2:54 am - Kamis September 24, 2020

[Cerpen] Sensation of Life

1825 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Pesawat telah landing, bayangan akan masa kecilku, kedua orangtuaku, dan rumahku membuat hatiku berdebar keras. Lima tahun telah berlalu, aku kembali kesini menginjakkan kakiku di tempat aku dilahirkan, tempat yang merupakan pusat bagi para shopaholic, tempat yang sangat menarik wisatawan asing di berbagai penjuru dunia tetapi bagiku tempat ini hanyalah sebuah kota mati, tempat yang sangat hampa, dan tempat yang tidak bisa memberikan ketenangan untukku. Pintu pesawat telah dibuka, tampak penumpang yang sedang duduk di lobby untuk menunggu penerbangan selanjutnya. Ternyata tempat ini masih sama dan orang-orang Amerika yang terkesan tidak mempedulikan sekitarnya, pikirku. Tampak jelas tidak ada seorang pun yang membicarakanku atau memandangku aneh karena penampilan muslimahku ini. Dengan memakai gamis berwarna merah maroon dan khimar dengan warna senada sangat jelas aku adalah seorang wanita islam, karena didalam sana hanya aku yang berpakaian berbeda dari yang lain. Tidak bisa dipungkiri, walaupun ini adalah negaraku tetapi ada rasa ketakutan dalam diriku sebab kita semua tahu bahwa sejak peristiwa 911, islam dipandang kejam, dan negara ini pun semakin sanksi terhadap keberadaan warga muslim disini dampaknya banyak masyarakat muslim dideportasi dari Amerika. Aku terus berdzikir dalam hati agar Allah senantiasa melindungiku. Aku kembali lagi mungkin bukan untuk waktu yang lama, ada beberapa hal yang akan aku kerjakan disini sekalian mengunjungi paman Osh dan bibi Anne, tentunya.

*

Taksi meluncur dengan kecepatan 60 km/jam, itulah yang menjadikan suasana lalu lintas disini menjadi teratur karena semua pengemudi wajib mengemudi dengan kecepatan yang telah ditentukan. Jam menunjukkan pukul 20.00 dan jika kita dapat mendengar adzan, adzan isya akan jatuh sekitar pukul 20.15. Aku menikmati suasana New York malam itu, tidak terlalu banyak mobil berlalu-lalang, hanya pejalan kaki yang mulai tampak di sekitar downtown karena merupakan pusat kota New York. Sesaat taksi melintas dijalan tempat dimana gedung World Trade Center berdiri. Kesedihan ku akan peristiwa itu belum terhapuskan, peristiwa yang telah menelan ribuan jiwa termasuk ayahku sendiri yang tepat pada saat itu sedang berada disana. Jelas teringat pada pagi hari itu, ayah mengantarku pergi ke sekolah, saat itu aku duduk di kelas 11. Seperti biasa selama perjalanan aku dan ayah memutar lagu Muse, entah mengapa kami terlalu menyukai lagu-lagu itu sampai ibu sudah bosan mendengarnya. Ayahku, Ben Bradford, berkebangsaan Perancis sedangkan ibuku, Adda Alarice adalah warga Amerika. “Ayah, bulan depan kita pergi mengunjungi nenek, bukan?”, kataku pada ayah. Mobil pun berhenti di tempat area parkir, aku diam saja tidak biasanya ayah turun mengantarkanku sampai masuk arena sekolahan karena setiap harinya ayah hanya menurunkan aku di depan gerbang pintu sekolah. “Shiera, kamu harus belajar yang rajin, jika nilai ujian semester ini bagus, mungkin bulan depan kita akan pergi mengunjungi nenekmu di Perancis, itu juga masih mungkin, Ingat, kalau kamu mengalami kesulitan mengerjakan panggil saja nama ayah”, Aku hanya tersenyum mendengarnya dan memeluk erat ayahku, ayahku pun membalas dengan mengecup keningku kemudian aku berjalan masuk ke dalam sekolah. “Shiera Alaford”, panggil ayah, lagi. Aku hanya mengernyit mendengar ayah memanggil nama panjangku, Shiera adalah bidadari dan Alaford merupakan gabungan nama belakang ayah dan ibu jadi dapat diartikan bidadari Alarice dan Bradford. “Ayah lupa, jika sempat nanti ayah akan menjemputmu pulang sekolah tetapi jika ayah tidak bisa, kamu segera pulang jangan lupa bantu ibumu di rumah, ingat ibumu sudah tua, jika sudah membantu ibumu kamu jangan lupa belajar”, kemudian ayah mengusap-usap kepalaku, aku hanya mengangguk “Okey dokey, bye dad” kataku, lalu berputar kembali menuju kelas, “Hei, Ma Cherie, Je t ‘aime ma belle fille”, aku tersentak karena untuk ketiga kalinya suara ayah kembali membuatku kaget, aku berbalik menatap ayah yang berdiri di seberang lapangan dan aku pun berteriak “Yes, your beautiful girl loves you too so muchhhh, Daddy”. Itulah saat terakhir aku melihat ayahku dan kalimat yang setiap malam aku dengar dari ayah dengan bahasa perancisnya menjadi kalimat terakhir yang diucapkan ayah untukku.

