2:35 am - Sabtu September 26, 2020

[Cerpen] Simbol Cinta Allah di Bulan Suci

1861 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Malam itu begitu tenang. Ramadhan tiba. Semua orang menyambutnya dengan hati gembira dan senang. Anak kecil berlari kecil ingin melihat petasan yang mengukir di pekatnya langit malam. Bintang dan bulan juga seperti menyambut bulan suci ini. Tapi tidak dengan seorang gadis dengan air mata yang membasahi keduamatanya. Hatinya yang kini keruh bercampur takut ketika tanpa sengaja dia merusakkan sebuah tab yang dia beli dengan hasil usaha kerja 2 bulan yang lalu. Ditambah uang orangtuanya tentu dengan harapan agar dapat membantunya dalam mengerjakan tugas kuliah. Tapi kini hanya ada rasa penyesalan dalam dirinya,

“Baru 3 bulan sudah kurusakkan saja. Bagaimana ini?? Semua salahku..”

“Vira… Vira..” panggil uminya.

Vira menyadari bahwa uminya memanggil, langsung dia seka air mata dengan jari- jari manis kecilnya.

“Iya, Tunggu sebentar mi” jawabnya sambil menghela napas panjang, agar dirinya kelihatan baik- baik saja dihadapan uminya. Vira menghampiri uminya dan bertanya,

“Iya, umi ada apa?”

“Tolong bantu umi jaga adikmu Raihan sebentar, umi ada urusan sebentar di luar” jawab uminya. Vira pun menjawab penuh semangat seperti pasukan tentara yang dikomandokan, “Oke deh umi, siap laksanakan”.

Tak lama, ia pun asyik bermain dengan Raihan yang sedang belajar mencoret- coret bukunya, dengan rasa penasaran Vira pun bertanya bertanya kepada adiknya,

” Raihan sholeh, coba kakak lihat sedang gambar apa kamu dek?”.

Raihan menyodorkan bukunya ke tangan kakaknya, dan memperlihatkan gambarnya dengan senyum kecilnya. Vira pun penasaran dengan gambar adiknya, dia pun bertanya,

“Wah, bagus yaa.. , kalau yang ini gambar siapa saja?”. Raihan pun menjawab pertanyaan kakaknya,

“Ini Umi, Abi, Kak Nurul, Kak Fitri, dan ini Raihan”

Vira pun heran ketika gambarnya tidak ada, dia pun bertanya sambil pura-pura memasang muka sedih dihadapan adiknya.

“Hmm… Kak Vira mana ? kok kakak tidak ada gambarnya”.

Raihan pun melihat bukunya, dengan kepolosannya dia menjawab pertanyaan kakaknya,

“Oh iya, Raihan lupa”.

Vira langsung mengelitikkan pinggang adiknya dan menggodanya,

“Yaah, kok kakak dilupain sih, Raihan ga sayang nih sama kakak, kakak kelitikin nih”. Raihan yang sedang menggambar tertawa terpingkal-pingkal menjauhi tangan kakaknya. “Awas yaa, kalau kamu sampai lupa lagi sama kakak, kakak kelitikin lagi,” canda Vira. Mereka pun bercanda hingga larut malam sampai- sampai kesedihan Vira hilang di dalam hatinya. Mereka pun kelelahan, Raihan pun pergi ke kamar uminya yang sejak tadi uminya sudah pulang. Vira pun kembali ke kamarnya, dia rebahkan tubuhnya ke kasur. Hawa dingin memasuki kamarnya, dia melihat ke sekeliling sudut kamarnya, dan tiba-tiba dia teringat kembali tentang tabnya itu, ketika dia membuka tas kecilnya.

“Ya Allah, kenapa menjadi seperti ini ? apa aku punya banyak salah kepadaMu ya Rabb sehingga Kau tegur dengan kejadian ini,” lirihnya dalam hati. Tak tersadar, Vira pun terlelap karena isak tangisnya yang membuat dirinya kelelahan.

