11:47 pm - Senin November 23, 2020

[Cerpen] Hidayah dari Sehelai Jilbab Mama

2410 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Aku memandangi jilbab unguku yang melekat di kepalaku menggunakan cermin besar. Sebuah kain halus dan lembut itu seolah-olah membuatku semakin aneh di cermin. Seperti bukan bayanganku, tapi bayangan orang lain.

Benda aneh ini selalu saja membuatku gerah. Risih. Mamaku selalu berkata, bahwa kita wajib menutup aurat dengan mulai dari yang terkecil. Yaitu menggunakan jilbab aneh ini. Mamaku memang seorang perempuan penganut agam Islam sejak berumur 35 tahun. Bahkan, setiap mama pergi kemanapun, entah ke pasar, menjemputku di chugakko, ia selalu mengenakan kain putih suci tersebut.

Aku sedikit kagum melihat pendirian mama yang selalu mengenakan jilbab tanpa rasa gengsi maupun malu. Terlebih ketika mama berada di rumah sekalipun, penampilan mama tak luput dari jilbab putihnya itu.

Tapi sebaliknya, Ayahku tidak seperti ibuku. Ia selalu pergi kemana-mana tanpa menghiraukan kami. Entahlah, apa yang membuat ayah seperti itu. Tapi aku sependapat dengan ayah. Aku dan ayahku penganut sejati agama Shinto, Kyushu di Jepang. Tapi sayangnya, ayah telah meninggalkan kami ketika aku berumur tepat 7 tahun di hari ulang tahunku.

“Coba lihat di cermin, Sayang.Suteki desu ne1..” puji mama padaku. Aku masih terheran-heran. Bayangan siapa yang kini di hadapanku? Aku kah? Ah, tidak mungkin. “Kau sangat terlihat cantik dengan jilbab ini..” sambung mama cepat-cepat ketika aku ingin menyanggahnya.

Aku mendesah halus dan memanggilnya pelan, “Mama..,”

“Ya, Sayang?” balas mamaku dengan tepukan halus di kepalaku.“Untuk apa mama membelikanku kain ini?Padahal, mama tahu bukan? Aku dan Ayah penganut agama Shinto. Dan seperti yang ku ketahui, agama yang ku peluk tidak mewajibkan aku untuk menutupi rambut indahku..,” ujarku polos.

Mama tertawa pelan mendengar pertanyaanku. Aku semakin penasaran.Sejurus kemudian mama keluar dari kamarku dan membawa vas yang berisi bunga-bunga indah.“Miyoshi, kemarilah, Nak.Duduklah dengan Ibu,” pinta ibuku dengan senyum yang terukir di kedua sisinya.Cantik sekali. Meskipun umur mama sekarang di makan usia. Ah, mama seperti remaja-remaja Korea yang pernah membintangi di film yang –mungkin—saat ini sedang booming dimana-mana.Seperti drama full house.

Aku mendekati mama yang duduk di kursi sofa kamarku dan ku tatap matanya lekat-lekat. “Coba kau perhatikan vas ini.” Aku menatap vas itu dengan tatapan heran.Ada apa dengan vas ini? “Kau merasakan apa?”

“Aku tidak merasakan apa-apa.” Ucapku datar.

“Sungguh?”

“Ya.”

Aku merasakan hembusan nafas pelan Mama. Ia pasti kecewa karena apa yang ingin mama sampaikan tidak dapat ku cerna dengan baik-baik. Tiba-tiba saja terlintas di pikiranku sebuah jawaban yang mungkin benar.

“Aku mengerti!Aku tahu, Mama!” sorakku gembira di depannya.Ku lihat mamaku begitu tersenyum sumringah ketika aku menemukan jawaban yang hanya sekilas terlintas di pikiranku.Mamaku kembali bersemangat menanyaiku.“Apa? Coba kau katakan, gadis manis!”

“Vas ini kurang sempurna.”Senyum mama semakin melebar.Mempertegas lesung pipit di kedua sisi pipi mama.

“Karena?”

“Ia butuh sesuatu untuk melengkapinya.” Mama masih memandangiku dengan harapan agar aku bisa memuaskan hatinya. “Lalu?” ujar mama.

Aku mengambil bunga yang tidak jauh berada di samping mama.Ku rapikan bunga tersebut dengan jari lentikku kemudian ku masukkan ke dalam vas yang sudah tua namun masih enak untuk di pandang.Aku sedikit kagum dengan benda di depanku ini.Sebuah vas berwarna kuning cerah dari plastik.Di sisinya tertempel sebuah pita pink yang indah.Di tambah pula bunga-bunga mawar cantik berwarna merah dan putih.

Sugoi desu yo!2Kau memang gadis pintar, Miyoshi! Mama sangat bangga padamu.” Mama memelukku dan mencium keningku hangat. Aku tersenyum dan bertanya.“Jadi?”

Mama melepaskan pelukannya dan duduk semakin mendekat di sampingku. “Begini, Sayang,” mama berdehem kemudian melanjutkan pembicaraannya. “Bukankah kau tau, sebelum ada bunga-bunga cantik ini, vas ini begitu jelek untuk di lihat?” aku mengangguk.

“Lalu, apakah bunga itu untuk mempercantik sekaligus pelengkap vas tua itu, Ma?” sanggahku sebelum mama meneruskan kalimatnya. “Benar sekali, Nak.” Lalu, “Coba bayangkan jika vas tua itu tadi tanpa bunga-bunga cantik ini?” mama menyentuh satu bunga mawar merah.

Aku berpikir memutar otak. Membayangkan apa yang di ucapkan mama. Jelas-jelas vas itu kurang cantik. Lama-lama, aku tahu kalimat mama akan berujung kemana.