*

Siang itu aku dan Arika diantar pulang ke rumah menggunakan mobil sekolah, tidak ada lagi keinginan ku selain saat ini bertemu ibu dan mengatakan bahwa baru saja aku diberikan kabar bohong mengenai ayah. Suara tangisan Arika menderu-deru sepanjang perjalanan, aku tidak menangis sedikitpun karena aku percaya itu hanya berita bohong, baru beberapa jam lalu aku masih bercanda dengan ayah dan ini sangat mustahil bagiku. Jarak antara rumahku dan Arika hanya selisih beberapa rumah. Mobil pun berhenti di depan rumahku setelah mengantarkan Arika terlebih dahulu. Begitu sunyi suasana rumah, sungguh aku sangat senang itu tandanya tidak ada apapun yang terjadi hari ini dan berita itu hanya berita bohong. Aku mecari-cari dimana ibu dan akhirnya kuhampiri ibu yang sedang duduk di balkon lantai atas. “Ibu”, perlahan kupanggil ibuku dengan cemas dan penuh harap ibu dapat menjelaskan ada apa dengan hari ini.

Tak terasa air mataku menetes mengingat hari itu, hari itu saat ibu Carletta memanggil aku dan Arika, sahabatku, untuk ke ruangan kepala sekolah. Kami berdua terkejut sebab di ruangan tersebut bukan hanya ada aku, Arika, dan Bapak James Adamson yang merupakan kepala sekolahku, tetapi ada beberapa guru di ruangan itu juga. Kami berdua hanya saling pandang dan tidak berani mengatakan apapun. Para guru tidak ada yang berbicara satu patah katapun, suasana saat itu sangat berbeda dari biasanya, kami tahu guru-guru kami adalah orang yang baik dan ramah, kami percaya ketika kami punya kesalahan tentunya mereka akan mengatasi kami dengan bijak, suasana begitu sunyi hingga beberapa menit kemudian akhirnya pak James dengan suara yang sangat berat menyampaikan peristiwa kecelakaan yang mengakibatkan ribuan korban. Dan naas, peristiwa itu menimpa ayahku yang sedang berada di dalam gedung itu dan ibu Arika yang pada saat itu berada didalam pesawat yang telah dibajak untuk menabrakkan diri ke gedung itu yang membawanya dari Pensylvania.

Aku teringat wajah kesedihan ibu saat menceritakan peristiwa yang menimpa ayahku, ayahku dinyatakan sebagai korban tewas peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center beberapa hari setelah evakuasi, dan yang paling membuatku sedih saat ibu memberitahu bahwa jenasah ayahku sudah tidak utuh lagi. Ayah yang begitu tampan dengan wangi tubuhnya yang khas, memakai hem berwarna biru, berdasi biru donker dan berjas hitam yang aku cium pagi itu tidak pernah bisa aku lihat lagi bahkan disaat terakhirnya aku hanya bisa melihat sisa-sisa tubuh ayahku yang telah dibungkus plastic.

