1:58 am - Sabtu September 26, 2020

[Cerpen] Kuas Sastra Pelukis Kesuksesanku

1583 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Seminggu lagi, Ujian Akhir Semester akan berlangsung. Hampir semua dosen telah menyampaikan kata-kata penutupan mata kuliahnya. Menyampaikan permohonan maaf, dan mendoakan agar evaluasi pembelajaran mahasiswanya membuahkan hasil yang memuaskan. Permohonan maaf seindah apapun, tetap saja ada beberapa mata kuliah yang tingkat kesukarannya sulit dimaafkan. Minggu tenang adalah istilah paling nihil dalam memori ingatanku, ingatan kami, ingatan mahasiswa-mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab. Rasa tegang menghadapi ujian sudah hadir jauh sebelum pelaksanaannya tiba. Sepertinya, ketegangan senang sekali mempermainkan kami, membuat kami merasa ketakutan, dihantui rasa khawatir, dan lain sebagainya.Tak ada alasan untuk mencegahnya, bahkan berdoa saja benar-benar tak mampu membuat keadaan menjadi lebih baik. Sama halnya dengan Ujian Akhir Semester kemarin, obat tegang itu adalah nilai IP yang membolehkan mengambil SKS penuh lagi di semester berikutnya.

Jargon manusia modern senang dengan yang instan itu nampaknya begitu nyata di lingkunganku. Jalan pintas agar ketegangan semacam ‘minggu tenang’ tidak lagi mengahantui adalah bisikan-bisikan untuk pindah jurusan. Karena merasa tidak berada pada tempat yang tepat, korban-korban ketegangan itu merasa harus pindah medan perang. Padahal, berpindah medan perang sama artinya dengan berpindah pada area dengan musuh yang masih utuh. Perlu senjata ekstra tentunya.Atau analogi lainnya seperti menggali sumur baru sedangkan sumur sekarang sudah memiliki kedalaman beberapa meter.

Desas-desus pindah jurusan menjadi buah bibir di setiap perbincangan mahasiswa BSA (Bahasa Sastra Arab).Terdengar pengecut memang, tapi inilah faktanya. Mereka yang merasa kalah sebelum berperang benar-benar rela disebut pengecut dari pada harus bersimbah darah mempelajari Bahasa dan Sastra Arab. Bahkan beberapa teman datang menghampiriku hanya untuk menanyakan hal-hal yang tidak aku inginkan. Seminarkah? Motivasikah? Ucapan dosenkah? Semua itu tak benar-benar berhasil memperbaiki keadaan. Maka, di sinilah niat benar-benar tengah diuji. Seberapa teguh niat kita menghadapi lingkungan semacam ini?

Ndo, kamu mau tetep di BSA?” Tanya Kanis dengan raut penuh keraguan. Kanis adalah salah satu ‘kandidat’ mahasiswa yang sejak jauh-jauh hari mengatakan akan pindah jurusan, keluar dari kelas BSA.

“Loh, Lu ngeraguin Gue?” Tanyaku membanting pertanyaannya. Kanis hanya diam, seperti berusaha mengumpulkan tenaganya untuk mengungkapkan banyak kata-kata yang tertahan di tenggorokan. Angin berhembus basa-basi mempermainkan kerudungnya beberapa saat, sebelumnya akhirnya Kanis kembali membuka mulutnya, menggerakan bibirnya yang sedikit bergetar.

“Ya,,, enggak sih, cuma nanya aja” Ujarnya dengan intonasi menggantung. Aku yakin dia sendiri bingung dengan jawabannya. Tak mungkin menanyakan hal seperti itu dengan serius, tapi ketika kutanggapi ia hanya menjawab alakadarnya. Sepertinya Kanis ingin sekali memperbincangkan suatu hal denganku yang akan berlangsung asik namun searah. Tapi dari sorot matanya, aku tahu bahwa ia baru saja menyimpulkan bahwa tidak ada topik menarik untuk dibahas denganku. Dan benar saja, tak lama ia pamit dengan dalih pergi ke warung, membungkus beberapa macam gorengan, dan membawanya ke dalam kelas.