Jam 2 malam, Vira terbangun dengan rasa kantuk yang masih bergelayut di pelupuk matanya. Dia usap matanya dengan tangan kanannya, langsung dia beranjak dari tempat tidurnya, dan dia basuh seluruh jiwanya dengan air wudhu, shalat tahajud. Seketika itu, Vira bermunajah kepada Allah dan berkata dalam doanya,

“Ya Allah Engkaulah yang Maha Tahu, hamba mohon ampunkanlah atas segala dosa dan kesalahan yang pernah hamba lakukan. Hamba tak tahu apakah ini sebuah ujian, cobaan, musibah, atau bahkan ini sebuah anugerah untuk hamba. Hamba hanya ingin berprasangka baik kepadaMu”.

Vira melajutkan tadarusnya, dia mengambil Al-qur’an yang berada di atas lemari kecilnya agar hatinya lebih tenang kembali jika selalu dekat denganNya. Dia baca huruf demi huruf dengan pelan, dia lanjutkan dengan membaca artinya sambil meneteskan air mata karena dia sadar begitu kecil dirinya dimata Allah. Bacaannya terhenti ketika sampai di Qs.Al-baqarah: 155. Bahkan Allah sendiri yang menjelaskan memberikan cobaan pada setiap hambaNya. Dan orang-orang yang sabarlah yang mendapatkan berita gembira. Seperti mendapat jawaban dari Sang Illahi atas kesedihannya. Lalu, ia tutup Qur’annya dengan menciumnya dan memeluk di dadanya dengan rasa tulus dan ikhlas. “Subhanallah, aku merasakan ketenangan yang luar biasa dalam diriku, aku yakin pasti Allah yang menenangkan pikiranku dengan ayat-ayatNya dari cahayaNya,” ujarnya memantapkan hati.

Suara berisikan dari arah dapurnya. Vira tersenyum. Itu pasti umi yang sedang menyiapkan untuk sahur nanti. Sambil membuka pintu, dia menghampiri uminya berharap ada yang bisa ia lakukan.

“Sini, Vira saja yang menyiapkan umi” ujarnya.

Uminya tersenyum dan berkata, “ Sudah, biar umi saja lagipula ini sudah mau selesai, kamu bawakan saja makanan ini ke meja makan, dan buatkan teh hangat dalam teko”.

Dengan rasa semangatnya Vira pun melaksanakan tugasnya, dan membalas senyum uminya sambil berkata, “Oke umi”.

Waktu imsak pun tiba, Vira pun merapihkan semuanya sambil menunggu Shubuh. Adzan pun tiba, Vira langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat shubuh. Setelah itu dilanjutkan dengan tadarus. Ketika sampai di pertengahan bacaannya ia merasa bacaannya mulai salah dan matanya sudah lelah, segera ia tutup Qur’annya.

Paginya, dia terbangun dengan bunyi alarm, ia regangkan otot-otot tubuhnya dengan olahraga kecil. Ketika dia membuka jendela kamarnya semburat cahaya mentari pagi menyilaukan matanya. Seperti hendak menyapanya dan memberikan beribu semangat dan keceriaan kepadanya. Dia pun keluar kamar, dan melihat ke arah jam dinding menunjukkan jam 9. Sambil membereskan rumah dan berkata dalam hatinya, “Masih ada 3 jam sebelum pergi ke kampus”.

Selesai pekerjaan rumah selesai, dia pergi ke kamar untuk menunaikan shalat dhuha dan diakhiri dengan membaca Al-ma’tsurat dan Do’a Rabithah. Do’a itulah yang digunakan Rasulullah untuk menguatkan jalinan ukhuwah para sahabat-sahabatnya. Hingga para sahabatnya terbentuk menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa. Setelah itu, Vira kembali menyibukkan dirinya berkutat dengan buku dan berlembar kertas fotokopian untuk UAS nanti.

Pukul 1 siang, Vira berangkat ke kampus dengan langkah pasti. Sejak kakinya menjejakkan di luar rumah, hawa panasnya pun menyentuh kulit. Sengatannya membuat bulir-bulir keringat mulai mengucur dari pelipisnya. Namun, itu tidak menghalanginya untuk tetap sabar menanti bus yang datang. Sudah 20 menit lebih bisnya belum terlihat juga. Kecamasan mulai menghampirinya. Sambil melihat jam, ia berdo’a semoga tidak terlambat di ujiannya nanti.

Vira pun melanjutkan perjalanannya sambil melihat ke arah jalan raya berharap busnya datang. Tak jauh dari tempat menunggunya tadi, langkahnya terhenti ketika terlihat bus berwarna biru yang mengantarkan tujuan kampusnya datang. Bus biru itu melaju dengan cepat, dan sampailah Vira di persimpangan jalan, karena ia harus naik bus 1 kali lagi sebelum ia sampai tujuan, kampusnya.