.                                                                     *

Setelah peristiwa itu aku sangat membenci islam bahkan salah satu teman baikku sendiri, Ameera Bellamy, yang merupakan satu-satunya siswa beragama islam di sekolahku menjadi korban kebencianku terhadap islam. Tingkah lakuku yang berubah 360 derajat padanya sangat membuatnya terpukul, bahkan dia pernah datang beberapa kali ke rumahku untuk meminta penjelasan ada apa dengan perubahan sikapku tapi tak sekalipun aku pernah menemuinya. Aku merasa ilfeel padanya karena dia adalah seorang muslim apalagi Ameera menggunakan jilbab. Sekolahku adalah sekolah umum dan memakai jilbab pun tidak dilarang oleh pihak sekolah. Pada suatu hari, tepatnya hari sabtu sore, saat itu selepas aku selesai mengikuti pelatihan jurnalis yang diadakan sekolah, Ameera menemuiku dan dia sempat menangis dengan perubahan sikapku. Aku dan Ameera merupakan teman dekat, hampir setiap hari aku belajar bersama dengannya, menonton film, berbelanja, makan di luar, tetapi rasanya itu semua tidak ada artinya bagiku dibandingkan dengan kesedihanku yang mendalam. Sepeninggal ayahku, hidupku semakin tidak teratur dan emosiku semakin tak terkendali, beberapa temanku pun semakin menjauh dariku. Setiap hari aku berkutat dengan tulisan-tulisanku, buku-buku, artikel-artikel dan sebagiannya merupakan ulasan mengenai islam. Semakin dalam rasa kebencianku terhadap islam, aku bukanlah seorang kristiani yang rajin beribadah ke gereja tetapi aku adalah umat kristiani yang beriman. Aku mencari-cari bahasan mengenai islam, agama yang katanya selalu memuliakan manusia, mengutamakan untuk menyambung silaturahim, dan mencintai perdamaian tetapi pada kenyataannya justru agama inilah adalah agama yang paling kejam, tidak pernah memanusiakan manusia, dan arrogant. Aku semakin sering membuka artikel mengenai islam, pengalaman para muallaf, dan ajaran-ajaran islam. Aku sering berpikir betapa tidak masuk akalnya ajaran islam mengenai jilbab dan masih banyak lagi yang aku tak mengerti.

*

Hari itu tepat tiga bulan sudah ayah meninggal, terlalu banyak kejadian dalam hidupku. Saat aku merasa sedih tak jarang aku pergi ke makam ayahku, sedikitnya dua sampai tiga kali dalam seminggu aku pergi kesana. Hari ini aku membawa bunga lily untuk ayah, sekaligus kabar sedih dan gembira, gembiranya bahwa aku akan menjalani pertukaran pelajar selama 8 bulan di Abu Dhabi, sedihnya aku akan meninggalkan ibu dan tidak akan mengunjungi pemakaman ayah selama itu. Aku menangis di makam ayah, andai saja ayah ada disini aku tak perlu bingung untuk memutuskan apa yang harus aku lakukan.

Ibu menyambut baik kesempatan yang aku dapatkan untuk belajar di Abu Dhabi, ibu terus meyakinkanku bahwa aku akan mendapatkan pengalaman berharga yang belum tentu bisa didapatkan setiap orang dan ibu akan baik – baik saja disini karena masih ada paman Osh dan bibi Anne walaupun kami perlu waktu satu jam untuk sampai ke rumah paman dan bibi. Ibu berjanji kami akan terus berkomunikasi melalui email atau skype jadi aku tak perlu khawatir. Kami mempunyai waktu satu bulan untuk mempersiapkan keberangkatan. Ibu membantuku menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa, kami berbelanja ke supermarket untuk membeli beberapa makanan kaleng untuk berjaga-jaga sebelum aku bisa beradaptasi dengan makanan disana. Ibu sedikit khawatir karena perbedaan budaya, ras, dan agama yang mayoritas beragama islam akan terlihat aneh jika aku memakai baju yang terbuka di Abu Dhabi jadi ibu membelikanku baju baru dengan model yang tertutup dan cukup dibilang banyak.

