4:00 pm - Sabtu September 20, 6651

Bermimpi Nabi Tak Harus Kiai atau Ulama’

4167 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Seluruh umat muslim pasti memiliki harapan besar untuk bertemu dan melihat Nabi Muhammad, meskipun itu di dalam mimpi. Saking besar harapan itu, banyak usaha yang dilakukan agar bisa melihat atau bertemu Nabi. Ironisnya, untuk bisa bertemu dan melihat Nabi dalam mimpi atau langsung, tidak sembaranng orang yang bisa mengalami hal itu.

Alasan memiliki harapan bertemu dan melihat Nabi adalah, karena jika harapan itu menjadi kenyataan, seseorang yang mengalaminya akan merasakan betapa bahagianya bisa bertemu Nabi, dan iman pun menjadi bertambah kuat. Seseorang yang tidak memiliki harapan itu, sungguh dia sangat merugi bahkan bisa dikatan imannya sangat lemah.

Tentang mimpi bertemu Nabi, ada beberapa kisah yang bisa kita jadikan pelajaran. Semisal, dikisahkan bahwa ada seorang gadis kecil yang berusia 8 tahun, ia mangaku pernah bermimpi beliau SAW. Dalam mimpinya ia melihat sosok laki-laki berjubah putih dengan mengenakan surban hijau. Laki-laki itu meraih tangan kecilnya dan membawanya terbang ke langit. Ditengah-tengah perjalannya ia dihadiahi kerudung pink dan mahkota kecil. Indahnya lagi, beliau sendiri yang memasangkan mahkota itu di atas kepala mungilnya. Sebelum meninggalkannya, laki-laki itu sempat berkata “ana rasulullah” (saya rasulullah).

Diceritakan pula, bahwa ada seorang yang tidak banyak ibadah, namun ia memiliki rasa rindu, dan cinta yang mendalam serta istiqomah dalam membaca shalawat. Dalam mimpinya ia sempat berdialog sambil makan bersama Nabi SAW. Sebelumnya, beliau memang pernah masuk kedalam mimpinya dan hanya mengatakan “ana rasulullah”. Namun, setelah lama tak bermimpi, ia bermimpi lagi dan dalam mimpinya ia berdialog dan makan bersama beliau SAW. Subahanallah,,,

Juga ada cerita yang bersumber dari seseorang yang tidak disangka akan bermimpi beliau SAW. Orang yang tidak mamiliki ilmu agama (tidak pintar ilmu agama). Dalam mimpinya ia melihat Rasulullah SAW memanggilnya dan berkata “ana rasulullah”. Spontan ia terkejut dan terbangun dari alam mimpinya. Ia pun menangis karena tak pernah menyangka akan diberi anugerah terindah, melihat beliau SAW meski dalam mimpi.

Dari ketiga cerita diatas, disimpulkan bahwa orang yang bermimpi Nabi SAW tidak harus banyak ibadah, atau pintar ilmu agama. Karena tak jarang orang awam yang seringkali bermimpi Rasulullah SAW, sementara bagi orang ‘alim (pintar agama) dan banyak ibadah adalah sebaliknya. Hal ini sebagaimana ungkapan Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Simth yang dikutip dalam kitab Al-Fawaidul Mukhtarah dan dikarang oleh Al-Habib Ali bin Hasan Baharun.

Terkait hal ini, ulama’ wahabiyyah menyangkal sekelompok ummat yang melihat Nabi SAW dengan pernyataannya, “sesungguhnya mereka telah berdusta karena aku berdakwah selama empat puluh tahun namun, aku belum pernah melihat beliau SAW”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa untuk bermimpi ataupun melihat sosok Ibn Abdillah SAW tidak dibutuhkan ‘alim (pintar agama) terlebih banyak ibadah.

Tidak butuh menjadi ‘alim (pintar agama) atau biasa disebut ulama’ atau kiai, maksud kata ini adalah menepis dugaan orang-orang bahwa yang bisa bertemu Nabi itu hanya seorang ulama’ atau kiai. Dan maksud dari kata “tidak perlu banyak ibadah” bukan berarti mengurangi ibadah, apalagi ibadah-ibadah yang wajib. Maksud tepatnya adalah, seorang yang juga melaksanakan ibadah-ibadah yang wajib, dia juga melakukan istiqamah yan bisa mengantarkan dirinya bertemu Nabi dalam mimpi.

Sebenarnya, untuk mendapatkan anugerah terindah, bermimpi Nabi SAW, tidak sulit jika ada kemauan yang tertanam dalam jiwa. Dengan memperbanyak shalawat kepada beliau akan dengan mudah kita mewujudkan angan-angan bermimpi beliau SAW menjadi nyata. Setiap baris shalawat merupakan panggilan cinta dan sayang untuk beliau, sehingga setiap kali kita bershalawat beliaupun akan hadir dekat dengan kita. Maka, beruntunglah bagi orang-orang yang banyak bershalawat karena sejatinya ia begitu teramat dekat dengan kekasihnya SAW. Dan kedekatan tersebut akan melahirkan ketenangan batin tersendiri yang tak pernah didapat sebelumnya.

Ada banyak macam shalawat. Mulai dari yang terpendek (اللهم صل عليه و على اله) hingga yang panjang semisal shalawat ibrahimiyah. Menurut sebagian ulama’, barang siapa yang ingin bertemu Rasulullah SAW, maka hendaklah ia membaca shalawat ibrahimiyah sebanyak 1000x. Namun, bagi kita yang belum mampu, sebaiknya membaca shalawat yang pendek saja, yang penting istiqomah.

Banyak shalawat saja juga tak cukup. Sebab, jika banyak bershalawat namun tak disertai dengan  rasa cinta dan rindu yang mendalam dan kuat maka, tak kan mungkin pula ia akan bermimpi apalagi bertemu dengan beliau  SAW. Disamping itu, ia juga harus memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta dengan sesama. Dengan begitu, pintu gerbang menuju bermimpi nabi SAW akan terbuka lebar.

Sebagai umatnya yang turut akan dibanggakan kelak di hari kiamat, tidak wajar jika tidak mencintai pemimpinnya. Nah, melakukan semua sunnah beliau SAW dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang merupakan bentuk rasa cinta kita kepada sang penyejuk hati dan penenang jiwa. Dan membaca shalawat kepada beliau merupakan sunnah. Orang yang paling dekat kedudukannya kelak di hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca shalawat kepada Nabi SAW. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan beliau SAW, “paling dekatnya kedudukan ummatku disisiku pada hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.”

Untuk itu, mari kita berlomba-lomba untuk menuju gerbang bermimpi nabi SAW agar tak hanya sekedar menjadi mimpi belaka, tapi merupakan kisah nyata yang bersejarah dalam hidup kita. Semoga dengan niat ini, Allah selalu membimbing kita dengan inayahNya, amin.

Dan perlu diingat, bahwa bermimpi Nabi tidak harus seorang kiai atau ulama’, orang awam seperti kita pun bisa bertemu Nabi, asalkan kita beribadah dengan baik, melakukan sunnah Nabi, dan selalu rindu pada Nabi yang disertai dengan ungkapan shalawat secara istiqmah.

(Author:Bintu Ahmad,Img: T4WrTL-FjCI)

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Sudahkah Kita Benar-Benar Bersyukur?

Ada 3 Hal yang Membuat Kita tidak Bersyukur

Related posts