10:57 pm - Senin November 23, 2020

Memahami Kembali Waktu Shalat Rawatib

1741 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali di dalam kitab Bidayatul Hidayah menggambarkan bahwa ketundukan dan keta’atan (ibadah) seorang hamba kepada Tuhannya laksana orang yang melakukan bisnis (perdagangan). Ketundukan dan keta’atan yang berstatus fardlu diibaratkan sebagai modal di dalam berbisnis. Sedangkan ketundukan dan keta’atan yang berstatus sunah diibaratkan sebagai laba atau keuntungan dari bisnis tersebut.

Oleh karena itu maka barang siapa melaksanakan ibadah fardlu (memikili modal) maka dia akan selamat dari kebinasaan (murka Allah), dan barang siapa yang melaksanakan ibadah sunah (memperoleh laba) maka dia akan beruntung dengan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah.

Sebagai support terhadap umatnya, Rasulullah saw di dalam hadits qudsi bersabda:

ولايزال العبد يتقرب الي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ولسانه الذي ينطق به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها

“Seorang hamba akan selalu melakukan pendekatan kepada-Ku dengan cara melakukan Nawafil (ibadah-ibadah sunah; seperti shalat sunah) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku akan menjadi pendengarannya yang bisa mendengarkan, Aku akan menjadi penglihatannya akan bisa melihat, Aku akan menjadi lisannya yang bisa berbicara, Aku akan menjadi tangannya yang bisa bertindak dan Aku akan menjadi kakinya yang bisa berjalan.”

Apabila yang menjadi pendengaran, penglihatan, lisan, tangan dan kakinya adalah Allah, maka seorang hamba akan selalu berada dalam ketundukan dan keta’atan kepada Allah dan selamat dari kemaksiatan dan kedurhakaan. Kerena Allah lah yang akan selalu menjaga dirinya secara keseluruhan.

Hakikat dan Bagian-Bagian Sholat Rawatib

Setelah diketahui betapa amat pentingnya ibadah sunah bagi kaum muslimin, di sini akan dijelaskan tentang waktu sholat sunah rawatib yang sering dilupakan oleh kaum muslimin sehingga sebagian di antara mereka tidak melakukan sholat tersebut lantaran tidak memahami waktu. Seolah-olah mereka telah kehilangan waktu, padahal waktu sholat tersebut masih ada. Sehingga laba dan keuntungan tidak mereka peroleh.

Sebelum pembahsan waktu, akan dijelaskan terlebih dahulu tentang pengertian dan bagian-bagian sholat sunah rawatib.

Secara sederhana sholat sunah rawatib adalah sholat sunah yang menyertai sholat fardlu yang lima waktu. Sedangkan bagian-bagian nya ada dua. Yaitu sholat sunah Qabliyah dan sholat sunah Ba’diyah. Sholat sunah Qabliyah adalah sholat sunah yang waktu pelaksanaanya sebelum sholat fardlu. Sedangkan sholat sunah Ba’diyah adalah sholat sunah yang waktu pelaksanaannya setelah sholat fardlu.

Syekh Abi Syuja’ di dalam kitab Taqrib menjelaskan bahwa sholat Rawatib itu ada tujuh belas rakaat dngan rincian: dua rakaat sebelum Shubuh, empat raka’at sebelum Dhuhur, dua raka’at setelah Dhuhur, empat raka’at sebelum ‘Ashar, dua raka’at setelah Maghrib dan tiga raka’at setelah Isya’ (satu raka’at dari yang tiga tersebut adalah sholat Witir).

Dari jumlah tujuh belas raka’at di atas, ada sepuluh raka’at yang dikategorikan sebagai sholat sunah rawatib muakkad (yang sangat dianjurkan). Yaitu dua raka’at sebelum Shubuh, dua raka’at sebelum Dhuhur, dua raka’at setelah Dhuhur, dua raka’at setelah Maghrib dan dua raka’at setelah Isya’.

Waktu Sholat Sunah Rawatib

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa sholat rawatib ada yang dinamakan sholat sunah Qabliyah dan ada yang dinamakan sholat sunah Ba’diyah.

Tentang waktu sholat sunah Qabliyah, Sayyid Abu Bakr Al- Syatha di dalam kitab Hasyiyah Fathul Mu’in, I’anatut Thalibin menjelaskan bahwa waktu masuknya sholat sunah Qabliyah bersamaan dengan masuknya waktu sholat fardlu dan berakhir dengan berakhirnya waktu sholat fardlu tersebut. Jadi jika sholat sunah Qabliyah tidak dilaksanakan sebelum sholat fardlu maka boleh dilaksanakan setelah melakukan sholat fardlu. Bahkan sholat sunah Qabliyah disunahkan dilakukan setelah sholat fardlu jika sholat fardlu tersebut akan segera dilaksanakan sehingga kalau sholat sunat Qabliyah dilakukan maka dimungkinkan tidak menututi terhadap takbiratul ihramnya imam. Kalau terpaksa dalam kondisi seperti itu sholat sunah Qabliyah tetap dilaksanakan maka hukumnya menjadi makruh.

Oleh karena itu tidak dibenarkan meninggalkan sholat Qabliyah dengan alasan tidak dilaksanakan sebelum sholat fardlu. Karena sholat sunah Qabliyah itu bisa dilaksanakan setelah sholat fardlu dengan status sholat ada’ bukan qadla’.

Berbeda dengan sholat sunah Ba’diyah tidak bisa dilaksanakan sebelum sholat fardlu, ia harus dilaksanakan setelah sholat fardlu. Karena waktu masuknya sholat sunah Ba’diyah adalah setelah dilaksanakannya sholat fardlu.

Jadi, melaksanakan sholat sunah Qabliyah bisa sebelum atau sesudah dilaksanakannya sholat fardlu (waktu yang lentur). Sedangkan melaksanakan sholat sunah Ba’diyah harus dilaksanan setelah melaksanakan sholat fardlu tidak boleh dilakukan sebelum dilaksanakannya sholat fardlu (waktu paten). Semoga bermanfa’at.

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Mukenah yang Dipermasalahkan dalam Shalat

Kriteria Syafa’at yang Diterima dan Ditolak

Related posts