4:00 pm - Rabu September 18, 0137

Habib Umar Muthohar Pernah Diminta Mensyahadatkan Kuburan Kristen

100 Viewed
Diskon 50% Website Dayah & Sekolah

Malam 17 Agustus kemarin, saya berkesempatan mujalasah dengan Habib Umar Muthohar Semarang. Beliau cerita panjang lebar tentang jadzab. Jadzab itu adalah kondisi seseorang tergila-gila kepada Allah dan secara dzahir kondisinya seperti orang gila, tidak normal.

Dalam Islam, kondisi semacam ini tidak terikat syariat, karena memang gila. Beliau menganalogikan jadzab itu seperti Zulaikha terpesona dengan Nabi Yusuf hingga tangannya teriris-iris tidak terasa.

Terpesona dengan manusia saja sudah begitu, apalagi terpesona dengan Allah? Ya tidak bisa dihukumi kata beliau.

Tiba-tiba ada yang bertanya, “Ya habib, apakah Gus Ja’far Pasuruan itu jadzab?”

Beliau menjawab, “saya tidak tau, yang jelas kalau jadzab sudah pasti ada ulama di sekitarnya yang memberi pengakuan karena jadzab tidaknya seseorang itu ada barometernya. Kalau jadzab itu jarang-jarang terjadi, yang banyak itu jandab, jan ndablek.”

Kami yang berada di sana pun ikut tertawa. Hahaha.

“Kalau Gus Jafar saya tidak tahu, tapi kalau Habib Ja’far saya tahu, itu jelas jadzabnya (Habib ja’far alkaff kudus).”

Kemudian beliau bercerita. Pernah suatu malam beliau diajak jalan-jalan Habib Ja’far, tiba-tiba beliau ngajak belok-belok ke suatu tempat. Habib Umar pun waktu itu protes, “mau kemana ini bib?”

“Sudah lah, patuh saja, ikutlah saya,” kata Habib Ja’far.

Akhirnya, diajak naik ke makam Bergota Semarang, dan lewat jalan yang biasa, naik lewat akar-akar pohon besar seperti panjat tebing.

Sampai di atas, sampailah beliau berdua di kuburan salib. Habib ja’far bilang: “Ini tadi yang teriak-teriak minta tolong, minta tolong karena disiksa malaikat, udah biar dia diam dan tidak disiksa lagi sekarang syahadat-kan dia.”

Mendengar hal itu, Habib Umar pun bingung dan bilang: “Saya mau protes kuatir kayak Nabi Musa yang protes Nabi Khidir, masak kuburan palang salib disuruh nyahadat, wong wes mati, ya sudahl ah saya syahadatkan, saya pegang tanahnya dan saya tuntun syahadat.”

Kemudian Habib Ja’far bilang, “sekarang dia sudah diam, tidak disiksa, berterima kasih dan dia mau menceritakannya ke saudara-saudaranya.”

Habib Umar malah makin bingung dan mikir, “saudara-saudaranya?”. Akhirnya mereka berdua pun pulang.

Selang beberapa hari, tiba-tiba ada seseorang Tionghoa dari Kudus ingin bersyahadat masuk Islam. Beberapa hari kemudian, ada lagi dari Kebumen. Ada lagi, ada lagi, dan ada lagi hingga 18 orang masuk Islam. Setelah itu,

“Nah… Ini kata saudara-saudaranya di kuburan salib tadi!” Sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Subhanallah…

Diskon 50% Website Dayah & Sekolah
Don't miss the stories followCyber Dakwah and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Peran Pondok Pesantren dalam Penyebaran Islam di Indonesia

Mengenal Sosok KH. Muhammad Idris Wonogiri

Related posts