6:36 pm - Senin September 21, 2020

(Cerpen) Romantisme Kalbu

11387 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Seluit Mutiara terbayang jelas di sudut ruang mushola. Tertutupi gorden putih pembatas antara akhwat dan ikhwan yang tarawih di mushola Baitul Jannah. Wajah Mutiara santun dan meneduhkan membuat aku senyum-senyum sendiri dalam hati berkata, “Andai bayangan itu bukan sekedar mimpi ..” lamunku dalam do’a mengkhusyuk harap jodoh terbaik yang dikirimkan Allah tepat pada waktunya.

Sedikit mendengar obrolan antara Mutiara dan kawan-kawannya disela tarawih. “Mutiara, si cantik udah ada yang punya belum?” tanya Lani menyemukan pipi merah merona Mutiara. Dia hanya senyum-senyum, malu-malu kucing serambi berkata, “Udah.” jawabnya mantap membuat terkejut orang-orang sekerumpulannya.

Ada neon tanda tanya bersinar kembali, “Mutiara sudah ada yang punya?” pikirku dalam hati melelahkan semangat berta’aruf dengan juwita tetangga depan rumahnya. Mutiara memang cantik, sholeh, santun, ramah terhadap siapapun. Pantas saja jika Annisa sudah mempunyai tambatan hati. lagi-lagi aku merenung memikirkan cinta yang bertepuk sebelah tangan dan lekas-lekas beristigfar agar tidak berlarut, “Astagfirulloh.”

Tapi pembicaraan tersebut belum selesai betul. Lani masih mencari tahu sosok yang kini singgah dihati Mutiara. Kekepoannya muncul seketika, “Ceile .. Siapa sih, mut?” kata Lani sambil menggoda Mutiara. Disambut cie lagi dari teman-temannya yang mendengarnya. “Ih, mau tau aja deh! RHS donk!” sahutnya serambi melipat mukenanya yang baru saja selesai sholat tarawih.

Lani belum puas dengan kekepoan yang belum terpecahkan, sekali lagi ia berusaha dan berusaha lebih lihai lagi dalam mengungkap isi hati Mutiara. “Curhat-curhat, mut! Kan kita pengin denger ceritanya kamu.” jurus Lani muncul lagi. Mutiara tersenyum kemudian menatap sahabat-sahabatnya dengan tatapan yang dalam dan penuh arti, “Temen-temen, sejak 50.000 tahun yang lalu sebelum aku dan kalian dilahirkan. Allah sudah mencatat segalanya tentang kita, tentang jodoh, rejeki dengan semua takdir yang akan dialami kita di dalam kitabnya ‘Lauhul Mahfudz’ yang terjaga ketat oleh para malaikat di arsy Allah, paling atas sana.” jelas Mutiara membuat semuanya berbinar. “Jadi, Kita semua udah punya masing-masing ni?” tanya Andin memantapkan. Mutiara mengangguk dan menambahkan lagi, “Tapi jodoh kita sedang dipingit sama Allah supaya kita bisa merasakan indahnya keajaiban Allah pada waktunya.” terang Mutiara serambi berjalan menuju rumah masing-masing.

Masih dari kejauhan, tepat 3 kaki dari langkah Mutiara, aku tersenyum penuh kelegaan seraya bersyukur memuji asma Allah, “Subhanallah, yang maha indah dan maha menciptakan keindahan, indahkanlah hati dan perbuatan ini agar sesuai dengan jalan-Mu, ya Allah.” lirihku hampir tidak terdengar di telinga mereka sama sekali. Namun dari Arah belakang Nadif yang memerhatikan aku berbinar melihat Mutiara, “DoOrRrrrr ..” lantangnya mengagetkanku. “Masbro, ngalamun aja! Kamu kenapa, asfa?” tanya Nadif sambil memerhatikan pesona Mutiara yang tak jauh dari jarak langkah kaki mereka.

Mereka sudah sampai didepan gang antara rumah Asfa dan Mutiara. Memang rumahku berhadapan dengan rumah Mutiara. Terletak didalam gang sempit penuh pemukiman dengan suasana yang asri dan menyejukkan. Kota yang disebut desa yang masih kental dengan nilai kebersamaannya. Tepat di gang sempit itu, Nadif mengamati dua rumah yang menjepit tepat dimana dirinya berdiri. Mau tak mau Asfa harus menemani Nadif mengamatinya, “Masuk aja yuk, dif!” ajak Asfa sedikit canggung di area itu. Nadif senyum-senyum nakal serambi ber-oh ria seperti berhasil mengerti sesuatu, “Fa, berarti kalo lo buka pintu rumah lo, lo bisa langsung liat bidadari lo ..” ucapnya sambil terbahak mengikuti langkah kaki Asfa yang sudah duluan masuk kedalam rumahnya.