Aku semakin rajin pergi ke gereja untuk berdoa agar Tuhan selalu melindungiku karena sebentar lagi aku akan menghadapi kehidupan baru dan suasana baru yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Terkadang terselip keraguanku untuk meninggalkan negara ini dan mengenyam pendidikan selama satu tahun di negara islam dan islam adalah agama yang paling aku benci sejak kematian ayahku dan entah apa rencana Tuhan untukku aku mendapatkan kesempatan pergi ke negara islam namun aku percaya cepat atau lambat pasti aku akan mengetahuinya.

*

Tulisan besar itu semakin jelas saat perlahan pesawat semakin rendah untuk mendarat, “Abu Dhabi International Airport”. Jam menunjukkan pukul 19.00 ketika aku tiba di kota terbesar kedua di Negara Emirates Arab itu dan kami bersama dengan siswa dari negara-negara lain telah diarahkan untuk menuju ke rumah tinggal penduduk yang akan kami tempati. Aku tidak tahu mobil ini akan membawaku kemana tetapi yang pasti aku sangat terpaku dengan keindahan kota ini di malam hari. Sesaat aku dikagetkan dengan suara supir yang mengatakan padaku bahwa kami sudah sampai. Kami berhenti di sebuah rumah yang menurutku tidak begitu besar namun memiliki halaman yang cukup luas dan itulah keindahannya. “Seorang wanita kira-kira seumur dengan ibu”, pikirku, wanita itu bertubuh tinggi, memakai pakaian muslimah dan jilbab berwarna coklat muda menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah. Wanita itu mempersilahkan kami masuk dan yang sedikit membuatku malu adalah rumah itu sangat ramai. Wanita itu memperkenalkan kami dengan semua orang di rumah itu dan berkata bahwa saudara- saudaranya sengaja datang untuk menyambut kedatangan tamu asingnya hari ini. Aku sedikit lega bahwa aku tak sendiri di tempat tinggal baruku ini, aku akan tinggal bersama Cailsey selama berada disini. Keluarga ini sangat ramah, dan mereka berusaha membuat kami memiliki kesan pertama yang baik. Mereka memperkenalkan diri satu persatu dan jika boleh jujur, aku mengalami kesulitan menghafal nama-nama mereka. Aku melihat gadis berdarah German itu sedikit mengernyit padaku karena susahnya menyebut nama mereka. Tentunya yang aku harus ingat pertama kali adalah ibu, ayah, dan kedua anak pemilik rumah ini. Ummi Aisyah, Abi Abdullah, serta anak laki-lakinya yaitu Barra Habibi yang berusia 20 tahun dan Dalilah Eshmaal, anak perempuan mereka yang berusia 15 tahun. Malam itu sangat menyenangkan bagiku dan Cailsey dengan keluarga baru kami dan kemudian setelah makan malam Barra dan Dalilah membantu kami membawakan barang-barang menuju kamar kami. Aku dan Cailsey tinggal dalam satu kamar, namun kamar itu sangat luas bagiku jadi kami pun tidak keberatan jika harus tidur berdua.

