4:12 am - Kamis November 14, 2019

Sastra Abad 16 dan Penyeimbangan Budaya dengan Relegiusitas

1660 Viewed

Mengherankan, setelah membaca buku-buku yang membicarakan tentang perjalanan sastra serta pergulatannya di tengah hiruk-pikuk kehidupan pada abad 16 rasanya ingin hidup pada masa-masa itu. Memang terkesan muluk-muluk, tapi apa boleh buat, sebagian sudah mengalir dalam kepala, mau tidak mau harus segera dituangkan melalui tulisan untuk mengabadikannya. Dan supaya lebih meyakinkan dan dapat diterima penulis benar-benar terjun ke dalam hiruk-pikuk yang diterawangnya, dalam artian hidup pada masa tersebut. Itulah salah satu alasan mengapa setelah membaca buku-buku yang membicarakan sastra abad 16 keinginan untuk hidup pada masa-masa tersebut bergejolak begitu keras.

Jika kita menoleh sebentar ke belakang, ke masa-masa abad 16, mungkin kita akan teringat tentang suatu kerajaan yang dulu sempat bersemi di tanah Jawa. Kerajaan-kerajaan yang tidak sedikit memberikan sumbangsih pada negara kesatuan Republik Indonesia meskipun sebagian sumbangsih itu telah dimiliki negara asing.Tentunya sumbangsih yang dimaksudkan adalah kekayaan intelektual seperti seni dan budaya.

Sejak dulu kala orang-orang Jawa sudah menekuni kesenian dan kebudayaan, benar-benar mendalami dua ranah kehidupan tersebut yang selalu memberikan keindahan dan kesejukan pada batin. Berkat perhatian yang benar-benar serius itulah muncul pujangga-pujangga agung yang terkenal di dunia yang perlahan mulai tidak disinggung pada abad masa kini.Sampai-sampai kesenian dan kebudayaan itu bergelayut dari generasi ke generasi sebagai ajaran dan tuntunan hidup. Terkait masalah ini, Purwadi dalam kata pengantar bukunya Sejarah Sastra Jawa (2005) mengatakan: Kesusastraan Jawa itu diwariskan dari generasi ke generasi sebagai ajaran dan tuntunan hidup yang adil dan beradab. Sesungguhnya jati diri orang Jawa banyak dibangun melalui karya sastra yang memuat unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa dan jugar benturing tapa.

Artian yang sederhana tentang kebudayaan adalah budi daya cipta karsa dan karya manusia yang berwujud kesenian adi luhung (Dr. Purwadi, M.Hum 2005: I). Sedangkan kesenian adalah batang dari beberapa ranting yang disebut seni musik, seni tari, seni tulis dan seni-seni lainnya.Kesenian yang dituangkan dalam bentuk tulis dinamakan kesusastraan. Meskipun banyak pengertian-pengertian baru yang dikeluarkan oleh para ahli tentang seni sastra, tetap pada intinya akan kembali pada arti dasar yang sesungguhnya, yaitu kemahiran karang mengarang yang mengandung bobot keindahan. Keindahan-keindahan seni sastra akan melahirkan pencerahan jiwa, sehingga dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani.

Tidak heran jika dalam fase-fase kehidupan tertentu kecenderungan ingin kembali ke masa keemasannya, ketika tradisi tersebut masih begitu dekat dengan landasan dasar pemikiran, terus bergelayut menabur keinginan untuk mengulangnya lagi. Fase yang demikian dalam sejarah kesusastraan, khususnya kesusastraan Islam, bisa kita lihat pada masa abad 16,  yaitu pada suatu fase yang mengingatkan kita akan suatu kehidupan rohani yang benar-benar serius. Cara mengolah dakwahnya menjadi dakwah yang unik, menyenangkan dan tidak terasa ada jaring diujungnya, sangatlah cukup untuk membuktikan tentang adanya babakan unik dalam sejarah Islam yang mengagumkan, khususnya dalam babakan kesusastraan. Dalam bukunya Metode Dakwah Wali Songo (1984: 35-39)Nur Amin Fattah menyebutkan tanda-tanda paling menonjol dari masa ini, di antaranya adalah adanya cara dakwah yang berbeda antara aliran Sunan Giri dengan aliran Sunan Bonang. Kedua aliran tersebut sama-sama mengemban misi memasukkan pemikiran-pemikiran Islam ke dalam tradisi-tradisi lama yang jauh dari cahaya kebenaran dengan metode yang asyik.

Betapa tidak? Coba perhatikan cara dakwah yang dilakukan aliran Sunan Bonang pada masa kesultanan Demak. Kesenian wayang yang merupakan tradisi kesayangan orang-orang Jawa tidak sedikit pun dileburkan.Bahkan, meskipun dari beberapa Wali yang tidak setuju dengan langkah seperti itu, terutama dari golongan Sunan Giri, pemeliharaan nilai-nilai kesenian tetap diperjuangkan untuk dilestarikan. Cara ini merupakan cara yang sangat bijaksana dalam pendekatan untuk menarik simpati serta memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat.