Ketika sampai kampusnya dia mengeluskan dadanya dan berucap,” Fiuuh,, Alhamdulillah akhirnya sampai juga”. Sambil mengelap keringat di pelipisnya, ia pun merapikan jilbabnya yang sedikit miring.

Tiba di dalam ruangan ujiannya, sahabatnya Vira, Irma menyapanya, “Assalamu’alaikum ukh, gimana persiapan UAS nanti, sudah siap belum ?” tanyanya sambil tersenyum.

Vira pun membalas senyumannya sambil menjawab “ Wa’alaikumussalam, Insya Allah aku sudah siap. Aku agak grogi nih..Bismillah deh, semoga nanti soalnya tidak sulit.” Irma pun menimpali, “Aamiin.. semoga juga kita bisa mengerjakannya.”. Vira pun tersenyum dan sahabatnya pun membalas senyumannya. Mereka pun masuk ketika 2 orang pengawas masuk ruangan mereka.

Soal pun dibagikan, entah kenapa hati Vira merasa degupan kencang dalam hatinya ketika menerima soal dari pengawas, ia pun menghela napas panjang sebelum membuka kertas soal sambil berdo’a supaya Allah mempermudahkan tangannya untuk menjawab soal. Alhamdulillah tangannya bermain sendiri dengan pulpennya seperti ada malaikat yang ikut membantunya. Ujian pun selesai, dan ia merasa senang karena lancar mengerjakannya.

Ketika keluar ruangan, tiba-tiba bahunya ditepuk sahabatnya Irma,

“Hai, Vir gimana tadi uasnya? “

Vira pun menjawabnya dengan wajah yang ceria,

“Alhamdulillah ukh, Allah memperlancarkan semuanya, kamu sendiri gimana lancarkan ? pasti lancar dong kan Irma pintar,” godanya.

Iram hanya tertawa kecil karena godaan sahabatnya,

“ Hehehe,, apaan sih Vir, pintar dari manalagi ?? Alhamdulillah Allah juga memperlancarkan tanganku,” jawab Irma.

Mereka pun pulang bersama. Tiba di terminal mereka pun berpisah. Vira mengucapkan salam perpisahan kepada sahabatnya,

“Hati-hati ya sahabat,” ujarnya sambil tersenyum kearah Irma.

Irma pun membalas senyumannya sambil berkata, “ Iya sahabat, kamu juga hati-hati ya di jalan”.

Ia pun tersenyum, “Oke deh..”.

Lalu, ia pun menuju busnya yang ternyata belum ada satupun penumpangnya. Jadi, terpaksa dia harus menunggu sampai akhirnya adzan magrib pun tiba.

“Alhamdulillah, akhirnya buka puasa juga” ujarnya. Dengan membaca Bismillah, dia tegukkan air putih, rasa haus dan lelah terasa hilang dari tubuhnya. Tak lama, penumpang pun mulai penuh. Bus mulai bergerak dan melaju cepat membawa setiap penumpangnya pulang. Karena lelah, ia pun tertidur dengan semilir hembusan angin malam yang masuk dari jendela bus dan mengibas-gibaskan jilbab birunya.

Pukul 9, sampailah busnya di depan gang rumahnya, ada perasaan sedih, ia melewatkan satu malam terawih berjama’ah karena saat pulang malam sudah begitu larut. Namun, apadaya. UAS sore tadi begitu menyita waktunya dan mengharuskannya ke kampus. Sesampainya di rumah, dia rebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu meregangkan otot-ototnya.

Tiba- tiba handphonenya berdering. SMS. Oo,, ternyata dari Rara, dia mengabarkan bahwa ada lomba Essai yang diselenggarakan bulan ini. Ketika Vira membaca kalimat sms dari sahabatnya itu, dia kaget. Ternyata deadline pengumpulan terakhir 5 hari lagi. Pikiran Vira pun langsung menuju arah kertas dan menuliskan berapa syarat agar mudah dihapal.