*

Satu bulan sudah aku berada di Abu Dhabi, banyak hal yang telah aku alami. Setiap harinya aku bersama teman-teman dari Negara lain akan meluangkan waktu beberapa jam untuk menikmati kota Abu Dhabi di sela-sela jam kuliah kami. Hampir setiap malam aku melakukan video camera dengan ibu namun karena aku telah banyak kegiatan jadi kami hanya saling mengirim email. Aku dan Cailsey sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan termasuk orang-orang di rumah ini. Keesokan hari setelah kami tiba disini saat pagi-pagi aku dikejutkan dengan suara seseorang sedang bernyanyi dan nyanyian dari luar rumah itu tidak hanya berasal dari satu arah saja. Aku membuka jendela dan suara itu saling bersaut-sautan, aku tak mengerti mengapa orang-orang bernyanyi sepagi ini. Aku berdiri di balik jendela untuk beberapa menit sampai suara itu berhenti kemudian aku keluar menuju kamar mandi dan di saat itu aku melihat keluarga Abdullah melakukan sholat bersama di ruang yang disediakan untuk sholat. Aku hanya duduk di ruang tengah dan melihat apa yang sedang mereka lakukan. Setelah melakukan gerakan yang banyak, pikirku, entah apa yang dilakukan Barra, dia seperti bernyanyi dalam bahasa arab namun kedua orangtuanya dan adiknya hanya diam mendengarkan Barra sampai selesai melantunkan lagu itu. Mereka kaget melihatku yang sedang duduk mengamati mereka. Tanpa berpikir panjang aku berkata pada Barra kalau suaranya cukup bagus namun lagu itu hanya kurang diaransemen. Aku tak bertanya mengenai gerakan banyak yang mereka lakukan karena aku cukup tahu kalau mereka sedang melakukan ibadah. Mendengar pertanyaanku terhadap Barra, ibunya tersenyum padaku dan menjawab bahwa yang aku dengar itu bukanlah lagu melainkan pembacaan ayat-ayat suci kitab agama islam yaitu Al-Quran. Aku diam saja mendengar penjelasan ibu Aisyah dan teringat akan diriku yang tidak pernah membaca kitabku jika tidak pergi ke Gereja. Setelah melihat itu di hari pertamaku, aku sudah tidak asing lagi dengan apa yang mereka lakukan di pagi hari saat matahari belum terbit dan langit masih hitam.

Begitu selesai ibadah pagi, Ummi Aisyah selalu memasak sarapan untuk kami sedangkan Dalilah bersiap-siap untuk pergi sekolah dan ayah pergi bekerja. Jika aku tidak ada agenda pagi aku selalu membantu ibu Aisyah memasak di dapur. Agendaku dan Cailsey berbeda karena pelajaran yang kami ambil berbeda. Aku memang tidak tahu apa-apa mengenai masakan disini tetapi setidaknya aku tak canggung berhadapan dengan masak-memasak karena itulah pesan ayahku untuk selalu membantu ibu termasuk belajar memasak. Hampir setiap sarapan, ibu Aisyah menghidangkan kare yang rasanya cukup aneh bagiku dan Cailsey yang belum pernah memakan makanan seperti ini sebelumnya.

