4:00 pm - Sabtu September 19, 9401

[Cerpen] Bias Cinta Ilahi

3489 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

 

Ya, aku hanyalah seorang pengembara cinta yang sedang tersesat. Kepergian Sarah membuatku linglung. Satu minggu sebelum pertunangan kami terlaksana, Izrail lebih dulu menjemputnya dalam kecelakaan maut. Ia meninggalkanku dalam pedih. Aku yang biasanya tegar, mendadak layu. Semua terasa hambar untukku. Pagi, siang, malam, panas, dingin. Tak ada beda. Yang mampu kulakukan hanyalah menatap taman di samping kamarku dan berdiam diri di depan jendela hingga bunda datang menutupnya saat senja menjauh.

Aku seakan menjelma Kapten Jack Sparrow yang tak lagi mampu membaca kompas ajaibnya. Buta arah. Terombang – ambing dalam lautan duka penuh hampa. Aku hanya mengerti pedih air mata setelah tiga tahun merasakan indah cinta. Sarah, dialah bidadariku. Dia yang kuharapkan menjadi pendamping hidupku, ibu dari anak – anakku. Namun asa beralih hampa, ia pergi.

**********

Mega mulai berpendar menampakkan cahaya. Fajar menyingsing. Alam bersiap menyambut hari dengan segala  tetek bengek tingkah manusia. Aku duduk menatap ufuk timur menanti sang surya. Kuhirup udara pagi sebanyak mungkin hingga memenuhi paru – paru. Satu minggu sudah aku menikmati pagi dalam kesejukan.

Sepertinya tak ada ruginya aku datang ke pesantren ini. Pesantren Cendekia Islam. Letaknya yang berada di puncak bukit menjadi tempat yang strategis untuk menjernihkan pikiran. Udara yang sejuk pun mendukung proses belajar untuk para pelajar yang sekolah di Yayasan Cendekia Islam. Selain itu, keadaan yang tenang karena jauh dari pusat kota membuatku merasa lapang. Setidaknya setelah tekanan demi tekanan yang membawaku ke tempat ini atas saran bunda.

Aku bergegas menuju pesantren saat menyadari matahari mulai tinggi. Beberapa santri yang melihatku hanya tersenyum dan mengucap salam di sela aktivitas mereka. Senyum yang meneduhkan. Aku membalas senyum mereka seraya meneruskan langkah menuju kamarku.

“ Assalamu’alaikum, Kak. Dipanggil sama Pak Kiai,” kata seorang santri mengejutkanku.

“ Wa’alaikum salam, baik. Nanti Kakak ke sana. Syukron ya,” jawabku seraya ia tersenyum. Aku bergegas mencuci muka dan menuju kantor Om Ahmad.

Ada apa Om Ahmad yang lebih tenar dipanggil Pak Kiai itu memanggilku? Beliau memang sahabat dekat bunda. Itulah sebabnya bunda memaksaku untuk menenangkan diri di pesantren ini. Walaupun awalnya aku menolak, bunda tetap  saja keukeuh menitipkanku pada Om Ahmad. Entahlah, walaupun sudah satu minggu ini aku di pesantren, aku tetap merasa aneh untuk memanggil Om Ahmad dengan sebutan Kiai, mungkin karena latar belakangku yang tak pernah menginjak pendidikan di pondok pesantren. Pendidikan agamaku sejak kecil didapat dari bimbingan Ustadz Rahman di samping keluarga dan sekolah. Namun setelah Ustadz Rahman meninggal, tugas beliau diambil alih bunda. Dan sebagai anak Jakarta, walaupun aku tak termasuk anak – anak metropolitan yang terlalu bebas, aku juga tak termasuk anak – anak yang terlalu taat agama. Aku paham, namun dalam batas umum.

“ Assalamu’alaikum, Om,” salamku ragu saat melihat Om Ahmad sibuk dengan berkas – berkas di meja kerjanya. Beliau menghentikan aktifitasnya dan mengisyaratkanku untuk masuk. Aku mendekat dan duduk di hadapan beliau.