Kanis bukanlah satu-satunya orang yang melakukan hal semacam itu di depanku. Bertanya dengan harapan akan aku sepakati, lalu berbicara panjang lebar, dan sebagainya. Mereka benar-benar kuanggap angin lewat, pencari sensasi, tak lebih. Sampai suatu hari, aku merasa muak dengan obrolan tak penting itu. Karena betapapun sepelenya, pertanyaan dan perbincangan seperti itu benar-benar mengganggu. Anggap saja satu semut itu sepele, tapi ada banyak semut yang menggerayangi tubuh, ini butuh tindakan.

Di sebuah meja kantin dengan tiga mangkuk mie ayam. Tiga gelas teh manis dingin tersaji begitu menggoda. Botol sambal, botol kecap, botol cuka, beberapa sendok dan sumpit juga ikut memenuhi meja makan kami. Di meja makan ini, kuutarakan pendapatku sebenarnya. Kuharap, Uti dan Ika menjadi tahu dan tidak lagi membahas pindah jurusan, sekalipun yang akan pindah itu adalah orang lain.

“Sejujurnya aku gak begitu suka bahasa Arab. Hanya kebetulan saja, waktu UN SMA, nilai  Arabku bagus, terus waktu mondok, aku jadi muharrik lugoth, akhirnya orang tua ngasih rekomendasi suapaya kuliah Bahasa Arab.” tuturku membuka perbincangan.

“Tapi kan ndo tuh udah hebat Arabnya, jadi gak ada masalah meski kuliah di BSA. Tapi kan buat temen-temen kita, gak gitu” Ika menyanggah ceritaku. Komentarnya didukung penuh oleh ekspresinya. Sangat meyakinkan dengan apa yang diucapkannya. Uti hanya memainkan sedotan di gelas minumannya, memerhatikan namun terlihat tidak begitu antusias.

“Ini bukan soal bisa atau gak bisa mbat, ini hanya soal niat sama gak niat aja. Di sekelas kita, kelas aku, hampir 90% alumni Pondok Bahasa semua, dan aku tuh bukan. Pondokku biasa aja, bukan bahasa, salaf juga bukan. Ya artinya setengah-setengah.”Aku mencoba mempertahankan asumsi agar tak ada lagi celah bagi kedua temanku tak setuju. Mereka tampak ragu ketika mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulutku, entah apa yang terjadi dalam benak mereka berdua. Kupikir ada hal yang sama dalam benak Uti dan Ika.

“Terus apa yang bikin kamu niat? Si Opik ya? Ehmm….” Uti mulai meledekku. Nama Opik sudah seperti makhluk gentayangan paling mengerikkan jika dibayangkan. Entahlah, pria satu ini begitu terobsesi mendekatiku, bahkan adik kembaranku. Untuk alasan yang tak kumengerti, aku membencinya.

“Ya e lah,,,, semangat ngampus cuma karena bocah tengil itu? Owalah, gak banged!” jawabku menyalakan suasana yang kurasa terlalu serius.

Tsumma?” tanya Ika menuntut jawaban.

“Gue lagi passion-passion-nya sama sastra. Arab kan gudangnya sastra, so. Lu berdua pernah gak sih merasa nyaman ketika denger bacaan Quran? Gue bukannya sok suci ya, tapi ni tuh nyata banget gue rasain!” ujarku menutup percakapan mengenai BSA dan pindah jurusan. Selebihnya, kami kembali menjadi anak muda yang membicarakan hijab, make up, pacar orang, dan mie ayam tentunya.

Matahari merangkak naik mendekati ubun-ubun. Pengeras suara mulai terdengar bergeming seperti ada gesekan plastik, atau lebih pada suara serak di tenggorokan yang terekam pelantang. Adzan mulai menyeru kesibukan manusia. Alam seperti terhenti sesaat, turut menenggelamkan diri dalam harmoni dzuhur. Suara adzan, kendaraan di jalanan, tawa mahasiswa, dan suara mesin-mesin di proyek pembangunan kampus, semuanya berpacu saling susul satu sama lain di hampar udara.