*

Hari itu keluarga Abdullah mengajak kami jalan-jalan keliling kota. Ummi Aisyah mempersiapkan segalanya dan makanan yang cukup banyak seperti kita akan melakukan piknik. Tepat saat tengah hari mobil berhenti di sebuah masjid, mereka akan beribadah untuk kedua kalinya setelah melakukannya di pagi hari. Sekitar lima belas menit aku dan Caisley menunggu di luar masjid, kami pun tak lupa selalu mengambil gambar dimanapun kami berada. Siang itu panas sekali, aku dan Caisley mengamati orang-orang yang berlalu lalang dihadapan kami. Banyak sekali wanita disini menggunakan pakaian yang sangat tertutup, padahal disisi lain aku yang hanya menggunakan T-shirt saja sangat merasa kepanasan. Kami kembali melanjutkan perjalanan setelah keluarga Abdullah menyelesaikan ibadah mereka. “Mengapa disini aku banyak melihat wanita memakai pakaian tertutup?”, aku tak kuasa menahan rasa penasaranku. “Itu sebagai tanda rasa bersyukur terhadap Allah yang telah menciptakan kami dan ini adalah identitas wanita muslim”, Dalilah menjawab pertanyaanku dengan sangat lembut. “Tapi bukankah kita seharusnya bangga menunjukkan rambut, paras, dan tubuh sebagai tanda syukur terhadap Tuhan yang telah menciptakan?Bukankah dengan tampil cantik di depan umum memperlihatkan keindahan fisik merupakan rasa syukur yang benar terhadap Tuhan?Maaf, aku hanya tidak mengerti mengapa kalian menutup-nutupi keindahan yang diberikan Tuhan, kalian selalu memusuhi kami yang menyatakan kebebasan dengan alasan eksploitasi wanita, melanggar hak asasi dan alasan lainnya, namun pada kenyataannya muslim telah membunuh ribuan manusia tidak bersalah dengan runtuhnya WTC beberapa bulan yang lalu dan itu artinya muslim telah membunuh hak hidup seseorang bahkan ribuan orang. Betapa muslim tampak munafik bagiku, kusadari aku bukanlah manusia yang rajin beribadah seperti kalian yang melakukan ibadah sampai lima kali sehari, kalian pun juga tak lupa membaca kitab Tuhan. Tetapi mengapa makhluk Tuhan yang begitu taat dapat berubah menjadi singa jahat yang telah lama tertidur? yang dapat menerkam siapa saja yang ada dihadapannya tanpa peduli siapa. Apakah mereka tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa akan ada ribuan jiwa yang tersakiti dan mungkin akan menderita karena ditinggal orang-orang yang mereka sayangi”, nafasku sedikit tersengal saat mengatakan hal itu, tampak sekali ada perasaan marah di dalam diriku. Aku tak tahu mengapa aku bisa berbicara seperti itu dihadapan Ummi Aisyah, Abi Abdullah, Barra dan Dalilah yang jelas aku sadari mereka keluarga muslim yang sangat baik. Salah satu tujuanku berada disini juga ingin mengetahui mengapa agama ini begitu aneh. Tidak satupun ada yang membuka mulut sedikitpun saat itu, aku semakin merasa bersalah atas perkataan kasar yang aku ucapkan tadi. “Maafkan atas perkataanku, kalian telah baik padaku, aku hanya tidak mengerti mengapa muslim menjatuhkan agamanya sendiri dengan melakukan hal keji seperti itu karena peristiwa itu telah merenggut nyawa ayah yang sangat aku cintai.”, kukatakan sejujurnya pada mereka dengan perasaan bersalah. “Shiera, siapapun akan menghadapi yang namanya kematian dan kita tidak pernah tahu kapan serta dalam keadaan seperti apa kita saat mengakhiri hidup ini. Ini sudah menjadi takdir Tuhan dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengubahnya.” suara abi Abdullah  memecahkan keheningan. “Shiera, saya juga seorang ayah dan saya mengharuskan Dalilah untuk memakai pakaian yang tertutup dan memakai jilbab. Shiera tahu alasannya?”. Aku hanya diam saja mendengarkan Abi Abdullah berbicara sambil menggelengkan kepala menyatakan saya tak mengerti apa maksudnya. “Setiap ayah pasti ingin anak perempuannya diperlakukan baik oleh orang lain. Saya tidak akan membiarkan Dalilah menjadi perhatian para laki-laki sehingga siapapun dapat dengan enaknya menikmati kecantikan Dalilah. Dalilah harus dilihat oleh laki-laki yang baik, tidak sembarang laki-laki boleh menyentuh dia kecuali abi dan Barra. Abi juga yakin, ayah Shiera pasti ingin Shiera selalu terlindung dan tidak menjadi konsumsi mata para lelaki tidak beradab.”