“ Wa’alaikumsalam. Ah, Farhan. Apa kabar? Maaf satu minggu ini Om sibuk. Sampai – sampai belum ada waktu menyambut kedatanganmu.”

“ Tidak apa –apa,Om. Farhan paham kok. Oh ya, ada salam dari bunda, Om.”

“ Wa’alaikumsalam waroh matullahi wabarokatuh. Bagaimana kabar ayah dan bundamu?” tanya Om Ahmad seraya membereskan tumpukan berkas di mejanya.

“ Alhamdulilah baik, Om. Ayah masih sibuk dengan rencana pembangunan pabrik baru. Sementara bunda juga masih sibuk mengurus taman kecil di samping kamarku.”

“ Haha, kamu pandai melucu juga. Nah, bisa temani Om jalan – jalan?” tanya Om Ahmad yang kusambut anggukan cepat.

Aku mengiringi langkah Om Ahmad di perbukitan yang sejuk sambil mendengar ceritanya tentang podok pesantren binaannya ini. Terselip kagum dalam hatiku melihat keteguhan dan kegigihanya dalam membangun pesantren yang kini mulai terkenal ini. Bahkan bulan depan akan ada pembukaan cabang pondok pesantren ini di Aceh. Satu minggu ini Om Ahmad tak ada di pesantren karena beliau sedang meninjau langsung persiapan pembukaannya. Benar – benar pemimpin yang bertanggung jawab. Selain itu, Om Ahmad juga menepis semua prasangkaku sebelum datang ke pesantren. Sebab aku pikir, sebagai kiai besar yang terpandang, Om Ahmad bukanlah sosok yang nyaman untuk diajak berbincang. Namun kini semua tudinganku itu langsung menguap saat aku merasa seperti berbincang dengan ayahku sendiri.

“ Jadi, apa yang membuatmu hingga jauh – jauh datang ke pesantren yang terpencil ini, Nak Farhan?” tanya Om Ahmad membuatku tergagap.

“ Em..itu, bunda yang memberi pandangan, Om. Menurut bunda di sini udaranya bagus untuk menenangkan diri. Ternyata memang benar. Udaranya benar – benar jauh lebih baik dibandingkan Jakarta,” jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun sepertinya Om Ahmad tak berniat berbelok arah.

“ Nak, bundamu sudah menceritakan semuanya kepada Om. Tapi, bukankah akan lebih baik kalau kamu mau berbagi cerita sendiri? Dengan begitu sedikit kepedihanmu juga akan terbagi,” kata Om Ahmad dengan nada kharismatiknya. Aku hanya menunduk menatap bebatuan di bawah persinggahan tempat kami berteduh.

“ Perlahan saja, Nak,” lanjut Om Ahmad saat aku masih membisu. Perlahan air mataku mengalir tanpa sanggup kucegah. Semua bayang kepedihan yang telah mnghantui hariku selama tiga bulan ini kembali tergelar. Senyum dan tawa Sarah membesut pikiranku kuat.

“ Om, aku…aku tak sanggup hidup tanpa Sarah. Dia adalah penyemangatku. Dan dia kini… Dia… dia meninggal, Om. Satu minggu sebelum kami bertunangan. Aku tak tahu arah, Om. Aku seperti tak ada gairah hidup selama tiga bulan ini. Cintaku padanya terlalu kuat, Om. Aku hanya sering bertanya, kenapa Allah begitu cepat mengambilnya kembali. Kenapa ia pergi di saat aku terlalu mencintainya? Aku…aku terlalu jatuh, Om.”

Om Ahmad menepuk bahuku pelan saat aku mengakhiri ceritaku. Sedikit beban itu memang pergi. Aku sedikit merasa lega. Om Ahmad membiarkanku menumpahkan air mata sambil mengusap pundakku. Dengan sabar beliau menungguku tenang.

“ Nak, kau tahu, Allah itu Maha Penyayang. Ia menyayangimu, makanya ia mengambil Sarah darimu,” kata Om Ahmad membuatku mendongak.

“ Apa maksudnya, Om?”

