maka rasa itu akan tampak di kehadiran orang lain dengan berupa sikap dan tindakan. Dan jika itu terjadi maka hancurlah kehidupan rumah tangganya.

Yang dimaksud rasa yang menjelma menjadi sikap dan tindakan, misalnya, ketika rasa itu hadir, sikap dia menjadi berubah pada suaminya. Yang biasanya dia asyik diajak ngobrol, ternyata dia tidak asyik lagi, karena sudah tidak nyambung disebabkan memikirkan atau membayang orang yang hadir di hatinya. Yang biasanya dia ceria dan riang ketika berada di hadapan suaminya, ternyata keriangan dan keceriaan itu tidak lagi tercipta, disebabkan dia tidak mampu menahan beban hatinya.

Sikap dan tindakan seperti itu masih bisa ditolerir, tetapi jika menjadi tindakan pengkhianatan dan bahkan perselingkuhan, sikap dan tindakan seperti itu sudah tidak bisa ditolerir. Semisal, dia minta cerai karena ada orang lain yang selama ini dicintai dan dirindukan ingin menjadi miliknya,atau ternyata secara diam-diam dia berkomunikasi dengan orang lain itu, atau sering kali melakukan pertemuan, atau bahkan sudah melakukan hal-hal yang dilarang agama. Na’udzubillah.

Alhamdulillah, Habibah tidak sampai melakukan hal itu. Jika dinilai dari hukum, rasa dan rindu Habibah memiliki nilai pahala, sebab dia mampu mengendalikan rasa, sehingga dia tidak melakukan hal-hal yang berakibatkan membangkang pada suami atau nusyuz, dia tetap mampu melayani suaminya dengan baik.

Dan, karena juga dia mampu menyikapi kelakuan hatinya, dia tidak sampai berkomunikasi, melakukan perjumpaan, atau yang dikatan perselingkuhan, dia sangat pantas mendapatkan pahala. Karena menahan untuk tidak melakukan hal-hal yang haram itu merupakan akitfitas ibadah yang memiliki nilai pahala.

Bagaimana sikap suami jika hal itu diketahui

Suami yang memang mencitai istrinya yang begitu, tentu cemburu. Itu pasti. Selain itu, suaminya harus bangga, karena memiliki istri yang mampu menyikapi kelakuan hatinya. Meski di sisi lain, suaminya juga merasakan ada kekurangan dalam dirinya, sehingga hati istrinya mengharap orang lain untuk melengkapi kehidupannya.

Bagi suami yang bijak, ketika istrinya diketahui begitu, pasti dia langsung mengoreksi dirinya dengan mencari-cari kesalahan dirinya yang selama ini tidak disadari. Dia akan menilai sikapnya pada istrinya, mungkin ada sikap yang membuat perasaan istrinya sakit sehingga hatinya terbuka untuk laki-laki lain. Dia juga menilai dirinya sebagai suami, kira-kira dirinya selama menjadi suami kurang maksimal membahagiakan isrtinya sehingga hati istrinya melirik laki-laki lain.

Namun bagi suami yang bejat, pasti langsung menyalahkan istrinya yang begitu. Dia akan menganggap istrinya tidak menghargai cintanya. Dia akan menilai istrinya telah mengkhianati janji untuk memasrahkan cintanya hanya pada dirinya. Dia akan merasa sudah tidak dianggap suaminya lagi. Na’udzubillah…

Bagi istri yang memiliki suami seperti yang pertama, bersyukurlah! Bagi yang memiliki suami seperti yang kedua, bersabarlah! Sementara bagi perempuan yang belum memiliki suami, berdoalah!

Bagi suami yang memiliki sifat seperti yang kedua, belajarlah untuk mengerti kehendak hati, khususnya hati istrimu. Bagi yang belum memiliki istri, belajar dan berdoalah untuk dan agar menjadi seperti suami seperti yang pertama tersebut. Amin…

Eiiit… hampir lupa. Bagi perempuan, baik yang sudah menjadi istri atau tidak, waspadalah akan kehendak hati. Jika engkau tak mampu menyikapi kehendak hati, engkau akan terjerumus pada lembah kehancuran. Jadi, bagi yang tak mampu, belajarlah untuk mengendalikan dan mengekang kehendak hatimu agar dirimu tidak gampang diombang-ambing oleh kehendak hatimu yang sering kali tak kau pahami.

sumber gambar: b.vimeocdn.com

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Mengaji Pada Alam

Imam Syafi’i Juga Pernah Tidak Membaca Do’a Qunut

Related posts