“Ga kok, liat aja besok pagi ..” tantang Asfa mengangkat satu alisnya. Memutuskan Nadif untuk mengambil keputusan menginap di rumah Asfa. Tentu saja oleh keluargaku Nadif diperbolehkan menginap satu malam, karena keluarga kami sudah merekat satu sama lainnya. Sudah layaknya perangko yang selalu menempel surat, susah untuk dipisahkan saking rekatnya.

♥ ♥ ♥

“Hoaaaaaaam ..” nguap Nadif membangunkan tidur pulasku. Aku memicingkan mata segera melepas mimpinya, “Bukannya do’a abis tidur malah nguap lebar banget.” kritik Asfa sambil bangkit ke ruang makan, dibalas Nadif dengan uapan yang makin lebar dan, “Iya-iya, alhamdulillah hilladzi ahyana ba’dama amatana wailaihin nusurr.” eja Nadif mengikuti Asfa makan sahur.

Di ruang makan semua sudah berkumpul. “Hmn, tante masakannya enak-enak nih, delicious.” puji Nadif sambil melahab habis gurame yang ada didepannya. “Eits, main makan aja, udah do’a belum?” kata Umi Asfa disambut dengan cengiran Nadif yang tidak enak dilihat, pengin buang muka melihatnya. “Oya, do’a lupa makan aja ya! Bismillahi awaluhu waakhiru.” ingatnya membuat semua tertawa. “Asfa, do’a sebelum makan dulu!” perintah Ayah dengan nada yang lembut, membuat Asfa segera memimpin do’a, “Allahumma bariklana fiimaa rozaktana wakina ngadha bannar.” khusyuknya kemudian dengan lahap menyantap sahur bersama.

“Ibumu, ajib banget masakannya. Aku mau lho jadi anaknya, makan enak terus ..” goda Nadif didepan ruang tamu menuju ke daun pintu. “Eits, gua yang buka!” pinta Asfa sambil merebut daun pintu itu. Nadif melepaskannya dan lola sebentar kemudian ber-oh loading nya berputar lagi. Asfa membuka pintunya, benar apa yang dipikirkan oleh Nadif dan Asfa sebelumnya. Biadadari hati Asfa sudah nampak didepan matanya. Bagai berada di etalase yang tak sanggup untuk menyentuhnya. Tapi ketika mata Mutiara dan Asfa bertemu mereka lekas-lekas menunduk dan menata hatinya. “Ghodul bashor ..” kata Nadif lirih.

Menundukkan pandangan adalah cara termudah untuk dua insan untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu musuh yang nyata. Lalu bagaimana bila hati memang benar-benar ingin menatap sang pujaan lebih lama lagi? Dan berpikir untuk segera menjalin hubungan pacara dengan si dia? Ya itu jelas bertentangan dengan hukum Allah yang melarang pacaran dalam bentuk apapun.

Tahukah ketika dua insan berpacaran apa yang terjadi pada keduanya? Memang cuma pegangan tangan saja, atau cuma sms-an telephon-an atau cuma sebatas LDR saja. Tapi dari ‘cuma’ itu akan merembet pada perbuatan yang benar-benar tidak diinginkan. Sambil menyenggol Asfa yang kembali menunduk ketika mendengar penjelasan dari Ustadz Radit tentang apa si itu pacaran?

“Terus kalau ga boleh pacaran, cara kenalannya kaya gimana?” tanya Asfa seakan ingin tahu dengan semua penjelasan Ustadz Radit. Ustadz Radit memang terkenal supel terhadap permasalahan remaja. Ia paling peduli terhadap pergaulan remaja. Dan dengan mantap Ustadz Radit menjawab pertanyaan Asfa, “Ya ta’aruf lah, kenalan ala islam yang semakin membuat hati bergetar. Kalau memang Asfa ingin Mutiara, datangi ayah Mutiara, bilang baik-baik bahwa Asfa ingin mengkhitbah Mutiara. Jangan asal main tembak aja!” jelasnya membuat kepala Asfa mengangguk-angguk paham.

♥ ♥ ♥

            Asfa menarik nafas dalam-dalam, bersiap dengan segala keputusannya hari ini. Ia sudah membicarakan azzamnya untuk mengkhitbah Mutiara dengan kedua orangtuanya. Umi dan Abi Asfa segera menyambut keinginan anak sulungnya untuk menyudahi masa lajangnya. Hanya pesan umi untuk Asfa, “Menikah itu hakiki karena Allah, apapun yang terjadi semua kembalikan pada yang memiliki cinta hakiki itu.”