“ Tidakkah kau merasa bahwa kau sudah terlalu jauh meninggalkan cinta-Nya demi cintamu untuk Sarah? Nak, cinta adalah perasaan indah yang mendatangkan kebahagiaan. Om paham itu. Om juga pernah muda sepertimu. Bahkan, dulu Om juga pernah patah hati karena ditolak teman sekelas Om.” Aku tersenyum mendengar cerita Om Ahmad. Aku tak menyangka beliau juga pernah mengalaminya.

“ Tapi yang kau ingat, yang kau sebut cinta untuk Sarah, itu bukanlah cinta. Melainkan obsesi. Kau terlalu bergantung padanya hingga kau terpuruk sedemikian dalam saat ia pergi. Cinta adalah perasaan kasihmu untuk semua makhluk ciptaan-Nya dengan berlandaskan cinta pada-Nya. Kau tau artinya? Sedalam apapun cintamu pada sesuatu, tetap cinta pada Allah lah yang harus menjadi yang tertinggi. Sebab Ia yang menciptakanmu dengan penuh cinta. Ia berikan semua yang kau butuhkan untuk hidupmu. Semua dengan cinta-Nya untukmu. Jadi kenapa kau menomorduakan cinta-Nya dengan cintamu pada makhluk-Nya?”

“ Tapi kenapa Ia mengambil Sarah, seseorang yang sangat kubutuhkan?”

“ Kau menginginkan Sarah. Bukan membutuhkannya. Obsesimu yang begitu besar terhadapnya lah yang membuat kau berpikir seakan kau membutuhkannya. Allah Maha Tahu, Nak. Dia tahu mana yang kau inginkan dan mana yang kau butuhkan,” jawab Om Ahmad membuatku diam.

“ Nak, Allah mengambil Sarah bukan karena Ia tak menyayangimu. Bukan karena Ia ingin melihat kau jatuh. Tapi Ia ingin kau menjadi sosok yang tegar. Sosok yang mampu menanamkan cinta lain di bawah cintamu untuk-Nya. Sebab cinta yang seperti itulah yang akan membawamu ke surga-Nya. Cinta yang diridhoi Allah.”

“ Om, kalau memang Sarah bukan yang aku butuhkan, apa aku akan dapat menemukan cinta lain yang benar – benar aku butuhkan?” tanyaku ragu. Om Ahmad hanya tersenyum.

“ Bukankah di sesudah kesulitan selalu ada kemudahan yang menanti? Anggaplah kesulitanmu ini tantangan dari-Nya. Ujian. Hingga saat kau bisa melewatinya, kau akan mendapatkan hadiahmu,” jawab Om Ahmad meyakinkanku.

“ Apa Om mau membantuku menyelesaikan ujian ini?”

“ Tentu saja. Om akan membimbingmu menemukan cinta-Nya. Om sudah berjanji pada bundamu untuk mengembalikan anak kesayangannya ini dalam keadaan penuh cinta. Om pergi dulu, ada pertemuan dengan pemilik pesantren di kota sebelah. Pikirkan baik – baik perkataan Om tadi,” kata Om Ahmad sambil berdiri. Beliau menepuk pundakku pelan.

“ Dan satu hal yang harus kau ingat. Setiap perempuan yang baik hanya untuk lelaki yang baik pula. Kau pernah mendengarnya, kan? Oleh karena itu, jika kau ingin mendapat pengganti Sarah yang baik. Bidadari dunia dari-Nya, kau harus membuat dirimu baik di hadapan-Nya. Mengerti?”

Aku hanya mengangguk dan menatap kepergian Om Ahmad yang menjauh. Aku mengedarkan pandangan. Hijau yang menyejukkan. Aku tersenyum mendengar janji Om Ahmad pada bunda. Penuh cinta. Semoga aku bisa menemukannya di pesantren ini. Cinta sejati milik-Nya.

***********

Cantik. Satu kata yang bisa mewakikan perasaan untuk wanita di foto ini. Aku menatapnya lama. Senyum itu, menambah aura bidadari dalam dirinya. Perlahan aku melepasnya dari pigura foto dan dengan yakin, kuletakkan memori perih itu ke dalam kotak sampah di samping meja.

