4:00 pm - Minggu September 18, 4304

Perbedaan Santri dan Orang Barat dalam Mengkaji Kitab Kuning

1930 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Dalam rentang tahun 650-1250 M, Islam mengalami puncak kemajuan yang mengagumkan. Pada masa ini perkembangan Islam ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di berbagai bidang. Hal ini disebabkan perhatian pemerintah waktu itu yang sangat besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Berbagai lembaga pengetahuan seperti madrasah, universitas, dan perpustakaan didirikan. Penerjemahan buku Yunani digalakkan. Sehingga umat islam mulai mengenal pengetahuan umum seperti astronomi, kedokteran, filsafat,kimia, dll.

Kemudian muncullah ilmuwan muslimyang mempunyai intelektualitas yang mumpuni. Yang tidak hanya menguasai satu bidang ilmu pengetahuan saja. Seperti Ibnu Sina, Jabir bin Hayyan, al-Khawrizmi dan lainnya. Negara menempatkan ulama pada posisi yang tinggi dan mulia. Mereka dihargai dengan memperoleh gaji yang sangat tinggi. Setiap hari mereka mengisi halaqah-halaqah yang bahkan dibanjiri ribuan umat islam. Hal ini menunjukkan betapa besar antusiasme umat islam terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan para pencari ilmu waktu itu rela berkeliling ke berbagai negeri demi menghilangkan dahaga mereka akan ilmu.

Ilmu bagai buruan yang gesit. Hal ini juga disadari oleh ulama. Maka agar ilmu mereka dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya,mereka menuangkannya kedalam bentuk tulisan. Maka muncullah karya-karya monumental yang bahkan masih dikaji hingga sekarang ini. Kegiatan tulis-menulis semakin meningkat seiring tingginya apresiasi pemerintah terhadap karya tulis. Setiap karya tulis yang dihasilkan ulama dibayar mahal oleh negara.

Namun roda kehidupan berputar tak seperti yang kita harapkan. Peradaban islam perlahan-lahan mengalami kemunduran. Selain faktor internal, kemunduran umat islam juga disebabkan bangkitnya bangsa baratyang ditandai dengan renaisance pada abad ke-14. Akhirnya Islam semakin tenggelam seiring dengan kemajuan yang dialami bangsa barat. Bahkan bangsa barat sempat menjajah  negara islam yang menjadi daerah kolonialnya.

Hal ini menimbulakn keprihatinan para cendekiawan ynag menamakan diri modernis atau pembaharu. Mereka menyerukan kepada umat islam untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang bersumber dari barat demi mencapai kemajuan dan saatnya nanti akan mampu mencapai kejayaan Islam di dunia. Bahkan lebih ekstrim lagi, modernis seperti Mustofa Kemal Ataturk menganjurkan umat islam meniru barat dalam segala hal.

Padahal kalau kita telisik lebih jauh, seruan seperti inilah yang justru semakin menenggelamkan umat islam dalam kemunduran. Kemajuan yang dicapai barat tak lepas dari kemajuan umat Islam pada masa lalu. Hal ini dinyatakan sejarah bahwa setelah perang Salib, bangsa Barat menyadari ketertinggalan mereka dengan umat Islam. Oleh karena itu, mereka membawa kitab klasik atau populer dengan sebutan kitab kuning. Lalu mereka menerjemahkan dan mengkajinya. Hal ini mendorong bangkitnya peradaban Islam . banyak orientalis seperti Lebon G dan Jacques C Kisler mengakui pengaruh Islam ini.

Maka patutlah kita acungi jempol terhadap apa yang dilakukan para santri di pesantren. Mereka mengkaji, menelaah kitab yang ditulis ulama pada masa keemasan islam (the golden ages of islam)  . Tradisi ini telah ada sejak munculnya pesantren di nusantara. Dengan mengkaji kitab kuning , para santri berusaha menyambung keilmuan mereka dengan para ulam yang  mempunyai intelektualitas yamg lebih daripada ulama sekarang ini. Banyak orang ‘luar’ mencap kolot kitab kuning. Tapi hal ini lebih disebabkan karena mereka melihat waktu kitab tersebut dikarang, selebihnya mereka tidak tahu kualitas isi kitab tersebut , yang terbukti telah  membangun peradaban yang cemerlang,.

Yang perlu menjadi catatan adalah .kajian yang dilakukan santri pada kitab, hanya terfokus dan terbatas pada kitab yang membahas ilmu Agama. Padahal kitab kuning peninggalan ulama tidak hanya membahas ilmu agama, tapi juga membahas ilmu lainnya, seperti filsafat, astronomi, kedokteran dan lainnya. Mungkin hal ini lebih disebabkan adanya dikotomi ilmu  di pesantren. Tapi yang jelas hal ini menyebabkan sempitnya wacana pemikir an santri.seharusnya santri dibebaskan untuk mengkaji kitab di berabgi bidang ilmu. Tentu selama tidak keluar dari koridor ahlussunnah wal jamaah.

Mengupayakan bangkitnya Islam lebih baik daripada kita terjebak pada romantisme sejarah, dengan hanya membangga-banggakan kejayaan islam di masa lalu tanpa ada keinginan untuk membangkitkannya kembali. Salah satu uapya yang dapat kita lakukan adalah seperti yang dilakukan bangsa Barat : mengkaji kitab kuning. Karena kitab kuning adalah aset peradaban Islam. Didalamnya terdapat berbagai pemikiran ulama yang telah berhasil membangun peradaban yang cemerlang. Dengan menelaah pemikiran mereka,tidak tertutup kemungkinan islam akan kembali jaya. Bukankah ada adagium “l’historie re pete “ (sejarah dapat terulang kembali)?.

 Oleh:  Afif  Thohir Furqoni, Santri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Jawa Timur, Img: 1oYfQwyc3JA

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Beberapa Budaya Indonesia yang tidak Sepaham dengan Islam

Zulaikha; Antara Pesona dan Fakta

Related posts