*

Hari demi hari telah kulalui. Aku sangat merindukan ibu, bercerita dengan ibu, memasak, berbelanja, dan segala aktifitasku bersama ibu. Ummi Aisyah sangat mengerti apa yang aku rasakan setelah peristiwa yang menimpa keluargaku. Semakin hari aku semakin nyaman tinggal bersama keluarga ini. Aku telah menganggap Ummi dan Abi adalah kedua orangtuaku, mereka tidak pernah berusaha untuk menarikku ke dalam agama mereka namun mereka hanya menginginkan aku memahami bahwa walaupun kami berbeda agama tetapi kami adalah saudara. Aku sering bermain di kamar Dalilah dan aku melihat bagaimana cara dia memakai jilbab. Aku mengakui bahwa Dalilah adalah gadis yang cantik, dia selalu menggunakan warna pasta yang membuatnya terlihat sangat anggun dan lembut. “Mengapa kamu berjilbab sangat panjang? Tapi aku juga pernah melihat wanita muslim yang memakai jilbab tidak sepanjang seperti yang kamu kenakan?”, tanyaku pada Dalilah saat dia sedang menggunakan jilbabnya. “Memakai jilbab juga ada aturannya Shiera, fungsi jilbab untuk menutupi apa yang harus ditutup dari keindahan seorang wanita, bukan hanya rambut atau sekitar kepala saja tetapi bahu dan dada harus tertutup.” Terang Dalilah padaku. “Shiera, ingatkah bahwa aku pernah berkata jilbab sebagai bentuk rasa bersyukur kami? maksudnya, kami menjaga apa yang telah diberikan Allah kepada kita termasuk keindahan fisik dengan tidak mengumbar kecantikan itu kepada orang lain tetapi menjaga kesucian keindahan itu.” “Dalilah, mengapa saat mendengar di media mengenai islam, islam sangat memperlihatkan kekejamannya? Tetapi setelah aku berada disini terutama dengan keluargamu, itu sangat jauh dari bayanganku.” “Tergantung dari sisi mana kita melihat Shiera! Namun satu yang aku pahami agamaku mengajarkan kami semua harus berbuat baik walaupun dengan perbedaan agama sekalipun, kita diharuskan berteman, mengasihi dan mencintai antar manusia tetapi yang ditegaskan agamaku adalah untukku agamaku dan untukmu agamamu. Dan pernyataan itulah yang sangat ditegaskan oleh Allah, Shiera. Jadi tak ada bedanya kita itu sama, baik miskin atau kaya kita semua sama hanya agama saja yang membedakan kita.”

*

Delapan bulan tepat aku tinggal bersama keluarga baruku, perasaan sedihku sama ketika ayah meninggalkanku. Begitu banyak yang terjadi selama aku disini, hanya delapan bulan tetapi mampu membuka pandanganku tentang hidup ini. Aku beruntung tinggal bersama mereka, dan mengenal Abi Abdullah, Ummi,si ganteng bule-arab Barra, dan Dalilah yang cantik. Berat sekali rasanya, aku merasa ini rumahku, keluargaku dan aku tidak ingin mereka hanyalah orang-orang yang sekadar menyapa dalam kehidupanku. Aku sadar perpisahan akan terjadi cepat atau lambat dan aku berjanji ini tidak akan menjadi sia-sia belaka, perjalanan ini membutuhkan banyak pengorbanan dan aku akan memberikan warna baru dalam kehidupanku setelah pengalaman baru yang Tuhan telah berikan padaku.

*

Dua tahun sudah aku meninggalkan keluarga baruku dan berpisah dengan Caisley yang kembali ke negaranya tetapi kami sering berkomunikasi via email. Tidak lupa aku juga sering mengirimkan email dengan Dalilah. Hubungan persaudaraan kami tidak putus dan aku berjanji tidak akan pernah putus. Sepeninggal ibuku dua bulan yang lalu hidupku sangat sulit tetapi aku selalu berusaha dan berusaha untuk bangkit kembali. Aku punya keluarga yang tinggal jauh di belahan bumi lainnya dan mereka adalah tujuanku. Aku sedang belajar untuk menjadi penulis besar, beberapa bukuku telah diterbitkan, aku berusaha memberikan bacaan yang baik bukan hanya buku bacaan yang dapat merusak semangat para pembaca dengan cerita-cerita cinta. Aku berusaha memperbaiki kesalahanku dengan memberikan pandangan yang baik bagi orang-orang terhadap muslim.

Pagi itu aku sangat tercengang dan aku tak mampu harus berkata apa setelah membaca email dari Dalilah bahwa keluarga mereka akan pergi ke Amerika khusus untuk mengunjungiku. Dan Dalilah berkata jika aku tidak menjemput mereka di Airport maka mereka akan langsung putar balik pulang ke Negara mereka. Dengan rasa bahagia aku sampai menangis menerima email itu.