***

“Biar, biar, aku yang bayarin. Kan ndo udah bayarin aku kemarin” ujar Uti menghalangiku untuk membayar semua makanan. Aku hanya melongo melihat tingkah temanku itu.

“Tumben lu insaf!” godaku meledek tingkahnya. Uti hanya tersenyum sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas ke Mang Eman, pedagang mie ayam yang sangat kami kenal.

Kami masih duduk-duduk di bangku yang masih nyaman kami nikmati. Hanya sekadar melepaskan lelah, mengistirahatkan tubuh yang beberapa waktu dihabiskan untuk makan sekaligus ngobrol dan bercanda. Atau lebih tepatnya, kami duduk-duduk tanpa obrolan hanya untuk mengumpulkan kembali tenaga, karena satu jam lagi masih ada mata kuliah yang akan segera ditutup sang dosen. Gelas teh milik Ika masih terisi setengahnya. Gelasku dan Uti hanya tersisa beberapa bongkahan kecil es batu. Kami saling diam, saling menunggu. Masing-masing asik dengan ponselnya masing-masing. Tertawa sendiri, berekspresi sendiri, tanpa alasan yang tak diketahui satu sama lain.

“Udah yuk, ke masjid dulu!” Ajakku hendak menghentikan aktivitas kedua temanku yang sepertinya masing-masing namun terlihat melakukan hal yang sama.

“Ntar dulu, boleh ngomong dulu bentar gak?” Ika menawarkan sesuatu yang lain dari intonasinya. Kami pun kembali duduk bersama untuk waktu yang jauh lebih lama dari sebelumnya.

***

Ayah selalu mengatakan bahwa sastra itu jauh lebih nikmat dibanding masakan ibu. Jika mengatakan hal itu di depan ibu, pasti ibu akan marah. Tapi dalam banyak hal, ayah selalu menyamaratakan sastra dengan masakan ibu. Katanya, menikmati karya sastra adalah menikmati masakan ibu. Jika masakan ibu membuat ayah betah tinggal di rumah, maka sastra mampu membuat ayah betah tinggal di Dunia. Ketika kutanya alasannya, ia hanya jawab ‘masakan istri adalah deskripsi keharmonisan, sedangkan sastra adalah cara bagaimana membijaki dunia’.

Aku tak begitu tahu seberapa dalam hubungan ayah dengan sastra. Tapi setidaknya, aku tahu dari caranya melakoni hidup, bahwa ia adalah sastrawan yang paling keren yang pernah ada dalam hidupku. Karya-karyanya, teman-temannya, prestasinya, semua mempresentasikan banyak hal tentang ayah dan sastra. Maka, aku pun menjadi belajar mencintai sastra, karena yakin bahwa  jiwa sastranya ayah telah ada mengalir dalam darahku. Namun rupanya, belajar sastra dan menggeluti prosesnya tidaklah semudah melihat senyuman ayah. Ada proses yang tak terlihat di balik senyuman ikhlas ayah untuk anaknya. Aku tak tahu proses apa yang menurut ayah sulit.  Tapi bagiku, menggeluti perkuliahan sastra kali ini adalah salah satu bagian sulit yang tengah kuhadapi. Aku selalu berusaha untuk tetap yakin dengan apa yang aku yakini. Sekalipun kali ini keadaannya lain, bahkan semakin buruk.

Dua sahabatku melakukan hal yang sama, namun mereka ungkapkan dengan baik-baik. Keduanya (juga) akan pindah jurusan.  Dan ini benar-benar menyakitkan, membunuh dari belakang dengan cara yang paling lambat. Sejak desas-desus pindah jurusan itu menghangat, mereka berdualah yang tahu bagaimana perasaanku, tanggapanku, pendapatku, dan mereka pula yang mengiyakan, menyetujui, ngangguk bareng, geleng bareng.Sampai pada keadaan seperti ini, aku merasa guru sastra pertamaku lah yang harus kukunjungi.Aku merasa benar-benar butuh usapan tangan dan dekap hangatnya.

