5:29 pm - Senin Februari 17, 2020

Hidup; antara Mengumpulkan Koin dan Memperbanyak Poin

1606 Viewed

Oleh: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy

Dalam menjalani hidup, sebenarnya kita hanya berkisar antara mengumpulkan koin dan memperbanyak poin. Maksud koin dalam hidup di sini sama halnya dengan koin di permainan Super Mario. Dalam game Super Mario, Mario sebagai petualang yang menjalani berbagai rute, dia harus mencari koin untuk memperbanyak poin. Koin di situ sebagai sarana untuk mendapatkan poin. Oleh sebab itu, ketika koin didapatkan, koin tersebut hancur lalu berubah menjadi poin yang menjadi bekal di sepanjang perjalanannya menuju titik akhir. Jadi, Super Mario tidak membawa koin utnuk menuju ke finish, dia membawa poin.

Permainan Super Mario tersebut coba kita kontekskan ke dalam kehidupan kita. Kita berada di dunia ini senantiasa menjalani waktu hingga titik akhir hembusan nafas kita. Tentu dalam perjalanan kehidupan kita, ada koin dan poin, sebagaimana dalam game Super Mario. Konyolnya, ada sebagian orang yang tidak mengerti tentang kedua hal tersebut, bahwa koin hanya sebagai sarana untuk mendapatkan poin. Namun, begi mereka koin tersebut tidak djadikan saran untuk memperbanyak poin, mereka lebih suka mengumpulkan poin saja.

Dalam konteks kita, koin hanya sebagai nilai formalitas dalam kehidupan, sementara poin adalah nilai kualitas di sisi Allah. Harta merupakan koin yang menjadi sarana untuk mendapatkan poin. Poin dari harta adalah menggunakannya untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah. semisal harta digunakan untuk nafkah istri dan keluarga, disumbangkan untuk masjid, musollah, orang fakir dan miskin, dan lembaga pendidikan atau pesantren.

Jika seseorang dilihat dari antara mengumpulkan koin dan memperbanyak poin, maka ada seseorang yang sibuk mengumpulkan koin saja tanpa memperbanyak poin. Ada yang mengumpulkan koin yang tujuannya untuk memperbanyak poin. Ada yang memperbanyak poin tanpa menghiraukan koin.

seseorang yang sibuk mengumpulkan koin saja tanpa memperbanyak poin

Seseorang yang hidupnya sibuk dengan mengumpulkan harta tanpa menggunakannya untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah, berarti dia hanya mendapatkan poin saja tanpa akan menikmati poin kelak. Orang yang seperti ini biasanya, semisal dalam dunia bisnis, sering melakukan penipuan. Tujuannya untuk mendapatkan hasil yang banyak dan takut terjadi kerugian.

Semisal juga dalam dunia pendidikan, jika seorang guru hanya memikirkan koin, dia tidak mau rajin dan serius mengajar jika tidak mendapatkan gaji yang besar. Jadi, tujuan dia menjadi guru hanya untuk mendapatkan koin yaitu uang, tidak bertujuan untuk mendapatkan poin yaitu nilai pengabdian pada ilmu yang pasti mendapat jaminan dari Allah.

Begitu juga yang marak terjadi dalam dunia politik dan jabatan pemerintahan, mereka yang doyan korupsi karena mereka mementingkan koin. Dalam hati dan pikirannya sama sekali tidak ada impian untuk mendapatkan poin dari jabatannya. Andai kata mereka lebih memikirkan poin, tentu tidak akan melakukan korupsi.

Seseorang mengumpulkan koin bertujuan untuk memperbanyak poin

Ada seseorang yang mengumpulkan koin, tapi tujuannya untuk memperbanyak poin. Semisal dia bekerja keras atau memiliki usaha bisnis yang besar, tapi hasil dari kerja atau bisnisnya digunakan untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah. Orang yang seperti ini, dalam kerja atau bisnisnya, tidak akan melakukan penipuan untuk mendapatkan keuntungan besar atau menghindar dari kerugian yang besar pula.

Mengumpulkan sekian koin untuk memperbanyak poin merupakan sikap yang sangat mulia. Allah tidak pernah melarang kita memiliki pekerjaan yang hasilnya melimpah atau memiliki usaha yang besar, Allah hanya melarang kita melakukan penipuan, melakukan penyalahguaan harta, dan merampas atau mencuri harta orang lain.