Akhirnya hari itu tiba, keluargaku datang. Aku memeluk Ummi Aisyah dan Dalilah dengan erat. Abi terlihat semakin tua dengan rambutnya yang sudah memutih, Umi Aisyah masih seperti dulu, sedangkan Dalilah semakin cantik, dan Barra, jujur aku tak tahu harus bilang apa karena sejak pertama aku bertemu dia, kuakui dia sangat tampan. Setiap hari aku mengajak mereka pergi jalan-jalan dan tak lupa setiap waktunya sholat aku selalu memberhentikan mobilku di masjid. Aku pun tidak akan membiarkan keluargaku memakan makanan haram disini, aku akan selalu berusaha mencari restaurant yang menyediakan makanan halal untuk muslim. Kami bersenang-senang menikmati kota New York ini, hidupku terasa hidup kembali, lama aku tidak merasakan kehangatan keluarga seperti ini. Suatu malam saat kami sedang mengadakan pesta barbeque di depan halaman rumah, aku mengutarakan maksudku untuk memeluk islam. Semua orang yang berada disana sangat kaget dengan pernyataanku. Keluarga Abdullah sangat senang mendengarnya dan dalam hal ini tidak ada keterpaksaan, aku merasa telah menemukan pencarian pedoman hidupku, sudah cukup aku mengenal islam, mengenal pola pikir agama itu untuk mengimplementasikan dalam hidup.

Hari ini adalah aku yang baru, aku dengan status baruku sebagai seorang muslimah. Aku mengubah penampilanku menjadi benar-benar seorang muslim karena aku ingin Tuhan melindungiku selalu dan menjaga imanku. Dalilah dan Ummi Aisyah mengenalkanku ajaran-ajaran islam. Mereka juga mengajarkan kepada siapa saja aku harus menutup auratku. Aku belajar mengaji. Setelah selesai mengajarkanku mengaji, Barra menyindirku tentang pernyataanku beberapa tahun yang lalu bahwa suara dia bagus hanya lagunya kurang aransemen. Kami semua tertawa mengingat kejadian itu.

*

Taksi telah tiba di rumah paman Osh dan bibi Anne. Mereka menyambut kedatanganku dengan membuatkan aku masakan kesukaanku. Aku sangat mencintai paman dan bibiku ini. Kami bercerita-cerita sampai malam setiap hari, selama aku disini aku akan merawat paman dan bibiku sebelum aku harus kembali lagi ke Abu Dhabi. Aku ingin masak special setiap harinya untuk paman dan bibi. Terkadang aku merasa bersalah meninggalkan paman dan bibi di New York, bagaimanapun paman dan bibi adalah pengganti orangtuaku sepeninggal mereka. Aku sudah seperti anak mereka karena mereka tidak memiliki anak. Aku sangat sedih melihat kondisi mereka yang sudah semakin tua dan hanya tinggal berdua di rumah sebesar ini sedangkan hidupku sangat bahagia dengan keluarga yang sangat mencintaiku. Aku akan membicarakan dengan suamiku, Barra, mengenai hal ini tetapi aku yakin Barra pasti mengijinkanku untuk membawa paman dan bibi untuk tinggal bersama kami di Abu Dhabi. Aku sangat bersyukur karena Allah telah memberikan kehidupan yang baik untukku, memperkenalkan aku dengan orang-orang baik, membuka pikiran dan pandanganku mengenai islam, dan memberikan suami yang sangat mencintai aku. Aku percaya selama kita terus menebarkan kebaikan maka Allah akan terus memberikan kebaikan dalam hidup, dan apa yang telah aku alami selama ini adalah pembelajaran terindah dari Allah. Mungkin ini sudah takdirku, islam aku dapatkan saat aku telah dewasa namun aku bangga karena dengan aku seorang muallaf aku mengerti seberapa berharganya agamaku. Kita dapat lihat bayak orang mengaku dirinya sebagai muslim tetapi tidak menjalankan apa yang menjadi kewajibannya atau menjalankan hanya setengah-setengah. Dengan keadaanku sebagai muallaf aku merasa jatuh cinta terhadap islam dan Allah memberikan sensation of life untukku dan aku sangat menghargainya karena aku mengetahui arti penting iman dan islam dalam kehidupanku.

Oleh: Putri Budiastuti

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
5/5 - 1
You need login to vote.
Filed in

[Cerpen] The Massacre

[Cerpen] Atheis Muslim

Related posts