Vira pun bingung, “Apa mungkin, aku bisa menyelesaikan Essai dengan waktu sesingkat ini ?” bisiknya dalam hati. Vira teringat dengan lomba Essai yang berulang kali ia ikuti, tapi selalu gagal, dan ia juga merasa takut akan mengalami kejadian yang sama apalagi dengan waktu deadline yang mendekati UASnya, belum lagi waktu untuk menyelesaikannya hanya tinggal beberapa hari. Hatinya gelisah. Pikirannya mulai berbayang-bayang dengan info yang diterimanya tadi.

“Tapi jika ku tidak ambil kesempatan ini kapan lagi aku bisa menggantikan kesalahanku, “ lirihnya dalam hatinya, air mata pun membasahi pipinya. Langsung ia seka airmatanya dan berucap tegas dalam hatinya ,” Ya.. aku harus bangkit dari kegagalan ini, jangan sampai keputusasaan ini mengagalkan semua tujuanku, Allah pasti tahu apa yang terbaik buat hambaNya, dan mungkin inilah kesempatan yang Allah berikan untukku”.

***

Waktu terus bergulir, hari pun berganti. Langit kembali terang karena ada matahari yang masih setia dan bersemangat menjalankan tugasnya setiap pagi. Seakan ikut terkena efeknya, semangat yang diberi sang surya setiap pagi itu pun membias dalam dirinya. Pagi itu, ia membulatkan tekad bahwa ia harus ikut lomba Essai itu. Tabletnya yang rusak karena salahnya sendiri harus segera digantikan. Karena sebenarnya ia belum bisa menceritakannya kepada orangtuanya. Ia merasa bersalah dan takut keduanya akan marah mendengarnya.

Maka, sejak hari itu ia memakai peluang kosongnya untuk menyelesaikan Essainya. Walaupun sebenarnya ia sudah pernah mencoba membuat Essai sebelumnya tapi selalu gagal, namun ia harus memberanikan diri. Vira melihat Essai  dan memikirkan kesalahan dari Essai yang pernah ia buat sebelumnya. Dia sambangi dari satu teman ke temannya yang lebih mengerti untuk sekedar konsultasi, bertanya atau mencari-cari info. Dia minta teman-teman dan kakaknya menilai setiap perkembangan essainya. Ia browsing dan mencari referensi kesana-kemari untuk mendapatkan secercah inspirasi. Yang ada di pikirannya saat ini usaha dan usaha. Biarlah, masalah akhirnya akan seperti apa ia pasrahkan semua pada Allah, sang pemilik rencana untuk setiap hambaNya.

Sedikit demi sedikit kertas kosong itu mulai terisi. Tergoreskan kalimat demi kalimat hasil Essainya. Namun ia pun harus membagi waktunya untuk ujian akhir semester ini. Paginya ia harus belajar dan mempersiapkan semua untuk ujiannya, dan malam harinya sepulang tarawih ia harus kembali menulis Essai. Vira mulai merasakan di bulan Ramadhan ini walaupun Allah memberinya banyak cobaan, tapi Allah juga memberikan pertolongan di setiap dia memintaNya.

“Aku yakin, Allah akan memberikan yang terbaik untukku, dan Allah lebih tahu apa yang hambaNya butuhkan, bukan apa yang diinginkan oleh hambaNya,” ujarnya, memantapkan hatinya. Vira merasakan kedekatan bersamaNya ditengah malam,seperti berdialog dengan Allah dari ayat-ayatNya.

Keesokan paginya, Vira terbangun karena handphonenya masuk, tanda e-mail masuk. Ternyata dari Rara, rasa haru didalam dirinya ketika dia membaca pesan dari sahabatnya itu.

“La tahzan ukh, Allah tahu apa yang terbaik untukmu, bahkan Allah tidak menguji seorang hambaNya di batas kemampuannya. Kan Allah menjelaskan dalam ayat-ayatNya, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Bahkan sampai ditegaskan 2xlho..Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ukh, kamu masih ingat kan 4 kata motivasimu? Semangat yaa buat sahabatku yang sedang berjuang disana.

 Salam semangat, ukhti..”.

Ada rembesan keharuan yang menjalar cepat dalam hatinya. Sungguh ia bersyukur mempunyai sahabat sebaik Rara. Sahabat yang senantiasa mengingatkannya dalam kebaikan juga yang saling menjaga dalam kesabaran dan kesyukuran.