“Nak, kamu tahu kenapa masakan ibu bisa begitu enak?” tanya ayah setelah kuceritakan segala yang kukeluhkan dalam benakku. Aku hanya menggeleng dan tak berani melihat wajah yang menurutku paling bijak itu. Ayah mengambil nafas begitu berat, namun ia keluarkan dengan cara agar aku tak merasakan keberatan dalam perasaannya itu. Ia menepuk sofa yang kosong tepat di samping tubuhnya. Sebagai isyarat agar aku duduk di dekatnya, aku mendekatinya.

“Ibu memasak dari tidak enak dulu. Sampai menjadi enak, prosesnya panjang sekali. Cara ayah mengatakan ungkapan enak untuk masakan ibu selalu berbeda di tiap masanya. Karena enaknya masakan ibu juga ada tahapanya. Belajar mencintai bahasa arab, bahasa negeri sejuta peradaban sastra, adalah perjalanan panjang yang baru kamu datangi gerbangnya saja. Ya, kalau baru di gerbang saja sudah kalah, gimana nantinya? Tantangan menjadi sastrawan itu lebih besar ndo!”Ada nada optimisme dalam setiap pilihan kata ayah. Matanya berbicara lebih banyak dari mulutnya. Di korneanya, secercah cahaya muncul dan kurasakan semakin membesar. Terang dan begitu hangat.

“Ini bukan soal bahasa arabnya Yah, tapi lingkungannya! Masa ketika aku bilang ‘aku rela meski harus sekelas cuma bertiga doang sama Ika, sama Uti’ dua temanku itu juga malah ikut-ikutan mau pergi?” semakin deras rasa kesalku bercampur dengan marah. Kombinasi itu keluar secara utuh tidak hanya dari caraku bicara yang begitu ayah tahu, tapi juga air mata sangat sulit kubendung.

***

Bertahan di zona yang menurut mereka sulit adalah suatu keistimewaan. Kenapa aku harus tidak siap menjadi orang yang istimewa? Aku tau ada rasa kecewa, aku lihat ayah berusaha dngan kuat menguatkan aku, tapi kenyataannya ayah juga gak bisa memaksa.

Kuibaratkan UAS adalah taman anggrek yang sedang merekah, dimana aku sebagai penuai akan kebanjiran Anggrek menawan dikamar, sehingga aku perlu menambah ruangan untuk menimbun anggrekku agar tak rusak, begitupun dengan UAS yang perlu banyak kupelajari materi disetiap mata kuliahnya, hari terus berjalan inilah kemampuanku, aku yakin Allah yang tak pernah tidur akan membagi hasil yang terbaik

Hari pertama, hari kedua dan hari ketiga UAS pun telah kuarungi, temanku mulai terlihat jenuh, bakan ada yang mulai tak mengikuti UAS entahlah alibi apa yang sudah mereka dalihkan pada

Saat kulihat jadwal yang lekat menempel pada cerminku, kulihat mata kuliah terakhir dan “allahu akbar” melejitlah suaraku sampai ada suara ibu yang kaget terucap “ada apa teh?” Ku lejitkan lagi suaraku untuk meyakini ibu bahwa aku baik-baik saja “gak papa bu”dan kulihat mahrotul kalam lah yang menjadi gunting untuk menuai taman anggrekku, ya Allah bantulah hamba menyelesaikan masalah ini.

Hari ini adalah hari terkhir UASku, aku yakini itu, aku sangat yakin Allah tidak akan menelantarkan hambanya, kukutip dari doa nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Selesai UAS, Uti dan Ika menghampiriku mngungkit lagi masalah UAS tadi, namun aku tak terlalu serius mendengarkan apa jawaban mereka tadi, “sudahlah teman, please deh Gue gak mau ngomongin tentang UAS tadi, mending kita ke warung yuk, jajan lah”, mereka senyum dan mengayunku menuju warung.