Ini bulan pertama aku mencoba bangkit. Mengikuti kesibukan pesantren dan juga bimbingan pribadi dengan Om Ahmad. Setiap hari kuisi dengan aktifitas – aktifitas baru yang selalu menuntut untuk kuselesaikan. Ia menjeratku hingga perlahan aku mampu melepas jerat lukaku satu – persatu. Setiap malam, aku selalu mengambil sepotong memori luka bersama Sarah dan mengakhiri hari dengan menguburnya atau melemparnya ke kotak sampah bersama do’a agar hatiku terjaga dari fitnah wanita dan cinta.

************

Kini setelah satu tahun aku berada di bimbingan Om Ahmad, aku mulai melupakan kepedihanku. Semua memori tentang Sarah seakan menghilang perlahan. Aku justru ketagihan mengkaji ilmu agama bersama para santri. Aku merasa seakan aku menemukan diriku yang lebih baik di sini. Dengan sabar Om Ahmad membimbingku. Aku semakin mengagumi beliau dan menganggapnya ayah di pesantren ini. Beliau juga mulai mempercayakan beberapa tugasnya padaku.

Beberapa kali ayah dan bunda datang menjengukku. Bunda menangis bahagia saat aku menceritakan semua kesibukanku di pesantren. Meski aku tahu bunda tak ingin melepaskanku untuk tinggal jauh darinya, namun bunda melakukannya dengan ikhlas. Untukku. Semua itu demi cintanya padaku.

Satu tahun aku melupakan kepedihanku akan cinta. Namun satu tahun pula aku belajar memahami cinta yang lain. Cinta yang lebih indah dari perasaan yang kusebut cinta untuk Sarah. Cinta yang membuat hatiku terasa nyaman setiap aku mengingat cinta itu. Cinta yang membuatku larut dalam keindahannya. Cinta itu milik-Nya. Cinta Illahi.

“ Assalamu’alaikum, Kak,” sapa Haris, santri yang juga ketua kelas membuatku menghentikan tadarusku. Aku menoleh dan tersenyum.

“ Wa’alaikumsalam. Ada apa Ris?”

“ Pak Kiai ingin ketemu Kak Farhan sekarang. Di rumah Pak Kiai,” jawabnya membuatku heran.

“ Baiklah. Syukron ya,”

“ Sama – sama. Saya pamit dulu, Kak. Assalamu’alaikum.”

“ Wa’alaikumsalam,” jawabku sambil menutup mushafku yang masih terbuka. Aku bergegas meninggalkan masjid dan menuju rumah Om Ahmad. Tak biasanya beliau memanggilku ke rumahnya. Beliau selalu memanggilku ke kantornya untuk urusan pesantren dan bimbingan. Beliau baru akan memanggilku ke rumah bila menyangkut kekeluargaan, seperti saat ayah dan bunda datang menjengukku. Tapi rasanya tak mungkin bila ayah dan bunda kemari lagi setelah kembali ke Jakarta kemarin sore. Tak terasa aku telah berdiri di depan pintu rumah Om Ahmad setelah menghabiskan waktuku di perjalanan dengan pertanyaan. Kuketuk pintu perlahan.

“ Assalamu’alaikum,” sapaku pada Om Ahmad yang sedang duduk membaca buku di ruang tamu dengan Tante Kinasih.

“ Wa’alaikumsalam warohmatulohi wabarokatuh, silakan masuk, Nak,” jawab mereka ramah. Aku bergegas masuk dan duduk di dekat mereka.

“ Farhan, selama satu tahun ini Om membimbingmu. Om rasa semua kegelisahanmu sudah hilang. Kau telah mampu menyelesaikan ujianmu dari-Nya dengan baik. Om bangga padamu, Nak,” kata Om Ahmad semakin membuatku bingung. Baru saja aku hendak menjawab saat seseorang mengantarkan minuman. Seorang gadis dengan hijab yang anggun. Jari – jarinya yang lentik menyita pandanganku saat ia meletakkan gelas minuman di depanku.

“ Silakan diminum, akhi,” katanya membuatku terhenyak dengan suaranya yang merdu. Apalagi saat aku mendongak untuk mengucapkan terima kasih. Aku hanya mampu mengangguk menatap kecantikannya yang terpelihara alami dalam kesederhanaan.