Vira pun teringat dengan kertas yang sudah beberapa bulan belakangan ini ada di dompetnya. Kertas yang berisi 4 kunci kesuksesan menurut mereka, yang ia temukan setelah dipinjamkan sebuah novel olehnya. Empat kunci motivasi, begitu mereka menyebutnya. Segera ia buka dompetnya dan ia ambil secarik kertas di dalamnya, yang berisi 4 kata yang ia baca dari sebuah novel yang menginspirasi. Lalu ia baca pelan-pelan,

  • “ Man jadda wajadaa”(Siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil),
  • “Man yazra’ yahsud” (Siapa yang menanam akan menuai yang ditanam),
  • “Man shabara zhafira” (Siapa yang bersabar akan beruntung),
  • “Man sara ala darbi washala” (Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuannya).

Lalu, kertas itu pun dipegang erat ke dadanya sambil berkata. Semangatnya kembali menggelora seiring dengan keyakinannya yang tumbuh.

“Aku yakin, Allah memberikan yang terbaik untukku,” ujarnya.

Vira pun membalas email sahabatnya Rara, “Syukron kasiron ukh. Bersyukur aku punya sahabat sepertimu. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikanmu, ra..”

Email pun terkirim, dan dia mulai menyelesaikan essainya yang hampir selesai. Tiba-tiba handponenya berdering tanda sms masuk dari temannya yang isinya “Ayoo semangat Vir, yakin deh pasti bisa selesai itu Essai sebelum deadline terakhir, jika ada usaha kenapa tidak? Allah pasti akan membantu bagi hambaNya yang mau berusaha, Keep Fight.” Ujarnya.

Rasa haru menyelimuti dirinya kembali seraya berdo’a,“Ya Allah terimakasih Kau berikan aku sahabat seperti mereka, hanya Kaulah yang bisa membalaskan kebaikan mereka, dan mudahkanlah urusan untuk mereka Aamiin”.

Vira pun mengambil Al-qur’an dan mulai membacanya.Tak lama, kembali ia berhenti di QS. Al-Baqarah: 185

“ Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan  Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka wajib menggantinya, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.

Aahh,,rembesan itu kembali menembus hatinya. Menghancurkan ego dan sombong diri..

***

Dua belas hari kemudian, penentuan lomba diumumkan. Vira tidak merasa panik, karena dia merasa takut kecewa jika berharap lebih seperti pengumuman Essai yang sebulan lalu ia kerjakan.

“Ya Allah, apakah hamba masih bisa untuk menggantikan tab itu setelah beberapa kali hamba gagal dalam lomba Essai ini” , lirihnya dalam hati.

Vira pun memantapkan hati untuk bisa tenang, karena ia yakin Allah pasti memberikan yang terbaik untuknya, jika sekarang bukan waktunya mungkin besok rezekinya akan datang. Ia pun pasrah dengan semua keputusanNya. Ibunya  memintanya kembali menjaga Raihan. Akhirnya malah membuatnya lupa dengan pengumuman itu.

Malam harinya seusai tarawih, handphonenya berdering. Tanda email masuk. Kembali dia teringat dengan pengumuman itu. Dengan bismillah, ia buka emailnya. Ternyata dari panitia lomba. Mereka mengatakan kalau Vira menang lomba Essai. Hatinya berselimut haru karena Allah benar-benar memberikan yang terbaik untuk dirinya. Vira pun sujud syukur seraya berdo’a “Ya Allah terimakasih Kau kabulkan do’aku, dan Kau telah memberikan petunjukMu lewat ayat-ayatMu, dan ini sebagai salah satu rahmatMu di Ramadhan ini.”

Dengan penuh syukur,  ia bersujud. Akhirnya, Vira pun menceritakan kejadian tabnya dan pengalamannya kepada uminya. Dua bulan kemudian Vira pun bisa menggantikan tabletnya dengan notebook, hasil usaha kumpulan uangnya dari mengikuti lomba-lomba dan hasil mengajarnya. Air matanya kembali mengalir. Kali ini bukan air mata penyesalan dan kesedihan, melainkan air mata kesyukuran dan kebahagiaan. Sungguh, Ramadhan ini menjadi kenangan tersendiri buatku.

Oleh: Aprilia Susanti

 

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

[Cerpen] Bersepaian Tanah

[Cerpen] Saat Ikhlas Berbicara Lebih dari Cinta

Related posts