***

Facebook adalah pelipur lara sejenak, pada faktanya tugas yang kucari di internet selalu diduakan olehku, bahkan ku tigakan dengan tweeterku, namun kali ini entah mengapa aku lebih tertarik menacari pengumuman beasiswa, sungguh naas tak ada beasiswa untuk Universitasku, miris sekali, beasiswa yang sedang bergeming tidak memihak pada Universitas yang kusinggahi ini, aku termenung sesaat, ada sms yang masuk pada ponselku dan ternyata dosen mahratulkalamku, pak Muchlis mengirim pesan:

“Salam, kepada seluruh mahasiswa-mahsiswi yang bapak banggakan, diharapkan besok berkumpul di Aula fakultas jam 09.00, karena Bapak akan umumkan siapa mahasiswa-mahasiswi yang mendapatkan nilai terbaik di setiap kelas untuk mata kuliah mahratul kalam ini”.

Aku bingung mengapa harus berkumpul di Aula fakultas untuk mengumumkan nilai? Biarlah ku matikan laptopku, dan aku menuju kamar mandiku untuk berwudlu sebelum tidur.

Kami semua mahasiswa-mahasiwi BSA berkumpul di Aula fakultas, ada kalimat pembuka yang terucap dari Pak Muchlis selaku dosen mahratul kalamku, dan tiba-tiba Bu Sarah sebagai dosen ’khitobah istima, dan dosen lainnya yang bersangkutan dengan mata kuliah di BSA pun ikut hadir, dan ternyata kudengar ada namaku dan nama temanku Rahardian disebut-sebut, ku perhatikan pengumuman itu, dan ternyata akulah mahasisiwi yang mendapat nilai mumtaaz itu, begitupun Rahardian, mahasiswa yang kudengar ketawadlu’annya, dia juga mendapat nilai yang mumtaz.

***

Aku mewakili UIN untuk mengikuti gebyar bahasa di Universitas Indonesia untuk bagian menulis feature dengan bahasa Arab, berbeda dengan Rahardian yang mengikuti pidato bahasa Arab, kami berdua dipilih karena nilai kami yang mumtaaz dan kami dipercayai untuk mengikuti gebyar bahsa ini, sungguh luar biasa awalnya aku sangat ragu, tapi karena ini todongan dari dosen-dosenku maka aku jadikan kesempatan ini sebagai kuas yang kuharapkan menjadi torehan awal yang dapat mengukir prestasi selanjutnya pada kanvas hidupku, tak terasa air mata ini mengalir, namun segera ku seka, karena aku tak ingin ada orang yang mlihatku menangis.

***

“Ayah” kupanggil sambil kudekati ayahku yang sedang duduk santai di kursi kesayangnnya, ayah yang sedang menikmati teh hangatnya sambil membaca sebuah Koran menoleh sejenak. Hari ini masih senja, dan kulihat ayah semakin serius membaca korannya. Tiba di kursi ayah, aku beritakan kabar, bahwa aku mewakili UIN di acara gebyar bahasa di Universitas Indonesia sebagai penulis Feature dengan bahasa Arab, kalau aku masuk kategori tiga besar aku akan di Umrohkan, matanya berbinar, wajahnya begitu sumringah saat ku kabarkan cerita ini pada ayah, ayah langsung menggenggam tanganku dan menciumi tanganku, “berjuanglah nak, ayah selalu mendukungmu, merapatlah pada Allah di spertiga malammu, bujuk Allah dengan rintihanmu, karena Allah suka hamba yang mengemis kasih padanya, ayah bantu segala harapanmu dengan do’a ayah, juga ibu pada sepertiga malam kami, Allah lebih dari cukup nak”.

Kujadikan motivasi segala ucapan ayah, bismillah hari demi hari kupersiapkan untuk lombaku, teman-teman juga terus memberikan dukungan untuk kami, minggu depan bukanlah waktu yang panjang untuk persiapanku, namun semakin aku peraya akan kemampuanku ini, aku juga coba berlatih dengan anak-anak bagian ilmu komunikasi Juranlistik untuk mempelajari apa itu Feature.