Seserahan untuk serah terima lamaran sudah siap. Mental dan hati sudah mantap. Tunggu apalagi? Hanya melangkah lima langkah dari rumah sudah sampai dirumah sang impian hati. “Fa, ayo! Rumah Mutiara udah rame tuh, tunggu apalagi?” tanya Umi sambil memperhatikan rumah Mutiara dari balik jendela. “Umi, duluan aja! Asfa mau sholat dulu.” jawabnya menyegerakan mengambil air wudhu kemudian sholat.

Umi dari kejauhan menitikkan airmatanya, “Anakku, akan membangun istananya dengan gadis yang sholehah, iapun bertambah sholeh setelah berkali-kali melihat kesholehahan Mutiara. Ya Allah, kuat hati ini untuk melihat kebahagiaan mereka yang benar-benar syahdu ini.” lirihnya namun tetap masih dapat terdengar oleh Asfa. Asfa bangun dari sholatnya, kemudian membalik menghampiri Uminya, memeluknya dan menghapus airmata yang menetes di mata Uminya, “Umi tenang saja, Asfa akan menjadikan Umi dan Mutiara sebagai sepasang bidadari terindah Asfa.” ucapnya seraya memeluk uminya lebih erat lagi.

Mereka menhapus tangis itu, kemudian siap melangkah lima langkah dari rumahnya. Ayahnya sudah berada di rumah Mutiara sedari tadi. Sedang bercengkrama dengan tetangga yang menatap beliau dengan wajah bahagia anaknya akan bersanding dengan kembang desa sholihah yang banyak diidam-idamkan oleh pemuda-pemuda di desanya.

“Assalamu’alaikum ..” sapa Asfa ramah menatap dengan bahagia rona-rona yang berseri. Celingukan mencari satu titik yang sedari dulu menggetarkan hatinya. Sambil bersholawat menenangkan hati. Acara dimulai. Sama seperti acara Lamaran pada umumnya. Tapi Mutiara tak kunjung keluar dari singgah sananya. Sabar harap-harap cemas dalam diamnya, sambil senyum menutupi kebahagiaan yang tiada taranya.

Kini tiba saatnya Mutiara keluar dari singgah sananya. Asfa sudah tidak sabar menanti saat-saat melihat Mutiara turun dari arah tangga dengan menggunakan gamis putih berumbai indah dibalut dengan kerudung yang makin menambah pesona paras nan ayu Mutiara. Asfa tersenyum menatap Mutiara penuh arti, namun lekas-lekas menunduk karena tahu belum saatnya untuk bisa melepas unek di kalbu. Belum saatnya, sampai tiba waktunya nanti dipelaminan. Pasti akan lebih indah tak terbayangkan lagi nantinya.

“Jadi nanti pernikahan kita adakan tanggal 18 Desember ya .. seminggu setelah lamaran.” seru Ayah Asfa mantap menyebutkan tanggal pernikahan Mutiara dan Asfa. “Seminggu?” tanya Nadif tak percaya. “Ya, karena Asfa sudah menyiapkan rencana ini sudah sejak jauh-jauh hari.” jawab Ayah Asfa membuat Nadif tak menyangka. Ternyata Asfa benar-benar serius atas keputusannya.

♥ ♥ ♥

            18 Desember

Ini bagai mimpi bagi Mutiara. Dia menikah di Aston tempat yang selama ini diidam-idamkan oleh banyak pasangan untuk melangsungkan acaranya di Aston. Tapi hari ini, dia bagai menjadi ratunya di tempat impian itu. Hotel megah di kota kecil yang benar-benar indah dan mengangumkan. Membuat semua mata memandang dirinya dengan penuh bahagia ditambah bangga. “Ahabah lianna Allah, tuntun dan bimbing aku di jalan Allah dengan cintamu yang indah.” ucapnya seraya menatap lekat wajah suaminya yang begitu tampan dengan hidung mancung layaknya bule berdarah jawa.

Asfa tersenyum kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut. Dan mendekatkan tangan istrinya di hatinya, “Allah akan selalu dihati, degub ini berdetak kencang karena kuasa-Nya. Maa a’dhama sangadatii lillahi tangala.” ucapnya mengakhiri romatisme kalbu di antara kedua insan yang merindu Allah.

Oleh: Lu’lu Mar’atus Sholihah, siswi SMA IT Al-Irsyad Purwokerto.

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

(Cerpen) Selamat Jalan, Nak

(Cerpen) Hidayah di 1 Syawal

Related posts