2:21 pm - Sabtu September 23, 2017

Kiai Said: Cinta Tanah Air Penjaga Bangsa dari Perpecahan

632 Viewed
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Sirodj menyatakan, semangat cinta tanah air yang digelorakan ulama NU akan menjaga bangsa Indonesia dari perpecahan.
“Slogan Cinta Tanah Air itu asli fatwa dan Jargon dari KH Hasyim Asy’Ari pendiri NU, jargon  Cinta Tanah Air ulama Indoensia ini tidak dimiliki ulama ulama dinegara manapun termasuk Timur Tengah,’ujarnya saat menhadiri peringan 1 Abad Madrasah dan 191 pesantren Bahrul ulum Tambakberas, Sabtu (4/6) lalu bersama KH Maimun Zubair.
Di Indonesia, lanjut Kiai Said bahwa Nasionalisme Indonesia yang digelorakan KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, bukan nasionalis sekuler, tapi benar benar keluar dari hati yang beriman. Sehingga yang muncul nasionalisme religious- religius nasionalis. “Di Timur Tengah Tidak ada nasionalis ulama, karena Ulama disana pasti Khilafah,” bebernya.
Diungkapkannya, jargon Cinta tanah Air KH Hasyim Asy’ari, adalah bagian dari Iman kepada Allah. Bahkan banyak orang menyangka bahwa Hubbul Wathon itu adalah Hadits. “Bukan (Hubbul Wathon Minal Iman) itu bukan hadist, itu asli jargon Kiai Hasyim, dan Ulama NU seperti KH Wahab Hasbullah meski pakai sarungan, pakai sorban, belai menggelorakan cinta tanah air dengan lagunya Ya Ahlal Waton. Saya di Timur Tengah selama 13 tahun, tidak pernah mendengar ulama yang paling alim pun, tidak pernah mendengar kata kata Hubbul Wathon minal Iman,” bebernya.
Masih menurut Kiai Said, Hubbul Waton Minal Iman itu bentuk Nasionalis Religius Islam Nusantara. Negara ini Indonesia berdiri dengan semangat Nasional. Dia menjamin tidak ada Kiai NU di Indonesia mengajarkan radikalisme dan membuat bom, Ulama NU di kampung, di desa, membentuk karakter bangsa.
“Kalau semangat Nasional, keluar dari hati yang beriman, silakan era globalisasi, pasar bebas asia, masuk melalui peradaban media sosial, kita masih punya jati diri, yakin kepribadian bangsa Indonesia  era seperti apapun tidak akan hancur. Tidak seperti di timur tengah yang kini hamcur peradabannya,karena tidak punya ukhuwah wathoniyah, Cinta tanah air,” ujarnya.
Para Ulama NU, lanjutnya, melestarikan tradisi budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Tradisi nenek moyang sebelum islam dan yang kemudian dilestarikan, setelah datang Islam. Karena tradisi budaya Jawa diisi dengan syariat Islam. “Pertahanan budaya bangsa tidak akan runtuh dengan budaya globalisasi. Akan tetapi organisasi yang sudah meninggalkan budaya, saya ragu, mereka akan merusak kesatuan bangsa Indonesia,” ujar Kiai Said.
Karenanya, lanjutnya, mengungkapkan bahwa organisasi yang menyebarkan ajaran bahwa tahlil musyrik, Maulid Nabi bid’ah, haul musyrik, ziarah kubur musyrik, sebagai embrio hancurnya bangsa Indonesia. “Kelompok-kelompok ini yang akan menjadi pelopor hancurnya bangsa Indonesia,” imbuhnya. (Muslim Abdurrahman/Fathoni)
Sumber : Nu Online

Keistimewaan bagi Para Penimba Ilmu di Bulan Ramadhan

Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari