8:54 pm - Minggu September 20, 2020

[Cerpen] Kata tak Berujung

1533 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Aku terjatuh. Seketika seluruh badanku mengeras, tidak mampu bergerak. Jangankan menangis, berkata pun aku tidak kuasa saat  itu.

Maaf ,kita putus aja. Believe or not, its hard to keep our relationship. Buang aja scrapbook yang udah kamu bikin.

Pesan itu terngiang-ngiang di telingaku dan amat membekas di pikiranku. Segala rasa berkumpul membentuk koloni tersendiri dihatiku. Sesak, iya betul. Tidak ada satu katapun yang sanggup mewakili perasaanku saat itu. Aku terdiam untuk waktu yang cukup lama bahkan sangat lama. Ya Rabbi, aku tau ini akan terjadi tetapi aku tidak mengira akan berakhir dengan cara yang seperti ini.

Pandangan mataku mulai berat dan gelap. Aku tidak lagi merasa dapat bertahan dengan kedua kakiku. Perlahan aku meletakkan tubuhku di alas empuk itu secara lembut. Hari ini, aku selalu berharap hari ini hanyalah mimpi.

*          *          *

1 bulan yang lalu . . .

“ Nanti aku pulang Januari akhir, balik lagi Februari tanggal 1.”

“ Emang kamu mau ngapain pulang?”

“ Mau ketemu kamu. Emang kamu gak mau ketemu aku?”

“ Maulaaah. Aku rinduuu,” ucapku manja di telpon. Ia tersenyum kecil di seberang sana. Aku tau dia tersenyum dan aku selalu tau. “ tapi nanti kita ngapain kalo kamu udah di jakarta?,” tanyaku kemudian.

“ Bebas. Terserah kamu.” Jawabnya sama. Selalu begitu. Ia selalu melakukannya dengan caraku.

“ Oke, aku tunggu ya, sayang. Nanti aku telpon lagi. I love you . . .” Aku menyudahi percakapan telpon di hari itu. aku bersenandung sembari tersenyum kecil. Semua yang melihatnya pasti tau aku sedang bahagia. Tidak hanya bahagia tetapi juga jatuh cinta. Mendadak senandungku terhenti. Pikiran itu datang lagi. Segala pertanyaan akan kemana arah hubungan ini nantinya. Bukan karena dia menggantungkanku tetapi perbedaan keyakinan inilah yang membuatku ragu. Tidak jarang aku berpikir untuk menyudahi hubungan yang jelas akan ditentang oleh mama begitu mama tau aku berhubungan dengannya. Tapi, aku jatuh cinta dan Allah pasti tau itu.

“ Jodoh itu kan seperti rezeki yang sudah menjadi jatah tiap orang tapi harus tetap diusahakan.  Kalau sudah berusaha ternyata tidak berhasil ya tak masalah toh?,” kataku beberapa minggu lalu ketika salah seorang teman mengingatkanku untuk mengakhiri hubungan ini.

“ Kalau ternyata dia berhasil bagaimana? “

“ Berhasil bagaimana?”

“ Ya berhasil bikin kamu jatuh cinta sama dia, tergila-gila sama dia dan akhirnya kamu gelap mata pindah keyakinan hanya untuk bisa bersama dia.”

“ Enggak akan, wi. Islam itu bukan sekadar kewajiban buatku atau ikut-ikutan orang tuaku tetapi aku membutuhkan-Nya, wi. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa-Nya wi. Percayalah padaku. Lagipula kalau kita jodoh, akan selalu ada jalan buat kita insya Allah.” Aku mencoba meyakinkan siwi, karibku yang sangat perhatian ini.

“ Terserahmu lah ta. Aku hanya mengingatkan. Kamu harus siap sakit hati kalau begitu,  itu sudah resikonya.”

“ Iya wi, selama Allah bersamaku insya Allah aku kuat,” demikian pembicaraan dua wanita itu berakhir. Banyak sekali orang yang menganggap aku keras kepala namun terkadang aku menganggap aku hanya terlalu optimis. Apakah salah bila aku memperjuangkan seseorang yang aku cintai, ya Rabb? Toh aku memperjuangkannya dengan jalan yang tidak melanggar akidah-Mu. Entah mengapa berapa kalipun dipikirkan, ini tidak akan pernah mendapatkan jawaban.

*          *          *

3 minggu yang lalu . . .

“ Kita nyari rujak yuk?,” ajakku di hari ketiga ia di Jakarta.

“ Boleh. Nyari kemana?”

“ Gak tau. Nyari aja sampe ketemu.”

“ Jalan? Apa naik motor? ”

“ Jalan aja yah biar sehat? Irit bensin pula, hehe”

“ Oke. Ayok,” kami pun segera keluar rumah dan berjalan di sekitar area rumahku yang biasa dilalui para pedagang keliling termasuk tukang rujak. Cuaca hari itu agak panas sebenarnya namun karena ini area perumahan yang banyak pohonnya suasana menjadi lebih rindang.

Kami menelusuri jalan besar itu kemudian berbelok pada pertigaan pertama menuju sebuah jalan kecil. Tanpa aku sadari tanganku yang berada dalam genggamannya mulai berkeringat. Ia yang pertama menyadari itu secara sigap mengambil sebuah sapu tangan dari kantong celananya. Dengan lembut dan perlahan, ia mengeringkan tanganku dengan kain itu. Aku terdiam melihatnya.

“ Kan kamu keringetan gara-gara kena tangan aku. Aku kalo jalan pasti keringetan. Maaf ya?,” aku tertawa mendengarnya. Bagaimana mungkin ia meminta maaf sementara ia dengan perdulinya membersihkan tanganku yang basah keringat itu? Sungguh belum ada laki-laki yang pernah melakukan hal itu padaku. Ketika ia melihat ke arahku, kedua matanya menangkap keringat-keringat di kening dan hidungku. Ia pun melapnya tanpa meminta persetujuanku.

Aku tertegun untuk yang kedua kalinya. Belum pernah ada yang seperti ini padaku. Aku teringat dua hari lalu ketika kami pergi ke tempat makan di pinggiran jalan, ia selalu memposisikan dirinya di bagian yang didahului oleh kendaraan saat menyeberang denganku. Katanya, kalau tertabrak biar dia yang celaka duluan. Aku hanya tertawa mendengarnya. ya Allah, aku jatuh cinta. Sungguh aku jatuh cinta dengan laki-laki ini . . .

*          *          *

1 minggu yang lalu . . .

“ Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau sedang berada di luar servis area. Cobalah beberapa saat lagi” suara operator itu selalu muncul berulang-ulang ketika aku mencoba untuk menghubunginya. Sudah tiga hari ia tidak bisa aku hubungi. Aku coba hubungi ke nomor indosatnya tidak pernah mendapat jawaban sementara nomor lainnya tidak aktif. Chat line ku pun tidak kunjung berstatus telah dibaca menandakan penerimanya tidak online atau mungkin aku di blok? Aku menepis segala pikiran buruk itu dan mencoba berpikiran positif. Mungkin iya sedang sibuk.

Hari-hari kulalui dengan menunggu kabar darinya. Menunggu pesannya muncul di handphoneku tapi semua sia-sia, hingga genap sudah satu minggu tidak ada komunikasi antara kita. Tiba-tiba, setelah satu minggu lebih sehari, terdengar nada sms pribadi dari telepon genggamku. Aku dengan cepat meraih ponsel itu. aku tau betul siapa yang menghubungiku.

Maaf ,kita putus aja. Believe or not, its hard to keep our relationship. Buang aja scrapbook yang udah kamu bikin.

Aku runtuh. Runtuh dengan segala harapanku padanya. Tiada lagi kata yang mampu terucap saat itu. aku bahkan tidak sanggup menangis. ya Allah ya Rabbi, inikah akhirnya? Inikah jawaban dari apa yang aku usahakan? Inikah petunjuk-Mu bahwa aku tidak boleh bersamanya? Semua pertanyaan muncul di pikiranku. Aku menangis dalam hati. Ada luka dalam, sangat dalam di sana. Aku mencintainya tetapi rasaku sudah tidak berbalas lagi.

*          *          *

Aku bangun di sepertiga malam itu. untuk mengadu kepada tempat terbaik untuk mengadu. Untuk meminta ketenangan kepada satu-satunya pemberi ketenangan.

“ya Allah, sungguh aku tidak akan mampu hidup tanpa-Mu. ya Allah, aku memohon ampun atas kesalahanku, atas kekerasan hatiku untuk tidak mendengarkan nasihat temanku. ya Allah, mungkin aku sudah salah langkah sejak awal, tetapi aku yakin engkau Maha Mengerti hati. Ampunilah aku, ya Rabb. Ampuni akuu. Kuatkanlah aku dan berikan padaku yang lebih baik. Aku yakin Engkau akan memberikan yang terbaik untukku. Kuatkanlah aku ya Rabbi. . .” aku menangis. air mata itu deras keluar dari kedua mataku. Sebuah tanda bahwa aku tersakiti oleh cinta, oleh laki-laki yang aku cintai karena sikapnya dan pembawaannya yang lembut. Aku kecewa karena janji-janjinya kini hanyalah sebuah kata yang tak berujung. Seketika kata-kata itu terngiang kembali di pikiranku.

“ Kita coba ya? Coba dulu setahun. Kalau nyaman lanjut lagi. Oke?,” ucapnya sembari menyodorkan jari kelingkingnya ke arahku. Aku tersenyum. Sambil mengikatkan jari kelingkingku ke arahnya aku berkata, “ iya . .”

Oleh: Yunita Hasniati

Img: merdeka

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

[Cerpen] Jejak Seorang Chorister

[Cerpen] Satu Warna yang Berbeda

Related posts