1:51 pm - Senin September 21, 2020

[Cerpen] Seribu Asa di Formosa

1470 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Prolog

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya olehku bahwa aku bisa menginjakkan kaki di negara 4 musim ini. Tapi satu hal yang aku pegang hingga saat ini, bermimpilah setinggi langit, jika engkau tidak mampu merasakan keindahan langit, setidaknya kamu akan mendapatkan bintang-bintang.

Sudah hampir 2 tahun aku hidup di negara ini, di negara yang katanya blessed land atau terkenalnya adalah negeri Formosa. Taiwan, negara yang hampir tidak pernah terbersit di kepalaku sedikitpun. Karena pergi keluar negeri hanya bisa menjadi satu mimpi yang pernah aku tuliskan di daftar mimpi-mimpiku, tanpa terpikir untuk bisa mewujudkannya.

Seribu Asa

Selepas kuliah Strata 1, fokusku hanya untuk mendapatkan pekerjaan, di tempat yang dekat dengan tempat tinggal orang tuaku. Karena sebagai anak bungsu, aku hanya ingin melaksanakan birrul walidain selama usiaku masih ada. Selain itu, kakakku satu-satunya telah meninggalkan rumah kami untuk mengikuti suaminya yang bekerja di luar pulau. Maka aku berpikir untuk bekerja di dekat tempat tinggal kami sekarang.

Hari demi hari kulalui untuk mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk melamar pekerjaan. Tumpukan kertas, foto dan CV sudah menjadi bagian hidupku selama beberapa minggu terakhir setelah menerima ijazah dari kampus. Yang menjadi fokusku sekarang adalah tidak lagi merepotkan orang tua dan bisa hidup mandiri tanpa harus meminta uang dari mereka. Sudah cukup 22 tahun menggantungkan hidupku pada kedua orang tuaku, sekarang aku harus bisa memberi kedua orang tuaku.

Namun Allah SWT mempunyai skenario lain, yang hikmahnya baru bisa aku rasakan sekarang. Walaupun aku lolos interview pada beberapa perusahaan, namun aku selalu gagal saat akan mencapai tahap selanjutnya. Putus asa? Tentu tidak, karena aku masih ingin mendapatkan pekerjaan dan mandiri.

Hari itu, yang mungkin sudah tertulis di lauhul mahfudz bahwa aku memutar balik nasibku sendiri dengan bantuan Allah SWT tentunya. Aku diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Taipei, Taiwan. Tanpa pernah aku berpikir untuk melanjutkan studiku, apalagi di luar negeri dan ini benar-benar tanpa biaya. Karena aku berhasil mendapatkan beasiswa dari calon kampusku.

Antara aku ingin segera memberi kepada orang tuaku dan mewujudkan mimpi yang sempat aku tulis di otakku. Malam itu, bertepatan dengan bulan Ramadhan aku meminta pertimbangan kedua orang tuaku. Awalnya ibuku kurang setuju, karena menurut beliau luar negeri itu jauh. Walaupun aku hanya akan pergi ke benua Asia, bukan ke Eropa ataupun Amerika. Tapi tetap saja jauh dan tidak akan tergapai hanya dengan naik bis atau kereta api. Aku pun memberikan semua keputusan kepada Allah, dengan sholat istikharah. Selama masa penentuan keputusan, aku masih mencari pekerjaan. Dan hasilnya aku lolos interview ke tingkat manajer.

Hari itu, dimana aku harus berangkat ke ibukota untuk melewati tes kerja di hadapan para manajer. Sekolah ke luar negeri tanpa biaya sudah aku buang jauh-jauh dan bertekad untuk mendapatkan pekerjaan ini. Akhirnya dengan berat hati, kedua orang tuaku merelakanku pergi sendiri, karena waktu itu dari region Jawa Timur hanya aku yang lolos.

Selama di perjalanan, aku sempat berpikir untuk melepaskan S2-ku dan mengambil pekerjaan ini. Namun hati kecilku sebenarnya sangat menginginkan untuk melanjutkan studi ke negara lain. Dan Allah Maha Tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Setelah melewati tahap interview dengan manajer, aku harus menunggu beberapa saat untuk melanjutkan tahapan tes kerja kali ini.

Selama masa penantian, entah kenapa ada saja tanda-tanda dari Allah bahwa aku juga harus mengusahakan berkas-berkas untuk aku kirim ke Taiwan. Dan karena itulah, di saat yang sama aku juga menyiapkan dokumen penting yang akan aku kirimkan ke calon kampusku. Pun dengan VISA dan Passport untuk ke Taiwan. Dan alhamdulillah, Allah benar-benar memberikan pertolongan dan kemudahan saat aku menyiapkan semua berkas ini. Dan karena hal itulah, aku merasa bahwa Allah meridhoi-ku untuk melangkah ke Taiwan. Sebenarnya ada tanda lain yang benar-benar membuatku yakin untuk melepas proses penerimaan kerjaku dan memilih untuk melanjutkan studi. Dua buah buku itu, membuka mataku bahwa aku harus mengambil kesempatan emas ini. Bahwa tidak semua orang seberuntung aku. Bahwa Allah mempercayakan rejeki ini kepadaku.

Akhirnya setelah aku mendapat restu dari kedua orang tuaku, aku pun berangkat ke Formosa. Sebenarnya aku bukan berasal dari keluarga yang sangat berada, tapi aku bisa katakan bahwa kehidupan ekonomi kami berkecukupan. Dan sejak kecil aku tidak pernah meminta lebih dari kedua orang tuaku, apalagi untuk soal biaya.

