1:01 am - Selasa September 22, 2020

Basmalah Sebagai Prinsip Menjalin Kasih-Sayang

1652 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Basmalah dalam perdebatan ulama’

Para ulama berbeda pendapat prihal kedudukan basmalah di dalam al-Qur’an: Apakah termasuk surat di dalam al-Qur’an atau tidak? Sementara ini ada dua pendapat. Pertama, basmalah pada awal surat al-Fatihah dab awal suart lainnya. Imam Malik berpendapat, bahwa basmalah dalan surat-surat tersebut bukanlah ayat al-Qu’an. Sebab hadits-hadits  yang menjelaskan kedudukan basmalah sebagai bagian ayat al-Qur’an adalah hadits ahad atau diriwayatkan oleh seorang perawi saja. Sedngkan prihal penentuan ayat al-Qur’an harus diriwayatkan dengan jalan mutawatir dan qath’i yang tidak menimbulkan perdebatan.

Imam Syafi’i memiliki pendapat yang berbeda dengan Imam Malik, bahwa basmalah merupakan bagian dari ayat dalam al-Qur’an, terutama dalam surat al-Fatihah. Pendapat tersebut didasari pada hadis Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad saw. memerintahkan bila membaca al-Fatihah harus disertai dengan basmalah. Begitu pulan dalam riwayat lain disebutkan, bahwa tatkala surat al-Kautsar turun beliau juga mengucapkan basmalah.

Kedua, basmalah dalam surat an-Naml ayat 30, sesungguhnya (kitab) dari Sulaiman. Dan sesungguhnya (kitab) dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dalam hal ini, ulama’ mencapaikan kesepakatan bulat, bahwa basmalah dalam ayat tersebut merupakan bagian dari ayat al-Qur’an. Ayat ini mempunyai makna penting bagi kedudukan basmlah. Imam al-Razi berpendapat, bahwa ratu Bilqis menerima surat yang dikirim Nabi Sulaiman yang mana suart tersebut dimulai dengan basmalah. Artinya, nabi-nabi dan ummat-ummat terdahulu telah menjadikan basmalah sebagai landasan moral dan etis untuk membangun masyarakat yang harmonis dan toleran. Basmalah merupakan ungkapan keagungan atas kasih sayang Tuhan kepada manusia dan alam semesta. (Al-Qura’an Kitab Toleransi/Zuhairi Misrawi)

Basmalah; antara ucapan dan kenyataan

Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih serta Maha Penyayang. Mengucapkan basmalah merupakan salah satu keutamaan (fadhilah) dalam setiap memulai aktivitas, baik dalam hal ibadah, suatu aktifitas, maupun intraksi sosial. Bagi kita (umat Islam) mengucapkan basmalah adalah keharusan, sehingga suatu perbuatan atau aktivitas tidak akan dianggap sempurna kecuali diawali dengan ucapan basmalah.

Setiap hari dan malam bahkan nyaris setiap saat, lafad basmalah kita ucapkan. Namun tidak ada jaminan kita benar-benar mengerti tentang isi dan tujuan basmalah itu sendiri. Sepertinya kita hanya sekedar mengucapkan dengan sekedar meyakini akan mendapatkan fadhilah.

Tentang isi dalam basmalah tersebut, ada dua lafad yang menjadi komponin penting yang harus kita pahami. Yaitu lafad rahman dan rahim. Secara arti kamus, sebagian dari kita sudah mengetahui bahkan ada yang hafal. Namun secara arti kehidupan nyata, sepertinya kita belum mampu mengartikan kedua lafad tersebut; kita hanya berhenti pada mengetahui artinya saja, tidak pernah berusaha mengaplikasikan ke dalam intraksi kehidupan.

Artinya, basmalah yang memiliki dua komponin yang menjadi isi basmalah tesebut harus kita praktikkan dalam kehidupan nyata, agar kita tidak hanya sekedar mengucapkan, mengetahui artinya, serta meyakini akan mendapatkan fadhilah, bahkan kita harus mewujudkannya dengan sikap dalam intraksi kehidupan, lebih-lebih kehidupan sosial.

Selain memahami isinya, kita harus memahi tujuan basmalah. Kenapa dalam lafad basmalah hanya menggunakan sifat rahman dan rahim, tidak menggunakan sifat yang lain? Padahal Allah tidak hanya memiliki dua sifat itu. Kenapa basmalah tidak berbunyi “bismillalqadiriljabbar”, misalnya, atau yang lain?

Tujuan basmalah menggunakan lafad rahman dan rahim tidak lain adalah mengajari kita harus memiliki, menggunakan, dan mengedapankan rasa kasih-sayang. Meski kita kaya, kuasa, perkasa, hebat, pintar, cerdas, dan lain-lain, yang harus kita utama miliki adalah kasih-sayang. Artinya memiliki, jangan sampai ketika kita kaya atau kuasa, lantas rasa kasih-sayang kita abaikan dengan cara meremehkan dan menginjak-injak yang miskin dan lemah. Yang harus kita gunakan dan kedepankan ketika berintraksi dengan semua orang adalah rasa kasih-sayang. Begitulah tujuan basmalah.

Basmalah yang berwujud kenyataan

Agar kita tidak hanya mengetahui dan menghafal arti basmalah dan sekedar meyakini mendapatkan fadhilah ketika mengucapkan, kita juga harus mewujudkannya dalam kehidupan yang nyata. Aplikasinya semisal, jika kita kaya, kita harus berbagi kepada yang miskin, jangan sampai harta kita dinikmati sendiri, apalagi kita memandang sebelah mata kepada mereka yang miskin. Jika kita menjadi penguasa atau pemimpin, kita harus mengayomi dan melindungi yang lemah, jangan sampai menelantarkan apalagi menindas mereka yang lemah. Jika kita diberi intlektual yang tinggi, kita harus mengajari yang bodoh, bukan meremehkan apalagi membodohi mereka.

Jadi, sekaya apapun kita, setinggi apapun pangkat kita, dan sehebat apapun intlektual kita, yang harus kita gunakan dan kedepankan ketika berintraksi dalam kehidupan  adalah rasa kasih-sayang, lebih-lebih kehidupan sosial. Ketika rasa kasih-sayang digunakan dan dikedepankan, maka kekayaan, kekuasaan, dan intlektual tidak akan menjadi malapeteka bagi kehidupan kita.

Jika kita tidak menggunakan dan mengedapakan rasa kasih-sayang, sungguh basmalah yang kita ucapkan setiap hari hanya sekedar ucapan seperti orang yang ngigau. Atau, jika kita mengerti tapi tidak mewujudkan dalam kehidupan nyata, sungguh kita benar-benar memposisikan diri kita lebih tinggi dari Allah.

Bahkan, serajin apapun ibadah kita, kita tidak boleh bersikap apatis kepada orang lain yang menurut kita jarang ibadah, dengan anggapan orang itu tidak pantas dekat dengan kita. Justru, orang yang rajin ibadah-lah yang harus menunjukkan rasa kasih-sayang kepada orang lain. Sebab dia sudah memahami sifat-sifat Allah, termasuk sifat rahman dan rahim-Nya.

Namun, semoga kita mampu memahami dan mewujudkan basmalah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kehidupan kita tidak pernah mengalami malapetaka seperti kekerasan, pelecehan, penindasan, dan lain sebagainya.

(img: b.ak.fbcdn)

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Istri-istri Eyang Subur Otomatis “Tertalak”

Fatwa Aneh; Ulama Saudi Berfatwa “Istri Haram Menyalakan AC Saat Tidak Ada Suami”

Related posts