“Tidak bagus, bukan?Nah, sekarang kembali ke pertanyaanmu tentang memakai jilbab tadi.Umpamakan bunga itu jilbab, dan vas itu manusia.Manusia di ciptakan Allah nyaris sempurna.Bahkan Allah, memerintahkan umatnya, khusunya kaum hawa—wanita– untuk menjulurkan kain panjang ke seluruh dadanyauntuk menutupi auratnya.Bukan hanya menutupi auratnya saja, Nak.Jilbab itu juga untuk mempercantik diri kamu sendiri. Membuat diri kamu lebih anggun dan percaya diri, bahkan kau akan di sayang Tuhan melalui nikmatnya yang selalu kau rasakan setiap hari. Seperti saat ini..,”

Saat ini?Ya, aku memang bersyukur telah di beri mama seperti mamaku.Mama yang selalu menyayangiku, dan sekalipun tak pernah memaksaku untuk berpindah ke agamanya.Ia hanya memberiku semangat dan keyakinan tentang agama Islam yang memang benar-benar membimbing ke jalan Surga Allah kelak nanti.

Ku renungkan sekali lagi ‘ceramah aneh’ dari mulut mama.Allah? Oh ya, aku tahu. Dia adalah Tuhan yang selalu di puja-puja mama.Aku pernah terbangun ketika waktu sepertiga malam.Aku melihat mama bangun seorang diri, kemudian mengambil air—wudhu—dan melaksanakan shalat.Entah shalat apa yang dilaksanakan mama saat itu. Dalam shalatnypun pernah ku dengar mama sering sekali menyebut nama ‘Allah’. Padahal waktu aku sedang mengintip dari balik jendela, aku tidak menemukan Allah disana.Aneh bukan?

Ya.Memang aneh untuk orang sepertiku.

Tadi kata mama, Jilbab untuk mempercantik diri.Setelah ku pikir-pikir, memang benar.tanpa basa-basi aku langsung berlari kecil menuju cermin besarku. Ku liukkan badanku ke kanan, kemudian kekiri, aku berpose senyum dan ku perlihatkan sederet gigi putihku. Rambutku yang cokelat mudapun tidak terlihat sama sekali, karena terbungkus rapi menjadi satu ke dalam jilbab yang ku pakai saat ini.

Mama tersenyum melihatku bertingkah laku seperti ini. “Bagaimana?Lebih anggunkan?Kau terlihat cantik melebihi seorang bidadari,” lagi-lagi mama memujiku.Aku tertawa geli. Mama memang pintar membuatku salah tingkah.

Pikiranku melayang pada saat musim panastahun lalu, warga Jepang sibuk mempersiapkan perayaan pesta kembangapi Hanabi Takai. Beribu-ribu hingga puluhan ribu kembang api dipersiapkan untuk merayakan pesta di musim panas.

Saat merayakan Hanabi Takai, warga Jepang, khususnya kaum perempuan berbondong-bondong memakai pakaian tradisional Jepang, seperti Yukata dan Kimono.Selain itu, ada juga warga Jepang yang memakai pakaian menarik untuk menikmati pesta Hanabi dan tentunya agar menarik perhatian para turis yang berdatangan.Dan saat itu satu-satunya perempuan yang memakai jilbab adalah Ma-ma-ku.Ya, hanya Mamaku.Bahkan mama sempat memakai cadar—penutup hidung hingga dagu—berwarna hitam polos.

Dan seperti yang ku katakana sebelumnya. Mama tidak malu bahkan mama lebih percaya diri dengan penampilan Islaminya. Meskipun mama baru memeluk agama islam tiga tahun lalu, ketika kami masih berada di pulau Hokkaido.

Dan pada hari ini, jam ini, detik ini, aku mengikrarkan dua kalimat syahadat di hadapan dan di dalam bimbingan mama.Rasanya sejuk sekali hati ini ketika aku mengucapkan dua kalimat itu.Aku sangat bersyukur sekali, bisa masuk agama Islam dengan hidayah yang di berikan Allah kepadaku lewat Mamaku.Totemu shiawase desu3.Dan dengan bismillahirrahmanirrahim, aku berjanji tidak akan melanggar syariat-syariat agama Islam yang sejak zaman nabi telah di tetapkan.

Oh, ya. Beberapa bulan lagi, mama merencanakan akan mengajakku pindah ke Indonesia. Tepatnya di Solo. Dimana kakek dan nenekku tinggal disana.Aku senang sekali ketika mamaku menawarkanku hal itu.

“Miyoshi..kau siap merayakan Lebaran bersama keluarga Mama di Indonesia?” ucap mama dengan semangat.

Aku menatap mama dengan teduh.Aku berlari memeluk mama dan membisikkan sebuah kalimat yang mungkin membuat mama senang mendengarnya. “Aku sudah memeluk agama Islam seperti mama. Jadi, jika mama mengajakku Lebaran disana, apa boleh buat? Miyoshi akan tetap ikut.Miyoshi sangaaaaat senang!”

Ku lihat sekilas air mata mama mengalir. Namun cepat di usapnya agar tidak terlihat olehku.Aku bangga pada mama.Mama yang tidak pernah jenuh dan bosan untuk selalu mengajakku ke jalan yang benar.

Dan sekarang, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam bulan Ramadhan kali ini.Miyoshi cinta Allah. Miyoshi juga sayang sama Allah.

Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku berjanji,akan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, Tuhan mama yang kini juga menjadi Tuhanku. Dan aku yakin, Allah maha mendengar lagi maha pengampun.

____________________________

Bagus ya1

Hebat2

Aku sangat bahagia3

Oleh: IlmalanaDewi, Gresik Jawa Timur

Img: Muslimahzone

 

 

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

[Cerpen] Perempuan Makruh

[Cerpen] Sajadah untuk Mami

Related posts