3:37 pm - Jumat September 20, 2019

Menepis Fanatisme, Bersikap Toleransi

1344 Viewed

(Tanggapan untuk tulisan Idrus Ramli)

Oleh: Imtihan asy-Syafi’i[1]

Membaca rubrik Cakrawala Buletin Sidogiri edisi 26 Safar 1429 halaman 27-29 bertajuk: “Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi” yang ditulis oleh Idrus Ramli, hati saya tergerak untuk memberikan tanggapan. Saya bukan seorang yang fanatik kepada Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, sebab saya yakin yang maksum dari kesalahan hanya Nabi Muhammad saw. Saya merasa perlu menulis tanggapan ini karena menurut saya, tulisan Idrus Ramli –meminjam istilah Idrus Ramli- banyak kerapuhan di dalamnya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Pada bagian pengantar, Idrus Ramli menulis, “Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/ 1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/ 1263-1328 M) akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.” Idrus Ramli benar, bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab meneruskan pemikiran dan ideologi Ibnu Tamiyah (Da’watusy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alam al-Islami, Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman, Maktabah Syamilah, halaman 61). Namun pernyataannya bahwa  ada sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan dalam pemikiran dan ideologi Muhammad bin Abdul Wahhab (dan Ibnu Taimiyah) perlu dikaji ulang. Apakah Idrus Ramli sudah membaca semua karya Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah? Bukankah mestinya kita tidak hanya membaca tulisan-tulisan atau buku-buku yang menghujat keduanya? Khusus untuk Ibnu Taimiyah, alih-alih menjauhinya, buku Mungkinkah Sunnah-Syi’ah dalam Ukhuwah terbitan pustaka Sidogiri justru mengutip goresan pena beliau di sana-sini.

Sejarah Hitam (?)

Idrus Ramli menulis bahwa Kaum Wahabi (sebenarnya sebutan Wahabi diberikan oleh orang-orang Orientalis, lihat: asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Hayatuhu wa Da’watuhu fir Ru`yah al-Istisyraqiyah, Nashir bin Ibrahim bin Abdullah at-Tuwaim, Maktabah Syamilah, halaman 84-88) menghalalkan darah kaum muslimin di Hijaz dan menjarah harta mereka dengan anggapan harta ghanimah. Semua itu, tulis Idrus Ramli, berangkat dari Paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Ahlussunnah wal Jamaah pengikut madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali yang tinggal di kota itu.

Sayang sekali saya tidak mempunyai buku “asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab; ‘Aqidatuhus Salafiyyah wa Da’watuhul Ishlahiyyah” yang menurut Idrus Ramli memuat lembaran hitam sejarah ini. Tetapi saya membaca sejarah kerajaan Arab Saudi dan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab dari dua buku “al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab; Da’watuhu wa Siratuhu” karya ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (buku rujukan Idrus Ramli dipengantari oleh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz) dan Da’watusy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alam al-Islami, Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman. Di kedua buku itu disebutkan bahwa yang diperangi oleh tentara Muhammad bin Su’ud bukan kaum muslimin, melainkan orang-orang musyrik penyembah berhala, pohon, gua, dan kuburan. Bukan orang yang sekedar berziarah kubur; Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (juga Ibnu Taimiyah) tidak mengharamkan ziarah kubur. (lihat: Da’watusy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alam al-Islami, halaman 83-90). Bagaimana mungkin Muhammad bin Abdul Wahhab mengkafirkan dan menghalalkan darah dan harta para pengikut madzhab yang empat, sedangkan dia sendiri adalah salah seorang pengikut madzhab Hambali (lihat: Da’watusy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alam al-Islami, halaman 60)

Kerapuhan Ideologi (?)

Idrus Ramli menulis bahwa Wahabi terjerumus dalam paham Tajsim. Jika yang dimaksud dengan Wahabi adalah orang-orang yang sepaham dengan Muhammad bin Abdul Wahhab dan tentunya Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri, saya perlu sampaikan bahwa Idrus Ramli salah besar. Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang antipati terhadap paham Tajsim (ar-Rasail asy-Syakhshiyah, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab 133-134). Akidah Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah sama. Yakni meng-itsbat-kan sifat-sifat Allah sebagaimana disifatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (ar-Rasail asy-Syakhshiyah, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, halaman 8; Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, II/ 240) Ini pula akidah para Salaf dan bahkan akidah Abu Ja’far ath-Thahawiy yang syarah kitabnya dijadikan rujukan oleh Idrus Ramli (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah, halaman I/ 399).

Kerapuhan Tradisi (?)

