6:55 pm - Kamis September 24, 2020

Pusat Pendidikan Di Indonesia

1143 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Adalah KH. M. Abd. Aziz Manshur Pengasuh PP. Tarbiyatun Nasyiin Paculgowang Jombang yang mendifinisikan Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang sebenarnya sama dengan yang lain, hanya saja objek yang dikaji lebih berorientasi pada nilai-nilai keagamaan, hal ini difungsikan agar kader-kader yang mengenyam bangku di Pesantren memiliki bekal di dunia maupun di akhirat.[1] Sejalan dengan itu, KH. Hasani Nawawie PP. Sidogiri juga membuat definisi Pondok Pesantren yang tak jauh beda dengan Kiai Aziz, menurut Kiai Hasani, Pesantren adalah lembaga yang berfungsi untuk membentuk para anggotanya agar bertaqwa kepada Allah. Sebagaimana didirikannya Masjid yang berfungsi untuk membangun ketakwaan bagi setiap individu Muslim, maka demikian pula pesantren, ia juga sebangun dengan asas yang membentuk Masjid, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 108.[2]

images

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai lembaga Pendidikan Islam yang tradisionalis, kolot dan ketinggalan zaman. Meskipun demikian, namun keberadaanya tidak lepas sorotan para Penjajah di zaman dahulu. Tak tanggung-tanggung, penjajah yang berasal dari negara Belanda misalnya, mereka membuat suatu lembaga pendidikan tandingan, yakni mendirikan suatu sekolah yang mengajarkan pendidikan modern.

Ini menandakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang menjadi pesaing pendidikan sekuler rintisan Negara kincir angin tersebut.[3] Pasalnya, pesantren adalah tempat atau wadah yang tidak hanya mengajarkan tentang nilai-nilai keislaman saja. Disana juga bisa ditemukan ilmu-ilmu yang mengajarkan mengenai bela diri, kesenian, perekonomian dan tata negara.[4] Maka tak ayal, sosok Kiai dan santri-santrinya ikut andil dan terlibat dalam kemerdekaan Republik Indonesia, dan eksistensinya di bumi pertiwi ini sempat membuat hati para Penjajah ketar-ketir.

Banyak jasa-jasa yang sudah dipersembahkan oleh Pesantren untuk Negara ini. Dari mulai tercetusnya “Resolusi Jihad” yang dimotori oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 21-22 Oktober 1945,[5] keterlibatan KH. Wahid Hasyim dalam merumuskan Pancasila serta UUD 1945 pada sidang BPUPKI, sampai kepiawian KH. Abd. Wahab Hasbullah menemani Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. H. Soekarno dalam membangun politik Negara Indonesia pada saat itu.[6] Kesemuanya adalah produk asli yang lahir dari rahim Pesantren.

Bahkan menurut Nurchlolis Majid, jika Indonesia tidak mengalami penjajahan, maka bisa diprediksikan bahwa pertumbuhan sistem pendidikan akan mengikuti model yang ditempuh oleh Pesantren, sehingga perguruan-perguruan tinggi yang ada tidak bernama UI, UGM, ITB, IPB, dan lain-lain, akan tetapi Universitas Tremas, Krapyak, Tebuireng, Bangkalan dan lain-lain. Cak Nur membandingkan pertumbuhan perguruan tinggi di Barat yang cikal-bakalnya adalah perguruan-perguruan yang pada mulanya berorientasi keagamaan, seperti Universitas Havard yang menjadi pioner pengembangan pengetahuan dan pemikiran mutakhir ini. Universitas ini awalnya adalah pesantren yang didirikan oleh pendeta Havard di Boston. [7]

Namun sayang, perhatian pemerintah terhadap lembaga pendidikan ini sangatlah minim, tidak sebanding dengan kontribusi besarnya dalam sejarah kemerdekaan bangsa dan pembangunan manusia seutuhnya lahir dan batin.[8] Para pemerintah seakan enggan mempertimbangkan konsep pendidikan pesantren, padahal seperti yang sudah dipaparkan diatas, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang pernah menyedot perhatian para penjajah. Dan tidak hanya itu, pesantren juga lembaga pendidikan yang tertua serta khas Nusantara, yang seharusnya lebih diprioritaskan daripada pendidikan yang diwariskan oleh para penjajah.