Ayahku pernah berkata, bahwa beliau lebih memilih memberikan ilmu daripada materi semata. Karena ilmu bisa memberikan manfaat yang lebih besar daripada sekedar materi. Dan ibuku, sosok yang sangat bijaksana. Tidak pernah ibuku mengeluhkan gaji atau finansial, karena ibuku berkata bahwa Allah yang akan selalu memberikan rejeki kepada semua hamba-Nya yang beriman. Tapi rejeki juga tidak akan datang dengan semata-mata, tanpa ikhtiar dan doa yang istiqomah.

Dan karena hasil didikan mereka berdua lah aku menjadi diriku yang sekarang. Yang walaupun aku berani bermimpi tinggi, aku juga harus berani berikhtiar lebih daripada orang lain dan juga tidak berhenti berdoa. Tapi aku yakin semua hasil yang aku capai sekarang juga berkat doa yang tak pernah terhenti dari kedua orang tuaku.

Taiwan, I’m coming

Sesampainya di Taiwan, kehidupanku sangat berubah daripada saat berada di Indonesia. Jauh dari keluarga membuatku jauh lebih mandiri dan alhamdulillah semakin mendekatkanku pada-Nya. Mungkin ini juga yang menjadi hikmah besar Allah menempatkanku disini. Aku jadi semakin aware dengan sholatku, karena tidak pernah terdengar adzan disini. Selain itu, aku juga semakin rajin menambah amalan harian, tidak seperti saat berada di comfort zone-ku di rumah.

Kehidupan awal di negeri orang, memang terasa berat dan butuh adaptasi yang cepat. Karena semua perkuliahan dilakukan dalam bahasa Internasional. Selain itu adaptasi makanan dan budaya membuatku harus selalu berpacu dengan waktu. Alhamdulillah, Allah selalu menolong dalam setiap kesempatan sehingga masa perkuliahan berjalan dengan lancar.

Best Paper Award

            Memasuki tahun kedua perkuliahan yang juga tahun terakhir studi S2 ku disini, Allah memberikan kejutan lain yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Hari itu, mendadak Professor memintaku untuk mengirimkan hasil risetku ke salah satu Conference International yang cukup bergengsi.

Di awal, beliau selalu merendahkan hasil tulisanku yang tidak cocok untuk dibuat paper atau jurnal. Aku tahu kalau aku memang belum berpengalaman dalam hal ini, namun aku tidak menyerah begitu saja. Walaupun beliau sempat berkata, bahwa hasil tulisanku tidak akan bisa masuk jurnal, aku tetap mengusahakan yang terbaik. Dan akhirnya jurnal kami lolos dalam seleksi.

Kejutan lain adalah jurnal kami berhasil masuk dalam kompetisi paper dimana saat itu para pesaingku berasal dari Jepang dan Korea. Tentu saja aku agak minder karena aku rasa riset mereka jauh lebih hebat daripada riset kami. Tapi lagi-lagi aku mengusahakan yang terbaik dan meminta doa kepada orang tuaku. Walaupun saat itu Professorku kembali berkata bahwa aku tidak akan bisa menang dengan cara presentasiku saat itu. Tapi Allah Maha Mewujudkan, dan  I never lose hope. Aku mencoba berbagai cara presentasi yang baik dan berlatih keras untuk bisa berbicara bahasa Inggris dengan lancar.

Ruangan konferensi sudah ramai oleh juri dan para pengunjung lain. Hari itu aku lebih nervous daripada hari dimana aku sidang Tugas Akhir di masa S1-ku. Karena aku harus menyampaikan risetku kepada para juri yang ahli di bidangnya. Selain itu aku membawa nama negaraku, dan yang lebih penting lagi adalah aku satu-satunya peserta kompetisi yang memakai jilbab. Dalam hati aku berkata, aku harus bisa menunjukkan bahwa kami para muslimah juga memiliki otak yang cemerlang.

Bismillah, aku memulai presentasiku, dengan sebelumnya meminta doa kepada orang tuaku. Alhamdulillah presentasi berjalan lancar dan tanpa kendala. Keesokan harinya, saat pengumuman pemenang diumumkan, aku sempat minder dan tidak percaya diri. Tapi Allah benar-benar memberikanku sebuah rejeki yang tidak akan bisa aku lupakan seumur hidupku. Menjadi First Winner Best Paper Awardi dalam ajang internasional membuatku cukup kaget. Karena sebenarnya aku tidak yakin dengan semua hasil yang aku capai. Tapi berkat kegigihan ikhtiarku dan juga doa restu kedua orang tuaku, akhirnya Allah memberikanku hasil yang terbaik.

Epilog

Sleep less and dream more. Karena mimpi tidak akan bisa diraih tanpa perjuangan dan usaha keras yang tentunya diiringi dengan do’a yang kuat kepada Allah. Juga berkat kedua orang tua yang tidak pernah berhenti mendoakan. Lagipula tidak ada yang salah untuk bermimpi besar, karena Allah Maha Mengabulkan Do’a. Dan jangan pernah berani bermimpi tinggi kalau kamu tidak berani untuk mewujudkannya!

Taipei, 11 September 2013

Oleh: Dini Nuzulia Rahmah, Mahasiswi S2 Computer Science NTUST, Taipei, Taiwan

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

[Cerpen] Pelangi di Sudut Kota

[Cerpen] Allah, Kapan Giliranku?

Related posts