8:24 am - Selasa November 24, 2020

Berbisnis Pahala

1690 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Berbisnis Pahala; Kaya dengan Kekayaan Tuhan (Just Do It bukan Just Du It)

Enterpreuneur  adalah sebuah kata yang melekat dengan dunia profit keduniaan. Apalagi pada waktu sekarang, banyak sekali manusia yang ingin bergelut dalam dunia yang menjanjikan dengan seabrek keuntungan itu. Karena memang dunia enterpreuneur sangat menjanjikan kesejahteraan hidup seseorang. Banyak pelatihan – pelatihan ataupun bedah buku tentang enterpreuneur. Mereka berlomba – lomba untuk memberikan yang terbaik dalam kehidupan dunia ini. Bahkan ada yang sampai mengorbankan aspek ukhrawinya demi meraih kesuksesan duniawinya.

Sejatinya apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang dalam hal berbisnis atau yang kita kenal dengan enterpreuneur merupakan hal yang wajar dan pantas untuk dilakukan, melihat bahwa dunia hanyalah sebuah jembatan dan kehidupan sementara yang menjadi tempat persinggahan sebelum persinggahan yang sesungguhnya, dunia akhirat. Sehingga Islam tidak melarang penganutnya untuk mencari bekal hidup di dunia demi kesejahteraan hidupnya (di dunia) sebagai bekal nanti di akhirat. Bahkan Islam mendorong dan memberi motivasi untuk selalu berusaha sekuat tenaga disertai dengan do’a dan sifat tawakkal dari pada hanya berpangku tangan yang kerjaannya hanya menunggu keajaiban Tuhan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surah Asy – Syarh (94) – Ayat 7, yang artinya :

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.

Banyak tokoh – tokoh islam yang kaya raya, yang taraf hidupnya di dunia sejahtera, tetapi mereka msih tetap memberikan porsi besar terhadap kehidupan akhirat. Sebutlah Sayyidina Ustman bin ‘Affan, Imam Abu Al – Hasan Al – Syadzili, Khalifah Umar bin Abdu Al – Aziz dan lain sebagainya. Sekalipun memberikan porsi yang lebih banyak bagi kehidupan akhirat dari pada kehidupan duniawi, bukan berarti kehidupan dunia ditinggalkan begitu saja dengan tanpa adanya usaha untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna di dalamnya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al – Qashas (28) – Ayat 77, yang artinya :

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”.

Yang terpenting dari hal itu semua – ditengah-tengah manusia banyak berlomba-lomba mendapatkan keuntungan duniawi – adalah bagaimana kita juga harus berbisnis pahala. Disamping kita berbisnis keuntungan duniawi, berbisnis ukhrawi atau berbisnis demi keuntungan pahala sebanyak-banyaknya, tidak kalah pentingnya bahkan sangat penting. Berbisnis pahala jauh lebih gampang untuk mendapatkan profit pahala dari pada berbsinis keduniaan. Allah dengan Sifat Kasih Sayang-Nya telah membentangkan luas dan meletakkan pundi-pundi pahala di dunia ini. Rasulullah saw. bersabda yang artinya :

“Amal perbuatan disisi Allah itu ada enam macam. (1-2) Dua amal perbuatan yang menjadi penyebab, (3-4) dua amal perbuatan yang dibalas dengan balasan yang sama, (5) amal perbuatan yang dibalas dengan sepuluh pahala dan (6) amal perbuatan yang balasannya hanya Allah yang tahu. Adapun dua amal perbuatan yang menjadi penyebab (baik menjadi penyebab kerelaan Allah ataupun kemurkaan-Nya) ialah orang yang menghadapkan diri kepada Allah serta ikhlas menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, maka hal itu menjadi penyebab ia berhak mendapatkan surga (sebagai bentuk kerelaan Allah). Barang siapa yang menghadapkan diri kepada Allah dan menyekutukan-Nya, maka hal itu menjadi penyebab ia berhak masuk neraka (sebagai bentuk kemurkaan Allah). Barang siapa yang melakukan amal keburukan maka ia mendapatkan balasan yang sama (dengan keburukan yang ia perbuat), barang siapa mempunyai keinginan melakukan perbuatan baik dan ia tidak sempat melaksanakannya, maka ia mendapatkan balasan yang sama (sesuai dengan niat baiknya). Barang siapa yang melakukan satu amal kebaikan maka ia mendapatkan sepuluh pahala kebaikan. Barang siapa yang menafaqohkan hartanya di jalan Allah maka akan dilipat gandakan, satu dirham di balas dengan tujuh ratus pahala, dan satu dinar di balas dengan  tujuh ratus pahala. Dan puasa, tiada lain hanya Allah yang mengetahui pahalanya bagi orang yang berpuasa”.

