1:38 pm - Selasa September 22, 2020

Sifat Bagga Diri Merugi, Sifat tidak Bangga Diri Dicari

3087 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Oleh: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy

Bangga diri (ridha ‘anin nafs) adalah salah satu penyakit hati. Ciri-ciri bangga diri seperti merasa lebih baik, merasa lebih tinggi, merasa lebih tahu, merasa lebih mengerti, merasa lebih benar, merasa lebih pintar, merasa lebih ahli, merasa lebih layak atau pantas, dan merasa lebih sempurna. Sementara orang lain dianggap tidak baik, rendah, tidak tahu, salah, tidak tahu apa-apa, dan banyak kekurangan.

Ungkapan yang sering kali terucap dari orang yang bangga diri, semisal memandang tentang dirinya “Oh, saya sudah paling baik, saya sudah sempurna, saya sudah tidak ada celah apapun dalam diri saya”. Pandangan tentang orang lain semisal, “Ah, dia tidak tahu apa-apa, dia yang salah, dia tidak bisa apa-apa”.

Ketika bangga diri menjadi sifat yang melekat pada diri seseorang, dia tidak mau berada di bawah dan di belakang, maunya harus di depan dan di atas. Dia tidak mau diacuhkan, maunya semua apa yang dia ucapkan harus diterima, baik usulan atau pendapat. Sementara pembicaraan orang lain tidak didengarkan, malah ditolak dan diremehkan.

Sifat bangga diri memang membuat seseorang selalu merasa paling benar. Tidak memiliki intropeksi yang baik dan bijak. Ketika terjadi masalah, orang lain yang disalahkan, sementara dirinya dirasa tidak pernah bersalah. Seolah dirinya lepas dari perbuatan salah. Karena sudah tertutup oleh sifat kebanggan pada dirinya.

Sifat bangga diri sebenarnya belenggu kegelapan. Seseorang tidak mampu melihat ke dalam dirinya untuk memilih dan memilah antara salah dan benar dari sekian sikap-sikapnya. Yang tampak hanyalah kebenaran, sementara kesalahannya tertutup oleh gelapnya sifat bangga diri. Begitu juga ketika dia merasa paling ahli, paling pintar, dan paling sempurna, karena kebodohan dan kekurangannya ditutupi oleh gelapnya sifat bangga diri.

Antara orang yang bersifat bangga diri denga orang yang tidak bangga pada dirinya, memiliki perbedaan yang jelas. Orang yang memiliki sifat bangga diri sebenarnya orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Berbeda dengan orang yang tidak merasa bangga pada dirinya, dia selalu merasa bahwa dirinya tidak tahu. Meski dia tahu atau yang paling tahu pun, dia tetap merasa seraya berkata, satu hal yang paling  aku tahu bahwa aku tidak tahu.

Tentang keilmuan yang dia memiliki, meski dia lebih cerdas, lebih tahu, dan lebih ahli, dia tetap merasa biasa saja. Mungkin dia hanya merasa apa yang dia miliki adalah karunia Allah yang harus dijaga dan diamalkan. Dia tidak pernah mengakuinya apalagi dipamerkan kepada orang-orang melalui klaim-klaim ucapannya.

Tentu, ketika orang tersebut memiliki sifat seperti itu, dia tidak pernah menganggap orang lain bodoh, salah, rendah, banyak kekurangan. Justru dia menganggap dirinya lebih banyak kekurangan dari orang lain.

Juga, orang yang tidak pernah merasa bangga pada dirinya, dia memiliki hati yang luas. Setiap terjadi masalah, dia merasa dirinya yang salah. Meski sebenarnya orang lain yang salah, dia tidak mau menyalahkan orang lain atau merasa dirinya yang benar. Ketika mendapatkan kritikan, dia mau menerima dan terbuka. Apalagi, ketika ada orang lain memberi motivasi atau masukan, itu yang dia harapkan.

Orang yang tidak bangga pada dirinya, meski dia yang lebih tahu, lebih tinggi, lebih ahli, atau sempurna, pasti dia merasa senang ketika kesalahannya dikoreksi lalu disampaikan kepada dirinya oleh orang lain. Sebagaimana perkataan Khalifah Umar, “Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku”.

Nasib orang yang bangga diri dan yang tidak di masyarakat

Orang yang bangga diri ketika berada di masyarakat selalu saja ingin dilihat dan dinilai baik oleh orang-orang. Dia berusaha dari sikap dan tindakannya mendapatkan pujian. Dia juga ingin selalu tampil di hadapan publik. Karena dia merasa menjadi orang yang tidak dipandang dan dihormati oleh orang-orang ketika dia tidak tampil. Pokoknya dia harus menjadi orang yang nomor satu di tengah-tengah masyarakat.

Ketika dia bergaul dengan masyarakat, dia menampakkan dirinya dengan ilmunya yang dia miliki dan mengakuinya di hadapan mereka. Contoh kecil, ketika masyarakat mencari orang yang bisa memberi sambutan atau ceramah, orang yang memiliki sifat bangga diri mengajukan dirinya untuk tampil. Akhirnya, bagi masyarakat orang tersebut terkesan sok tahu.

Padahal, masyarakat tidak suka dengan orang yang membanggakan dirinya. Justru masyarakat akan menghindari orang-orang yang seperti itu, bahkan masyarakat sama sekali tidak menganggapnya siapa-siapa. Meskipun dia berilmu, ilmunya tidak bisa memberi cahaya kepada masyarakat.

Masyarakat lebih menerima orang yang tidak bangga pada dirinya. Orang yang seperti itu, di masyarakat lebih memilih di belakang dan banyak diam. Dia tidak akan tampil kecuali memang keadaan yang menuntut dan mendesak. Itu pun dia melakukannya dengan sangat berhati-hati, tidak sembarangan.

Sikap tersebut tampak ketika dia bergaul dengan masyarakat, dia tidak mau menampakkan dirinya apalagi mengakui dirinya yang lebih tahu dan baik. Dia menyembunyikan dirinya dengan sikap dan tindakan yang baik, bijak, dan mulia. Dia tidak buru-buru atau gegabah menyikapi suatu masalah yang terjadi di masyarakat, apalagi sok tahu dengan tampil lebih dahulu dari orang-orang.

Jadi, orang yang berilmu tinggi yang tidak dipandang oleh masyarakat, dikhawatirkan karena dirinya terlalu mengumbar rasa bangga diri. Untuk menjadi orang yang terpandang di masyarakat tidak perlu menampakkan diri dengan cara memamerkan apa yang dimiliki. Sebenarnya, orang yang berilmu semakin bersembunyi maka semakin dicari. Tentu, maksud bersembunyi di sini bukan kitmanul ‘ilm (menyembunyikan ilmu), melainkan bersembunyi dari memamerkan diri.

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Berubah dan Kehilangan sebagai Sifat Kehidupan Manusia

Akibat Fanatisme pada Kiai

Related posts