4:00 pm - Senin September 19, 5510

Mengenang UJe, Dai Yang Dikagumi Ummat

1658 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Sekitar jam 02:00 hari jum’at dini hari, salah satu da’i kondang yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat nusantara, Us. Jefry al-Bukhari (Uje), atau yang sering disapa UJe, meninggal dunia karena kecelakaan. Berarti sudah 4 hari dari sekarang beliau meninggal dunia menuju alam keabadian, tapi ternyata sampai sekarang perbincangan tentang beliau masih terus meluncur dari mulut kemulut. Tulisan tentang beliau masih terus tersebar di media-media.

Kalau melihat hari di mana beliau wafat, maka termasuk hari yang baik, yaitu hari jum’at. Begitu juga kalau melihat kronologi wafatnya beliau, maka termasuk baik juga, mengingat beliau wafat karena kecelekaan, sedangkan menurut ulama’, orang yang meninggal karena kecelakaan termasuk syahid fid dunya.

Sementara ketika melihat cerita perjalaan hidup beliau, maka kita juga akan terkagum dengan beliau. Bagaimana beliau berproses dari titik yang tidak baik sehingga lalu menjadi penyebar pesan-pesan Allah yang cukup dicintai banyak orang. Beliau bisa keluar dari segala keburukan dunia menuju tempat yang cukup baik sebagai bekal untuk menghadap kehadirat ilahiy. Ini adalah salah satu gambaran bahwa manusia itu memang ditakdirkan untuk selalui fluktuatif. Adakalanya imannya tinggi, dan adakalanya rendah. Hanya saja, walalu demikian, yang harus diusahakan adalah tetap tinggi, terutama diupayakan tidak berakhir dengan titik yang rendah. Sebab, khusnul khatimah itu merupakan sesuatu yang terpenting. Buruk di awal lalu baik di akhir jauh lebih baik dari pada baik di awal dan buruk di akhir. Maka dari itu, mantan orang jahat lebih baik dari pada mantan orang baik. Dan itulah UJe, di mana dia termasuk mantan orang jahat atau tidak baik, karena pernah mengalami cobaan dari Allah sehingga dia terbiasa dugem, narkoba, dan lain sebagainya. Tetapi dia diberi anugerah oleh Allah sehingga meninggal dalam keadaan sudah menjadi baik. Setidaknya itu diukur dari sisi dhahirnya, karena kita hanya bisa menilai dari luar.

Sekarang, kita memang tidak perlu lagi membicarakan masa-masa kelam dari UJe. Yang penting kita bicarakan adalah kebaikan-kebaikannya sehingga bisa menjadi tauladan bagi kita. Nabi pernah bersabda,

اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِيهِمْ

“Sebutlah kebaikan-kebaikan orang yang meninggal di antara kalian dan tahanlah untuk menyebutkan kejelekan-kejelekan mereka”

Apalagi masa-masa buruk yang dialami oleh UJe ini ada masa lalu, sehingga tak perlu diungkit-ungkit lagi, kecuali untuk menjadi pelajaran tentang bagai berproses dari titik rendah menuju titik yang tinggi.

Kebaikan-kebaikan beliau ini yang kemudian membuata wafatnya beliau ini menjadi kesedihan banyak orang. Saat beliau dishalati, banyak orang yang dengan suka rela menshalati beliau, sampai-sampai masjid Istiqlal full. Ketika beliau hendak dimakamkan, ribuan atau bahkan puluhan ribu orang mengiringi acara pemakaman beliau, sehingga membuat macet jalan raya. Sungguh ini sebagai pertanda beliau baik, setidaknya menurut kacamata dhahir. Dan kebaikan itulah yang akan menjadi bekal beliau dan kita semua di alam kubur.

Dikisahkah, bahwa ketika Sayyidah Fathimah wafat, yang menggotong janazah beliau adalah Ali Bin Abi Thalib yang tak lain sang suami, kemudian kedua anaknya, Hasan dan Husain serta Abu Dzar al-Ghifary. Ketika sampai di kuburan, Abu Dzar al-Ghifari berbicara pada kuburan, “Wahai Kuburan, Apakah engkau tahu siapa yang datang kepadamu ini?. Dia adalah Fathimah al-Zahrah, putri Rasulullah, Istri Ali Bin Abi Thalib, serta ibu dari Hasan dan Husain.” Sesaat kemudian terdengar suara dari kubur,

مَا اَنَا مَوْضِعُ حَسَبٍ وَنَسَبٍ، وَإِنَّمَا أَنَا مَوْضِعُ الْعَمَلِ الصَّالِحِ، فَلَا يَنْجُوْ مِنِّي إِلَّا مَنْ كَثُرَ خَيْرُهُ وَسَلِمَ قَلْبُهُ وَخَلَصَ عَمَلُهُ

“Aku bukan tempatnya nasab dan kemulyaan leluhur. Aku ini hanyalah tempat amal shalih. Oleh karena itu tidak akan selamat dariku kecuali orang yang banyak kebaikannya, hatinya bersih, dan amalnya murni (karena Allah)”

Dari kisah ini, ada satu pesan yang bisa ditangkap, yaitu bahwa hanya kebaikanlah yang akan mengantarkan kita selamat dari siksa kubur. Kita tidak akan ditanya keturunan siapa?, kita tidak akan ditanya apa leluhur kita orang yang baik atau tidak?. Karena memang kita ini bertanggungjawab pada diri kita sendiri. Begitu juga dengan UJe. Kebaikan UJe lah yang akan mengantarkan beliau selamat dari siksa kubur sehingga pada akhirnya akan bisa berjumpa dengan sanga maha Pengusa, Allah swt. Aminn.

Image: showbiz.liputan6

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

“Kembali Pada Qur’an dan Hadist”, Semboyan PEMBODOHAN

Istri-istri Eyang Subur Otomatis “Tertalak”

Related posts