3:28 pm - Minggu September 20, 2020

Pilihan Menjadi Orang Istimewa

2386 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Orang istimewa selalu lebih sedikit daripada yang biasa. Islam memandang, istimewa adalah ketika manusia bisa menempatkan dirinya untuk menghamba secara total kepada Tuhan yang benar yakni Allah SWT. Al-Qur’an pun kembali menegaskan pujian Allah SWT untuk sekelompok hamba-Nya yang sedikit dan mencela serta memerintahkan kita untuk waspada kepada kelompok yang banyak.

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata : “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (TQS al-Baqarah [2] : 249)

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (TQS al-An’am [6] : 116)

Apakah Anda Termasuk Istimewa

Semua manusia ingin menjadi istimewa, tetapi sudah kita pahami bahwa pasti orang yang istimewa ini jumlahnya lebih sedikit dari yang biasa. Sesuatu yang sedikit memang belum tentu baik, tapi yang baik jumlahnya pasti lebih sedikit. Jika kita benar-benar menginginkan untuk menjadi orang yang istimewa maka ada tips yang bisa kita pakai untuk menilai sudahkah kita termasuk yang istimewa.

Pertama, setelah membaca artikel ini, coba renungkan, apakah Anda termasuk dari yang sedikit atau yang banyak? Sholat Shubuh di masjid secara berjamaa’ah pasti lebih sedikit orang dibandingkan keseluruhan masyarakat di sekeliling masjid. Jikalau Anda memastikan hadir Shubuh berjamaa’ah berarti Anda telah menggolongkan diri menjadi orang yang istimewa. Banyak wanita yang tidak mau menutup auratnya dengan sempurna dan kebanyakan wanita malah memamerkan auratnya. Bila Anda ingin menutupnya dan tidak membiarkannya dilihat selain kepada suami Anda atau muhrim Anda, maka Andalah orang istimewa. Banyak umat Islam yang tidak melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar bahkan tak sedikit umat Islam yang menjajakan aturan, pemikiran, budaya, dan seni yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Apabila Anda termasuk orang yang aktif berdakwah, mengajak orang-orang pada kebaikan dan menjauhi segala keburukan sesuai Syara’ maka Andalah orang istimewa. Masih banyak contoh lain yang dapat langsung kita terapkan. Oleh karena itu berusahalah menjadi bagian yang sedikit yaitu yang istimewa.

Kedua, pengorbanan yang diperlukan untuk menjadi istimewa jelas lebih banyak daripada menjadi yang biasa saja. Oleh karena itu tidak banyak orang yang sudi memilihnya. Maka jika Anda sungguh-sungguh berniat untuk menjadi istimewa, maka pengorbanan pun harus disiapkan. Ada yang berkorban diolok-olok dengan kata-kata ‘banci’, ‘kolot’, ‘kuper’ ‘makhluk alien’ dan kata-kata semacamnya untuk menjadi istimewa hanya karena ia tidak mengikuti tren yang sedang berkembang masyarakat bahkan melawan arus karena sesuatu yang jadi tren itu ternyata bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Para shahabat yang ikut berjuang bersama Rasulallah SAW berkorban harta, benda, bahkan jiwa dan raganya untuk menjadi istimewa. Pengorbanan memang sesuatu yang sangat sulit, yang karena itulah menjadikan kita istimewa.

Pilihan untuk menjadi istimewa penuh dengan investasi, konsekuensi, dan risiko yang harus diambil. Inilah yang menjelaskan mengapa orang istimewa pasti selalu lebih sedikit jumlahnya daripada orang-orang biasa karena pilihan untuk menjadi orang istimewa membutuhkan konsekuensi dan risiko yang lebih dibandingkan dengan pilihan untuk menjadi biasa saja.

Orang yang istimewa selalu melakukan pilihan-pilihan istimewa dalam setiap segmen perjalanan hidupnya. Mereka memahami bahwa ketika mereka melakukan hal-hal kecil yang istimewa, hal itu akan menghantarkan mereka menjadi orang yang istimewa. Orang-orang yang istimewa menolak untuk melakukan hal-hal yang biasa, mereka selalu memberikan yang terbaik pada setiap perbuatan yang mereka lakukan baik kecil maupun besar.

Lain halnya dengan menjadi orang biasa, seseorang cukup mengikuti yang lainnya dan tidak perlu mengeluarkan ekstra investasi, konsekuensi, dan risiko. Penonton sepakbola selalu lebih banyak daripada pemain sepakbola. Orang yang dipengaruhi selalu lebih banyak daripada orang yang mempengaruhi. Orang yang tidak beriman kepada Allah selalu lebih banyak daripada orang yang beriman kepada Allah. Orang yang memilih menjadi biasa selalu lebih banyak daripada orang yang memilih menjadi istimewa. Orang istimewa memang hanya sedikit. Less is Better.

Keputusan ada di tangan kita. Hidup adalah pilihan dan kita bebas menentukannya. Biasa atau Istimewa? Apabila kita memilih untuk menjadi istimewa konsekuensi yang lebih berat menanti, dan kita harus siap untuk menjadi orang-orang yang jumlahnya sedikit dan “aneh” bagi sebagian besar manusia biasa. Namun ada pula kabar gembira tentang risiko orang-orang istimewa yang sedikit jumlahnya bahwa mereka tidak hanya sedikit jumlahnya di dunia, tetapi juga sedikit jumlahnya di akhirat kelak.

Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia (TQS al-A’raaf [7] : 179)

Hidup mana yang akan kita pilih? Hidup seperti apa yang akan kita jalani? Allah SWT pun pada hakikatnya hanya menyediakan dua jalan bagi kita sekaligus memberikan tuntunan bagi kita untuk mengambil jalan yang “sukar” bukan jalan yang mudah.

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? (TQS al-Balad [90] : 10-11)

Menjadi istimewa memang butuh pengorbanan, mememerlukan kesabaran dan keteguhan. Isimewa berarti menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu menjadi istimewa akan mendapat balasan yang lebih daripada orang biasa. Allah SWT menjanjikan surga dengan segala kenikmatannya bagi orang-orang istimewa dari golongan orang-orang yang beriman.

Oleh: Siti Dewi Nur Aisah, Mahasiswi S1 Peternakan IPB, Img: XrFhnuNnaik

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Kisah Hidup Bocah Muslimah dan Emaknya

Rumah Tangga sebagai Medan Utama Pemberantasan Korupsi

Related posts