11:24 pm - Rabu September 23, 2020

3 Prinsip Perempuan Salehah dalam Meraih Cinta

3793 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Kalau kita sering menjumpai wanita yang berkerudung, yang ada dalam benak kita adalah, dia anak yang salehah. Atau wanita yang sedang berjalan membawa Al Quran menuju masjid, pasti dalam benak setiap orang yang melihatnya ada ungkapan, “Anak ini baik, rajin mengaji, pasti dia anak yang salehah”.

Lalu, kira-kira apa yang kita pikirkan saat kita melihat gadis remaja berkerudung yang tengah berjalan bersama remaja lelaki? Tanpa paksaan, pasti akan muncul pikiran negatif tentang gadis itu. Misalnya, “Anak ini berkerudung tapi kok berani jalan sama anak lelaki, ya?” Atau, “Anak ini kok tidak malu dengan kerudungnya, ya?” Ini adalah pikiran-pikiran negatif yang dilahirkan oleh setan-setan yang berhasil merasuli pikiran kita. Kalau kita mau, kita bisa mengalahkan setan dengan positif thinking. Misalnya dengan berpikir bahwa lelaki yang berjalan bersamanya adalah kakaknya, atau mahramnya.

Sebagai seorang muslimah, jangan sekali-kali kita menjatuhkan nilai seorang muslimah dengan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan seorang muslimah. Terutama saat bergaul dengan selain mahram. Menjadi kewajiban kita untuk menjaga nilai kemuslimahan agar tetap putih. Jangan nodai kemurnian kita dengan berkhalwat tanpa tujuan yang jelas. Apalagi hanya sekedar untuk bercanda bersama. Karena hal yang semacam itu dapat mengundang murka-Nya. Naúdzubillah.

Lalu bagaimana jika kita berkhalwat dalam wilayah ilmiyah? Hem, siapa yang berani melarang kalau urusannya dengan ranah keilmuan? Agama tentu memperbolehkan muslimah berkhalwat kalau urusannya adalah keilmuan. Itupun ada batasannya. Harus bisa menjaga jarak, menjaga sikap, tutur kata, serta tidak boleh melebihi apa yang menjadi kebutuhan. Kebutuhannya sebatas mana? Kalau kebutuhannya sebatas menjelaskan, berarti tidak boleh melebihi sekedar menjelaskan.

Berkhalwat itu hukumnya haram. Kok bisa? Ya bisalah, karena berkhalwat bisa menyebabkan gerakan atau ucapan yang berlebihan, tindakan atau pandangan yang berlebihan. Pernah dengar tidak? Ada pepatah yang mengatakan “Dari mata turun ke hati”. Saya beri nilai seratus untuk pepatah ini. Karena memang benar. Faktanya, dari pertemuan yang menyebabkan tindakan dan ucapan berlebihan bisa meninggalkan kesan tersendiri. Ngerasa atau tidak, yang jelas ‘iya’ kan?

Setelah meninggalkan kesan, mulai teringat-ingat dengan pertemuan tadi. Setelah itu, terngiang-ngiang kata-kata sang idola. And the next, apa yang terjadi? Bawaannya selalu ingin bertemu, kangen, dan sebagainya. Mulailah terjangkit virus cinta. Berpuisi sepanjnag perjalanan. Bahkan sampai di jedingpun berpuisi tentang rasanya itu.

Kalau sudah dilanda cinta, yang A bisa berubah menjadi Z dalam waktu singkat. Yang pemalu menjadi pemberani. Yang malas jadi rajin. Yang gaptek jadi canggih. Yang biasanya penampilan awur-awuran menjadi orang terapi tingkat internasional. Pokoknya, virus cinta bisa merubah hal yang “mustahil” terjadi menjadi nyata. Hufh, kalau bahas cinta memang gak pernah ada capeknya.

Jangan pudarkan prinsip muslimah sejati, yaitu

  1. Tidak menjalani hubungan lawan jenis  dengan motif apapun. Kecuali sudah memasuki fase keseriusan dan deal akan dibawa ke jenjang pernikahan.
  2. Melanjutkan pergerakan Fathimah Az-Zahra putri Baginda Nabi, menjadi muslimah seutuhnya yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Memegang teguh Al-Quran dan Hadits dalam menjalani kehidupan.

Kalau di zaman sekarang, sulit sekali rasanya menjadi yang nomor 2. Sy. Fathimah pernah ditanya Nabi, ”Wahai putriku, tahukah kamu siapakah sebaik-baik wanita itu?” Putrinya pun menjawab, ”Sebaik-baik wanita adalah yang tidak pernah melihat lelaki dan dilihat lelaki.” Mendengar jawaban itu, Nabi pun tersenyum gembira dan bangga terhadap putrinya, Fathimah.

Lalu bagaimana dengan kita yang hidup di masa sekarang. Kan sulit sekali menghindar dari pertemuan lawan jenis? Berusaha untuk menjaga pandangan sudah dianggap cukup. Ketika melihat lawan jenis, cukup dengan menundukkan pandangan. Ketika berbicara mengenai hal penting dengan lawan jenis, juga menundukkan pandangan. Meminimalisir pertemuan yang tidak penting, itu juga sudah dianggap baik dan cukup.

Mustahil kita berdiam diri di dalam rumah tanpa harus bersosialisasi dengan seorangpun. Bagaimana kita bisa menebarkan kebaikan dan manfaat terhadap orang banyak kalau kita mengurungkan diri di dalam rumah 24 jam non stop? Bersosialisasi penting, dengan catatan, tidak menghapus norma-norma agama kita. Ok?

Alhasil, jangan pudarkan prinsip muslimah sejati kapanpun dan dimanapun kita berada. Semoga, dengan keteguhan hati menyelimuti hati dengan prinsip-prinsip itu Allah senantiasa menjaga kita dari segala keburukan yang telah ditentukan oleh-Nya. Amin…

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Keharusan Mengenal lebih Dekat pada Calon Pasangan Halal

Pasangan Halal; Antara Baik dengan yang baik, atau Buruk dan yang Buruk?

Related posts