Idrus Ramli menuduh kaum Wahabi (?) tidak mencintai, tidak menghormati, dan tidak mengagungkan Rasulullah saw. Alasannya, mereka tidak bertawassul dengan Nabi, tidak bertabarruk, dan tidak merayakan maulid. Lebih lanjut Idrus menyatakan bahwa secara tidak langsung mereka mengkafirkan Nabi Adam as, para sahabat, ahli hadits, dan ulama Salaf yang menganjurkan tawassul.

Dari literatur yang saya baca di atas, saya dapati bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab (dan Ibnu Taimiyah) tidak menyamaratakan hukum tawassul. Menurutnya, tawassul itu ada yang sunnah, ada yang bid’ah, dan ada yang masih diperselisihkan hukumnya oleh para ulama. Bertawasul dengan Nabi saw sepeninggal beliau termasuk yang diperselisihkan itu (Mukhtashar al-Inshaf wa asy-Syarhul Kabir, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, halaman 208; Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, I/30) Apakah salah jika Muhammad bin ‘Abdul Wahhab memilih pendapat yang melarang tawassul dengan Nabi saw sepeninggal beliau (juga tentang perayaan maulid Nabi Muhammad saw), sedangkan masalah itu adalah masalah Khilafiyah?

Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menyerukan cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad saw dengan tradisi yang disepakati dan dipraktikkan oleh para ulama Salaf seperti menyebarkan salam, memanjangkan jenggot, memakai sarung tidak melebihi mata kaki (isbal), dan lain sebagainya.

Tentang Nashiruddin al-Albani (saya kira maksudnya Muhammad Nashiruddin al-Albani) yang menyerukan pembongkaran al-Qubbatul Khadhra` dan mengeluarkan jasad Nabi saw dari dalam masjid Nabawi, jika yang dimaksud Idrus Ramli adalah tulisan Muhammad Nashiruddin al-Albani (pakar hadits kenamaan abad 20, menurut buku Mungkinkah Sunnah-Syi’ah dalam Ukhuwah terbitan pustaka Sidogiri, halaman 76. Tiga karya beliau dijadikan rujukan buku itu) dalam kitabnya Tahdzirul Masajid, juz I/ 68; maka Idrus Ramli telah salah paham terhadap pernyataan beliau. Beliau sama sekali tidak menyerukan pembongkaran al-Qubbatul Khadhra` dan mengeluarkan jasad Nabi saw dari dalam masjid Nabawi. Beliau hanya mengusulkan kepada pemerintah Arab Saudi, jika hendak memugar masjid Nabawi, supaya memugarnya sedemikian rupa sehingga kuburan Nabi saw dikembalikan seperti semula. Seperti keadaannya pada zaman Khulafa`ur Rasyidin: tidak termasuk bagian dari masjid Nabawi. Maknanya masjid diperluas ke arah yang tidak akan menabrak (baca: memasukkan) kuburan Nabi ke dalam masjid. Hadits-hadits shahih yang menjadi alasan beliau dapat dibaca di buku yang saya sebut di atas.

Tentang pengkafiran al-Albani terhadap Imam al-Bukhari, saya tidak percaya. Sebab ketika saya membaca buku-buku beliau, saya mendapati ribuan hadits yang beliau kutip dari Imam al-Bukhari. Jika al-Albani mengkafirkannya, mestinya dia tidak memakai hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Di bagian penutup, Idrus Ramli mengutip sebuah hadits yang –menurutnya– diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan lain-lain. Dengan bantuan Maktabah Syamilah, saya mencari hadits yang dimaksud. Saya ketikkan kata Najd (nun-jim-dal) dan saya pilih Kutubut Tis’ah. Dus, saya disodori 236 hasil pencarian, namun saya tidak mendapati hadits yang dimaksud oleh Idrus Ramli.

Akhirnya, saya mengajak diri saya pribadi, saudara Idrus Ramli, dan seluruh pembaca untuk senantiasa mengintrospeksi diri dan bersikap adil kepada siapa pun. Bukankah kepada seorang Yahudi pun Rasulullah saw. bersikap adil?

“Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum , mendorong kamu untuk berlaku tidak adil! Berlaku adillah! Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)

Wallahul Muwaffiq.



[1] Alumnus Ma’had Aly an-Nur Surakarta dan penerjemah buku-buku Islami, tinggal di Magetan.

 

Apa komentar anda?
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Mengurai Tafsir Jihad Berbasis Solidaritas [2]

Pramugari Shalat di Pesawat; Mengamalkan Fikih Kondisional

Your comment?
Leave a Reply