‘Astaghfirullah’ Aku bergegas mengucap istighfar. Tak seharusnya aku memulai api di hatiku. Tak ingin aku terlibat zina hati lagi. Cukup sudah dulu aku menduakan cinta-Nya dengan cinta Sarah. Aku tak ingin mengotori hatiku untuk kedua kalinya. Aku ingin hati ini benar – benar bersih dan menjaga cinta-Nya. Aku ingin cinta-Nya lah yang menuntunku untuk menemukan pendamping hidupku.

“ Nak Farhan,” panggil Tante Kinasih membuatku tersadar. Aku tergagap menunduk salah tingkah. Malu.

“ Maaf Om, Tante,”ucapku lirih.

“ Tidak apa – apa. Silakan diminum tehnya,” kata Tante Kinasih tenang. Aku meraih gelas dan meminumnya sedikit untuk menghilangkan kegugupanku.

“ Nak, Om pernah cerita tentang Aisyah kan? Anak bungsu Om yang kuliah di Al Azhar?,” tanya Om Ahmad yang kusambut dengan anggukan. Beliau memang terkadang menceritakan puteri bungsunya itu dengan bangga karena berhasil mendapat beasiswa S1 di Al Azhar, Mesir.

“ Dia sudah selesai kuliah. Tugasnya untuk menjadi anak yang baik dengan membuat kami bangga di studinya juga telah selesai. Kini saatnya ia menjadi sosok perempuan yang baik untuk suaminya, ibu yang baik untuk anak – anaknya kelak,” lanjut Om Ahmad membuatku gugup. Perlahan aku mengerti kemana arah pembicaraan ini akan bermuara.

“ Dia anak yang sholeh, Om bisa jamin itu. Sebab tak pernah Om dan Tante melepaskan tangan kami darinya meski ia jauh. Tugas kami hampir selesai. Kami hanya harus memastikan ia mendapatkan pendamping hidup yang baik. Yang mampu membawa cinta di keluarganya nanti menuju cinta-Nya. Dan Om insya allah yakin, kamu mampu untuk itu, Nak. Apa kau bersedia meminangnya?” lanjut Om Ahmad membuatku terlonjak. Walaupun tadi aku sudah memperkirakan hal ini, namun tetap saja aku terkejut.

“ Apa Om yakin aku sudah mampu?”

“ Insya Allah, Om yakin.”

“ Apa Om yakin Aisyah mau menerimaku sebagai imamnya?”

“ Nak, ia sudah mengetahui tentang dirimu selama satu tahun ini. Ia juga sudah menyerahkan semua urusan jodohnya pada kami,” jawab Om Ahmad membuatku terhenyak. Apakah aku menjalani semacam percobaan untuk mendapatkan cinta?

“ Apa menurut Om, Farhan bisa membawa puteri bungsu Om menuju surga-Nya dengan cinta kami?”

“ Insya Allah.”

“ Kalau begitu, insya allah Farhan yakin, Om. Farhan akan meminangnya,” ucapku mantap.

“ Baiklah, nanti kita urus penikahannya setelah membahasnya dengan orang tuamu. Aisyah, untuk kau ketahui, dia adalah gadis yang tadi mengeluarkan minuman untukmu,” kata Om Ahmad membuatku kembali terkejut.

Benarlah bila habis gelap terbitlah  terang, sesudah kesulitan itu sesungguhnya tersuguhkan kemudahan dan kenikmatan bagi mereka yang berusaha merubah takdir dengan tetap percaya ada kuasa-Nya. Dalam cahaya-Nya kini kumampu raih hadiah terindah untuk ujianku. Bahkan lebih dari hadiah. Ia anugerah untukku. Cinta sejati yang akan kujadikan penguat cintaku pada-Nya.

Oleh: Ika Pratiwi, Inderalaya Sumatera Selatan

Img: asiktau.

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

[Cerpen] Kusimpan Rasa Ini di Setiap Doaku

[Cerpen] Dia Bernama Nurul

Related posts