Seseorang yang memperbanyak poin tanpa menghiraukan koin

Ada seseorang yang hidupnya lebih mendahulukan poin, sementara koin baginya sama sekali tidak bernilai apa-apa atau tidak menarik. Orang seperti ini selalu ingin banyak beramal tanpa melalui harta. Dia melakukan banyak kebaikan dengan bakatnya, kemampuannya, atau ilmunya. Meskipun dia bekerja medapatkan uang, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam pikiran dan hatinya tidak pernah terbesit ingin memiliki harta yang banyak, mobil mewah, rumah besar dan megah, dan lain-lain.

Semisal dia menjadi bisnismen sukses, ketika dia menjalani bisnisnya, dia tidak pernah melakukan penipuan meski dia tahu akan mengalami kerugian. Ketika mendapatkan hasil yang melimpah, dalam pikirannya bagaimana uangnya bisa menjadi amal jariyah.

Semisal juga, jika dia menjadi seorang guru atau dosen, dia hanya berniat berbagi ilmu, berusaha mencerdaskan anak didiknya, dan mengembangkan lembaga pendidikan yang menjadi amanahnya. Masalah gaji, jika ada diterima, jika tidak ada bersabar serta meyakini bahwa Allah yang akan menjamin hidupnya.

Begitu juga, ketika orang tersebut menjadi pejabat pemenrintah, dia hanya ingin menjalani amanahnya sebagai pejabat dan akan bertanggung jawab penuh dengan apa yang menjadi tugasnya. Dia tidak pernah merasa bangga dengan jabatannya. Dia sama sekali tidak begitu menikmati dengan fasilitas yang disediakan oleh Negara. Dia selalu meyakini bahwa semua ini hanya sekedar titipan, bahkan dia beranggapan bahwa ini ujian yang harus dijalani dengan hati-hati.

Cirri-ciri orang yang sibuk mengumpulkan koin:

  1. Kesehariannya yang dipikirkan hanya harta dan tahta
  2. Ketika tidak mendapatkan harta atau gagal meraih tahta, dia merasa rugi
  3. Segala usahanya hanya berorentasi pada harta dan tahta
  4. Semangat hidupnya bertujuan untuk bagaimana menghasilkan harta
  5. Yang dibayangkan dalam hidupnya hanya kebahagiaan dunia

Cirri-ciri orang yang selalu memperbanyak poin:

  1. Keseharinnya yang dipikirkan hanya bagaimana ibadahnya bisa bernilai di sisi Allah
  2. Ketika tidak mendapatkan harta atau gagal meraih tahta, dia berpasrah pada Allah
  3. Segala usahanya hanya berorentasi pada keridoan Allah
  4. Semangat hidupnya bertujuan untuk bagaimana bisa dicintai Allah
  5. Yang dibayangkan dalam hidupnya hanya kebahagiaan di akhirat

Wujud orang yang sibuk mengumpulkan koin

Cita-citanya menguasai dan menikmati dunia

Niatnya memiliki duniawi secara pribadi

Usahanya penuh ambisi

Ucapannya selalu saja mengenai duniawi

Hayalannya menggambarkan keindahan duniawi

Langkanya menuju ke arah duniawi

Pandangannya menatap

Semangatnya untuk meraih duniawi

Hatinya menyimpan cinta duniawi

Penyesalannya karena tidak mampu meraih duniawi

Kebahagiaannya bergantung pada banyaknya harta

Penderitaanya jika gagal mendapatkan hasil duniawi

Kegelisahannya jika terjadi kebangkrutan

Katakutannya jika hartanya terancam

Kesedihannya jika kehilangan harta

Wujud orang yang selalu memperbanyak poin

Cita-citanya menjadi hamba yang diterima di sisi Allah

Niatnya hanya karena Allah semata

Usahanya penuh kepasrahan dan keikhlasan

Ucapannya teriring kalimat-kalimat Allah

Hayalannya menggambarkan keindahan surgawi

Langkanya menuju ke arah haribaan Allah

Pandangannya menatap kebesaran Allah

Semangatnya untuk meraih rido Allah

Hatinya menyimpan cinta yang dalam pada Allah

Penyesalannya karena lalai mengikuti perintah Allah

Kebahagiaannya bergantung pada ibadanya

Penderitaanya jika gagal mendapatkan fadilah dari Allah

Kegelisahannya jika terjadi kemaksiatan pada dirinya

Katakutannya hanya kepada ancaman Allah

Kesedihannya jika kehilangan sambungan batin pada Allah

Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Shalat Tarawih, Lebih Utama 8 Rakaat atau 20 Rakaat?

Kekuatan Spiritual Wudhu’

Related posts