Begitulah Allah dengan kekuasaan-Nya memberikan pahala sebanyak-banyaknya bagi orang yang mempunyai keinginan dan yang melakukan amal perbuatan baik. Hal itu semua ada karena  Islam hadir memang sebagai rahmatan li al-‘alamin, sebagai lentera kasih sayang dalam kehidupan semesta ini. Bukan hanya itu, bahkan kebaikan yang kita lakukan yang kemudian oleh orang di jadikan contoh untuk diterapkan dalam keseharian, maka pahalanya pun juga akan mengalir sederas mata air kepada orang yang memberikan contoh baik, tak kurang sedikit pun. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda,

“Barang siapa yang melakukan perbuatan hasanah (baik, bagus) dalam islam, maka ia mendapatkan pahala (sebab perbuatan baiknya) dan pahala orang yang mengerjakan kebaikan (yang sama) setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan dalam islam, maka ia berhak mendapatkan dosa dan dosanya orang yang melakaukan keburukan (yang sama) setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun”.

Begitulah Islam mengajarkan pada umatnya untuk selalu bergotong royong dalam hal kebaikan dan selalu memberikan wasiat dalam kebaikan. Begitu melimpahnya pundi-pundi amal akhirat yang bisa kita lakukan di dunia yang fana ini. Masihkah kita lupa akan kenikmatan Tuhan yang begitu melimpah dan tak terhingga jumlahnya ini? Pantaskah makhluk yang bergelimang dengan keterbatasan ini menghitung nikmat-Nya Dzat Yang Tak Terbatas?

Wal hasil, yang terpenting dari obrolan panjang kita di atas adalah bagaimana kita harus bisa menyeimbangkan diri ketika melakukan bisnis. Bukan hanya bisnis duniawi yang kita lakukan, tetapi juga bisnis ukhrawi yang harus kita kedepankan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas segala karunia-Nya. Bersyukur menjadi sebuah keharusan yang harus kita kerjakan. Keberhasilan tanpa bersyukur adalah bagaikan lautan yang hanya berhiaskan ombak dan badai. Pada saatnya ia akan memuntahkan gelombangnya, hingga apa yang dimiliknya hanya sebatas abu yang berterbangan. Kita renungkan bersama sabda Nabi Muhammad saw,

“Sungguh menakjubkan perilaku orang mukmin. Semua keadaan adalah baik baginya. Jika memperoleh kesenangan, dia bersyukur dan yang demikian itu adalah baik baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia bersabar dan yang demikian itu adalah baik baginya. Perilaku seperti itul hanya ada pada diri seorang mukmin”. Wallahu A’lam.

Oleh : Ahmad Iqbal Fathoni, Jember,  Jawa Timur

Refrensi :

  1. Abu Bakr Ahmad bin Marwan al-Dainuri al-Maliki, Al-Mujalasah wa Jawahiru al-‘Ilm, Dar Ibn Hazm.
  2. Jalalu al-Din al-Suyuthi, Jaami’u al-Ahadist (Maktabah Syamilah).
  3. Penerbit Hilal, Mushaf Al-Azhar, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung.

 

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Pertemuan Tokoh Islam Bahas Ekonomi Umat

Maulid dan Manajemen Bisnis Rasulullah

Related posts