Ada beberapa hal yang dijadikan alasan kenapa pendidikan Pesantren tidak dijadikan sentral pendidikan Indonesia; pertama, pendidikan pesantren hanya menekankan pada isi atau contentsemata dari ajaran-ajaran Islam; kedua, pendidikan pesantren bermuara pada kepentingan Ibadah atau secara umum dakwah semata; ketiga, sistem pendidikan pesantren menolak pengembangan atau pembaharuan Islam yang antara lain dilakukan dengan mengkritisi isi dan kandungan kitab yang dipelajari, sebaliknya sistem tersebut justru memfasilitasi terjadinya penyakralan isi suatu kitab; keempat, sistem pendidikan pesantren hanya melestarikan sistem lama sebagai warisan para Kiai terdahulunya, kecuali dalam keadaan sangat tertentu; dankelima, sistem pendidikan pesantren tidak pernah memasukkan pelajaran metodologi penelitian.[9]

Alasan tersebut memang bisa dimaklumi, akan tetapi melihat fenomena para peserta didik di zaman ini, yang kondisinya gawat darurat, sering melanggar norma-norma seperti free sex,tawuran, mengkonsumsi narkoba, meminum minuman keras dan lain sebagainya, bahkan kasus-kasus yang dialami ternyata kian hari kian ada peningkatan, maka pemerintah sudah saatnya menggiring para orang tua agar para putra-putrinya mau duduk di bangku Pesantren, yang mana di lembaga Pesantrenlah yang lebih mampu mencetak generasi penerus bangsa yang menjunjung tinggi sebuah moralitas, dan berbasis karakter.

Semua mata harus terbelalak menuju lembaga pendidikan warisan Walisongo tersebut. Kasus-kasus yang sering membuat para orang tua resah, insya Allah bisa teraratasi jika mereka mau memasukkan para putra-putrinya ke Pesantren. Sebab, pendidikan pesantren diselenggarakan secara tertib, memakan waktu yang lama, agar memperoleh pemahaman hakikat segala sesuatu secara mendalam, sehingga memudahkan antara yang hak dengan yang bathil.[10]Bimbingan seorang Kiai, Mursyid dan Guru, menjadi sangat penting untuk menegakkan moralitas dan nilai-nilai yang diajarkan oleh para Wali dan ‘Ulama sepanjang sejarah Nusantara.

Jikalau dulu Belanda memperhitungkan kiprah Pesantren, kenapa Pemerintah tidak?


[1] Berdasarkan ceramah yang beliau sampaikan dalam Acara Haflah Akhirussanah PP. Tarbiyatus Nasyiin

[2] Tim Penulis Pustaka Sidogiri, Mengapa Saya Harus Mondok di Pesantren?, (Pasuruan: Pustaka Sidogiri 2009), hal. 184

[3] Prof. DR. Mujamil Qomar, M.Ag., Fajar Baru Islam Indonesia?, (Bandung: Mizan 2012), hal. 68

[4] Prof. DR. K.H. Said Aqil Siroj, M.A., Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara, (Jakarta: LTN NU 2015), hal. 3

[5] M. Masyhuri Mochtar, Dinamika Kajian Kitab Kuning di Pesantren, (Pasuruan: Pustaka Sidogiri 2015), hal. 16

[6] Prof. DR. K.H. Said Aqil Siroj, M.A., Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara, (Jakarta: LTN NU 2015), hal. 5

[7] P3M STIMAFA, Menggagas Pesantren Sebagai Center of Education, (Pati: P3M STIMAFA 2015), hal. 20-21

[8] P3M STIMAFA, Menggagas Pesantren Sebagai Center of Education, (Pati: P3M STIMAFA 2015), hal. 3

[9] Prof. DR. Mujamil Qomar, M.Ag., Fajar Baru Islam Indonesia?, (Bandung: Mizan 2012), hal. 68-69

[10] Prof. DR. K.H. Said Aqil Siroj, M.A., Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara, (Jakarta: LTN NU 2015), hal. 8

Sumber : NU Online

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Sekilas Tentang Rais Aam Baru PBNU

Penyeimbang Pemerintah

Related posts