Akan tetapi, para wali tidak asal-asalan untuk mengambil kesenian wayang sebagai media dakwahnya. Perenungan akan nilai-nilai yang terkandung dalam perwayangan benar-benar diseriusi. Simbol-simbol dan lain sebagainya terus dipelajari. Sampai-sampai dari perenungan itu terjadi perselisihan yang amat sengit.Aliran Giri yang dipelopori oleh Sunan Giri sendiri menolak terang-terangan penggunaan media wayang.Beliau berpendapat bahwa wayang itu hukumnya haram, sebab menyerupai bentuk manusia.Sedangkan menggambar manusia saja menurutnya dosa besar.Sunan Kalijaga yang berada di golongan Sunan Bonang mengusulkan agar wayang tidak menjadi haram, gambar manusia yang ada itu dirubah bentuknya.Misalkan, tangannya lebih dipanjangkan dari pada kaki, kepalanya agak menyerupai kepala binatang, hidungnya dibuat bercabang biar tidak serupa persis dengan manusia (Amin Fattah, 1984: 52).Kalau sudah tidak menyerupai manusia tentu saja hukumnya tidak haram lagi.Akhirnya usulan itu pun disetujui oleh para wali dan mulai saat itu pula penggubahan wayang dilakoni.Dalam bidang ini yang cenderung aktif adalah dari aliran Sunan Bonang. Setelah musyawarah, para wali membuat strategi-strategi yang lain. Sunan Kalijaga mendapat bagian penggubah wayang, sedangkan yang bertugas membuat gamelan adalah Sunan Bonang.Supaya permainan wayang dan gemelannya bernafaskan Islam, cerita-cerita wayang yang aslinya tidak mengandung nilai keislaman disulap demikian rupa hingga penuh dengan nilai-nilai Islam.

Sekali lagi, di sini ditegaskan, para wali dalam dakwahnya tidak sedikit pun menghapus kesenian masyarakat Jawa.Nur Amin Fattah menceritakan dengan sangat gamblang tentang penggubahan para wali terhadap cerita-cerita wayang. Nama-nama tokoh dalam perwayangan diplesetkan ke bahasa arab sehingga bisa mengandung falsafah yang amat dalam.

Adapun pelaku cerita dalam pewayangan yang terkenal hingga saat ini adalah cerita tentang panokawan Pandowo, yang terdiri dari Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Ke empat pelaku itu mengandung falsafah yang amat dalam, di antaranya sebagai berikut:

  1. Semar, dari bahasa Arab ‘Semaar’ yang artinya paku. Dikatakan bahwa kebenaran agama Islam adalah kokoh, sejahtera bagaikan kokohnya paku yang sudah tertancap yakni Simaruddunya.
  2. Petruk, dari bahasa Arab ‘Fatruk’ yang artinya tinggalkan. Sama dengan kalimat fatruk kuluman siwallahi, yaitu tinggalkanlah segala apa yang selain Allah.
  3. Gareng, dari bahasa Arab ‘Naala qoriin’ (nala gareng) yang artinya memperoleh banyak kawan, yaitu sebagai tujuan para wali adalah berdakwah untuk memperoleh kawan banyak.
  4. Bagong, dari bahasa Arab ‘Bagha’ yang artinya lacut atau berontak, yaitu memberontak terhadap sesuatu yang dhalim.

Pertunjukan wayang itu dimainkan oleh seorang dalang, nama dalang ini juga diambil dari bahasa Arab ‘Dalla’ yang artinya petunjuk, maksudnya orang yang menunjukkan ke jalan yang benar. (dalam Metode Da’wah Wali Songo, Nur Amin Fattah, Pekalongan, Januari 1984: 52-53).

Masih banyak lagi contoh penggubahan wali songo terhadap cerita-cerita wayang. Misalnya lagi cerita tentang Dewa Ruci, Jamus Kalimasada (Kalimat Syahadat), Petruk jadi raja, Pandu Pragolo, Mustaka Weni dan lain-lain. Dari semua cerita-cerita versi wali songo tersebut kesemuanya tidak diambil dari kitab Ramayana versi India, namun murni plesetan dari para wali.

Ada beberapa alasan yang perlu diuraikan mengapa para wali dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa tidak harus menghapus kebudayaan-kebudayaan Jawa, yaitu di samping kebudayaan itu merupakan ruang perkembangan identitas yang kuat dan dimiliki bersama oleh orang-orang yang hidup ditempat tertentu atau yang saling terhubungkan dengan satu dan lain (Joos Smiers, 2009: 177), dalam bukunya Keris Kalimasada dan Wali Songo(2009: 89) Drs. HM. Ilyas Werdisastro juga menegaskan bahwa orang Jawa tetaplah menjadi orang Jawa yang berkebudayaan Jawa dan tidak harus diganti dengan budaya Arab. Hanya saja dalam bidang kepercayaan yang harus diganti dengan agama Islam.Oleh karena itu, seni dan budaya Jawa tidak perlu dihapus. (Img: aynozecSBwg)

 Oleh: Ahmad Moehdor al-Farisi

Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Akar Perpecahan Islam di Indonesia

Punahnya Pusat Peradaban Arab Kuno dan Islam

Related posts