Hari yang menegangkanpun tiba, Pak Muchlis selaku dosen mata kuliah Mahratul Kalam mengantarkanku dan Rahardian menuju Universitas Indonesia, sambil mencari ruangan perlombaan kamipun diberi nashihat agar terus semangat. Aku berusaha tenang, ruangan perlombaanpun telah kami temui kami pun berpisah.

Syarat yang diberikan juri bukan lagi dengan bahsa Indonesia tapi dengan bahasa Arab, ku ambil kesimpulan bahwa yang diinginkan juri bukanlah feature yang sudah dirangkai di Rumah, tapi membuat kembali feature di ruangan ini, para peserta diberi waktu satu jam  untuk mebuat feature temanya “Indahnya Sastra Alquran”, aku langsung mengambil penaku, kumuntahkan bahsaku pada secarik kertas yang harus kupenuhi, imajinasiku terus mengembang, kudapati sedikit kerumitan untuk mentejemahkan, karena ini sangat memerlukan balaghah yang tinggi, namun aku terus mencoba hingga terbuatlah karyaku ini sebanyak dua halaman pada kertas beukuruan A4, ku beri judul karyaku ini dengan “ketika sastra mebuat sesorang terpesona pada al-Quran” dan Alhamdulillah waku yang tersisa masih cukup banyak, kuperiksa lagi tulisanku, dan waktunya pengumpulan karya-karya para peserta. Aku keluar untuk menemui Pak Muchlis, kuceritkan hasil tulisanku pada Pak Muchlis, dan memang ada sedikit kekeliruan dalam peletakan bahasanya, tapi Pak Muchlis terus tersenyum dan bilang “pasti juara”, aku pun tertawa lepas dan sambil mengucapkan “Amiiin”.

***

Dua mingggu kemudian Pak Muchlis memanggilku dan Rahardian ke ruangannya yang berada dilantai dua fakultas. Kucoba tenangkan hati meski cemas terus merayapi tubuh ini. Entahlah, pikirinku mengawang tak jelas, keringat dingin membasahi kerudungku, setibanya kami diruangan Pak Muchlis. Beliau panjang lebar menasehati bahwa kita jangan menhagharapkan sesuatu secara berlebihan. Kemudian Pak Muchlis juga bilang bahwa manusia hanya dapat berencana sedang Allah-lah yang berhak menentukannya, karena barangkali apa yang kita inginkan bukan yang terbaik untuk kita maka mintalah yang terbaik menurut Allah, karena pasti yang terbaik menurut allah, baik pula untuk umatnya.

Pikiran Negatif semakin mencekam otak ini, ingin rasanya kubilang pada pak Muclis untuk to the point, namun Pak Muchlis malah memberikan tas padaku dan aku disuruh membukanya. Kulihat isi tas itu dan Subhanallah… ada tiket Umroh untukku. Pak Muchlis tertawa lepas, justru aku malah lemas, tak kuasa, akupun tertawa sambil menangis. Aku bukan siapa-siapa di jurusan Bahasa dan Sastra Arabku, bukan murid yang mendapat IP Cumalud, bukan mahasiswi yang aktif di kelas. Tapi, subhanallAh… mungkin ini jawaban doa Ayah dan Ibuku, juga semua orang yang mengasihku, bukan seratus persen do’aku, aku meraih juara dua, dan Rahardian Juara ketiga.

Selain bisa Umrah, aku mendapat uang saku serta full Beasiswa sampai S1, sedang Rahardian mendapat beasiswa sampai D3. Terimaksaih untuk cinta yang tak pernah bertepi dari Allah melalui ayah, ibu juga dosen-dosen ku, kujadikan ini sebagai Kuasku saat semula yang akan melukis karyaku.

Oleh: Rasikhah, (Bandung, cibiru-hilir pondok pesantren al-ihsan), Img: sugengrahmanto.

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

[Puisi] Rasa yang Dirahasiakan

[Cerpen] Menjadi Cahaya dalam Gelap

Related posts