Ketiga, mengkaji historitas agama. Salah satu solusi perubahan sosial keagamaan dapat ditempuh dengan perenungan terhadap peristiwa-peristiwa sejarah para Nabi terdahulu serta mulia bilamana berhasil diaktualisasikan dalam bentuk nyata. Oleh sebab itu, sifat optimis, kesadaran dalam beragama harus terus dipompa dengan cara berlatih (bi al-Riyadhah). Sebab sumber kesuksesan sebenarnya tergantung pada usaha perubahan dari dirinya sendiri, sedikit bergantung pada orang lain. Optimis dalam arti mampu mempertahankan kesucian (sakralitas) agama dan sejarah para Nabi (al-Sîrah al-Nabawiyyah) yang seringkali tak terpikirkan. Sehingga pada akhirnya tercipta insan berpikir, berdzikir dan beramal sholeh.
Keempat, membangun sikap dermawan dan cinta kasih. Nilai derajat ataupun pangkat seseorang dapat dinilai dari sifat yang dimilikinya: dalam sebuah hadist Nabi disenyalir :“qîmatul mar’iy akhlâquhu”, nilai seseorang dapat dilihat dari budi pekertinya. Orang tersebut dipandang “baik” karena perilakunya yang “baik”, begitu juga sebaliknya. Kanjeng Nabi Muhammad Saw disenangi banyak kaumnya karena beliau sering bergaul dengan anak-anak kecil begitu juga para sahabat sampai kelihatan gigi gerahamnya. Ini menandakan betapa antusiasnya beliau dalam berinteraksi sosial: cinta sesama. Beliau juga berkorban (hubungan vertikal) dan mencintai sesama (hubungan horizontal) karena ada anjuran agama agar juga ditiru oleh seluruh umatnya.
 Di hari perayaan besar ini kita sempatkan berkasih sayang kepada yang lebih muda dan menghormati kepada yang lebih tua, Nabi Muhammad bersabda: “laysa minna man lam yarhan shoghîrana wa lam yuwaqqir kabîrana”, bukan golongan kami; dia yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua. Selain dari itu, kita bisa memperbanyak amal jariyah, dengan tujuan membantu meringankan beban mereka yang sengsara hingga mereka bisa senang dan gembira. Tidak karena ingin dipuja (riya’), akan tetapi tulus menolong mereka.
Kelima, menjalin ukhuwah Islâmiyyah. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya mengibarkan bendera perdamaian, persaudaraan, dan saling harga menghargai antara satu dengan yang lainnya. Ukhuwah Islâmiyyah dapat kita terapkan melalui hubungan silaturrahim (halal-bihalal), mengucapkan salam ketika bertemu, berjabatan tangan, dan murah senyum. Islam sangat menjaga nilai-nilai etika manusia dalam bergaya hidup.
Walhashil, hal-hal yang bersifat remeh jangan sampai kita tinggalkan atau enggan dilakukan. Benar pepatah mengatakan, “ jangan engkau meremehkan sesuatu yang dianggap kecil, terkadang jarum baju yang kecil itu juga dapat mengeluarkan bersimbahanya darah seseorang”. Maka dari itu, setiap gejala kehidupan yang terjadi harus kita pikirkan dan renungi faidahnya walaupun hal itu bersifat abstrak. Sebab Tuhan menciptakan segalanya sesuatunya di muka bumi ini tak ada sia-sia.afalatatafakkarun…..
Penulis adalah: Santri Ma’had Aly Sukorejo Situbondo.